LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
LOVE YOU



tanpa terasa kini usia kandunganku menginjak 4 bulan dan perutku juga sudah terlihat sedikit membuncit ditambah lagi badanku yang juga mulai terisi pipiku yang dulunya tirus selalu kujaga kini terlihat sedikit chubby huh mau bagaimana lagi terima aja semuanya seperti kata fahriza yang penting aku dan baby sehat


oh ya ngomong ngomong soal fahriza kini dia semakin ke over protektifan beberapa kali aku mencoba membujuknya untuk bisa berangkat kerja sendiri karena aku lebih senang naik motor tapi tetap pada pendiriannya yang akan mengantar jemputku bahkan dia sempat berfikir untuk membelikanku mobil dan mencari seorang supir untukku namun dengan cepat ku tolak yah mau tidak mau aku setuju untuk diantar jemput olehnya


kayak sekarang aku lagi di lobi rumah sakit menunggunya menjemputku ini salah satu alasan kenapa aku lebih suka berkendara sendiri karena aku tidak suka menunggu membosankan sekitar 10 menit aku memainkan ponselku menunggu fahriza yang barusaja mengirim pesan kalau udah deket rumah sakit


" udah lama ya nunggu nya? " sebuah suara membuatku mendongakkan kepala dia sudah ada dihapanku sekarang dengan senyum manis dan wajah terlihat fresh


" hem " aku mengangguk malas lalu meraih tangannya dan mencium punggung tanganya " ya udah yuk pulang fifi capek " aku berdiri berhadapan dengannya dengan wajah lelah


mungkin karena aku berbadan dua sekarang aku gampang capek walaupun nggak ngelakuin hal apapun


" ya udah mau digendong gak? " pertanyaanya membuatku melotot lalu mencubit lengannya yang dibalas fahriza dengan terkekeh dia melingkarkan tangan dipinggangku menuntunku keluar menuju mobil


" wesss perhatiannyaaa bikin yang jomblo iri " sebuah suara membuatku dan fahriza menoleh dan menemukan dokter rika dan dokter nayra yang sudah berada tak jauh dariku


" dokter nay nggak pulang? " basa basi aja karena nggak enak juga maen nyelonong pergi ya walaupun sebenarnya aku pengen rebahan sekarang


" nggak dok soalnya saya masih ada shift "


dia mendekatiku dan mengelus perutku " yang sehat ya sayang " ucapnya didepan perutku


" makasih dokter nay "


" eh dokter rika sama dokter nay dari mana? " penasaran dengan dua wanita ini terlihat bahagia walaupun satunya jomblo hehehe kan jomblo juga berhak bahagia jan hujat saya ya netijen yang lagi jomblo becanda kok


 


 


" biasalah dokter fifi, abis beli cemilan diluar "


 


jawab dokter nayra senang berbinar ntah kenapa dia terlihat bahagia dokter nayra dengan dokter rika emang terlihat dekat mungkin saja mereka ada hubungan keluarga kali


 


" eh za ibu kamu gimana kabarnya udah hampir sebulan kita nggak jalan keluar bareng karena kesibukan kita " tanya dokter rika tiba tiba membuatku mengernyitkan dahi sejak kapan dokter rika kenal sama ibu


" alhamdulillah baik tante " jawab fahriza enteng tanpa melihatku


" ehm jadi kangen ibu kamu za hehe.. " ujar dokter rika tersenyum kearahku


" lok dokter rika kenal sama ibu? " aku makin penasaran bagaimana dokter rika bisa dekat sama ibu


" lah za kamu belom cerita sama istri kamu? " dokter rika beralih menatap fahriza yang berdiri disampingku


dan yang ditanya hanya tersenyum seraya menatapku


" saya itu sepupu ibu mertuamu dokter fifi " jelas dokter rika membuatku menoleh kearah fahriza dengan penuh tanya kenapa nggak ngasi tau aku


