LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
DOKTER SAYA



cup


sudah berapa kali punggung tangan ini ku kecup dan kalau tidak salah ini sudah yang ke sepuluh kali.


semoga saja setelah ini aku tidak memiliki wawasana pikiran masum untuk membangunkan pria ini.


" kamu mau buat tangan fahriza kebas fi dengan kamu ciumin terus? "


aku tidak tau apakah kakak tengahku ini merupakan sejenis manusia pengganggu, tapi ya aku akui dia kakak yang luar biasa bagiku bahkan dia rela izin dari pekerjaannya hari ini untuk menemaniku menunggui fahriza hingga sampai larut malam seperti ini.


" cuma nyium punggung tangannya nya doang nggak akan bikin tangannya kebas kak. " sanggahku malas dengan pertanyaan tak mendasar itu.


setelah kejadian siang tadi aku tak pernah meninggalkan fahriza barang sedetik pun kecuali sudah benar benar kebelet ke toilet. selebihnya aku lebih asik bertukar cerita dengan dia yang masih bungkam ini.


" kamu mau sampai kapan fi duduk disitu nggak pindah-pindah, ini udah malam tidur dulu gih biar kakak yang jagain fahriza. " tawarnya dibelakangku yang masih betah duduk disofa.


" kakak aja yang tidur, aku mau nungguin bang za bangun " kekeuh ku masih tak ingin berpaling ke hal lain dulu. bagiku bernafas sesungguhnya ketika fahriza membuka mata. tapi jika matanya belum terbuka mulutnya belum memanggil namaku aku tidak akan bisa tenang.


" kepala batu " sarkasnya lalu keluar dari ruangan


setelah keluarnya kak lufian ruangan kembali sunyi hanya terdengar suara bedside monitor yang mengiringi kesunyian malam kami. tadinya ibu ingin ikut menemaniku tapi aku yang melarangnya, aku kasihan dengan mereka kalau harus tidur dirumah sakit jadi aku meminta mereka jika ingin menemaniku siang saja. aku bukannya membatasi mereka untuk merawat fahriza tapi aku juga tidak ingin merepotkan mereka.


apalagi aku istrinya jadi biar aku yang bertugas merawat suamiku, biarkan aku merasakan jadi dirinya yang menungguiku sadar ketika aku koma satu bulan kemarin. aku ingin tahu jadi dirinya yang memiliki waktu singkat untuk istirahat karena semua waktunya dia habiskan untukku dan pekerjaanya hingga kesehatannya sendiri dia pertaruhkan kemaren.


biarkan aku menjalankan tugasku padanya, biarkan aku lebih mendalami peranku yang sudah ditentukan waktu.


" sayang.... bile nak bangon hem? "


" oke, maseh merajok e?.... " aku menggigit bibir bawahku untuk menghalau air mata yang ingin keluar


" hubby... aku tak tahan liat awak macam ni, cukop aku je yang rasekan seperti diambang kematian. kenape awak pon ikot merasekannye juga? "


lepas sudah pertahananku menghalau air cengeng ini turun ck hisss...


" haiss... kenapa kamu ikut turun juga sih? nanti pasokan air mataku disana abis bandel banget sih " aku sudah seperti orang gila yang memarahi air matanya sendiri.


kesel juga rasanya sudah susah payah mempertahankan air mata ini supaya nggak turun eh tau nya tumpah juga. kalo fahriza tau tiap menit air mataku jatuh kayak gini bisa-bisa dia mencak-mencak liat mataku yang sudah bengkak ditambah lagi hidung yang merah.


tapi.....


" hiks... hiks... bangonlah bang, hiks fifi butuh bang za... hiks... hiks.... " pada akhinya nggak akan pernah bisa dibendung. ketahuilah bahwa orang cengeng akan selalu kalah dengan air matanya.


aku menelungkupkan wajahku mencoba menenangkan hatiku, dengan posisi kening dibibir brangkar yang ditempati fahriza dan tanganku masih menggenggam erat jarinya aku tak ingin melepaskan barang sedetik pun tautan jari kami. " abang mungkin mampu nunggu fifi sadar sebulan kemaren. tapi fifi tak sanggup bang. "


" hiks.... fifi tak sanggup nunggu selama itu. fifi rindu bang za hiks.... "


" ma......af " lirih sebuah suara membuatku menghentikan tangisan yang dari tadi mengisi suara diruangan ini.


suara ini? ya ini suara milik...


dengan perlahan aku mengangkat kepalaku untuk memastikan pemilik suara itu. semoga ini nyata.


sebuah senyum terukir dibibir pemilik suara itu walau terhalang oleh ventilator yang masih melekat dibibirnya.


secepat kilat aku menghambur dalam pelukkannya hingga membuat fahriza susah bernafas.


