LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
TRIPLE F



aku menggeliatkan tubuhku mencoba merenggangkan otot-ototku yang kaku. rasanya badanku lemes banget mau bangun. tumben si kembar nggak jejeritan pagi-pagi kayak gini.


em... tapi baguslah karena aku ingin berleha-leha dahulu, sumpah kalau bukan demi nyenengin suami itu pahala udah aku gebukin fahriza yang masih enaknya terlelap disampingku yang sudah mengenakan baju koko dan sarung mungkin setelah sholat subuh dia tidur lagi.


aku mengangkat pandanganku untuk melihat wajah fahriza yang masih terlelap. rasanya aku masih nggak percaya yang semalem itu fahriza liat aja dia sekarang mukanya keliatan kalem banget padahal kalau malam tadi.... udah nggak usah dijelasin susah nge deskripsiinnya.


lagi pula malu guyss...


kalian cari tau sendiri aja, buat yang jomblo nikah cepet-cepet ntar kalian pasti tau.


perlahan aku membuka selimutku, dan aku kembali menghela nafas lega ternyata udah pake baju. tapi bukan baju aku ini mah melainkan kemeja fahriza yang dipakenya semalam. udah kayak dress aja dibadanku.


kutarik kerah kemejanya yang terbuka ini agar menyentuh hidungku kemudian ku tutup mataku untuk mencium aroma tubuh fahriza yang tertinggal dikemejanya ini, haaahh... nenangin banget.


ketika aku sedang asik menghirup wangi parfum di kemejanya yang masih nempel dibadanku ini tiba-tiba sekelabat bayangan malam tadi kembali terlintas dikepalaku membuatku tertegun


haisss....


kembar tolong bunda dong huaaa jangan sampai kalian punya adik dulu bunda belom siap.


" hui.. bangun huii.. dah pagi " ku gerakkan tangannya yang melingkar dipinggangku


terdengar dia hanya melenguh pelan tanpa mau membuka matanya.


" hei bangun nggak. kalo nggak aku sama anak-anak pulang pake taksi " ancamanku berhasil membuatnya berbicara tapi kelopak matanya masih betah tertutup


" sayang ini masih pagi, kita pulang agak siangan aja saya masih capek " jawabnya membuatku geram


buk


buk


buk


" sayang, aduh. kamu kanapa? " dia menarik bantal dari tanganku untuk menghentikan pukulan yang baru saja ku layangkan padanya.


" siapa yang nyuruh kamu main nggak inget waktu. " sarkasku membuatnya memutar bola mata


" lagian siapa suruh kamu ngegoda saya " jawabnya enteng


buk


" kamu ya... "


buk


" kamu mau aku hamil lagi "


buk


" anak-anak masih kecil baaaang... "


dia kembali menarik bantal dari genggamanku yang terus kugunakan untuk memukulinya


" kamu nggak akan hamil. "


" gak hamil gimana orang kamu...... "


" percaya sama saya "


" lagian itu juga pembuktian buat kamu " lanjutnya sambil mendudukan dirinya berhadapan denganku


" pembuktian apa maksud kamu? "


" bukannya semalam kamu nuduh saya suka pegang-pegang perempuan lain. jadi saya buktiin ke kamu kalo saya itu cuma suka megang kamu doang " aku mengerti kemana arah pembicaraan ini dibawa.


dia meraih botol minuman diatas nakas yang selalu penuh setiap paginya karena setiap malam sebelum tidur udah diisi dulu sama pemiliknya siapa lagi kalau bukan fahriza, tak lama isinya sudah ditenggak hingga setengah.


" tapi bukan gini caranya "


" haaa.. aku belom siap kalau harus... "


tok tok tok...


" za.. fi.. kalian udah bangun? " teriak ibu dari luar membuatku menghentikan ucapanku


" bentar bu " balasku seraya menguncir rambut ku asal. karena terus berdebat dengan fahriza berhasil membuatku gerah.


