LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
HEAVY



" clarissaaa.. " teriak seorang wanita membuat semua mata tertuju padanya dan mengikuti arah pandang wanita tersebut. setengah berlari dia menuju kearah kami, dan langsung memeluk caca yang mulai terisak disampingku


" mamaa...., mama kenapa tinggalin caca " rengeknya lirih terdengar isakan kecil dari bibir mungil caca


" maafin mama sayang, mama terlalu asik hingga nggak sadar tangan kamu lepas dari genggaman mama " wanita itu menarik caca dan menggendongnya memberikan ciuman ke seluruh wajah caca.


kelihatan raut wajah takut dan panik menyelimutinya


setelah bertubi tubi memberikan ciuman diwajah caca wanita yang berdiri dihadapan kami ini mengalihkan perhatiannya melihat kearahku dan fahriza secara bergantian


" ma, kenalin ini om fahriza sama tante lufita. mereka yang udah mau nemenin caca buat cari mama " ujar caca memperkenalkan ku dan fahriza.


setelah melihat caca digendong mamanya kami juga ikut berdiri. fahriza menarik ku untuk berdiri disampingnya lalu melingkarkan tangannya dipinggangku


" saya hanifa mama nya clarissa " sapa mama nya caca memperkenalkan dirinya padaku dan fahriza


aku membalas jabatan tangannya begitu juga dengan fahriza senyuman yang terukir dibibir hanifa menambah kecantikan wajahnya yang tanpa make up itu. kalau dilihat dari penampilannya sepertinya dia bukan tipe wanita yang suka berdandan seperti kebanyakan wanita wanita sosialita diluar sana


wajahnya hanya dia pakaikan sedikit bedak tabur dan lipstik secara tipis jadi kalau dilihat sekilas seperti tidak memakai make up


" maaf ya kalau caca ngerepotin mas fahriza sama mbak lufita " suaranya lembut banget kalo didenger sekilas aksennya kayaknya dia orang jawa


" nggak pa pa, caca nggak ngeropotin kok " ucapku seraya memberikan senyuman bersahabat dengan hanifa


" sekali lagi saya mintak maaf mas, mbak saya teledor menjaga caca. kalau saja tidak ada kalian saya nggak tau gimana nasib anak saya " ucapnya dengan diiringin sebulir air bening yang bergulir dari pelupuk matanya sebelah kanan


" kamu jangan ngomong kayak gitu, kamu harus bisa berfikir positif, tapi kejadian ini juga berdampak positif. karena saya sama istri saya bisa bertemu dengan anak yang pintar dan tangguh kayak caca " kali ini fahriza yang bersuara


" iya mas-mbak makasih sekali lagi "


" ya udah kalau gitu kita duluan ya " tukas fahriza sambil menoel hidung caca


" sayang, lain kali hati hati ya " ujarku pada caca


" siap tante makasih ya " senyum nya memenuhi setiap sudut bibirnya membuat matanya terlihat menyipit karena tertutup oleh pipi chubby nya


••••••••••


rintik rintik air mulai berguguran menghujami seluruh ibu kota, langit yang sedari tadi gelap tertutup oleh awan yang menampung beban air sekarang telah tertumpah semakin deras membasahi tanah, memberikan kesegaran tersendiri untuk tanaman.


turunya hujan membuat senja gagal menepati janjinya, siapapun yang menunggu senja hari ini, lebih baik kalian urungkan saja niat kalian karena sebentar lagi langit akan menjadi gelap oleh kedatangan malam dan hujan tak juga kunjung berhenti.


sama seperti aku sekarang yang berharap hujan segera berhenti dan senja menepati janji. tapi ekspetasiku tak sesuai dengan realitaku. nyatanya hujan terus mengguyur kota sejak siang tadi


sudah lima hari ini hujan terus memandikan ibu kota yang dilapisi oleh polusi. entah itu dimulai dari siang ataupun pagi hujan selalu hadir seakan meresakan kegundahan, hingga membuat mereka yang beraktivitas diluar sana sedikit kesusahan


sudah bermenit menit aku masih setia duduk di bibir kasur menghadap pintu balkon kamar dengan mata yang terus menatap setiap rintik yang masih setia membasahi kaca luar pintu balkon.


dengan earphone yang masih menempel setia ditelingaku, aku memejamkan mata menghayati bait demi bait lirik lagu yang mengalun lembut di player musik dari ponselku.


