LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
DINNER TEKA TEKI



nggak kerasa lima bulan telah berlalu.


berbagai pengobatan yang aku jalani di london kemaren tak membuahkan hasil apapun.


beberapa kali aku melakukan fisioterapi tapi masih belum membuahkan hasil apapun. lima hari berada disana kami habiskan untuk melakukan pengobatan untuk ku tapi sayangnya Allah masih ingin melihatku seperti ini.


mungkin Dia punya hikmah istimewa yang telah disiapkan-Nya untuk ku.


sebenarnya fahriza masih ingin berlama disana untuk proses pengobatanku namun karena ada masalah dikantor terpaksa kami harus pulang dihari ke 6.


kalian tau jika tidak ada masalah dikantornya, fahriza ingin mengajak ku ke Camden Town, salah satu tempat wisata yang terkenal di london karena menjual berbagai pernak pernik souvenir. trus disetiap toko itu bakalan jual pernak pernik souvenir yang berbeda beda. itu dapat info dari eyang google ya.. soalnya kan kita nggak jadi kesana jadi yah, dari pada penasaran mending aku search aja camden town itu tempat apa.


tapi tenang walaupun kita nggak ke camden town fahriza bawa aku liat liat kampusnya yang dulu tempat dia menempuh pendidikan atau tempat dia bertemu dengan izumi. ( jangan cemburu lufita cuma masa lalu )


jangan dengerin kata hati aku kadang selalu bener.


hah...


oke jadi dulu fahriza kuliahnya di Imperial College London, atau biasa disebut UCL ( university college london ).


dan kalian tau kampusnya besar banget duh jiwa norak aku muncul


kalo semisal nanti aku sembuh bisa jalan lagi, aku pengen ngambil S2 kedokteranku disini. itu juga kalo di izinin sama fahriza.


cuma segitu yang bisa aku bahas tentang perjalanan ku di inggris, soalnya nggak banyak tempat yang kita kunjungi karena waktu yang kita miliki cuma lima hari disana. jadi kita lebih banyak bolak balik st thomas hospital. kalo kalian bingung gimana aku jalan disana, kan aku harus pake kursi roda nggak susah gitu?


susah juga sih soalnya kan agak ribet mesti bawa kursi roda kemana mana. tapi kalo misal kita jalan dekat dekat hotel fahriza selalu nyediain punggungnya buat gendong aku. pas pertama aku agak malu juga sih tapi dia bilang gini


" lebih memalukan kalo saya nggak bisa bahagiain istri saya ".


yah mau nggak mau aku nurutin kata-kata dia.


semenjak balik dari london fahriza sibuk banget, masalah yang baru saja menimpa di kantor ngebuat dia jarang punya waktu luang. setiap hari selalu pulang telat.


kadang dia juga nggak sempat sarapan dirumah ntahlah aku juga nggak tau masalah seperti apa yang menimpa kantornya, dia cuma bilang masalah doang.


mungkin dia nggak mau bikin aku khawatir makanya dia selalu cakap cuma masalah kantor biasa


cup


hampir aja buku yang ku pegang ku pukulkan ke pelaku yang baru saja mengecup pucuk kepalaku itu jika dia tidak cepat berpindah posisi duduk didepanku " eh udah pulang? "


" em " balasnya.


dia menyandarkan kepalanya di punggung kursi, lalu juga memijit pangkal hidungnya seraya memejamkan mata. apakah masalah kantornya sangat berat hingga tubuhnya terlihat sangat lelah.


aku tak berani banyak bertanya, tak ingin mengganggunya dia sangat butuh istirahat.


" mau kopi? " tawarku seraya menggerakkan kursi rodaku mendekatinya yang masih setia mengatupkan kedua kelopak matanya


" nggak " tumben dia nggak ngoceh kayak biasa sikap dinginya seperti hadir lagi dalam dirinya


" malam nanti bisa temani saya bertemu klien? " tanyanya mulai membuka matanya namun masih belum melihat wajahku


" baiklah "


" kamu udah sholat asar? " kali ini aku yang bertanya sembari mengusap punggung tangan kanannya


" belum, saya mau mandi dulu " dia balas menggenggam tangan kiriku yang mengusap punggung tangannya tadi


" ya udah aku mau kedapur dulu " dia tersenyum tipis kemudian bangkit berjalan kekamar


ada apa dengannya hari ini, sikapnya benar benar aneh. ini masih sore dia sudah pulang tumben aja, trus sikapnya dingin banget.


ah sudahlah mungkin dia lelah dengan kerjaan kantor


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


" bang? "


" hem "


" emang nggak pa pa kalo aku ikut? " ku tatap wajah pria disampingku yang sedang fokus nyetir mobil ini


" ini cuma acara dinner biasa sayang, bukan pertemuan penting. saya menghadirinya karena menghargai undangannya "


aku menggigit kecil bibir bawahku, sekarang tanganku terasa dingin. perasaan gugup tiba tiba saja menyerangku. aku takut kalau nanti kliennya membatalkan kerja sama mereka karena aku.


secara aku lumpuh, bagaimana jika mereka tidak mau bekerja sama dengan fahriza yang notabennya punya istri lumpuh.seharusnya tadi aku tolak saja ajakannya


" kamu kenapa? "


" ah, em,,,, " aku melirik pria disampingku ini yang ternayata juga melirikku dengan raut penuh tanya


dia kembali menoleh kearahku dengan raut meminta penjelasan atas kegugupanku.