" bukain pintunya " titahku pada fahriza yang langsung turun dari kasur dengan langkah gontai lalu berjalan kearah pintu


ceklek


" maaf ya ganggu ibu cum..... " ucapannya terhenti setelah melihat kearahku


" emm... kayaknya ibu datang diwaktu yang tidak tepat deh " lanjutnya menatapku sambil melipat bibir menahan senyum


" kenapa bu? " aku penasaran ibu kenapa kok malu malu gitu


" nggak pa pa, cuma mau ngajakin sarapan fairuz dari tadi juga nyariin kamu kayaknya " aku dapat menangkap ekspresi ibu yang menahan tawa. kulirik fahriza yang sudah berjalan mengambil ponselnya diatas sofa.


tidak ada yang salah dengannya nya lalu ibu kenapa?


" ibu tunggu dimeja makan ya " ujarnya lalu keluar dari kamar setelah kujawab dengan anggukan


" bang? " panggilku pada fahriza yang mengambil pakainnya dilemari sepertinya mau mandi


" hem "


" ibu kenapa ya? "


" maksudnya? "


" ya kayak malu-malu gitu pas bicara sama aku "


dia hanya ber oh ria saja mendengar jawaban dariku.


aku menggelengkan kepala menanggapi ini mungkin ibu lagi dapet jackpot kali dari ayah.


atau ada kejutan untukku di luar sana yang disiapin fahriza.


maybe?


kulangkahkan kaki ku kearah meja rias untuk mengambil ponselku yang tergeletak disana. tanpa sengaja mataku menatap cermin hingga mau tak mau rasanya mataku ingin jatuh melihat bayangan diriku sendiri disana


" fahrizaaaaaaaaaaa......... " teriakku pada sipembuat ulah yang udah ngacir kedalam kamar mandi


aaaa.... malu banget


pantesan ibu senyum-senyum dari tadi pasti liat area leherku yang yang terekspos karena dua kancing bagian atas kemeja fahriza terbuka hingga leher sampai tulang selangka ku keliatan


aaaarrggghhh...


awas kamu fahriza nggak ngasi tau aku perihal ini


pantesan dia santai saja menanggapi ucapanku ternyata dia udah tau jawabannya.


▪︎▪︎▪︎


" bik. bisa minta tolong bawain makanan gak? " aku sudah terlalu letih untuk bolak balik kebawah karena selepas pulang dari rumah mertuaku, fairuz sama faiz rewel banget nggak mau pisah dari aku


jangan tanya dimana faith anakku yang paling tua itu udah anteng sama bapaknya dikasur.


" bentar non " ujar bik nini yang sedang membersihkan kamar anak-anak disebelah kamarku dan fahriza.


itu semua ide fahriza ya udah nyiapin dua buah kamar lagi disamping kamar kami. katanya anak-anak harus belajar tidur sendiri nanti biar mandiri.


huh bilang aja nggak pengen diganggu.


" biar saya aja bi yang ambilin " sahut fahriza yang ternyata sudah berada dibelakangku yang berdiri di pintu kamar anakku.


ck cari perhatian tuh, biarin aja emang dia fikir dengan ngerjain aku kayak tadi aku bakalan mudah gitu maafin dia.


" tapi den.. "


" nggak pa pa bik. bibik lanjutin aja kerjaannya biar saya yang ambilin makanan lufita " setelah mengatakan itu dia langsung turun kebawah


setibanya aku dikamar ternyata faiz udah bangun sambil jejeritan alhasil membuat fairuz juga terbangun dan ikut ikutan nangis juga di box bayi mereka.


ya Allah gini ya rasanya ngurusin anak badanku rasanya pegal karena kurang istirahat. segera ku pindahkan faiz dari box bayi ke kasur begitu juga dengan fairuz.


" kenapa sayang? mau mimik cucu ya? " tanyaku pada dua orang malaikat kecil yang sedang memandangku dengan mata kucing mereka. gemesin banget sih


ketika aku sedang membuatkan susu untuk faiz dan fairuz, fahriza datang dengan sepiring nasi beserta lauknya plus segelas air putih yang diletakkannya diatas nakas.


" mereka laper ya? " tanya nya tanpa ku perdulikan


" kamu makan dulu gih, biar saya yang ngurus mereka " lanjutnya lalu duduk disamping fairuz dengan santainya mengambil alih dua buah botol susu dari tanganku.


tanpa mengatakan apapun aku kembali merampas botol susu yang sedang digunakan faiz. terdengar helaan nafas dari fahriza seraya menatapku.