entah kenapa baik lirik maupun nadanya terdengar menyayat setiap pendengar termasuk aku. lagu ini berhasil menyayat pikiran dan hatiku sudah berpuluh menit aku masih setia mendengarkannya secara berulang ulang. dengan mata terpejam seakan aku merasakan kejadian dari lirik yang keluar dari mulut sang singer.


hingga sebuah tangan menepuk bahuku menyadarkanku dari dunia hayal dari kenikmatan lagu ini, instrumen musiknya benar benar membiusku


perlahan aku melepas earphone dari telingaku dan mematikan lagu itu


pria tampan yang menepuk bahuku tadi duduk disampingku merangkul bahuku seakan aku adalah temannya. ah iya aku kan memang temannya, teman hidup dari pria disampingku ini maksudnya. dia mengikuti arah pandang ku yang menatap kearah luar pintu balkon sesaat kemudian dia memalingkan wajahnya menatapku lalu tersenyum begitu manis. ck huh aku akan merindukan senyuman itu


" saya tadi bertemu dengan caca dan ibunya saat saya membelikan mu susu " ucapnya membuka percakapan.


" hem? bagaimana kabarnya? "


" caca sehat, dia menanyakanmu "


" lalu kamu bilang apa? "


" saya bilang kamu sehat dan kamu merindukan dia " jawabnya diringin tawa kecil yang keluar dari mulutku


sesaat kemudian raut wajahnya berubah sedih tak seperti tadi waktu dia menceritakan pertemuannya dengan caca gadis kecil yang berhasil mencuri perhatiannya beberapa waktu lalu


" ada apa? " tanyaku menyadari perubahan raut wajahnya


dia menarik nafas beratnya menghembuskannya secara perlahan lalu menatapku


" besok saya harus berangkat ke jogja, saya ada pertemuan bisnis yang tidak bisa digantikan " tuturnya lirih


" kenapa mendadak? "


" sebenarnya tidak mendadak. huh hanya saya lupa dan saya tidak mau meninggalkanmu sendirian " ujarnya masih dengan nada lirih tatapanya yang selalu tajam itu seakan mengartikan jika dia tak ingin pergi


" disana berapa hari? " lagi lagi aku hanya bisa mengajukan pertanyaan, jujur aku juga tidak ingin dia pergi tapi aku tidak boleh egois, dia juga memiliki tanggung jawab selain aku


" tiga hari " menjawab seadanya lalu menghidari tatapanku dia memilih menatap keadaan luar yang masih sama


" sudahlah kamu nggak usah sedih kayak gitu "


" saya tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan hamil tua seperti ini, lagi pula lusa adalah acara syukuran kehamilan mu "


" kamu harus profesional sama pekerjaanmu, tanggung jawabmu bukan hanya aku, tapi perusahaan dan karyawan sana juga tanggung jawab mu..... masalahan syukuran kita bisa menundanya dulu sampai kamu kembali " ucapku menenangkannya


" entah kenapa berada jauh darimu akan menyiksa saya "


" jangan berlebihan " candaku seraya mengulas senyum


" saya serius bagi saya beban terberat saya itu meninggalkanmu dan melakukan aktivitas tanpa kamu berada disisi saya "


" belajarlah berada jauh dariku "


" ya karena........ aku tidak akan selamanya bisa mendapingimu seperti sekarang ini, dan kamu juga tidak setiap waktu bisa berada disisiku banyak hal yang harus diri kita lakukan masing masing walaupun kita memiliki ikatan namun tak selamanya bisa saling menjaga dan menetap "


" kenapa saya merasa kamu akan meninggalkan saya "


" sudahlah, itu hanya perasaanmu aja "


" semoga. saya perhatikan akhir akhir ini kamu sering dengerin musik, emangnya kamu dengerin lagu apa? asik banget kayaknya. " tanya nya baru menyadari kalau sedari tadi yang kulakukan hanya mendengarkan musik


" chaha hai tujhko, shoundtrack nya film mann. mau denger? "


ya aku dari tadi dengerin lagu india jujur aku nggak pernah nonton film nya tapi kalo denger dari lagunya kayaknya film yang banyak nguras air mata


" sejak kapan kamu suka lagu india? " sambil tertawa kecil dia memperhatikan ku entah apa yang lucu dariku