" ini nyatakan bang? ini benerankan? fifi nggak lagi mimpikan? " aku langsung menyerang fahriza dengan berbagai pertanyaan setelah aku melepas pelukannya.


dia mengerjapkan matanya sembari memberikan senyum tipis padaku. " jang.... han.......... nanghis " ujarnya gagu akibat ventilator yang masih terletak disudut bibirnya.


perlahan tangan kirinya yang terpasang infus dan masih berada dalam genggamanku terangkat menjangkau wajahku dengan gerakan lemah dia menghapus air mata yang bergulir dipipiku " kam.. hu... baik.... baik..... aja... khan? "


aku mengangguk sembari meraih tangannya dari pipiku lalu mengecup pelan telapak tangan yang masih pucat itu.


" jangan buat aku khawatir lagi ya? "


" jangan pernah hentikan detakan kamu disini " lanjutku sembari mengusap pelan dada bagian tengahnya namun sedikit ke kiri


" karena jika jantung ini berhenti berdetak maka, gelombang getaran frekuensiku disini juga akan ikut berhenti bekerja " aku memegang dada didaerah yang sama tepat pada posisi letak jantungku.


senyum kembali terukir diwajahnya setelah mendengar semua perkataanku tadi, perlahan dia menarikku dalam pelukkannya dengan tangan kirinya karena gips pada tangan kanannya membuat dia tak bisa leluasa menggerakannya


" aku sayang kamu....... "


" aku butuh kamu..... "


" aku rindu kamu..... "


" jangan buat aku takut lagi "


aku menumpahkan segala keluh kesahku didadanya, selama dua hari dia tertidur tanpa membuka mata barang sedetik pun membuatku seakan tak punya semangat untuk hidup lagi, sehari tanpa suaranya rasanya duniaku tawar tak memiliki rasa kehidupan.


" aku panggilin dokter dulu " ujarku setelah melepas pelukkan darinya


gerakanku terhenti karena tanganku tak dibiarkannya lepas, " aku harus panggilin kamu dokter dulu " aku mengelus punggung tangannya itu mencoba memberinya pengertian


" kamhu... dok.. her.... sa.... ya "


" bu... khan.... me.. re... kah " sambungnya sambil menggeleng pelan


" baiklah " ujarku sambil terkekeh mendengar ucapannya


" fi nih coklat kamu. biar- " ucapan pria hampir berkepala tiga itu terhenti ketika aku dan fahriza menoleh ke arahnya yang baru saja masuk


" za? kamu- "


" kamu udah sadar? " sambungnya seakan tak percaya fahriza membuka matanya.


" hais... pertanyaan macam apa itu? " tukasku membuatnya tersadar dari balik pintu lalu berjalan kearah kami.


seulas senyum hadir di kedua sudut bibir pria itu sambil meletakkan segelas cup coklat panas di nakas " aku minta maaf za " ujarnya setelah duduk disebelahku


" maaf karena kemaren aku nyuruh kamu buat ninggalin lufita. aku kalap waktu itu setelah wanita itu mendatangiku dan menceritakan semua omong kosongnya hingga membuatku gelap mata " lirihnya tanpa menatap fahriza yang masih lemah


sebuah tepukan pelan di punggung tangan kak lufian dari tangan fahriza membuatnya melirik kearah lelaki yang pernah kena bogem mentah darinya waktu itu bahkan lebamnya saja masih membekas di tulang pipi fahriza.


sebuah senyuman bersahabat dilontarkan fahriza membuat hatiku menghangat. aku tau dia bukan orang yang pendendam, maka dari itu sesalah apapun orang lain padanya jika kata maaf sudah hadir dipendengarannya maka masalah yang baru saja terjadi akan lenyap.


jika saja waktu itu vino meminta maaf pada fahriza bukan memanasinya mungkin keadaan pada pria itu tidak akan seperti sekarang.


ah sudahlah semua yang sudah terjadi tidak bisa ditarik kembali.


▪︎▪︎▪︎


" hahahaha..... " tawa fahriza pecah mengingat cerita kak lufian yang menjelaskan kronologi aku menangis sehari semalam ditambah lagi gaya bicaraku saat marah dan sedih. bahkan dia menambahkan bumbu dalam ceritanya waktu membahas tentang tragedi lemahnya jantung fahriza waktu itu, dan bilang kalau aku mengambil kesempatan dengan mencium fahriza didepan mereka semua.


ck aku melakukan itu secara sepontan dari tubuhku, bukan ambil kesempatan dasar.


dan sekarang kakak tidak bertanggung jawab itu udah kabur kekantor meninggalkan aku yang jadi ejekan fahriza


" eh, aku kayak gitu karena aku khawatir sama kamu ya. nggak ngehargain banget " sarkasku tajam


" iya iya. tapi nyali kamu besar tau fi, kamu berani gitu cium saya depan dokter sama suster yang nanganin saya waktu itu " ujarnya lancar karena selang ventilator yang menempeli bibirnya beberapa hari kemarin telah dilepaskan mengingat kondisinya yang mulai membaik.


