
sudah tiga hari sejak kejadian kemaren fahriza mendiamkan ku. dia kembali ke sikap awalnya yang dingin, aku jadi nggak merasa nyaman diperlakukannya seperti itu.
ini semua salah ku kenapa aku sampai melukai perasaanya. ah, bodoh banget sih fi
hari ini seperti biasa aku melakukan aktivitas rutinku, berangkat kerumah sakit melakukan penanganan ini dan itu pada pasien. dan ketika aku sedang memeriksa salah satu pasien, tiba tiba ponselku berdering.
tanpa memperdulikannya siapa yang menelfon aku mematikan panggilan. saat ini aku harus fokus dulu dengan pasienku selesai nanti akan ku telfon balik.
setelah selesai melakukan pemeriksaan, aku langsung membuka ponsel ku kulihat tania yang tadi menelfonku. aku langsung menelfonya kembali
setelah menikah dan bekerja aku jadi jarang kontekan dengan dia. apalagi setelah peristiwa menginggalnya almarhum mama sama papa pasca insident kecelakaan tunggal itu aku tak pernah lagi menghubunginya. aku sampai melupakannya.
"assalammualaikum tan" sapa ku pada tania setelah panggilanku terhubung.
"waalaikusalam, duh ternyata nelfon seorang dokter susah juga ya" godanya padaku
"hehehe, tadi lagi meriksa pasien, kamu gimana kabarnya"
"alhamdulillah sehat, trus kamu gimana nih, udah ada tanda tanda belom?"
" maksud kamu?" tanyaku bingung
"hemh, ya udah..... ada tanda tanda bakalan jadi seorang ibu belom"
" duh, jangankan mau hamil, buka jilbab depan fahriza aja selama kami nikah nggak pernah" gumam batinku
"fi, kamu masih disanakan" panggil tania membuyarkan lamunanku
"ha, eh iya tan"
"haduh kebiasaan pasti ngelamun lagi, ya udah nanti sore ada acara nggak?"
"nggak kok tan, kenapa?"
"ya udah sini ke apartemenku, ntar aku siapin makanan kesukaanmu" ujarnya riang,
"loh kamu udah beli apartemen?" tanyaku penasaran karena setahuku selama kuliah dijakarta tania cuma ngekos. kemarin saja waktu balik kesini menghadiri pemakaman orang tuaku dia masih numpang dirumah kerabatnya.
tetangga deket rumahnya didesanya dia itu udah pindah ke jakarta jadi yah tania bisa numpang bentar waktu pulang ke jakarta.
aku bukannya nggak mau nyuruh dia nginep dirumah, masalahnya kemaren aku benar benar terpuruk banget hingga nggak memperdulikan keadaan disekitarku.
"udah dooong, emang kamu aja yang bisa punya rumah, aku juga bisa kalee" ejeknya padaku pasti sekarang dia lagi cekikikan membayangkan mimik ku yang bingung.
aku udah hapal banget sama sifatnya yang itu.
"ya udah nanti share aja lokasi kamu"
"oke sampai ketemu nanti sore, assalammualaikum" ucapnya lalu menutup telfon. "waalaikumsalam" jawabku ketinggalan.
sebenarnya sih capek juga pulang nanti pengen rebahan dikasur tapi yah, aku juga merindukan pipi chubby itu. sambil senyam senyum sendiri aku kembali keruanganku.
dan tak sengaja menabrak dokter dimas hingga sekarang wajahnya berjarak 5 senti dari wajahku. "maaf dok" ucapku setelah memundurkan diriku dan menundukkan pandanganku
tanpa membalas maaf ku dia melengos meninggalkan ku begitu saja. aku juga bingung kenapa akhir akhir ini dia menjauhiku
aku juga tidak tau apa aku punya salah padanya. ah sudahlah mungkin beberapa hari ini hatinya sedang kacau.