" sejak aku denger lagu ini " jawabku sesuai fakta. memang setelah dengar lagu ini rasanya nyayat hati banget


ku putar player musik lewat ponselku dengan tali earphone sebelah kiri ditelinga kiriku dan yang kanannya ku kaitkan ditelinga kanan fahriza. jadi kami berbagi earphone yang sama


sebenarnya dengerin lewat ponselnya langsung bisa aja sih tanpa perlu perantara earphone. tapi aku lebih senang dengan keadaan seperti ini supaya aku bisa terus menatap wajah fahriza dari dekat sebelum dia berangkat nanti


kuputar lagunya dari awal, bisa dilihat fahriza juga menikmati alunan musiknya aku terus menatap sebagian wajah fahriza yang duduk disampingku karena dia menatap kedepan jadi aku hanya bisa melihat sebagian wajahnya


lirik lagu ini seakan ungkapan isi hatiku untuk fahriza, pria yang ada dihadapanku sekarang. sang pemilik wajah yang selalu tenang, pemilik simata tajam, pemilik senyum yang manis, pemilik hati dengan kesabaran yang tinggi menghadapiku, pemilik sikap yang penuh kasih sayang dan pemilik hatiku.


setelah 4 menit 32 detik lagu yang di cover debolinaa nandy itu berakhir tatapanku dan fahriza bertemu dia seakan faham arti setiap kata dalam liriknya " kamu tau artinya? " tanyaku seraya melepas earphone dari telinga fahriza. yang ditanya hanya diam masih menatapku


aku tersenyum membalas tatapannya, kugerakan tanganku menyentuh wajahnya dan mengartikan setiap bait liriknya yang sudah hapal dalam kepalaku


" aku akan selalu mencintaimu


walau aku mati cintaku tak akan pernah berkurang


jika teringat padamu, air mata ini mengalir


waktu ke waktu mereka mengatakan jika kita akan bertemu


kehidupan apa ini? yang ada hanya cerita tentangmu


hanya ada cerita tentangmu dalam hidupku


aku mencintaimu, akan selalu mencintaimu


walau aku mati cintaku takkan pernah berkurang


setiap kata katamu adalah bukti cintamu itu


apakah semua janji dan sumpah itu palsu?


sayangku, apakah ini benar? katakan sejujurnya padaku


agar kepercayaan ini tak hancur


berikan aku sebuah alasan untuk apa aku menunggumu


aku mencintaimu, akan selalu mencintaimu


walau aku mati cintaku takkan pernah berkurang


aku milikmu mintalah apapun yang kau inginkan dariku


berikan kesedihanmu padaku wahai sayangku


aku akan menanggung rasa sakit pemisah ini sepanjang hidupku


jalan dari tujuanku telah hilang


akan datang segala cobaan padaku


kau berada didepanku lalu mengapa ada jarak diantara kita


bagaimana aku mengatakan padamu ketidakberdayaan ini


inilah hidup yang hanya menelan air mata


( mengusap wajahnya ) "


air mataku juga ikut mengalir saat setiap bait yang kuterjemahkan seakan air mataku juga meniru rintikan hujan yang berjatuhan diluar sana


secara tidak langsung aku menunjukkan kalau aku keberatan untuk keberangkatan fahriza besok entah kenapa aku juga tak ingin jauh darinya setiap waktuku hanya ingin kuhabiskan bersamanya tanpa terlewatkan


dia mendekatkan dirinya padaku lalu merengkuhku dalam pelukannya, pelukan? ya pelukan ini yang selalu membuatku nyaman aku akan merindukannya


ada perasaan berat dan khawatir ditinggal olehnya, dapat kurasakan dia mencium pucuk kepalaku yang tidak tertutup oleh jilbab


" cuma tiga hari, setelah pekerjaan disana selesai saya langsung pulang " ujarnya yang masih mendekapku


" nanti saya akan minta ibu untuk menemanimu dirumah " tambahnya


perlahan dia melepas pelukkannya dariku, kemudian mencium keningku lalu turun ke kedua kelopak mataku.


" aku sayang kamu bang za " ucapku bergetar karena menahan tangis ah dasar sifat cengengku tak pernah hilang


" me too, i will miss you " sambungnya mengusap kedua pipiku


sorry lamak up ye, huh kebanyakan liburan lupe nak ngetik lanjutin up i'm so sorry 😮seeyou