" ha? wah nggak nyangka ya ternyata kepala rumah sakit ini bibi suamiku " ujarku sambil menyikut perut fahriza dengan siku ku membuatnya meringis


dokter rika hanya nyengir mendengar ucapanku dan dokter nayra kini sudah masuk duluan karena masih ada yang harus dikerjakan " ya udah dok kita duluan ya " ujarku disambut anggukan oleh dokter rika


setelah berada didalam mobil aku memberikan tatapan tak senang padanya bagaimana bisa dia tidak memberitahuku jika dokter rika kepala rumah sakit itu bibinya huh bikin kesel aja


" kok cemberut gitu kenapa? " sambil tersenyum jahil dia seperti meledekku


" abang kenapa nggak bilang sih kalo dokter rika itu sepupuan sama ibu " cerocosku ketus


" ya kamu nggak nanya " jawabnya enteng tanpa beban sumpah rasanya ingin ku tampol pipinya untung cinta


kalo kalian bingung kenapa aku sekesal ini akan aku jelaskan kalau dokter rika merupakan tempat curhatku setelah dokter nayra bukannya nggak mau curhat lagi sama tania tapi yah dianya sibuk aku itu nggak bisa sehari aja nggak ngomong ama orang rasanya mulutku gatel tapi kalo seharian nyerocos rasanya seneng banget


bebagai hal ku ceritakan kedokter rika terkecuali yang sangat pribadi kadang aku juga suka bercerita tentang kekesalan ku pada fahriza dan berbagai lontaran kekesalan ku ucapkan bukan berarti umpatan ya jika curhat dengannya maklum diakan lebih banyak makan asam garam dunia dari pada aku, jadi aku menumpahkannya di depan dokter rika dan sesekali minta solusinya supaya kekesalan ku berkurang


kalau aku tau dari awal dia sepupunya ibu ya nggak mungkinlah aku curhat ke dia ntar dia ngomong ke ibu lah trus ibu ngomong ke fahriza kan malu


" ya walaupun aku nggak nanya setidaknya abang bilang gitu tau gini aku pasti canggung kalo ketemu dia nanti " ucapanku membuat fahriza menoleh menyadari aku keceplosan aku buru buru mengalihkan pandangan dan mencoba mencari topik lain


" kok canggung emang kenapa? " haduh dasar ni


mulut nggak bisa diajak kompromi kan dianya jadi curiga


" eh bang za mampir ke kedai kopi favoritku dulu yuk pengen minum cappuccino latte " ajak ku mengalihkan pembicaraan ahh dasar si fahriza


" ya udah tempatnya dimana? "


" habis ini belok kanan ya "


setelah mengikuti instruksi dari ku tak lama mobil kami sudah memasuki parkiran kedai kopi mini ini wah tumben sepi tapi baguslah biar bisa nikmatin dengan tenang seduhan kopi hangat disore hari


" wan " panggilku pada barista kedai ini yang tak lain wawan yang dipanggil menoleh dan tersenyum menunjukkan deretan giginya yang besar kayak kapak


" eh elo fi "


" gua pikir lu udah pindah kota karna udah lama nggak kesini " celotehnya sambil menyodorkan brownis coklat favorit ku hehe tau aja si wawan


" yee kamu pikir ngurus surat pindah enak apa lagian ngapain aku pindah orang aku kerja disini suami aku juga kerja disini "


" ya kali aja gitu laki lo pindah tugas dan lo juga ikut pindah "


" aneh aneh aja lo "


setelah sekian lama berdebat dengan wawan pintu kedai terbuka menampilkan sosok pria tampan yang sudah melepas jas kantornya dan kini menampilkan celana khas kantor dan sepatu pantofel hitamnya dengan lengan kemeja putih yang ia kenakan sudah digulung sedikit keatas sangat menambah aura ketampanannya


sumpah aku sampai terpana melihat penampilan laki laki yang tak lain adalah suamiku sendiri yang berjalan mendekati dengan tersenyum ada apa denganku hari ini kurasa semua orang terlihat tak seperti biasanya


saat aku masuk ke kedai tadi dia memang tidak mengikutiku karena sedang menjawab panggilan telfon dari kantor jadi dia memilih tinggal dulu di mobil dan sekarang saat mendekatiku


kenapa penampilannya jadi berubah kayak gini ya


ini perasaan aku aja atau emang dari tadi aku yang tidak peduli dengan penampilannya


