
lufita
》》》》》
aku tersentak dari tidurku ketika fahriza masuk dalam mimpiku dengan tersenyum lembut dia selalu mengatakan bahwa dia selalu mencintaiku.
fiuuuhh...
aku mencoba mengatur nafasku, cuma mimpi hah.. tapi kok aneh ya?
aku memutar tubuhku untuk melihat fahriza yang ku punggungi. eeh tunggu kok..
loh kok perempuan, fahriza mana? aku mengerjabkan mataku mencoba sekali lagi melihat kearah sampingku. tidak berubah tetap seorang perempuan yang masih dengan setelan hijab lengkap.
perlahan ku tarik pelan bahu perempuan yang juga memunggungi ku itu, dan.... lah tania. sejak kapan dia tidur dikamar ku? dan kemana fahriza?
perasaan tidak enak tiba tiba mendatangi ku, fahriza tidak pernah tidak izin padaku jika ingin keluar rumah. dimana dia sekarang? perlahan aku meraih kursi rodaku dengan perlahan aku menuntun kaki ku untuk turun dari kasur, selanjutnya aku memegang erat armrest pada kursi roda lalu mendaratkan bokongku ke tempat duduknya.
aku menggerakkan kursi rodaku menuju ruangan fahriza mungkin dia masih kerja.
perkiraanku salah setelah berada diruangannya tidak ada siapapun disini, hanya dentingan jarum jam yang terdengar diruang sunyi ini. ck dia kemana sih, ini udah mau waktu subuh kok dia keluar nggak bilang.
apa jangan-jangan dia kerumah wanita itu? kok dadaku tiba tiba sesak ya. apa bener dia kerumah vara? atau jangan-jangan mereka udah nikah tanpa sepengetahuan aku dan sekarang dia lagi nemenin vara yang notabennya lagi ngandung. kalo bener jadi janin yang ada diperut perempuan itu beneran anaknya fahriza dong.
kok jadi tambah nyesek ya. astaghfirullah fifi.... mikir apa sih!! nggak boleh su'udzhon dulu. istighfar haaah... tapi kenapa perasaanku nggak enak gini. aku menggelengkan kepalaku mencoba mengusir fikiran buruk yang tertera diotak ku.
dah lah mending aku wudhu. nunggu azan subuh juga masih lama.
aku kembali menggerakkan kursi rodaku untuk kembali kekamar.
aku masih belum beranjak dari tatapan pada sajadah yang tergelar dilantai marmer kamar. ntah kenapa pikiranku tiba-tiba kalut bahkan setelah menjalankan sholat tahajud pun masih belum mampu mengurangi rasa khawatir dalam diriku.
setelah bermenit menit bergulat dengan fikiranku, aku memutuskan untuk mengaji lagi pula sejak tersentak dari tidurku tadi aku udah nggak ngantuk lagi akibat perasaan tidak enak yang menyerangku secara tiba tiba.
loh al-qur'an nya dimana ya kok di lemarinya nggak ada biasanya juga disimpan disini. aku terus menggeledah lemari kecil dengan pintu kaca ini tapi aku nggak ketemu juga. nggak mungkin juga dalam lemari pakaian, fahriza nggak seceroboh itu.
sebenarnya masih ada sih yang lain tapi al-qur'an yang biasa dipakai fahriza itu nggak ada di tempat biasa. ntah kenapa aku mau baca qur'an yang biasa di pakainya. apa mungkin diruang kerjanya? coba cek aja deh.
eh ngomong-ngomong si tania tidur apa pingsan sih, bunyi gedebak gedebuk buku-buku tebal milik fahriza bersenggolan aja dia nggak nyadar. setelah merapikan kembali novel yang terletak di bagian bawah ketempatnya semula, aku mulai menggerakkan lagi kursi rodaku kembali keruang kerja fahriza. masih dalam keadaan menggunakan mukena.
huufftt....
kok aku ngotot kayak gini ya pengen baca qur'an yang biasa dipake fahriza padahal dikamar tadi juga masih ada yang lain walau beda warna sampulnya.
setelah beberapa detik menjelajahkan mataku untuk mencari keberadaan qur'an yang biasa dipakai fahriza itu akhirnya ketemu juga. tapi gimana cara ngambilnya kayaknya tinggi juga letaknya.
ck fahriza kenapa sih ngeletakkin barang-barangnya ke tempat yang tinggi kayak gitu. takut banget aku geledah.
fiuuuhh...
