LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
IKUT EMOSI



hembusan angin malam membuat rambutku yang tergerai terbang mengikuti alunan permainannya. kututup mataku menenangkan dan menjernihkan fikiranku perlahan kurasakan sebuah tangan melingkar diperutku menenggelamkan wajahnya leherku


" kamu ngapain dibalkon malam malam gini, nggak baik buat kesehatan kamu " ujarnya yang masih asik menenggelamkan wajahnya di leherku


" aku cuma mau nikmatin rembulan yang udah mulai memudar " sahutku sambil melihat sinar bulan yang perlahan menghilang


" kayaknya mau ujan deh " ujarnya sambil melihat kelangit


" ya udah yuk masuk ibu hamil nggak baik kena angin malam kayak gini "


dia melepaskan pelukannya lalu menarik ku masuk kedalam kamar


" nih " ujarnya sambil menyodorkan semangkok soto yang ternyata sudah tersedia di meja depan sofa dekat televisi dalam kamar


ini pesenanku tadi saat mau pulang dari rumah sakit tapi pas dia nyampe dirumah sakit jemput aku dia lupa beliin semula aku udah nggak mempermasalahin sih tapi sekarang dia benar benar beliin aku soto lamongan yang aku mau tadi sore saat pulang kerja.


dia bilang dia buru buru takut aku nunggu lama jadi dia lupa, dia menebus kelupaannya. pantesan selesai sholat isya tadi dia buru buru keluar


ku usap pipinya dia menyendokkan soto di depan mulutku tanpa perintah lagi aku langsung melahapnya seketika mataku terasa panas perlahan dan pasti air mataku terjun bebas membasahi pipiku entah kenapa aku merasa aku akan merindukan moment ini. moment dimana aku memerintahnya, meminta ini dan itu padanya, membuatnya kewalahan dengan sikapku, membuatnya kesal bukan main dan masih banyak lagi.


" lah kok nangis? masih panas ya " ucapnya sambil menyodorkan segelas air padaku aku mengangkat kepalaku yang tertunduk karena mencoba menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pelupuk mataku tapi sia sia saja karena air mataku kembali terjun ketika parasaan khawatir dan takut menyeruak masuk kedalam hatiku


fahriza meletakkan mangkok yang berisi soto kembali kemeja kemudian menangkup kedua wajahku dengan kedua telapak tangannya, dia menghapus air mataku yang membasahi pipi lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan, " ceritakan pada saya " ucapnya menatap dalam kearah mataku. tatapan tajam itu kenapa aku merasa akan merindukannya suatu saat nanti aku sendiri tidak tau ada apa dengan ku


kadang ketika aku tak melihat fahriza aku akan menangis kadang jika dia sudah dihadapanku aku juga menangis tanpa sebab aku seakan merasa kalau aku akan merindukannya


" cerita apa? " aku memalingkan wajahku tak ingin bersitatap dengannya


" kalau kamu punya masalah jangan kamu pendam sendiri, entah kenapa saya merasa akhir akhir ini sakapmu berubah. walaupun 24 jam saya tidak terlalu mendampingi mu saya tau kamu sering menangis. mulai dari waktu saya menjemput kamu ketika kamu melamu dirumah sakit hingga nggak menyadari kedatangan saya, lalu waktu ibu, tante rika, ayah, lufian, dan tania kerumah nggak satupun pertanyaan dari mereka kamu jawab kamu asik dengan pikiranmu hingga ketika lufian berbicara perihal pernikahanya dengan tania kamu tanpa sadar menitikkan air mata "


oke aku cerita aku baru inget waktu ibu tante rika ayah kak lufian juga tania kerumah aku nggak bahagia seperti biasanya bahkan aku merasa akan mengecewakan mereka entah kenapa atau atas dasar apa aku juga nggak tau ada suatu perasaan khawatir yang kuat yang selalu datang menyerangku tiba tiba hingga membuat hayalanku tentang kejadian kejadian buruk akan terjadi. dan yang terjadi pada akhir pada diriku, aku mengabaikan orang orang yang berbicara padaku aku sibuk dengan lamunanku hingga pada waktu itu saat kak lufian bertanya bagaimana jika dia menikahi tania setelah acara tujuh bulanan ku, aku malah menjatuhkan air mata dengan jawaban gelengan kepala membuat keluarga yang melihatku heran bercampur bingung pertanyaan pertanyaan dari ibu tante rika juga tania hanya kujawab dengan senyuman