••••••••••
sudah jam pulang, aku segera mengemaskan barang barangku memasukkannya kedalam tas.
tania juga sudah mengirim lokasi apartemennya.
jadi aku langsung saja kerumahnya bersama queen
apartemen tania tidak jauh dengan rumah sakit tempat kerjaku. jadi nggak perlu waktu lama motorku sudah nangkring di parkiran apartemen.
aku segera naik kedalam, tiba tiba aku menghentikan langkahku, bagaimana aku naik ke atas, aku masih trauma menggunakan lift. ketika sudah didepan lift aku ragu ragu untuk masuk sampai seseorang memencet tombolnya lebih dulu
glek.
aku menelan ludah
aku mengeluarkan ponselku menelfon tania " hallo assalamualaikum tan aku udah dibawah kamu bisa nggak jemput aku"
"walaikumsalam, yaelah kamu kenapa sih, tinggal naik doang pencet tombolnya." jawabnya enteng sedangkan aku dag dig dug mengingat kejadian waktu dikantornya fahriza
"ya udah aku pulang aja ya"
" eh eh eh, ya udh tunggu aku jemput kamu sekarang" balasnya buru buru takut kalau aku beneran bakalan pulang.
setelah menutup telfon aku memilih menuggu di samping pintu lift"nggak masuk" sapa seseorang yang tadi memencet tombol lift, yah liftnya baru saja turun dari lantai ntah berapa aku juga tidak tau
" nggak usah duluan aj....." ucapku terhenti ketika aku melihat seseorang yang menawarkan ku masuk bersamanya itu. dia juga kaget melihatku
bagaiman tidak orang yang kini berada disampingku adalah orang yang membuatku berhenti mempercayai cinta. ya dia vino, mantanku yang berselingkuh di depan mataku sendiri
"fita" panggilnya tak percaya, mungkin melihat perubahan ku sekarang yang sudah tertutup.
aku tak membalas panggilannya, aku masih nggak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. setahuku dia udah pindah keluar negri tapi kenapa sekarang dia berada dihadapanku.
lamunan ku terhenti ketika ponselku berdering. tania menelfonku, mencariku ternyata dia menggunakan lift yang lain.
tanpa permisi lagi aku meninggalkan vino yang masih menatapku
"kamu make lift yang mana sih sampe takut buat masuk" tanya tania ketika aku sudah di dekatnya
saat ini kami sudah berada didalam lift aku menggenggam tangannya sambil terus membaca doa dalam hati. perasaan takut bercampur bingung membuatku tidak bisa konsentrasi, aku memejamkan mataku agar aku lebih tenang
saat sudah sampai di depan pintu apartemen miliknya aku benar benar lega dan tania menatapku heran
" aku trauma naik lift. kemaren aku sempat kejebak didalam lift kantornya fahriza" ucapku menjawab penasaran tania
dia membulatkan matanya lalu memutar mutar badanku
" kamu apa apaan sih tan" tanyaku bingung dengan sikapnya
" kamu nggak pa pa kan, nggak ada yang luka kan, aduh fi kok bisa sampai kayak gitu, kalo kamu kenapa kenapa gimana" celotehnya biasa sifat emak emaknya itu belum hilang
"seperti yang kamu lihat" ujar ku sambil menghembuskan nafas
"ya udah kita masuk dulu, kita ngobrol di dalam aja" ujarnya lalu menarik ku masuk ke dalam. pintu apartemenny sudah ia buka ketika aku menjawab rasa penasarannya tadi.
"trus gimana kamu bisa keluar dari sana?" tanya nya penasaran ketika kami sudah duduk dimeja makan. sambil menyiapkan semuanya, dia terus menyerangku dengan berbagai pertanyaan.
inilah yang aku rindukan darinya, pertanyaan pertanyaan yang membuatku kewalahan buat ngejawabnya.
"aku nggak tau pasti tan, yang aku tau ketika pintunya kebuka fahriza masuk kedalam dan menarikku keluar dari lift.
"huh untung deh fi, kalau fahriza nggak ada aku nggak tau nasib mu"
aku mengedipkan mata dan mencomot tahu isi yang sudah dia sediakan di meja makan. seketika aku kembali teringat dengan vino yang tak sengaja berpapasan denganku di bawah
aku penasaran apa dia tinggal disini.
"tan"
"hem"
"baru kemaren. kenapa?"
"kok nggak ngehubungin aku?"
"yaelah fi, semalam aku beres beres juga selesainya udah jam berapa, nggak sempet ngehubungin kamu. lagiankan sekalian bikin surprise gitu... hehehe"
aku mengerucutkan bibirku mendengar ucapan tania
" tan selama kamu tinggal disini kamu pernah ketemu vino nggak?" tanyaku to the poin dan membuatnya menghentikan kegiatannya menyedok lauk ke mangkok.
tania menatapku heran, bagaimana tidak dia tidak menyukai vino karena sudah menyakiti hatiku. dan sekarang aku malah menanyakan tentang dia.