" isss... itu tuh terjadi secara sepontan. bukan inisiatif dari aku beneran deh " balasku malas karena fahriza berhasil membuatku malu mengingat kejadian itu.


bahkan ketika dokter atau suster yang menangani fahriza itu masuk keruangan ini, untuk mengecek kondisi fahriza mereka selalu tersenyum malu saat tak sengaja bersitatap denganku, menjengkelkan bukan.


" assalammulaikum.... " salam seseorang diarah pintu membuatku dan fahriza menoleh.


" waalaikumsalam " jawabku dan fahriza serempak. ehem kok bisa ya?


namanya juga jodoh selalu kompaklah


" aaa.... aciiilll " pekikku ketika melihat kak rere dan kak lutfi masuk seraya menggendong acil.


" kayak anak kecil aja. tereak tereak " cicit kak lutfi saat melihatku berjalan mengambil acil dari gendongannya


" loh kaki kamu?.... " kata kak rere tertahan melihat aku yang berjalan tanpa bantuan kursi roda lagi dan mengambil acil darinya.


" hehehe... alhamdulillah " cengirku sambil menunjukkan deretan gigiku


" kamu ya fi ada berita baik kayak gini nggak ngasi tau kita " balasnya berlalu dan duduk disofa dengan meletakkan sekeranjang buah dan cemilan lainnya diatas meja


" bukannya nggak mau ngasi tau kak. kemaren aku tuh panik banget denger fahriza kecelakaan jadi mana kepikiran buat ngabarin kalian " belaku panjang lebar sembari memberi kan kecupan dipipi gembul acil


kok tiba tiba aku jadi mual gini yah


" iss... lufian tuh sama aja kayak kamu, nggak mau ngasi tau. untung om ruli yang nelfon kita. kalo nggak kita juga nggak bakalan tau fahriza kecelakaan " omel kak lutfi


" eh dari sana jam berapa? " tanyaku mengalihkan pembicaraan kak lutfi yang ujung ujungnya bakalan merepek jauh


" jam 6 " balas kak rere


" kok baru nyampe? " perasaan ini udah jam sebelas siang bahkan hampir jam dua belas tumben kak lutfi bawa mobilnya lemot


" tadi mampir bentar dirumah temen kakak di bekasi mau ambil barang yah ngobrol ngobrol lah bentar, trus mampir ke swalayan juga buat beli ini " jawab kak rere sambil mengupas kulit apel yang sudah dibersihinya tadi


" eh tante mana? " tanyanya setelah menyadari keadaan disini hanya ada aku dan fahriza


" ibu pulang dulu katanya mau masakin makan siang buat kita. bentar lagi mungkin nyampe disini " jelas fahriza yang sudah duduk dan nyender di kepala brankar sejak kedatangan kak lutfi sekeluarga tadi dengan bantuanku.


" gimana keadaan kamu sekarang? " tanya kak lutfi yang sudah dudun disamping fahriza.


entah kenapa perutku rasanya seperti diobrak abrik sebisa mungkin aku menahan isi perutku agar tidak keluar. mataku rasanya panas menahan mual yang sudah dipangkal tenggorokkan


" alhamdulillah udah lebih baik " jawab fahriza


" aku masih nggak habis fikir sama om vicky za. kok bisa dia kayak gitu, padahal kalo diliat orangnya humoris gitu "


" namanya juga manusia kak, kita nggak pernah tau isi hati mereka "


" bener sih za kata kamu. trus perem...... "


" huek..... " eranganku sukses memotong ucapan kak lufian dan membuat mereka yang berada diruangan itu menatapku


" huek.... " dengan mata yang berair dan tangan yang gemetar aku memberikan acil yang ada dalam gendonganku ke kak rere yang menatapku dengan entahlah dia menatap lekat kearahku.


sedangkan aku sudah berlari kedalam toilet untuk menumpahkan isi perutku


" hueeekk...... " kali ini suaraku nyaring banget di iringi isi perutku yang sudah keluar dan tumpah di wastafel


tak lama aku merasakan pijitan lembut ditengkuk ku


setelah selesai menumpah semuanya aku terduduk lemas di lantai toilet yang kering ini. dan kak rere yang memijit tengkukku tadi memegang lenganku membantuku untuk duduk di kloset yang masih tertutup itu


nafasku ngos ngosan dengan air mata yang masih bergulir dipipiku


" kayaknya kamu hamil deh fi " ujar kak rere dengan mata yang menyipit yang masih didalam toilet


" hah..... " masa sih kok aku nggak ngerasa apa apa.


dan seingetku selama aku sakit beberapa bulan kemaren fahriza nggak pernah nyentuh aku selain sebatas ciuman. alasannya ya karena aku waktu itu masih lumpuh jadi dia nggak mau tambah nyakitin aku.


trus gimana bisa aku hamil coba.


aku memperhatikan kak rere yang juga menunggu aku bicara


dengan pandangan lemah ditemani keringat dingin sebiji janggung jatuh dari pelipisku karena kepalaku rasanya berputar.


dan perlahan pandanganku gelap