" saya mohon jika saya punya salah, kamu bicara sama saya jangan seperti ini, saya tidak akan tau kamu kenapa kalau kamu tidak mau membicarakannya sama saya "


" ini sudah kesekian kalinya saya tanya " ucapnya tegas namun masih terdengar dengan nada yang lembut


" aku nggak pa pa bang za " ucapku lirih


sebuah jawaban yang berhasil membuat fahriza memutar bola matanya jengah dan mengusap kasar wajahnya matanya kembali menatapku tajam " terserahlah " setelah mengucapkan itu dia keluar dengan wajah kesal. aku tidak pernah melihatnya marah seperti itu padaku.


maaf bang za aku nggak bisa bilang kalau aku takut akan mengecewakanmu suatu saat nanti. aku selalu dihatui perasaan bersalah aku selalu didatangi rasa takut kehilangan. aku selalu khawatir suatu saat kau akan merasa perih ketika terjadi sesuatu padaku.


••••••••••


fahriza


》》》》》


kuambil kunci mobil keluar dari rumah menenangkan fikiranku yang buntu dengan sikap lufita yang sulit kuartikan. kenapa perempuan selalu memendam perasaan jika sedih atau marah pada pria, kenapa nggak bilang letak salahnya dimana biar mudah memperbaikinya kalau seperti ini aku harus gimana aku juga nggak tau lufita seperti itu karena apa? jika karena salah ku aku juga bingung letak kesalahanku dimana dia tidak mengatakannya. aku menghembuskan nafas kasar sambil membelokkan mobilku kesebuah pekerangan rumah minimalis itu halamannya tidak terlalu luas rumah nya juga tidak terlalu besar


yah, aku menenangkan fikiranku dan pergi kerumah ardi menajer perusahaan sekaligus teman yang selalu mendukung dan menasehatiku


aku banyak belajar cara mengahadapi wanita darinya, usianya lebih tua dua tahun dariku. dia sangat bijak menghadapi masalah dan dia juga yang selama ini menasehatiku menghadapi sikap lufita yang kenaka kanakan


" minum dulu za " ujarnya seraya menyodorkan segelas teh hangat padaku setelah aku masuk kedalam rumahnya dan duduk diruang tamunya


" makasih. istri sama anak kamu mana? " dari aku masuk tadi aku tidak melihat istri dan anaknya padahal ini masih jam tujuh lewat tidak mungkin kalau mereka tidur. soalnya sebelum menikah aku sering main kerumah ardi jadi aku sedikit tau kegiatan keluarganya di jam segini


" mereka liburan dirumah mertuaku lidya rindu ibunya jadi tadi pagi aku antar ke kampungnya makanya aku nggak ngantor tadi "


" kerjaanku dikantor banyak za, kalo kamu mau gantiin aku sementara waktu nggak pa pa sih hehehe..... " candanya membuat ku melupakan sedikit masalahku


ardi sudah menikah lima tahun lebih dahalu dariku, anaknya juga sudah berusia 3 tahun. aku sudah lama mengenalnya semenjak aku pertama kali balik ke indonesia ketika ayah memperkenalkan rekan kerjaku dikantor cuma baru tiga tahun terakhir ini aku dekat dengannya juga keluarganya. sikap yang bijaksana dan dewasanya lah yang membuatku cepat akrab dengannya nasehatnya selalu memberikan solusi ketika aku punya masalah


" bagaimana kabar lufita? "


aku menoleh menatapnya lalu kembali membuang pandanganku " dia baik " aku kembali menyeruput teh yang mulai dingin buatan ardi, rasanya tidak terlalu buruk, aku akui dia lebih lincah didapur jika dibanding aku


" kenapa? " tanya nya seraya menepuk pundakku


" aku nggak ngerti sama sikap lufita akhir akhir ini yang selalu murung, kalo ditanya jawabanya cuma engak pa pa - enggak pa pa aja. maksud ku kalau aku punya salah cerita gitu biar aku faham letak salahku dimana tapi pas ditanya dia hanya diam geleng kepala dan jawaban saudara saudara bungkam lainnya "


" ehem, kamu itu harus sabar sama sikapnya yang suka berubah ubah. "