coba dululah siapa tau tanganku yang kuat ini bisa ngegapainya, letakknya nggak tinggi sih kalau aku bisa berdiri. tapi inikan aku bertumpuan dikursi roda.
ah moga aja nyampe.
puk puk
telapak tangan kananku masih menepuk- nepuk papan kayu lemari yang mengalasi beberapa buku disana dan letak qur'an nya agak sedikit jauh. bukan lufita namanya kalo nggak berhasil.
ku genggam erat pintu lemari ini dengan tangan kiriku memberikan dorongan untuk tubuhku, dan hap. huh dapet juga
tunggu... ini aku, aku berdiri? iyah aku berdiri? ini nyata?
dengan ragu aku mencoba melihat kearah kaki ku sendiri. nafasku menggebu melihat kaki ku menapak di lantai marmer ini. kristal bening yang asin itu jatuh mengenai ibu jari kaki kananku.
ya Allah ini nyata? ini beneran? ini nggak mimpi kan?
aku sekarang seperti orang gila berbicara bertanya sendiri tanpa ada orang lain yang akan menjawabnya.
" fi kamu- " tania yang sedang berdiri di ambang pintu kaget dengan apa yang terjadi padaku.
" t-tan... " lirihku
perlahan aku menggerakkan kaki ku untuk melangkah.
deraian kristal bening juga ikut menemani langkahku, dengan sedikit paksaan dan tertatih aku memulai langkahku hingga aku tiba di meja kerja fahriza " tan- ini nyatakan? ini--- ini bukan mimpikan? "
" fi- kamu- kamu bisa jalan fi. hiks ini nyata fi... kamu bisa jalan " ucap tania seraya perlahan mendekatiku.
" ya Allah " aku langsung menubruk tania hingga si empunya sedikit mundur kebelakang. aku terisak dibahu tania, ku genggam erat gamis bagian belakang tania
" aku seneng banget fi, ini mukjizat dari sang maha penguasa fi. aku nggak tau lagi harus ngomong apa, aku seneeeng banget liat kamu bisa jalan kayak gini " dia juga menangis di belakangku sembari memberikan elusan di punggungku
" aku-- aku hiks..... "
" udah kamu tenangin diri kamu ya, "
ya Allah, aku tidak tau lagi harus bertindak seperti apa atas nikmat yang telah engkau berikan pada aku, ya Rabb aku terlalu banyak dosa dalam setiap detik jalan ku, tapi Engkau tak pernah mengurangi nikmat yang telah di janjikan untuk umatmu.
ya Allah syukran
bimbing aku ya Allah agar selalu tunduk dijalanmu, bantu aku agar selalu bersujud padamu. apa yang terjadi padaku sekarang tidak akan pernah bisa aku bayar dengan apapun untukmu.
fahriza?
ya aku harus kasi tau fahriza, dia pasti seneng liat aku bisa jalan lagi. ini obsesi dia
ku lepas pelukanku dari tania
" kamu mau kemana? " tanya tania ketika aku perlahan menggerakkan kaki ku untuk ke kamar.
" aku harus kasi tau fahriza tan. "
" biar aku bantu " dia menggapai pundak ku ingin membantu ku berjalan
" nggak tan. aku harus bisa sendiri " ucapku mantap. Allah udah kembali kasi kepercayaan buat aku bisa jalan lagi, jadi aku harus bisa membuat kepercayaan itu semangat untuk menuntun langkah ku tanpa bantuan siapa pun.
dia tersenyum lembut sembari mengusap bahuku " baiklah ". setelah mendengar permintaanku dia melepas lingkaran tangannya di pundakku.
dia membiarkan ku mencoba tanpa bantuan darinya.
dengan sedikit tertatih aku menuntun langkahku menuju kamar.
namun baru saja kaki ku menapak sampai di puntu kamar sebuah dobrakan dari arah belangkang membuatku menghentikan langkah.
" SIAPA KALIAN? "
teriakan tania membuatku membalikkan badan ingin melihat siapa yang dimaksud tania.
" fiuuuhh.. men, ternyata cantik- cantik ya? " ujar seorang pria tinggi pada temanya dengan congkaknya berjalan mendekati kami.
terbalut pakaian serba hitam dari bawah hingga atas, ditambah minimnya penerangan di sini membuatku sulit mengenali mereka.
mengerti akan gelagat ku salah satu dari mereka yaitu seorang dengan postur tegap mulai berjalan mendekatiku.
aku melihat tania yang mencoba berlari mendekatiku tapi terlambat karena yang satunya sudah berhasil mencekal pergelangan tangan tania.