" laper ya.. anak pinter kalau laper nggak boleh nangis. nanti minta baik-baik sama bunda ya " rasanya aku ingin terbahak melihat dia menasehati fairuza dan faiz tapi aku harus mengurungkan niatku karena masih dalam mode ngambek


" bilangnya gini. bunda sayang aiz sama fai laper, boleh nggak minta cucu nya " aku berdehem untuk menahan tawa ketika fahriza mengatakan ini dengan aksen anak kecil. dia fikir bayi enam bulan udah bisa ngomong selancar itu.


tak lama aku dan fahriza asik berceloteh dengan sikembar, faith pun ikut membuka matanya mungkin terganggu dengan suara fairuz dan fahriza yang bersautan. ehem sebenernya bukan aku sih yang banyak berceloteh melainkan hanya fahriza sendiri. anakku yang sulung ini emang harus dikasi piagam penghargaan sebagai bayi ternyaman dalam mengurusnya.


kalian tau dia bangun nggak kayak dua adiknya yang histeris dulu, melainkan langsung memperhatikanku dan fahriza dengan mata teduh milikku yang di copy paste nya itu. cuma mata aku doang yang di copy itu pun cuma si faith sendiri yang lainnya murni copy an muka ngeselin fahriza. bahkan idung mereka udah kayak perosotan TK ngikutin bapaknya.


aku kayak ngerasa kalau mereka itu cuma anak fahriza doang. huh syukuri aja lufita


" eh abang udah bangun, kebetulan kita berempat musyawarah dulu yuk " ajaknya pada ketiga anak ku entah apa yang dia rencanakan dalam otaknya


setelah selesai memberikan susu untuk fairuz dan faiz, aku meraih piring yang dibawakan fahriza tadi. buang dulu gengsinya bentar sumpah perutku udah kayak tong kosong, dari siang belom makan sekarang udah jam 4 sore ngurusin anak-anak bikin lupa waktu plus lupa segalanya.


ketika aku sedang asik mengunyah nasi dalam mulutku terdengar gelak tawa dari fairuz nyaring banget udah kayak suaranya si nayra yang cempreng itu dah.


entah apa yang mereka berempat diskusikan diatas kasur sana hingga membuat fairuz atau faiz berkali-kali mengeluarkan tawa mereka. karena posisiku yang di sofa sulit mendengarkan pembicaraan mereka. bahkan beberapa kali fairuz melirik kearahku.


wah kayaknya si fahriza ngeracunin pikiran anak-anak untuk memihak dia.


" kamu ngeracunin fikiran mereka ya? " sinisku ketika sudah berada didepan mereka dengan posisi fahriza berbaring menghadap sikembar dengan tangannya dijadikan penyanggah agar bisa leluasa memperhatikan ketiga wajah anaknnya.


" kamu tuh su'udzon aja " jawabnya sambil mencium gemas pipi fairuz yang chubby.


" saya cuma minta bantuan sama triple F supaya bantuin ayahnya mendapatkan maaf dari ibunya. " lanjutnya memberikan elusan lembut di pipi faith yang sedari tadi hanya diam memperhatikan anggota keluarganya adu suara.


" jangan bohong kamu "


fairuz kembali menangis mendengar aku yang berdebat dengan fahriza, ketika ku gendong bukannya berhenti tangisnya itu malah makin menjadi. tapiii... sekali bapaknya yang ambil alih tuh anak langsung kicep. dengan gerutuan kecil dari bibirnya.


" tuh kan pas sama kamu dia diem pasti kamu apa apain mereka " sungutku


" nggak sayang, saya nggak ngapa ngapain mereka. beneran " balasnya sambil mendendangkan fairuz dalm gendongannya


" alesan. siniin fairuznya "


tok tok tok...