" ini laki lo fi? " pertanyaan wawan membuyarkan lamunanku dan beralih menatapnya


fahriza yang kini berdiri disampingku tersenyum dengan melingkarkan tangan dipundakku seakan aku ini adalah teman laki lakinya


" iya "


" gila laki lo ganteng abis fi, gue kira cuma gue mahkluk tuhan paling tertamvan, pantesan lo bisa jatuh cinta secepat itu kalo gue perempuan juga bakalan klepek klepek liat laki lo "


gila si wawan lebay banget sih jadi risih aku


" nggak usah terlalu muji saya kayak gitu mas, masnya juga ganteng kok " ujar fahriza membuatku tertawa dan wawan mendengus kesal melihat ku yang menertawakanya karena ucapan fahriza bilang dia ganteng


" nggak perlu ketawa kayak gitu juga kali fi, jadi minder gue " kesal melihatku dia menarik piring brownis didepanku dan ingin menaruh namun dengan cepat aku menghentikannya


" iya iya lu ganteng siniin dulu brownisnya masih laper aku "


" masnya juga nggak perlu jujur mas " ujar wawan pada fahriza sambil mengeluarkan dua cangkir kosong


" emang ada laki laki cantik? kan laki laki itu sudah kodratnya dapet gelar tampan atau ganteng " sekali lagi tawaku pecah mendengar ucapan fahriza nggak nyangka aku fahriza bisa ngelawak manusia kutub kayak dia bisa cair juga aku pikir beku terus


" bener juga sih hehehe....eh mau dibikinin apa nih? "


" yang biasa aja wan kalau ada yang luar biasa boleh deh kamu keluarin " balasku sambil terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang lucu


" udah ah fi ketawanya, heran gue nggak ada yang lucu juga "


" kalau mas nya? " tanya wawan pada fahriza perihal minuman yang akan dia pilih


" samain aja sama lufita "


" ya udah bang za kita duduk disana aja yuk " ajaku pada fahriza memilih meja dekat jendela biar bisa liat langit sore " GPL ya wan " teriakku pada wawan yang sibuk membuat kan minuman pesanan kami


" duduk aja sono " balasnya ketus rasanya aku ingin kembali tertawa mendengar nada ketusnya apalagi kalau ingat dia memuji fahriza tadi sumpah ekpresinya lucu banget


" kamu udah biasa kesini? " tanya fahriza memulai pembicaraan saat kami sudah duduk di kursi pilihan ku


" sering malahan dulu waktu kuliah aku sama tania biasa ngerjain tugas disini "


" pantesan baristanya kenal banget sama kamu "


hening sebentar


" kamu nggak usah canggung sama tante rika ya sebenarnya udah lama banget saya pengen ngasi tau kamu soal tante rika tapi.... " kata katanya menggantung membuatku mengernyitkan dahi penasaran


" tante rika bilang kamu sering banget curhat sama dia kadang juga suka minta solusi ke dia apalagi kalo kesel sama saya "


" ha? "


" kalo saya bilang siapa tante rika, kamu bakalan canggung sama dia dan berhenti curhat tentang saya jadi yah saya simpen dulu soal tante rika dari kamu biar kamu terus bisa ceritain kekesalan kamu sama saya ke dia dan saya juga minta tante rika untuk rahasiain semuanya supaya saya bisa terus dapet info kekesalan kamu sama saya " tuturnya membuatku malu jadi semuanya dia yang rencanain


" jadi kamu tau aku cerita apa aja sama dokter rika ? "


" he em "


" pantes kamu selalu bisa bujuk aku kalo lagi ngambek "


si fahriza malah nyengir kuda setelah mengakui kejahilannya kalo kayak ginikan aku jadi malu buat ketemu dokter rika yang ternyata bibinya fahriza


" yah dokter rika malah dikasi tau lagi, kamu juga kalo kayak gini sama aja tau nanti pasti canggung aku kalo ketemu dia " aku memanyunkan bibirku


