
aku gemetaran banget sekarang karena dokter syeila kenalan fahriza dia seorang dokter kandungan sedang memeriksa ku ntah kenapa aku gelisah rasanya aku belum siap menjadi seorang ibu
kami udah pulang kerumah pagi tadi setelah sarapan dirumah ibu sebenarnya saat pulang tadi fahriza sudah ingin membawaku untuk langsung ke rumah sakit tapi aku nolak dengan alasan mau buang air besar padahal aslinya aku males banget
" ehemh " dehem dokter syeila lalu berdiri dan mendekati fahriza lalu mengulurkan tangannya seperti berjabat tangan fahriza menanggapinya dengan bingung
" selamat ya za bentar lagi kamu bakalan jadi ayah "
fahriza menolehku dengan wajah yang berbinar dan aku sedikit gelisah aku benar benar belum siap jadi seorang ibu dengan sikap dan sifat yang belum bisa berubah kayak gini
" makasih ya la saya seneng banget " ujarnya bahagia
" sama sama za, semoga sehat selalu ya ibu dan baby nya kalau gitu aku pulang dulu " ucap dokter syeila mendekatiku berpamitan yang kubalas anggukan dia mengambil tas nya diatas meja lalu keluar
dan sekarang aku hanya tinggal sendirian dikamar fahriza pergi ngantar dokter syeila kedepan aku terus merenungi bagaimana aku kedepannya dengan membawa dan merawat seorang buah hati kecil ini
air mataku tiba tiba turun tanpa perintah aku juga nggak tau perasaan apa ini aku belum yakin bisa menjadi ibu yang baik buat anak ku nanti
tak lama fahriza masuk buru buru aku menghapus air mataku takut nanti buat dia juga sedih
" fi, maksih ya " ucapnya bahagia aku tau maksud dari ucapannya itu dan sedikit membuatku terhibur ku pegang pipinya yang halus itu sambil menatapnya lembut " nanti siang mau makan apa? " tanyaku mengalihkan pembicaraan aku tak mau dia tau kalau aku belum siap menjadi seorang ibu
" kamu nggak usah masak biar saya aja nanti saya bikinin perkedel kesukaan kamu ya "
" sekarang kamu istirahat aja " sambungnya diiringi sebuah kecupan lembut di keningku
" abang za "
" hem "
" em nggak jadi aku mau tidur aja "
" ya udah saya tinggal ya " ujarnya dan kembali mendaratkan kecupan manisnya tapi kali ini di pipi kananku setelah itu dia keluar meninggalkanku sendiri
tiba tiba aku teringat akan mama yang pernah bilang jika suatu saat aku hamil maka dia yang akan merawatku sampai aku melahirkan mutiara bening di mataku sudah hampir tumpah
aku berdiri mengambil sebuah album didalam lemari melihat dengan deraian air mata lembaran demi lembaran kebersamaan ku dengan mama dan papa tanganku berhenti membolak balik halamannya ketika melihat fotoku yang dipeluk mama dan papa waktu akad nikahku delapan bulan yang lalu
air mataku jatuh dengan derasnya aku menangis sejadi jadinya tanpa suara ya Allah berikanlah ketenangan dalam hatiku dan semoga kedua orang tuaku tenang dan bahagia disana
" ma, pa, sekarang mama sama papa punya cucu hal yang kalian nanti natikan waktu fifi masih kuliah haha.... mama sama papa bahagiakan disana fifi kangen " gumamku sembari menatap foto kedua orang tuaku hati ku benar benar sedih
kebahagiaan yang orang tuaku nantikan namun tak bisa mereka rasakan sekarang aku berharap mereka melihatku disini
" fifi rindu banget canda dan tawa mama sama papa, yang fifi cuma bisa liatin foto kalian mama sama papa kangen gak sama fifi hiks hiks "
" fifi mohon doanya semoga bisa ngerawat dan ngejaga titipan Allah yang paling berharga ini "
tiba tiba sebuah tangan melingkar didadaku aku tersentak ternyata fahriza ada disini sepertinya dia dengar kesedihanku dari tadi
" bang za? "
dia mengusap kepalaku lalu ikut duduk disampingku diusapnya lembut pipiku yang masih berurai air mata " menangislah jika itu bisa mengurangi kerinduan mu " ucapnya lirih
aku langsung memeluknya lalu membenamkan wajahku di dada bidangnya air mataku makin mengalir deras dia membalas pelukanku tak kalah eratnya bahkan beberapa kali mengecup pucuk kepalaku yang tertutup jilbab
saat pulang dari rumah mertuaku tadi aku sengaja gak melepas jilbab ku pikir dokternya laki laki
" kalau kamu lagi marah sedih kecewa kesal jangan dipendam sendiri kamu punya saya untuk berbagi semua yang kamu rasakan "
" bang za fifi kangen mama sama papa "
dia menarik nafasnya perlahan " kamu mau mengunjunginya hari ini? "
" boleh? "
dia tersenyum sembari menghapus air mataku yang masih tersisa di pipi " setelah asar kita ke makam mama sama papa ya " ucapnya lembut
aku kembali membenamkan kepalaku di pelukan fahriza lelaki yang menikahiku karena amanah saudara angkatnya ini benar benar menyayangiku tanpa batas
" astagfirullah perkedel nya " ucapnya kaget melepas pelukanku dan berlari kebawah aku juga mengikutinya dari belakang terlihat asap mengepul dari arah kompor dia mematikan api kopor dan mengacak rambutnya kesal
" yah gosong fi " ucapnya sambil mengangkat perkedel yang udah hitam itu dari penggorengan ke piring