"kok tiba tiba kamu bahas dia sih?" tanya nya dengan nada tidak suka
"apa jangan jangan kamu, kembali kontekan dengan dia" tuduhnya padaku sambil menatapku curiga.
"astaghfirullah, cobe tanyak tu betol betol, ni maen tudoh tudoh saye pulak"(coba tanya baik baik, jangan asal tuduh saya gitu) ujarku dengan logat bahasa melayu.
tania sudah bisa mengerti bahasa melayu sedikit sedikit jadi dia bisa dengan mudah memahami kata kata ku tadi.
"ya abisnya kamu tiba tiba nanyain dia, aku kan jadi curiga"
"ya jangan pakai cara nuduh nuduh juga kalee, awak fike saye tak saket hati ke denga ucapan awak"(kamu fikir saya tidak sakit hati mendengar ucapanmu) balasku kesal karena tania menuduhku begitu saja.
"ya udah aku minta maaf, emang kenapa sih kamu nanya nanyain dia?"
" tadi aku ketemu dia di lift bawah makanya aku agak lama nyamperin kamu"
tania membulatkan matanya "kamu nggak di apa apainkan sama dia" tanya nya khawatir
"nggak" tegasku
"dia cuma kaget aja melihat aku disana begitu juga denganku" sambungku sambil menyendokan nasi kepiring ku yang sudah disiapkan sama tania.
" kok bisa ya, padahal selama aku disini aku nggak pernah ketemu sama dia. kok malahan kamu yang ketemu dia" ujarnya bingung
"aku juga nggak tau, ku pikir kamu pernah ketemu dia selama kamu disini"
" udah dari pada mikirin dia, mending kita lanjut makan. lagian dia itu cuma bagian dari masa lalu mu yang nggak perlu kamu ingat lagi"
"ye.. siapa jug yang inget dia, nggak penting banget mendingan aku mikirin fahriza" ujarku tanpa sadar tania menatapku dan menghentikan tanganku yang ingin memasukkan nasi kedalam mulut
jadilah sekarang posisi mulutku mangap kayak buaya nguap
" jadi sekarang kamu udah mulai mencintai fahriza dan berarti kamu udah bisa menerima kehadirannya dong" ucapnya membuatku kaget dengan apa yang baru saja ku ucapkan
haduh aku malu banget segera ku tundukan kepalaku takut kalau dia melihat wajahku memerah
"kamu nggak usah nunduk gitu, kamu tu nggak bisa boong sama aku. tetep ketauan tau nggak" ujarnya sambil cekikikan
" ih jadi gimana sekarang kapan mau ngasi aku keponakan?" tanyanya menggoda.
" idih paan sih tan" ucapku malu
"cie yang lagi kasmaran. ehem ngomong ngomong dia udah tau belom soal perasaan kamu sama dia?"
aku menarik nafas dalam dalam lalu memghembuskannya perlahan "itu dia masalahnya tan, kemaren aku buat dia kecewa sama perkataan ku" jawab ku lesu
"ha, emang kamu bilang apa?"
"kemaren aku bilang kalau aku masih belom bisa ngelupain bang ija"
" ya ampun fifi, bisa bisanya ya kamu bilang kayak gitu nggak mikirin perasaan orang, heran deh nggak bisa apa ceplas ceplosnya itu dihilangin."celoteh tania
"nggak gitu tan, waktu dia nanya keadaan aku di kamar mandi aku nggak sengaja manggil dia JA, jadi tuh sebenernya aku mau minta maaf tapi nggak berani nah yang keluar malah kata kata itu"
"jadi gimana reaksinya?"
"dia nggak bilang apa apa sih, cuma dia menatapku tajam seperti menusuk ke retina mataku. jadi ya aku langsung kabur ke kamar nggak berani bicara lagi sama dia sampai sekarang"
tania menggelengkan kepalanya menatapku malas.
"jadi gimana ya tan buat dia bicara lagi sama aku?" tanyaku memelas meminta solusi pada tania
"menurutku kamu harus jujur deh sama dia soal perasaanmu" sontak aku kaget dan air minum yang baru saja masum tenggorokanku tiba tiba tercekat di sana dan membuatku batuk batuk sampai kesulitan bernafas.
"fi kamu kenapa?"
"kamu gila ya tan, mau bikin aku malu didepan dia, ya kalau dia juga cinta sama aku kalau nggak. aku bisa loncat dari apartemen mu ini ke bawah karena malu"
" ini nih yang aku nggak suka dari kamu lebih mentingin resiko dari pada kesuksesan"
"tapi tan....."
