
" fi kemeja hitam polos saya mana ya? " teriak fahriza diatas
fahriza makin hari makin rempong aja nggak tau apa aku lagi masak dengan kesal aku berlari keatas untuk mencarikan kemejanya
ku lihat dia sibuk dengan ponselnya pantesan nggak ketemu orang matanya ke ponsel mulu
" nih " ujarku ketus sambil memberikan kemeja kesayangannya itu
" jangan cemberut gitu dong " ucapnya seraya mengambil kemeja dari tanganku
aku hanya melengos meninggalkannya dan kembali ke dapur sup sayurku yang udah matang ternyata
setelah selesai menyiapkan sarapan kami aku kembali kekamar memanggil fahriza yang masih mengutak atik ponselnya ku lihat wajahnya yang mulai sulit ditebak sepertinya masalah kantor lagi
" bang za sarapan dulu " ucapku seraya mangambil tas ku
dia tersenyum menatapku inilah yang aku suka darinya kalau lagi frustasi dengan kerjaan kantor dia tidak pernah melampiaskan ke siapapun atau keapapun tebar tebar senyum aja aku nggak tau hatinya itu terbuat dari apa hingga segitu kuatnya menghadapi apapun
ketika sudah dimeja makan dia segera mengambil piring dan menyendokkan nasi dan lauknya
aku selalu senang jika masak karena fahriza selalu memakannya dengan lahap dan jika ditanya komentar tentang rasanya jawabnya selalu enak itu sudah lebih dari cukup untuk ku selalu bersemangat membuatkannya makanan
setelah selesai makan aku membereskan semuanya hingga selesai seperti biasanya aku menunggu fahriza pergi duluan kekantor setelah itu baru aku berangkat kerumah sakit
" fi, hari ini kayaknya saya pulang telat " ujarnya seraya mencium keningku
" iya " sahutku lalu mengantarnya kedepan tapi tiba tiba kepalaku rasanya berputar pandanganku juga mulai kabur aku segera mencari pegangan takut tubuhku ambruk fahriza yang melihatku seperti itu kembali lagi mendekatiku
" fi kamu kenapa? " tanyanya khawatir
" nggak tau kepalaku pusing " ujarku sambil meringis
" ya udah kita masuk dulu biar saya carikan obat "
" nggak pa pa bang, abang za berangkat aja bentar lagi juga ilang " ucapku memastikan padanya bahwa aku baik baik saja
" nggak fi, saya nggak tenang liat kamu kayak gini "
" nggak pa pa bang ini udah mulai baikan " ucapku sambil memegangi lengannya yang masih di pipiku dan matanya masih menatapku khawatir
aku menatapnya sambil memastikan aku benar benar baik saja karena memang sakit kepalaku mulai reda
" ya udah kita barengan aja nanti pulangnya saya jemput saya akan pulang lebih awal "
" trus kerjaan kamu gimana? "
" saya bisa kerjain dirumah "
" udah nggak perlu khawatir kayak gitu saya cuma sakit kepalanya biasa dan sekarang juga udah baikan saya bisa naik motor sendiri "
" kamu beneran udah mendingan? "
" iya aku juga harus kerumah sakit sekarang "
" ya udah kalau kamu udah lebih baik saya kekantor sekarang " ucapnya kembali mengecup keningku " kalau ada apa apa segera telfon saya " lanjutnya yang kubalas anggukan
setelah mobil fahriza keluar dari pekarangan rumah aku kembali ke dalam untuk memastikan kompor sudah benar benar ku matikan
aku kembali keluar dan mengunci pintu lalu manaiki queen dan segera melaju menuju rumah sakit
sebenarnya dulu fahriza pernah membicarakan padaku perihal mencari seorang ART untuk dirumah kami tapi aku yang melarangnya karena aku ingin aku menjadi seorang istri yang selalu melayani suamiku tanpa bantuan siapapun maka dari itu setelah sholat subuh aku selalu berberes beres rumah lalu menyiapkan sarapan menurutku lebih menyenangkan ketimbang aku duduk manis dan malas malasan
saat dijalan pikiran ku terlintas untuk membeli sup buah rasanya pasti enak kalau pagi pagi gini makan sup buah dan kebetulan didekat rumah sakit tempatku bekerja ada sebuah kedai yang menjual sup buah
kebelokkan queen menuju parkiran kedai. sup buah itu benar benar membuatku bersemangat sekarang tapi ketika aku ingin masuk kedalam tiba tiba seseorang menarikku
cengkaman tangannya membuat ku meringis dengan kesal aku membentaknya dan menoleh ternyata vino yang melakukannya
" kamu ngapain sih lepasin gak sakit tau " pekikku kesal
" nggak ta aku mohon kamu tinggalin fahriza dan menikahlah denganku "
" kamu gila ya vin aku nggak mungkin ninggalin dia apalagi demi laki laki kayak kamu " ucapku dengan nada tinggi
" ya aku gila dan itu karena kamu aku tau aku salah ta, tapi aku nggak bisa lupain kamu "
" lepasin nggak kalo nggak aku teriak " ujarku sambil menepis tangannya namun gagal cengkamannya terlalu kuat
" silahkan kamu teriak kamu pikir aku bakalan takut " sahutnya dengan tersenyum licik sesaat kemudian dia merogoh sesuatu dari kantong jaketnya dan membekap hidung dan mulutku dengan saputan
" emm,lepasmmhin........"
