LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
PENYAMBUTAN



setelah tiga hari dirawat dirumah sakit, hari ini lufita sudah diperbolehkan untuk pulang. rasa rindu terhadap anaknya sudah menggebu-gebu dua hari ini dia belum melihat wajah ketiga buah hatinya karena mereka harus sekolah dan pulangnya langsung kerumah.


padahal dia sendiri yang meminta fahriza agar jangan membawa anaknya kerumah sakit karena takut mereka kelelahan habis dari sekolah lalu mengunjunginya disini. tapi sepertinya dia menyesali perintahnya itu karena sekarang dia begitu merindukan ketiga buah hatinya itu. belum lagi teriakan dari suara cempreng fairuz yang mewarnai rumahnya.


disini benar-benar sepi karena hanya ada dirinya dan fahriza yang sedang mengepak barang-barangnya.


" bang " panggilnya ketika menoleh kearah fahriza yang masih asik dengan aktivitasnya yaitu mengemasi keperluan lufita selama dirumah sakit.


" hem? "


" aku rindu anak-anak. " serunya dengan tatapan sendu


" sebentar lagi kita bakalan ketemu sama mereka. " balas fahriza yang sudah berdiri didepannya.


" kira-kira mereka lagi ngapain ya sekarang? " tatapannya mencoba menerawang kegiatan si kembar di jam segini.


" mereka pasti lagi main dirumah " lugas fahriza menjawab pertanyaan sendu istrinya


kebiasaan lufita selama tiga hari ini yaitu bertanyaan tentang kegiatan yang dilakukan anaknya, siapa yang merawat mereka, mereka makan dengan teratur apa enggak, mereka udah mandi apa belum, mereka tidur tepat waktu nggak dan maaaasih banyak lagi hingga kadang membuat fahriza harus mengeluarkan ponselnya setiap waktu untuk melakukan vidio call dengan ibunya supaya lufita bisa melihat langsung keadaan anak-anak mereka.


maklum saja dia tidak pernah berpisah lama dengan anak-anaknya padahal baru tiga hari mereka tidak seatap.


" bang? " panggilnya lembut


" iya sayang " fahriza sudah hafal dengan nada lembut lufita ketika menyebut namanya pasti menginginkan sesuatu.


" balik dari sini kita ketemu sama firman dulu ya " ujarnya membuat fahriza yang semula menggamit tengannya untuk membantu istrinya itu berdiri berhenti dengan menaikkan sebelah alisnya.


permintaan lufita kali ini membuatnya bertanya, biasanya jika akan mengunjungi firman mereka akan pergi berlima alasan yang diberikan lufita ya agar sikembar bisa mengenal dekat saudaranya.


tapi sekarang tumben dia meminta hanya pergi berdua.


" aku rindu dia " ujar lufita menjawab pertanyaan dari raut wajah fahriza.


" emang kamu nggak pa pa kalau harus mampir kesana dulu? " tukas fahriza untuk memastikan kondisi istrinya yang masih belum pulih sempurna.


" aku baik-baik aja bang, lagian cuma pengen ngunjungin dia doang nggak akan buat aku sakit "


" baiklah "


▪︎▪︎▪︎


tidak lama menempuh perjalanan akhirnya mereka tiba disini.


Rumah Peristirahatan Terakhir


yeah kali ini lufita benar benar merindukan anak pertamanya yang bahkan dia sendiri tak sempat melihat atau menciumnya. semuanya terjadi begitu cepat sampai menciptakan secercah penyesalan dan sejuta kerinduan.


walau pun tak pernah melihatnya secara langsung tapi juga bisa membuat ibu tiga orang anak kembar itu merasakan kerinduan pada putra pertamanya yang tak sempat melihat dunia. ikatan batin diantara mereka sangat kuat.


biasanya jika dia merindukan anak pertamanya dia akan menatap fotonya yang ada di laptop fahriza. setelah anak mereka lahir walau sudah tiada lagi fahriza sempat mengambil gambarnya guna untuk memperlihatkan pada lufita bahwa anak pertamanya lebih dominan memiliki wajah ibunya. bahkan wajahnya bisa dikatakan cantik dari pada tampan.


" assalammualaikum sayang " sapanya pada gundukan tanah yang telah lama mengering itu dan tertancap sebuah batu nisan yang bertuliskan Firman Sanubari Jaelani Bin Ahmad Fariza Jaelani dilengkapi dengan tempat tanggal lahir, juga tempat dan tanggal wafatnya.