" maaf non mengganggu, didepan ada temen non " ujar bik nini didepan kamarku


" siapa bi? "


" nggak tau non, perempuan. katanya temen non sama aden "


aku menoleh kerah fahriza bertanya lewat raut wajahku apakah dia mengundang temannya untuk kerumah tapi jawabannya hanya mengendikkan bahu pertanda dia juga tidak tau.


siapa ya kalo tania bibik pasti sebutin namanya, apalagi hanifa sama caca semua orang dirumah juga udah pada kenal akibat caca yang selalu pengen main sama si kembar kadang caca juga sering nginep sampe buat mamanya kelimpungan karena caca yang nggak mau jauh dari sikembar.


ku ambil fairuz dari gendongannya fahriza lalu turun kebawah.


begitu juga dengan fahriza yang menggendong faith dan faiz yang sedari tadi asik berceloteh diatas kasur


setibanya diruang tamu mataku sedikit memicing untuk melihat seorang perempuan berambut panjang berwarna brown ini yang sedang memainkan ponselnya. menggunakan dress selutut berkerah sabrina hingga memperlihatkan bahu indahnya.


mataku seketika melebar ketika dia menyadari kehadiranku dan tersenyum kearahku


" vara.... "


▪︎▪︎


cup


" jangan ngambek terus dong, saya nanti kedinginan "


ucap pria berginsul ini dihadapanku setelah berhasil mengecup pipiku.


" kamu ya yang undang vara kerumah " sarkasku mengingat perempuan berwajah bule itu datang kerumahku sore tadi


ntah kenapa setiap mengingat vara emosiku seperti bermain, aku masih mengingat kejahatannya yang mencoba merusak rumah tanggaku dan hampir membuat aku kehilangan fahriza


" sayang " dia mengangkat daguku membuat mata kami bertemu kemudian kedua tangannya memegang kedua pundakku.


" kamu dendam? " dia menatap dalam mataku dengan mata tajamnnya itu walau sedikit nervous sih tapi sebisa mungkin aku juga menatap netra coklatnya itu.


aku masih diam tak menjawab pertanyaan yang dilontarkannya ntah kenapa setiap menatap kearah mata fahriza membuatku tak menghiraukann yang lain, matanya benar-benar indah seakan terdapat telaga dibawah untaian pelangi.


ais lufita dalam mode marah jangan tergoda dong haduh....


" kamu lupa apa akibatnya kalo kita nyimpen dendam sama orang lain? " tatapannya kali ini membuatku ingin menangis teringat ketika detak jantungnya yang berhenti beberapa saat waktu itu hingga rasanya duniaku juga ikut runtuh jika dia tak kembali


" dia hampir buat rumah tangga kita rusak bang, dia juga yang hampir buat aku kehilangan kamu hiks.. kamu fikir mudah buat aku lupain semuanya hiks.. hiks.. ayahnya hampir bunuh kamu, kakaknya hampir buat aku mati dan kemaren karena dia berhasil hiks hiks.. berhasil buat aku juga ikut berhenti benafas karena kamu terbaring tak berdaya diatas brankar " keluar sudah semua yang aku tahan sejak duduk menamui vara tadi.


sebenarnya tadi aku ingin sekali mengeluarkannya dihadapan vara tapi ketika dia mengutarakan kata maafnya padaku membuatku mengurungkan niat apalagi anak-anakku berada disana.


" aku mungkin bisa maafin semuanya termasuk perbuatan yang dia lakukan pada kita hiks.. tapi aku nggak bisa lupain apa aja yang udah dia lakuian padaku termasuk membuatku hampir kehilanganmu " tegasku dengan deraian air mata


dapat kulihat netra coklatnya menatapku penuh arti tanpa menyela sedikit pun semua ucapanku.


" aku takut bang, aku takut kehilangan kamu hiks.. aku takut kebersamaan kita hanya sebentar.. aku.. "


" syuuuttt.. " dalam sekejap aku sudah berada dalam dekapannya


aku masih sesegukan didadanya. setiap membahas perihal kejadian yang beberapa waktu menimpa fahriza membuatku tak dapat menahan air mata apalagi ketika aku membayangkan cerita mas ardi ketika melihat fahriza menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng untuk membongkar kebusukan orang yang berani menipunya. dia menceritakan semuanya bagaimana ayahnya vara menyiksa fahriza waktu digudang hingga dia batuk darah dan bahkan membuat tulang rusuknya fahriza retak belum lagi dia hampir menembak fahriza. aku benar benar nggak sanggup bayangin penderitaan dia waktu itu.