" aku tau ar, tapi aku lebih suka dia yang cerewet, bawel, suka nyuruh nyuruh itu dari pada dia murung ntah karena apa seperti sekarang ini "


" eh za aku kasi tau ya, kamu sebagai laki laki harus bisa ngerti mood perempuan apalagi jika dia sedang hamil kayak lufita, sikapnya yang suka berubah ubah kayak gitu, itu juga bukan kemauannya dia. "


" kamu yang suka lufita yang bersikap cerewet dan lain sebagainya, tapi belum tentu dengan bayinya. kamu nggak bisa merasakan diposisi dia yang hamil seperti itu perubahan mood yang tidak menentu. cuma dia yang tau jadi kamu sebagai suaminya harus bisa ngerti sikapnya "


" tapi ya ar kok aku ngerasa sikap lufita yang sekarang ini ada sesuatu yang ngeganjal, yang ngebuat dia murung. aku juga selalu merasa tidak tenang jika belum melihatnya baik baik saja. aku ngerasa ada yang dia sembunyiin dari aku " sahutku sambil memijit pangkal hidungku kepalaku rasanya tiba tiba saja berdenyut


" itu karena kamu terlalu mengkhawatirkannya, makanya kamu beropini kayak gitu coba kamu bisa ngertiin dia pasti nggak ada deh pemikiran kamu yang kayak gitu, jika dia masih belum mau cerita biarkan saja. kasih dia waktu agar dia siap menceritakan kegundahannya kekamu. mungkin sekarang dia hanya takut kamu marah atau kecewa saja dengan apa yang akan dia ceritakan nanti. "


aku kembali menghembuskan nafasku dengan kasar seakan akulah disini yang punya masalah padahal kalau dilihat sepertinya yang dikatakan ardi benar dia hanya perlu waktu membicarakan apa masalahnya padaku


" pulanglah lufita pasti membutuhkanmu sekarang " ujarnya seraya menepuk nepuk pelan bahuku


" kamu ngusir aku? "


" ya sepertinya begitu, mengusir demi kebaikan " ucapnya diiringi tawa aku hanya tersenyum kecut mendengar candaanya


" baiklah aku pulang dulu, dan gajimu kupotong karena berani mengusir ku " pamitku seraya berlalu meninggalkan rumah ardi


" heii nggak bisa gitu dong " teriaknya ketika aku mulai memasuk kedalam mobil


aku terus melajukan mobilku membawanya kembali kerumah, aku merasa bersalah pada lufita karena telah meninggalkannya dengan keadaan sedih seperti tadi apalagi dengan sikapku yang marah ketika meninggalkannya pasti sangat membuatnya terluka


aku masuk kedalam rumah dan mataku terhenti kearah sofa ruang tamu terlihat lufita yang tertidur pasti dia sedang menungguku pulang ternyata sikap ngeyel nya itu nggak berubah udah dibilang kalau aku kemana mana lalu pulang malam jangan pernah menunggu.


aku duduk disebelahnya menatap wajahnya, pipinya yang dulu tirus kini jadi chubby semenjak dia hamil. ku usap lembu pipinya, aku berniat mengangkatnya dan membawanya kekamar tapi dia lebih dulu bangun


dia langsung menghambur memelukku dengan tangis yang kembali terdengar " bang za jangan tinggalin fifi, hiks hiks fifi minta maaf "


" saya nggak akan ninggalin kamu, tadi saya hanya menenangkan fikiran saya sebentar "


" fifi takut hiks bang za marah hiks hiks fifi minta maafff hiks " isak tangisnya makin keras membuat ku meras bersalah


ku pererat pelukanku hingga bisa kurasakan bajuku basah karena air matanya


" iya iya. ya udah jangan nangis lagi, saya kan udah pernah bilang saya nggak suka liat kamu nangis, maaf tadi saya ninggalin kamu gitu aja "


"maafin fifi, yang masih kenak kanakan "


" udah nggak usah dibahas lagi sebaiknya sekarang kita tidur kamu nggak boleh tidur larut malam "


ku angkat tubuhnya ala bridal stayle, satu persatu anak tangga kunaiki kenapa aku tiba tiba ngerasa takut kehilangan lufita aku mencoba berfikir positif membuang fikiran negatif itu. sedangkan lufita dia hanya menenggelamkan wajahnya didadaku tanganya yang melingkar dileherku semakin dia pererat seakan aku akan meninggalkannya lagi