" bang za "


" hem "


" langsung ke pertanyaan inti kamu aja " ujarnya mungkin jengkel dengan pertanyaan yang sama dengan yang tadi aku lontarkan


" haaah.... aku lumpuh bang, gimana kalau klien kamu batalin kerja sama dengan perusahaan gara gara dia nggak mau punya partner kerja yang istrinya cacat " akhirnya keluar juga uneg-uneg ku yang dari tadi tertahan.


" saya itu heran sama kamu fi, pemikiran kamu tuh selalu melenceng terlalu jauh. saya kan udah bilang tadi, ini tuh cuma makan malam biasa bukan pertemuan resmi. dia ingin mengenal keluarga saya "


" aku cuma takut bang " ujarku seraya menatap kearahnya yang mulai fokus memarkirkan mobil diarea parkiran restoran.


setelah melepas seatbelt yang tersampir di tubuhnya, dia juga membukakan seatbelt yang melekat ditubuhku.


" sekarang mulailah belajar berfikir positif. dan jangan pernah lupakan bahwa saya nggak pernah suka fikiran konyol yang belum tentu sama dengan realita nya. " setelah mengatakan itu dia turun dari mobil dan mengeluarkan kursi rodaku dari bagasi, kemudian membantuku duduk disana.


" selamat malam pak fahriza " sapa seorang pria paruh baya yang sedang berdiri dari duduknya menyambut kedatangan kami. dia menjabat tangan fahriza. tunggu, aku sepertinya kenal dengan sosok ini bentar deh


" maaf menunggu lama " balas fahriza lalu menarik tangannya


" ah tidak masalah, saya juga baru datang "


" om vicky " ujarku membuat pria paruh baya didepan fahriza ini menoleh kearah ku


" lufita " ujarnya kaget


ah iya dia ayahnya vino aku baru ingat. dulu aku sempat beberapa kali bertemu dengannya bahkan waktu masih berpacaran dengan vino aku juga pernah makan malam bersama om vicky.


" kalian saling kenal? " kali ini fahriza buka suara


" a.. dia .... "


" anak saya pernah menjalin hubungan dengan lufita " timpal om vicky memotong penjelasan ku pada fahriz


sedangkan yang diberi penjelasan hanya manggut manggut seperti mengetahui saja siapa anak om vicky yang pernah menjalin hubungan denganku. atau jangan-jangan fahriza sudah tau.


" saya tidak menyangka ternyata istri direktur muda seperti anda adalah lufita, " sambung om vicky diakhiri dengan kekehan kecil darinya


kok dari ucapannya terdengar menyindir ya seakan aku ini adalah barang bekas


Astaghfirullah lufita nggak boleh gitu su'udzhon mulu.


fahriza hanya menanggapinya dengan senyuman


" eh maaf sebelumnya, kaki kamu...? " om vicky menghentikan perkataannya seraya melirik kearah kursi roda yang ku pakai


aku hanya menundukkan kepalaku atas pertanyaan yang dilontarkan om vicky


" dia kecelakaan dua bulan yang lalu " mengerti dengan suasana hatiku jadi fahriza yang menjawab pertanyaan om vicky


" a... maaf, semoga cepat sembuh " sambungnya


" terima kasih "


pertemuan makan malam ini pembicaraannya lebih di dominasi sama om vicky yang banyak bertanya tentang kondisi ku, bagaimana aku bisa kecelakaan, pengobatan apa saja yang sudah aku lakukan dan bahkan dia menawarkan pengobatan ke sydney dengan sepupunya yang seorang dokter ortoperdi.


om vicky orangnya memang friendly, ramah kesiapa pun bahkan dengan orang yang baru dia kenal aja dia bisa langsung akrab aku tau tentangnya karena aku lumayan mengenal kepribadiannya akibat keakrabannya walau hanya beberapa kali bertemu.


tapi yang jadi pertanyaan ku kenapa ekspresi yang ditunjukkan fahriza hanya datar aja walau beberapa kali dia terlihat tersenyum menanggapi ucapan om vicky namun tidak bisa dipungkiri raut dingin wajahnya yang bisa kurasakan. apa dia tidak menyukai kolega bisnisnya itu.


yang lebih mengherankan lagi om vicky tidak pernah membahas tentang putra sulungnya itu yaitu vino, dia sama sekali tidak pernah mengungkit atau mempertanyakan perihal vino padaku aneh bukan, padahal dia sangat terlihat antusias saat berbicara dengan kami. apalagi dia beberapa kali mengungkit sedikit tentang ku dan vino di masa lalu namun hanya itu saja tidak lebih. dia bahkan tidak sekalipun menyebut nama vino di depan kami. hanya memakai embel-embel 'putraku'


aku merasa ada yang disembunyikan dariku tapi apa


aku hanya bisa menyimpan pertanyaanku itu, aku belum punya bukti untuk mempertanyakan pada fahriza. oke aku akan tunggu sampai ada sedikit celah untuk aku bertanya nanti


aku bahkan masih mengingat titah yang diberikan fahriza saat dimobil ketika kami di jalan pulang tadi,


' jangan pernah kamu temui pria yang didalam tadi ketika kamu sendiri, jika pun kamu tak sengaja berpapasan saat diluar, hindari '


kurang lebih seperti inilah peringatannya itu, tapi ketika aku tanya kenapa aku harus menghindari om vicky dia hanya diam saja. bahkan sampai kerumah pun dia tidak berkata sepatah katapun.


.


.


.


♡♡♡♡♡


semoga masih ada yang mau baca


maaf lama nge up


hehehe....... mood nulis saya baru muncul


kalo penasaran dengan part ini, tunggu di pembahasan part selanjutnya


sekali lagi maaf baru bisa nge up