" firman apa kabar? " pertanyaanya hanya dijawab oleh sapuan angin sepoi sepoi di pemakaman umum ini.


" hari ini bunda datang cuma sama ayah, adik-adik firman nggak ikut. " lanjutnya seperti sedang menceritakan situasi pada seseorang yang bisa mendengarkannya selain fahriza yang ikut berjongkok disampingnya.


" bunda rindu firman, firman rindu bunda nggak? " dia memejamkan matanya mencoba menghalau air matanya yang ingin turun.


" bunda sayang firman. " lirihnya menahan sesak dirongga dadanya. seandainya waktu itu dia mendengarkan perintah suaminya pasti sekarang anaknya baik-baik saja bahkan bisa menjadi kakak yang mengayomi adik-adiknya.


ah beribu penyesalan pun tak akan membalikkan fakta yang sudah terjadi didepan mata. nikmat dan pahit yang datang harus bisa ditelan dengan ikhlas sudah garisnya ini terjadi.


merasa air matanya sudah bisa diajak berkompromi dia berniat membuka matanya namun niatnya kembali dia urungkan ketika dia merasakan sapuan lembut diwajahnya diikuti sebuah kalimat yang menyejukkan hatinya dan diakhiri sebuah kecupan lembut di pipi kanannya walau rasanya samar.


' aku sayang bunda ' setidaknya itulah yang bisa dia dengar walau hanya samar


semua yang serba samar itu terjadi begitu lambat seakan ada sebuah efek slowmo yang terjadi kala itu hingga dia membuka matanya dan tercengang.


" apa itu tadi? " itulah yang ditanyakan oleh hati dalam benaknya tanpa suara yang keluar dari mulutnya saat dia membuka matanya dan menatap gundukan tanah didepannya.


fahriza yang sedari tadi diam berada disebelah kirinya lalu bagaimana bisa dia merasakan kecupan dan kalimat di pipi juga telinga dari arah sebelah kanannya. apa fahriza mencoba mengerjainya? tapi apa mungkin.


" kamu mencium pipi ku? " tanya nya menatap wajah fahriza yang terlihat bingung dengan pertanyaan tak beralasan itu menurutnya.


" ha? kamu mau saya cium? disini? " sambung fahriza dengan nada kurang yakin. dia berfikir apakah istrinya sedang dalam mode happy hingga dia menghayalkan fahriza menciumnya dipemakaman. haha... yang benar saja? dia hanya melakukan itu ketika mereka dikamar tidak ditempat seperti ini juga.


sebuah cubitan mendarat mulus diperut fahriza yang dilayangkan oleh perempuan disampingnya yang terlihat kesal dengan ucapan suaminya. dia bertanya karena penasaran tapi tanggapan fahriza malah membuatnya kesal. menurutnya setelah memiliki anak, otak ayah dari tiga anak itu selalu berisikan hal mesum apa dia tidak melihat tempat dan keadaan?


" otak mu itu " sungut lufita menatap sinis pria tampan disampingnya itu


sebuah senyuman terbit dibibir tipis fahriza mendengar ucapan lufita yang dari tadi terlihat bersedih.


setidaknya dia berhasil membuat istrinya garang dari pada terus bersedih.


" kita kirimi dia doa " ucapan fahriza membuat kepala lufita mengangguk menyetujui ucapan suaminya.


cukup lama berada di pemakaman membuat lufita sedikit merasa lega karena rindunya bisa terobati walau tidak bertatap muka atau memeluk. karena bukan hanya putranya saja yang dia rindukan namun juga kedua orang tuanya yang pemakamannya berada tepat disamping pemakaman putra sulungnya. tak lupa dia juga mengunjungi makam Rija juga ibu angkat yang pernah mengasuh fahriza.


kunjungan banyak seperti ini hanya mereka lakukan jika datang kesini hanya berdua jika bersama si kembar mereka hanya mengunjungi makam anaknya juga makam orang tua lufita yang kebetulan berdampingan dengan cucunya.


mereka tidak mungkin membawa si kembar berlama-lama disana karena beribu pertanyaan yang dilontarkan fairuz tentang makam siapa yang mereka kunjungi saja berhasil membuat mereka jengah apalagi jika mereka berkunjung ke makam keluarga yang lain bisa-bisa mulut lufita berbusa menjawab pertanyaan penasaran dari anaknya.


jangan mencoba mengabaikan pertanyaan dari putri tunggalnya itu karena dia bisa mengeraskan suaranya agar orang yang berada disana mendengarkan dan menjawab rasa penasarannya.