" eh tapi waktu pernikahan kita kok dokter rika nggak ada? " aku mengingat siapa saja keluaga fahriza yang hadir tapi aku tidak melihat dokter rika menghadiri pernikahan kami


" dia lagi keluar kota karena ada tugas dinas "


" ooh " ber oh ria saja karena kehabisan kata mau ngomong apalagi


lagi pula cappuccino latte nya udah datang huh pengen cepat cepat nyeruput


" selamat menikmati " ujar wawan lalu duduk dikursi sampingku


" e eh lo bunting fi " ujarnya kaget melihat kearah perutku


baru nyadar dia


" eh biasa aja kali kan aku ada suami lagian dari tadi tuh mata kemana aja "


" ya elah fi kan perut lo ketutup sama meja bar yang tinggi itu mana keliatan lah "


" mata kamu aja yang soak "


" hedeh udah berapa bulan? " tanya nya pada fahriza


" masuk bulan ke 4 " jawab fahriza santai sambil menyeruput minumannya


" lah aku yang hamil kok malah fahriza yang ditanya? "


" males ngomong sama lu debat mulu kayak dimeja sidang "


" cih " sambil manyun aku menyeruput cappuccino latte yang menggiurkan itu hem manisnya kayak senja sore hari ini manis banget buat mood ku balik lagi setelah tadi dirusak sama wawan


" eh cewek apa cowok nih "


" belom tau sih kamis nanti baru cek kedokter lagi "


" maunya cewek apa cowok? "


" kalau saya sih terserah mau cewek atau cowok sama aja yang penting ibu dan bayinya sehat "


" amiiin nggak kerasa gue juga bakalan dipanggil om " ucap nya mantap seakan akan dia yang bakalan jadi orang tua nya


" dih kepedean lu "


" eh buatin coklat panas satu bawa pulang "


lanjutku dengan mengerjapkan mata sambil melirik fahriza yang sedang menikmati cappuccino latte nya


" gila lu fi, baru juga minum cappuccino udah minta coklat, jaga kesehatan dong inget ponakan gue yang didalam orok noh "


" nggak aku minum sekarang kok "


" iya iya katanya dokter tapi seneng banget makan coklat "


" apa hubungannya coba yang pentingkan aku selalu jaga gigi dan mulut ya kan bang za? " cerocosku mengerling ke fahriza yang dilirik hanya tersenyum membenarkan ya emang benar setelah makan yang manis manis aku selalu gosok gigi


wawan terkekeh mendengar ucapanku lalu pamit meninggalkan kami karena ada pengunjung yang baru saja masuk jadi dia harus melayani di kedai ini dia nggak sendirian cuma ya mungkin dia nggak enak aja sama pegawainya yang lain lagi pula aku nggak kenal sama pegawainya mungkin baru masuk kali dan yang lama udah resign


ya sekalian juga bikinin pesananku


" wawan orangnya lucu juga ya " ujar fahriza membuatku melirik dirinya yang sedang tersenyum sangat manis


duh fahriza ngapain sih senyum semanis itu kan jadi galfok alias gagal fokus bisa bisa kena diabet aku liat senyumnya


" bang za ngapain sih senyum kayak gitu " bisa bisanya dia senyum semanis itu apalagi dua orang pengunjung perempuan yang baru saja lewat itu sempat melirik kearah kami dan memperhatikan fahriza yang tersenyum menampilkan ginsulnya


" loh kenapa? kan senyum itu ibadah lagian saya senyumnya ke kamu "


" senyumnya ke aku tapi cewek tadi ngelirik ke kamu "


" lagian bang za tau nggak cappuccino latte ini udah manis kalau liat bang za senyum semanis tadi bisa bisa beneran kena diabet aku "


tawanya meledak mendengarkan ucapanku barusan sampai sampai dia memegangi perutnya " ih kenapa ketawa sih nggak ada yang lucu juga "


" saya nggak tau kamu belajar gombal dari mana hahaha... tapi beneran lucu banget fi "


" apanya yang lucu sih, aku serius " ujarku kesal sambil menenggak sisa cappuccino latte di cangkirku yang hampir habis itu