entah apa yang sudah dia berikan disaputan itu hingga membuatku susah bernafas dan hilang kesadaran
••••••••••
perlahan aku membuka mataku kepalaku terasa sakit kulihat disekelilingku hanya ada ruangan yang datar dengan sebuah ruangan kecil disampingku dan sebuah kasur didepanku
dan ketika aku ingin menggerakkan tanganku aku kaget karena tangan ku diikat dibelakang kursi yang kududuki dan kaki ku juga terikat dengan tali aku juga baru menyadari kalau mulutku juga ditutup dengan lakban hitam
aku tidak tau siapa yang melakukan ini padaku dan yang terakhir kali ku ingat bahwa aku bersama vino di parkiran kedai sup buah aku terus memekik dengan suara tertahan karena aku tidak bisa membuka mulutku
aku mencoba meronta untuk melepaskan tali pangikat ku ini namun hasilnya nihil ikatannya terlalu kuat ku lihat ke arah ventilasi udara diatas warna jingga keemasan yang terpancar disana
sebentar lagi malam aku nggak boleh putus asa aku harus bisa keluar dari sini ketika aku kembali mencoba melepas tali di tanganku pintu ruangan itu terbuka seorang lelaki berperawakan bule masuk dan tersenyum menatapku
" kamu udah bangun sayang? " tanya vino dengan geram aku menatapnya tajam beraninya dia melakukan ini padaku
perlahan dia mendekati ku dan membuka lakban yang menutupi mulutku
" kamu pasti laparkan mau makan apa? " tanya nya lembut
" lepasin aku " bentak ku menatapnya tajam
" aku suka tatapan tajammu sayang, kamu kan tau aku itu cintaaaaa sama kamu aku nggak bisa ngelupain kamu dan kamu tega banget ninggalin aku " celetuknya menatapku
" kamu benar benar nggak waras vino aku makin nggak sudi buat deket deket dengan mu "
" tak berotak kau " (nggak punya otak kamu)
mendengar ucapan ku wajahnya berubah menatapku tajam entah dia faham atau tidak
" PELAYAN " teriaknya dengan pandangan tak lepas dari ku
" ya tuan " jawab pelayan itu dengan takut
" bawakan makanan dan juga minuman untuknya "
" baik tuan " pelayan itu segera pergi meninggalkanku dan vino
" fita, aku tau aku salah pernah ngehiatin kamu tapi aku mohon fita kembalilah padaku aku janji bakalan bahagiain kamu lebih dari fahriza mu itu "
" jangan pernah kau sebut namanya dengan mulut kotormu itu " ucapku tajam
dia semakin menatapku tajam tak lama pelayan datang membawa makanan dan minuman yang tadi dipinta vino dan memberikannya pada vino
" buka mulutmu " perintahnya padaku seraya menyendokkan nasi ke arah mulutku
aku masih tidak membuka mulutku aku benar benar nggak sudi makan suapan darinya
dia mulai terlihat kesal padaku karena sudah berapa kali dia menyuruhku membuka mulut
" jangan buat kesabaran saya habis " ujarnya kasar
" kamu dengar baik baik sampai kapan pun aku nggak akan pernah mencintamu apalagi makan dari suapan laki laki ular sepertimu tak usah cube bemimpi miliki aku juge aku balek sukekan kau jangan berharap itu kan tejadi " ujarku tajam ( jangan coba bermimpi memilikiku juga aku akan kembali menyukaimu jangan berharap itu kan terjadi)
dia mencengkam kedua pipiku dengan kuat hingga membuatku meringis " ya Allah ku mohon tolonglah aku dari manusia didepanku ini" gumamku dalam hati " fahriza kamu dimana aku mohon keluarkan aku dari sini "
" kamu berani melawan perintah dari seorang Vino Ristan " bentaknya padaku lalu meletakkan dengan kasar piring yang ada di tangannya
" hengh, aku nggak pernah takut apapun apalagi sama laki laki sepertimu yang tidak punya malu telah menghianati seorang wanita lalu sekarang kau berani memintanya menjadi istrimu "