" kenapa? " suara fahriza memecah keheningan yang terjadi diantara mereka ketika mobil mereka melaju sedang membelah jalan ibu kota sore ini.


sedari tadi lufita hanya diam sibuk dengan pikirannya, suasana didalam mobil terasa sepi ketika wanita itu tidak mengoceh apalagi anak kembar mereka yang biasa menciptakan keributan tidak berada disini


dan itu membuat fahriza merasa kesepian tanpa riuh suara anak dan istrinya.


lufita memalingkan wajahnya kesamping tepat dimana prianya sedang menyetir. prianya?


hahaha... lucu juga panggilan itu. perlahan dia mengangkat kedua sudut bibirnya mengingat panggilan yang dia lontarkan untuk suaminya.


" kamu bakalan percaya nggak kalau aku bilang hal yang mustahil? " lugas lufita masih menatap suaminya dari samping


tatapannya juga dibalas oleh fahriza dengan ekspresi bingung kebetulan mereka sedang berhenti dilampu merah jadi dia bisa membalas tatapan istrinya. yang menjadi pertanyaannya sekarang itu adalah hal mustahil apalagi yang dimaksud oleh istrinya itu?


" tergantung alasanya sih? " ujarnya dengan tersenyum jahil


" nggak jadi ah "


" haha.. baiklah baiklah ceritakan hal mustahil apa yang mengganggu pikiranmu dari tadi hem? " ujarnya seraya mengulurkan tangannya untuk membenarkan posisi jilbab istrinya yang sedikit miring.


dia membentulkan posisi duduknya supaya menyamping ke kanan agar dia bisa leluasa menatap fahriza yang sedang menunggu dirinya bercerita.


" tadi pas di pemakaman aku kayak ngerasa ada yang ngusap sama cium pipi aku yang sebelah kanan. trus aku kayak denger ada yang bilang gini... " dia menghentikan ucapannya karena harus menarik nafas


" aku sayang bunda " lanjutnya membuat fahriza menukik alis sebelah kanannya


tiiiinn...


klakson mobil dibelakang mereka tidak sabaran karena lampu merah yang tergantung diatas itu sudah berubah warna menjadi hijau sejak beberapa detik yang lalu.


" jadi karena itu kamu nuduh saya cium kamu tadi? " perbincangan mereka kembali berlanjut seiring berjalannya mobil yang mereka kendarai


" he'em. "


" menurut kamu mungkin nggak itu firman yang lakuin? " sambungnya


" ntahlah saya juga bingung "


" tuh kan kamu nggak percaya " rajuk lufita sambil mempoutkan bibirnya seperti fairuz yang sedang dongkol akan keusilan adik laki-lakinya.


sikap mereka benar-benar 180 derajat miripnya


" saya nggak pernah bilang kalau saya nggak percaya "


" itu mungkin saja terjadi atau.... hanya khalayan kamu karena terlalu merindukannya. bisa sajakan? " tangan kirinya dia tuntun untuk menggenggam jari jemari yang terlihat kecil dibanding miliknya itu


" yah, mungkin hanya perasaanku saja " balasnya sendu


cup


sebuah kecupan mendarat dipunggung tangannya


" jangan sedih kayak gitu, saya percaya sama kamu " ujar sang pelaku yang mencium punggung tangannya tadi


sekian lama berbincang disepanjang jalan akhirnya mereka tiba di istana yang sudah sembilan tahun mereka tinggali ini


bukannya senang lufita kembali menekuk wajahnya melihat suasana rumahnya begitu sepi.


ah mungkin anak-anaknya sedang dirumah mertuanya mengingat dirinya keluar dari rumah sakit hari ini tidak ada yang tau selain fahriza.


karena pemberitahuan jika dia diperbolehkan untuk pulang juga sudah siang tadi


" ayo " ajak fahriza yang sudah membukakan pintu mobil untuk lufita namun belum ada pergerakan dari sang empu yang sedang menekuk wajahnya itu. dia benar-benar sedih karena belum bisa memeluk sikembar sekarang.