" iya iya kalo gitu besok saya bakalan cabut gigi biar ompong sekalian " ledeknya dengan sisa nada tawa


" ejek aja terus "


••••••••••


" fi susunya kok nggak diminum? " fahriza kembali lagi kekamar dan melihat susu ibu hamil yang baru saja dia buatkan untukku masih utuh


aku yang lagi merapikan baju dilemari menghentikan aktivitasku menoleh kearahnya yang menenteng gelas susu seperti memberi syarat untuk segera minum tuh susu


aku mendekatinya yang duduk dipinggir kasur dengan tatapan lesu " nggak mau bang za perut fifi kenyang " rengekku seperti anak kecil yang lagi minta kinder joy


alasan aja sih yang benernya aku lagi nggak pengen minum susu ibu hamil itu nggak enak nggak kayak susu coklat yang biasa aku minum


" kamu harus minum dulu susunya perlahan lahan aja inikan anjuran dari dokternya demi bayi kita juga " pujuknya membuatku ciut mendengar sebutan bayi mau tidak mau aku ngalah lalu mengambil gelas susu dari pegangannya dan menenggak nya perlahan


" yang sabar ya sayang " ujarnya menyemangatiku minum susu kayak anak kecil aja tapi aku suka mendengarnya memanggilku sayang


" nih " tukasku cemberut seraya memberikan gelas susu yang sudah kosong itu karena isinya sudah kutenggak habis ih nggak enak banget susunya


" ya udah sekarang kamu tidur biar saya yang lanjutin rapiin baju nya "


" gak usah bang za besok aja aku lanjutin sekarang kamu temenin aku tidur " ucapku memerintahnya seperti seorang komandan pasukan yang diperintah nurut aja tanpa melawan duh senengnya permintaanku langsung diturutin tanpa dibantah sebuah senyum terukir disudut bibirku


" kenapa bengong katanya minta ditemenin tidur "


" aku nggak nyangka bisa nikahin laki laki tampan dan perhatian seperti kamu "


" jangan memuji saya seperti itu sini " ujarnya sambil menepuk bantal disebelahnya menyuruhku berbaring disampingnya


aku segera mengikuti perintahnya berbaring sambil memeluknya. pelukan hangat yang selalu membuatku tenang dia mencium pucuk kepalaku lalu membelainya lembut


aku mengangkat kepalaku lalu menatap wajahnya dia menaikan alisnya melihat tingkahku


" bang za tau nggak aku seneng banget liatin wajah bang za saat tersenyum, kesal, datar apalagi kalau bang za lagi natap aku rasanya aku pengen terus dan terus ditatap sama bang za supaya aku bisa liatin wajah bang za secara intens " celotehku sambil membelai pipinya yang mulus lalu memencet pelan hidung mancungnya


" kamu menggoda saya? " tanya jail membuatku mencubit pipinya


" aku serius bang za semenjak aku hamil aku tuh seneng banget liatin wajah bang za nggak percaya banget sih " ucapku ketus lalu melepaskan tangan ku dari wajahnya dan membalik kan badanku membelakanginnya


" haha... iya iya saya percaya maaf membuatmu kesal dan terima kasih juga sudah menghadiahkan saya malaikat kecil ini " dia memelukku dari belakang sambil mengusap perutku


" love you " dua kata yang berhasil membuat kedua sudut bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman


aku kembali membalikkan badanku menghadapnya dengan sebuah senyum dibibirku


aku mengecup pipinya dan menatapnya lembut " stay in my life it's time and future time " ucapku membuatnya menarikku dalam dekapannya aku mempererat pelukanku hingga tanpa terasa mata ku mulai tertutup dan mulai masuk dunia fantasiku


.


.


.


.


.


.


love you to fahriza hehehe..... maaf yak author lama up nya soalnya kalo up tanpa moodboster itu rasanya novelnya kurang ada feel jadi areb maklum yeh see you


semoga kalian suka dan maaf sekali lagi kalau ada beberapa part yang feelnya kurang dapet tetap tunggu kelanjutannya ya......💕💕💕