" udah tenang? " tanya nya sembari mengusap pipiku menghilangkan jejak air mata yang masih bergulir dan bergantung didagu ku.


" bisa saya bicara? "


" saya nggak tau harus bilang apa agar kamu bisa lupain semuanya. yang pasti semua yang terjadi pada diri setiap manusia itu nggak akan pernah terhapus dalam memory ingatannya walau kita amnesia sekalipun pada akhirnya kita juga akan kembali mengingat setiap potongan peristiwa yang baik atau buruk yang pernah kita alami "


" saya tidak akan menyuruh kamu buat lupain semuanya karena setiap diri manusia memiliki daya ingat dan daya emosi yang berbeda. jadi kamu berhak buat mengingat apapun yang kamu mau tapi..... " dia kembali menyelami netraku dan memberikan kecupan di kedua pelupuk mataku.


" tapi kamu harus tau, mengingat bukan berarti mengharuskan kita untuk mendendam. silahkan kamu ingat apapun yang pernah menyakiti hatimu, tapi jangan sekalipun kamu dendam pada apapun yang membuatmu terpuruk. kamu, saya atau siapapun itu kita punya dosa. kita tidak akan pernah sempurna, jangan merasa jika dia bersalah kamu bisa menetapkan bahwa perbuatannya harus mendapatkan balasan atau tidak akan pernah memberinya maaf "


" Allah lebih tau apa yang harusnya dia berikan buat umatnya, mungkin dengan kejadian yang menimpa kita waktu itu Allah mau agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan taat padanya. yang lebih berhak menilai setiap diri manusia itu cuma Allah. dia yang paling berkuasa, bahkan seorang pezina aja bisa mendapat maaf darinya. apalagi seorang seperti vara yang Allah datangkan untuk memberikan kita hikmah dari setiap kejadian yang kita lalui waktu itu. "


" aku hanya takut bang. gimana kalo waktu itu kamu bener-bener ninggalin aku " sambungku dengan bergetar menahan tangis


" buktinya sekarang saya dihadapan kamu kan? saya masih berdiri bersama kamu, membesarkan anak-anak kita hingga sekarang. bahkan yang paling parah pada kecelakaan itu adalah vara. dia harus mengalami operasi pada otaknya akibat kecelakaan itu. dia sekarang udah berubah fi, dia rela datang dari sydney ke indonesia demi meminta maaf sama kamu secara langsung dan dalam kondisi yang masih mengalami pemulihan. "


" apa kamu nggak ngehargain usahanya meminta maaf sama kamu? "


aku menggelengkan kepalaku menjawab pertanyaanya. sebenarnya jauh dari dalam lubuh hatiku, aku iba melihat kondisi vara yang masih lemah tadi tapi egoku berhasil menguasai diriku.


tadi dia menceritakan bagaimana proses dia waktu mengalami operasi dan berniat menemuiku untuk meminta maaf secara langsung jika operasinya berhasil. dan dia memenuhi janjinya tapi apa yang ku lakukan, aku malah membuat usahanya sia-sia.


" besok bisa telfonkan vara agar bisa bertemu denganku? " aku ingin menyudahi dendamku padanya, tak ada salahnya aku meninggalkan egoku


" saya tau istri saya itu bukan wanita pendendam. hatinya lembut walau sikapnya kadang suka kasar "


" heh, aku masih marah sama kamu "


dia tergelak mendengar ucapanku lalu tak lama memberikan kecupan dikeningku " waktunya tidur liat tuh triple F udah terbuai dalam mimpi " ujarnya sembari menunjuk dengan dagunya kearah anak ku yang sudah terlelap dengan damai diatas kasur


aku membalikkan tubuhku untuk masuk kedalam kamar, lama- lama berdiam diri dibalkon membuatku kedinginan ditambah adegan drama tadi yang sedikit banyak membuatku mengeluarkan air mata.


tapi ketika aku ingin melangkahkan kakiku, tiba- tiba fahriza langsung memelukku dari belakang, dia mengeratkan pelukan tangannya di perutku


" tetaplah menjadi lufita yang saya kenal. "