" udah jangan sedih lagi " dia mendongak menatap fahriza yang berdiri sambil memegang pintu mobilnya seraya memamerkan senyum manisnya


dengan lemas dia keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju pintu utama rumahnya. jangan lupakan tangan fahriza yang selalu memeluknya bahkan saat ini tangannya tak pernah lepas melingkar dipinggang istrinya. baik sakit maupun sehat kebiasaan ini selalu ia lakukan pada istrinya


" assa... "


" surprise......... "


" selamat datang bunda.... "


" selamat betambah umur bunda.... "


" huaaaa.... fai kangen bundaaa "


ucapan salamnya terhenti akibat pekikan juga kejutan yang diberikan oleh keluarganya belum lagi ucapan riang sikembar yang langsung berlari dan berebut memeluknya. bahkan dia baru menyadari jika di sana juga ada kakak tengah beserta keluarganya, mertuanya,


sekian lama terbengong didepan pintu membuat fahriza menarik pelan tangannya menuntun istri nya itu agar masuk kedalam dari pada berdiri mematung didepan pintu rumah mereka.


" ada acara apa? " bisiknya pelan pada fahriza yang masih setia disampingnya


" bukannya hari ini hari kelahiranmu? "


" iyakah? astaghfirullah kok aku bisa lupa ya.. " celotehnya membuat mereka yang mendengarnya terkekeh kecil


" itu tandanya kamu udah tua, ti ati loh ntar nyangkut ke penyakit pikun " ujar lufian membuat gelak tawa diantara mereka menciptakan suasana hidup disana.


" ini ide fai loh bun sekalian nyambut kepulangan bunda dari rumah sakit " tukas fairuz yang mendapat tatap sinis dari adik laki-laki yang berdiri bersisian dengannya


" yee... faiz juga bantu kali. bang faith sama ayah, oma, opa, om lufi, tante tania, sampai ibra juga ikut bantu jangan nyombongin diri ya " sambung faiz membuat semua yang ada disana terkekeh mendengar rajukannya apalagi dia memberitahukan ibra anak tania yang lebih muda setahun dari mereka juga ikut membantu.


tak mau kalah fairuz kembali melayangkan tatapan perangnya dengan berdecih pelan pada adik tidak tau diri menurutnya itu.


" bun fai pengen peluk bunda, fai kangeeeen banget pake nget lagi " ujar putri tunggalnya itu kembali ceria ketika mengalihkan tatapannya pada perempuan cantik didepannya itu membuat lufita menunduk memperhatikan fairuz dengan senyumannya


inilah yang dia rindukan selama tiga hari ini. suara riuh milik anak-anaknya


perlahan dia merendahkan dirinya agar tingginya sejajar dengan tinggi ketiga anaknya " sini " ucapnya seraya merentangkan tangan agar ketiga anaknya bisa leluasa masuk dalam pelukannya.


" bunda bahkan lebih rindu lagi sama kalian " ucapannya disela pelukan putra putrinya.


" bunda jangan sakit lagi ya.. faiz janji bakalan coba makan sayur deh asal bunda nggak sakit-sakit lagi " sambung faiz ketika pelukan mereka terlepas


" bunda jangan banyak mikirin kita, faith bisa jagain adik-adik faith " tambah faith membuat hati lufita menghangat.


ternyata dibalik dinginnya faith selama ini terdapat sosok hangat yang tak pernah dia perlihatkan pada siapapun.


sebuah senyum terbit menarik kedua sudut bibirnya hingga air matanya juga ikut terjun. penantiannya dengan fahriza waktu itu tidak sia-sia


ketika diambilnya sesuatu yang ia nantikan kala itu ternyata mendapat ganti yang tak dapat ia ukur nikmatnya.


" bunda jangan nangis nanti kita juga ikut sedih " kakak sulung sikembar kembali bersuara sambil memainkan ibu jarinya dipipi sang bunda untuk menghapus butiran bening yang baru saja ia jatuhkan itu.


" bunda bahagia sayang " dia kembali merengkuh anak-anaknya rasa rindunya benar-benar terobati sekarang


" dah cukup adegan drmatisnya sekarang makan dulu yuk. laper " ajak lufian memecah keadaan sad yang sedang tercipta.


♡♡♡♡♡


doain part selanjutnya meluncur malam nanti.


huaah... dah lama kagak ngetik akibat keasikan dengan kesibukan sendiri


see you


jan lupe titip like same vote nye tau,


sumpah kangen banget sama komentar para sang readers


hehehe..... sampai ketemu di next up yang terakhir guyss....