" apa yang kau harapkan dari suamimu itu ha aku memiliki banyak kelebihan dari pada suamimu itu "
" hahahha..... apa kau bilang jangan nak bemimpi vino sudah jelas dia jauh lebih baik darimu jadi jangan pernah bandingkan dia dengan mu apalagi dihadapan ku "
" KURANG AJAR " bentaknya sambil melemparkan gelas air munum itu ke dinding hingga pecah berkeping keping
" ARGUS TUTUP PINTUNYA " teriak vino pada salah satu pengawalnya diluar
" baik tuan " ucapnya seraya menutup pintu tersebut
" kalau aku tidak bisa memilikimu maka lelaki manapun juga tidak akan bisa bersamamu, "
" kamu fikir fahriza akan tinggal diam die akan temukan kau dan buat kau tak bedaye " ( dia akan menemukanmu dan membuatmu tak berdaya )
" haha... kau terlalu yakin sayang sekarang kesabaranku benar benar habis kau tidak bisa diluruskan dengan lembut " ujarnya membuka ikatan tali di lenganku dan kakiku
" KAMU NAK APE VINO JANGAN CUBE KAU SENTOH AKU " bentaku keras ketika dia menyentuh kakiku ( kamu mau apa vino jangan coba menyentuhku )
" mau menikmati mu sayang, sudah ku bilang kau harus jadi milikku " ujarnya lalu menarikku menuju ranjang
aku memberontak hingga dia sedikit kewalahan menghadapiku dan sedetik kemudian aku berhasil menendang perutnya dan membuat dia tersungkur
dengan tangis yang mulai berderai aku berlari ke daun pintu lalu menggedor gedornya
" tolonglah siapapun diluar tolong keluarkan aku aku mohon "
tanpa ku sadari ternyata vino berdiri dan mendekatiku
Plak
sebuah tamparan keras mendarat dipipi kananku
kurasakan pipiku panas dan perih dan sedetik kemudian darah keluar dari sudut bibirku
" aku sudah bilang padamu jangan buat kesabaran ku habis " pekiknya lalu kembali menyeretku di kasur
" vino ku mohon jangan lakukan itu "
dengan bringas dia mencoba melepas jilbabku dan aku juga tidak mau putus asa dengan sekuat tenaga aku melawanya dan tanpa sengaja aku menendang area vitalnya membuat dia berteriak dan tersungkur
" KURANG AJAR KAU, "
setelah berhasil lepas darinya aku berlari menuju ruangan kecil itu yang ternyata kamar mandi aku mengunci pintunya dengan gemetar tangis ku kembali pecah aku takut jika fahriza tidak datang dan vino kembali menyerangku aku mencoba merogoh saku bajuku mencoba mencari ponsel
aku baru ingat kalau ponselku berada di tas dan sekarang tasku entah kemana aku makin bingung ketakutan mulai merayapi diriku, aku takut jika vino kemudian lebih bringas lagi
dan dugaan ku benar vino kembali bangkit lalu menggedor dengan keras pintu kamar mandi
" LUFITA BUKA PINTUNYA " bentaknya diluar pintu kamar mandi tubuhku semakin gemetar mendengar teriakannya lebih keras
" baiklah kalau itu mau mu akan ku dobrak pintu ini " ujarnya lalu seketika hening
brugkhhh....
pintu kamar mandi terbuka ternyata dia benar benar mendobrak pintunya dia menarikku kasar dan membawaku kekasur lagi dia melemparku dengan keras seperti barang hingga membuatku tersungkur diatas kasur
" kau benar benar tidak bisa ditolerir lufita " ucapnya sambil membuka bajunya
" ku mohon jangan vino ingat Allah Die akan murke liat tindakan kau cam ni" pinta ku dengan tangis yang berderai ( ingat Allah Dia akan murka melihat tindakan kamu begini )
" kesabaran ku sudah tidak ada lagi sekarang " ucapnya mendekatiku menarik kasar lengan bajuku hingga sobek sedetik kemudian dia mencoba melucuti pakaian ku tapi tak bisa dia semakin bringas dan menarik kuat leher bajuku
" FAHRIZAAAAA........" teriakku keras