" mau apa kalian? "
" kami nggak punya urusan sama kalian, jadi tolong tinggalkan rumahku. kalian mau uang? berapa? katakan. akan ku berikan " aku melempar tatapan tajam pada mereka secara berganti walau dengan pencahayaan yang minim tapi aku yakin mereka bisa melihat tatapan menghunus dariku.
ketika tidur aku terbiasa mematikan lampu utama hingga menggantinya dengan lampu LED yang minim pencahayaan. sekarang aku menyesali perbuatanku karena kebiasaan itu aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka hingga aku tidak bisa melihat apa mau mereka. mau menggapai sakelar letanya jauh hingga pergerakan sedikit saja bisa dipastikan mereka akan menangkapku
tapi yang jadi pertanyaaku bagaimana mereka bisa masuk. seluruh pintu mau pun jendela dirumah ini selalu terkunci dengan baik, ditambah lagi sensor alarm pengaman yang terpasang sebagai penjaga untuk rumah kami agar bisa dengan mudah mengetahui jika ada orang masuk dengan cara tidak lazim. contoh kecilnya, lewat jendela atau melompati pagar belakang.
aku tidak mungkin melakukan itu, aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian.
" tolong lepaskan sahabatku. " aku mencoba bernegosiasi dengan dua orang tidak dikenal itu.
" haaah... maaf nona saat ini kami tidak butuh uang. "
" sepertinya kau sudah bisa berjalan. ck membuat beban ku saja, tapi ada bagusnya juga kau sudah bisa berjalan seperti ini.... " dia menggantung kalimatnya
" apa mau kalian "
" fi, cepat pergi fi aku mohon selametin diri kamu " aku kembali menoleh kearah tania yang sudut bibirnya sudah berdarah.
" diam bodoh " bentaknya membuat aku mengepalkan tanganku melihat lelaki kurang ajar itu sudah berbuat seperti itu pada tania
" kami tidak mau apapun nona. " sarkasnya semakin mendekati ku. dengan cepat aku juga memainkan langkahku agar menjauh darinya walau masih tertatih, aku menyimpan tanganku dibelakang mencoba menyusuri apapun benda yang ada disana yang bisa aku gunakan untuk melawan lelaki gila didepanku ini.
" ck cepat bodoh tangkap dia, apa kau ingin kita ketahuan. " tukas pria yang masih mengunci pergelangan tangan tania itu.
" kau ini, apa kau ingin membuang mereka begitu saja tanpa bermain? "
" falen, kau ingin kita dimarahi tuan vicky karena lama membunuh wanita itu. " sergahnya pada laki laki didepanku ini yang dipanggilnya falen.
" bodoh. lelaki tua itu hanya menyuruh kita membunuh istri musuhnya. tidak melarang kita melakukan hal lain bukan? " kecam pria bernama falen itu. dia menghentikan langkahnya lalu menatap temannya itu
" lalu kau mau apa sekarang? "
" kau ini memang benar- benar benar bodoh. menikmatinya lah, sebelum mereka menemui ajalnya ada baiknya jika kita menikmati desahan mereka dulu. " jelas pria bernama falen itu terdengar menyeringai
disaat mereka masih adu mulut, aku meraih guci kramik yang besarnya seperti pemukul softball yang terletak di rak kayu ukiran.
PRAAANGG.....
tubuhku bergetar saat aku mendaratkan guci itu ke kepala falen, semua itu terjadi dengan cepat ketika dia meraih pinggangku. entah sejak kapan dia sudah berada didekatku.
buliran keringat dan air mata menemaniku saat dia berteriak.
aku berlari kearah kebelakang kursi mencoba menggapai pintu utama tapi langkahku yang lemah dapat dikalahkan oleh pria yang menawan tania tadi.
" kurang ajar kau perempuan sial. ku buat kau menemui ajal mu sekarang " teriak falen yang sedang menyeka luka yang menganga dikeningnya akibat perbuatanku.
aku tidak melukainya tanpa alasan. dia yang menyakitiku, semoga dia tidak meninggal. jika dia mati maka aku akan disebut sebagai pembunuh.
tidak.
aku tidak membunuh, aku menyelamatkan nyawaku juga tania.
tania juga melakukan hal yang sama memukul belakang pria yang mengunci tubuhku dengan dekapannya. sabelah tangannya mengunci leherku.