aku tergelak melihat ekspresinya yang lucu dan lupa pada kesedihanku tadi
" kok ketawa? "
" hahahaha....... bang za lucu banget, itukan yang belum digoreng masih ada ya udahlah tinggal digoreng lagikan " ucapku sambil terkiki geli dia menatapku sambil mengurucutkan bibir
tuh kan makin lucu tingkahnya yang manyun kayak gitu jadi imut banget kayak perempuan
" ya udah sini aku bantuin "
aku hanya bisa tersenyum melihat perhatiannya yang berlebihan itu tapi nggak apa apa itu tandanya dia sayang
••••••••••
sudah lumayan lama kami di makam mama dan papa yang bersebelahan aku benar benar lega sekarang rasanya plong banget karena rinduku perlahan terobati
setelah lumayan lama berbicara dan memanjatkan doa di makan mama dan papa fahriza mengajakku pulang senja juga udah mulai turun perlahan dari arah barat tapi ketika sampai di dekat persimpangan pemakaman dia menghentikan langkahnya dan menuju sebuah makam yang sudah lama terlihat dari nisannya
disana terukir nama wardiah nauri lengkap nama ayahnya dan tanggal lahir juga tanggal wafatnya
aku menatapnya bingung penuh tanya makam siapa ini
" ini makam ibu yang pernah ngerawat saya waktu kecil dulu " ujarnya menjawab pertanyaan bingung dari wajahku
" kita kirim doa dulu ya " tambahnya yang kubalas anggukan
setelah dari sana dia kembali membawaku menuju sebuah makam yang membuatku membulatkan mata melihat nama yang terukir di nisan itu dia menatapku lalu membawaku mendekati makam itu
air mataku kembali jatuh berderai ingatan ku tentangnya kembali berputar aku menatap fahriza yang juga menatapku " kok abang nggak ngasih tau kalau bang ija dimakam kan disini " tanyaku membuatnya seperti orang yang bersalah
" maaf waktu itu saya takut kalau kamu tau makam Rija disini kamu bakalan lupain saya karena kamu akan terus mengingat dia "
" kok bang za berfikir segitunya sih "
" maafin saya fi saya terlalu takut kamu nggak bisa buang perasaan kamu "
" bang za, dengerin aku abang nggak usah takut karena cuma nama Ahmad Fahriza Jaelani yang terukir dihatiku dan merajai pikiranku "
" saya minta maaf atas keegoisan saya dan juga tidak mempercayai perasaan mu terhadap saya "
" ya udah sekarang kita kirim bang Rija doa dulu ya "
dia membalas permintaan ku dengan anggukan
seperti sebelum sebelumnya tadi dialah yang memimpin doa untuk mama papa ibu angkatnya dan sekarang bang rija
air mataku kembali jatuh saat doa doa yang dilantunkan fahriza bergema di ditelingaku rasanya hatiku bergetar terima kasih ya Allah telah memberikanku suami seperti fahriza yang memiliki hati lembut seperti perempuan dan tutur kata yang santun baik didepan orang yang lebih tua darinya maupun saat berbicara denganku
tak lama kami pun beranjak meninggalkan makam dan kembali ke mobil fahriza membukakan pintu mobil untukku dan menuntunku masuk kedalam perhatiannya padaku semakin bertambah dia ekstra benget ngejagain aku
dia mengeluarkan mobilnya dan melaju membelah jalanan kota yang sore ini " mau langsung pulang? "
" ha? " jawabku gelagapan karena asik melamun
" kamu mau mampir kemana dulu mumpung kita masih diluar? "
" nggak ah langsung pulang aja "
" ya udah "
" bang za "
" hem "
" bang za takut banget kehilangan fifi ya "
seketika dia menolehku heran karena pertanyaanku " kok nannyanya gitu? "
" ya tadi bang za sampe bilang kalau bang za nggak mau ngasih tau makam bang Rija ke aku karena bang za takut aku nggak bisa lupain bang Rija "
" kamu itu wanita kedua yang harus saya jaga dan saya dekap hingga akhir hayat saya "
" loh yang pertama siapa kamu selingkuh? "
" yang pertama ibu "
aku tersenyum malu mendengar penuturannya karena telah berburuk sangka dia meraih tanganku dan menggenggam jemariku disela jemarinya
" saya mungkin nggak romantis atau humoris seperti suami suami wanita diluar sana tapi saya akan berusaha membuatmu bahagia dan nyaman dengan apa adanya pada diri saya "
aku tersenyum sembari mengusap punggung tangan fahriza kata katanya menghangatkan suasana hatiku " bang za nggak rindu sama bang ija? "
" bukan hanya Rija ibu angkat saya mama papa juga ketika saya rindu saya mendoakan mereka yang saya rindukan supaya mereka tenang disana "
lagi lagi kata katanya seperti minuman hangat yang mengalir di peredaran darahku
" oh iya tadi kok bang za tiba tiba dikamar, aku kaget tau? "
" kamu nangis kenceng banget saya pikir kenapa kamu bahkan kamu nggak sadar saat saya masuk "
" masa sih, perasaan aku udah pelanin suaraku "
dia tergelak mendengar ucapanku sesekali menatapku yang manyun " jangan manyun gitu saya jadi pengen nyium kamu tau nggak " ujarnya masih dalam gelak tawa tapi udah nggak sekeras tadi
" apaan sih fokus aja nyetirnya " balasku kesal
aku tersenyum juga dengan tingkahnya ini ah fahriza kamu bisa banget buat aku tertawa disaat hatiku sedang pilu