"kamu tau nggak orang sukses itu nggak pernah pedulikan resiko, bagi mereka jika gagal kali ini masih banyak jalan yang bisa ditempuh buat sampai puncak."
"beda dong tan inikan soal perasaan"
"fi, dia itu suami kamu, kamu sendiri yang bilang dia yang memilih menikahimu secara sepihak tanpa memperdulikan kebohonganmu"
"lagian nih ya,kalau dia nggak ada rasa sama kamu ngapain sampai sekarang dia masih hidup denganmu dan ngapain juga dia mendaftarkan kamu kerja dirumah sakit itu"
ucap tania panjang lebar.
tania memang mengetahui semuanya, aku pernah beberapa kali curhat dengannya mungkin selebihnya dia tau dari almarhumah mama.
tapi kalau dipikir pikir omongan tania ada benernya juga
aku masih terus mencerna kata kata tania dan dia sudah sibuk membereskan semua yang ada di meja makan karena kami sudah selesai ngisi perut.
selagi aku masih asik melamun tiba tiba ponselku berdering, kulihat dilayar bertuliskan MANUSIA KUTUB. ada apa fahriza menelfonku aku memberi nama kotaknya dengan manusia kutub. supaya lebih lucu aja kadang aku suka tertawa sendiri mendengar panggilan itu
"manusia kutub, siapa ni" ujar tania ternyata ada disampingku sambil melihat layar ponselku yang masih menyala.
"ih kepo banget sih" sergah ku padanya yang selalu kepo
"kok nggak diangkat"
"fahriza tan"
"ya ampun fifi panggilan kesayangannya kok jelek banget sih, orangnya ganteng masa panggilannya burik kayak gitu" ujarnya sambil terkikik geli
"dih apaan sih tan, suka suka aku dong lagian siapa suruh sikapnya sedingin es kutub"
" ya udah kenapa nggak diangkat?"
" takut dia marah tan" ujarku memelas
"emang apa alasan dia buat marah nggak jelas sama kamu?" tanya nya kesal dengan sikap ku kemudian berlalu membersihkan meja makan
sekali lagi ponsel ku berdering dan masih fahriza yang calling ragu ragu aku mengangkat telfonnya
" hallo assalammualaikum" sapa ku pelan
"waalaikum salam, kamu dimana saya cariin dikamar nggak ada, motor kamu juga nggak ada digarasi?" tanyanya khawatir nafasnya terdengar memburu apa dia habis lari
" aku lagi mampir di apartemennya tania"
"oke tunggu saya kesana sekarang"
tanpa menunggu jawaban salam dari ku dia langsung mematikan ponselnya. Aku melirik arloji yang melingkar dipergelangan tanganku masih pukul 16.45 kok fahriza cepet banget pulangnya ada apa ya
"ada apa?" tanya tania melihat raut wajahku tegang
"fahriza mau kesini"
" wow... bagus dong ini kesempatan buat kamu bicarain isi hatimu ke dia" ucap tania sambil nyengir menggoda
"tapi tan aku masih gugup"
" haduh santai aja kale kayak mau lomba aja pake gugup gugup segala"
"yah kamu mah enak tinggal sebut nah yang peraktekin nya aku" ujarku ketus
"hehehe semangat fifi ku sayang" ujarnya dengan suara yang dibuat seperti anak kecil sambil mengangkat lengan kananya memberi ucapan semangat.
tak lama bel apartemen tania berbunyi duh jantungku makin dag dig dug aku takut kalau fahriza yang datang
benar saja saat tania membuka pintunya fahriza masuk dan menghampiriku.
dia memelukku spontan aku kaget, ada apa dengannya
"tolong jangan buat aku khawatir lagi" ucapnya dibelakang. tania yang entah melesat kemana tidak kelihatan lagi batang idungnya.
aku masih bingung dengan perlakuan fahriza padaku apa yang terjadi dengannya.
"kita pulang sekarang ya" ujarnya padaku setelah melepas pelukkannya
"tapi motorku?"
" kita pulang pakai queen kamu, saya nggak bawa mobil"
ntah dari mana datangnya tiba tiba tania muncul dihadapanku dan fahriza.
" kita pulang dulu" ujar fahriza pada tania
" iya hati hati"balasnya meliriku dan mengerlingkan sebelah matanya padaku. aku yang dari tadi diam kini semakin bingung ntah apa yang harus kulakukan.