" arrgghh... " teriak pria itu ketika tania berhasil memukulkan keramik besar itu hingga pecah.
" kurang ajar, wanita tidak tau diuntung. " cercanya.
aku maupun tania sudah berhasil meraih pintu utama tapi sayang langkahku terhenti mendengar teriakan tania yang ternyata sudah terjembab akibat kakinya ditarik pria itu. sementara lelaki yang bernama falen itu sudah menyentak kasar pergelangan tanganku yang ikut berlumuran darah dari kepalanya.
" wanita sialan, mau diakhiri dengan lembut malah ngelunjak kamu. aku tidak akan memberikan kebaikan lagi atas apa yang terjadi dengan kepalaku. kalian berdua harus mati " makinya didepan wajahku
tubuhku makin bergetar ketika dia melemparku ke sofa. " LUFITA.... " pekik tania saat dia melihatku tersungkur hingga kepalaku mengenai lengan sofa begitu keras. ku rasakan kepalaku berdenyut.
tak lama setelah melemparku pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku jas hitamnya itu.
pistol
iya dia mengarahkan pistol kearahku " NGGAAK JANGAN, AKU MOHON LEPASKAN SAHABATKU " pekik tania diiringi isakan nya.
dia masih terkurung oleh laki laki yang menarik kakinya tadi.
kulihat lelaki iku membungkam mulut tania dengan tangannya.
" hengh, sudah terlambat nona. kalian yang membuatku memberikan kematian seperti ini. " ujar falen tajam
" sekarang ikutilah jejak suamimu menemui ajalnya, dengan cara ditembak "lanjutnya membuatku seperti hilang pasokan oksigen.
apa maksudnya? apa yang dia katakan tadi. fahriza tiada? nggak. nggak mungkin dia pasti menipuku
" APA MAKSUDMU? JANGAN MACAM-MACAM DENGAN SUAMIKU!!! "
" bos ku telah lebih dulu membunuhnya. " jawabnya enteng
" sekarang giliranmu. " sarkasnya seraya menarik pelatuk pistol
BRAAKKK......
BUG, BUG, BUG
" BRENGSEK "
kak lufian....
dan siapa mereka? siapa yang dibawanya.
kak lufian yang mendobrak pintu rumahku dengan bantuan beberapa orang disana yang entah siapa hingga sekarang rumahku sudah ramai oleh orang.
kak lufian memukul tanpa ampun pria yang mau membunuhku tadi, hingga orang-orang yang berada disana sedikit sulit memisahkan mereka.
dan pria yang meregang tania sudah ditarik paksa oleh beberapa polisi yang entah kapan sudah ada disini.
semuanya terjadi begitu cepat hingga sulit kucerna.
aku merasakan sebuah pelukan. dan tania yang melakukannya dia memelukku dengan erat hingga aku sedikit sulit mengambil nafas.
" kamu nggak pa pa kan fi? " tanya nya khawatir dengan nada bergetar air mata masih bergulir membasahi pipinya
" kalian nggak pa pa kan? " kali ini kak lufian yang bertanya dengan sedikit terengah engah.
" fi.... "
" fahriza dimana? " aku teringat pada perkataan falen tadi, aku harus memastikan jika semua yang dia ucapkan tadi bohong. kali ini aku berdiri menatap wajah kak lufian, aku harus melihat ekspresinya. kurasa dia tau akan apa yang barus saja terjadi
bukannya menjawab pertanyaanku, kak lufian malah memelukku " kamu udah bisa jalan lagi fi. " ujarnya
" kak "
" fahriza.... "
" fahriza dimana kak? " sekali lagi aku mengulangi pertanyaanku pandanganku kabur oleh genangan air mata padahal rumahku sekarang sudah terang karena lampu utamanya sudah dihidupkan entah siapa yang menghidupkannya aku juga tidak tau. aku sudah tak memperdulikan keadaan disekelilingku.
saat ini aku harus tau keadaan fahriza.
" fahriza dirumah sakit fi. " lirihnya membuatku terjembab jika tidak segera di tahan tania
" sebaiknya kamu istirahat dulu " tukas tania yang ingin membimbingku menuju kamar.
" kita kerumah sakit sekarang " titahku membuat tania dan kak lufian saling tatap
" tapi.... "
" kak fifi mohon hiks, fifi harus liat keadaan fahriza kak hiks.... " aku sudah tak mampu menahan air mataku yang sedari tadi telah menganak sungai ini.
" baiklah "