LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
SELAMAT DATANG SAYANG



fahriza


》》》》》


tubuhku seperti mati rasa setelah melihat wajah kesakitan dari lufita.


jika saja aku bisa melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa sakit yang mendera dirinya itu akan lebih baik kukerjakan dari pada aku harus mondar mandir tidak jelas didepan ruang operasi ini.


aku masih belum percaya jika dia akan melahirkan hari ini pada hal menurut perkiraan dokter kemarin ketika kita check kandungan itu sekitar empat hari lagi.


haaahh...


ya lufita akan melakukan persalinannya dengan operasi caesar. walau pun dalam keadaan sadar dia tetap tidak bisa melahirkan secara normal mengingat pasca kecelakaan waktu itu hingga mengakibatkan dia lumpuh dan itu bisa berakibat fatal untuk dia jika melakukan proses persalinannya secara normal.


apalagi tiga nyawa yang akan dia keluarkan dan itu sangat tidak memungkinkan untuknya mengeluarkan mereka tanpa caesar


" duduk dulu za, lufita sama anak kalian pasti baik baik aja " ujar ibu yang sudah menemaniku bersama ayah sedari tadi bahkan sebelum lufita dipindahkan keruang operasi


jangan lupakan lufian yang langsung melesat kesini ketika aku menghubunginya walau tanpa istrinya, karena tania sedang bertugas pagi ini


aku menghebuskan nafas beberapa kali mencoba menetralkan degup jantungku yang memompa terlalu cepat, kekhawatiranku kian bertambah kala mengingat wajah lufita yang mengerang sakit dan terus menggenggam tanganku dengan tangan dinginya.


" banyakin berdoa za biar tenang. " tambah ibu karena aku tak mengindahkan ucapannya tadi


" mending kamu duduk deh za pusing kepalaku liat kamu jalan-jalan nggak jelas kayak gini " kali ini lufian yang bersuara membuatku berdecak kesal


tidak mengertikah dia bahwa istriku yang berarti adiknya juga kini sedang bertaruh nyawa didalam sana, bagaimana dia bisa sesantai ini?


walaupun lufita melahirkan secara caesar belum bisa memastikan semuanya aman.


melahirkan tetaplah melahirkan dimana sang ibu akan mempertaruhkan nyawanya demi mengeluarkan sang buah hati untuk melihat dunia sesungguhnya. ck bahkan aku makin tambah gelisah saat mengingat perkataan lufita subuh tadi.


ketika aku ingin mendudukkan diriku tiba-tiba pintu ruang operasi dibuka dan itu berhasil membuatku mengurungkan niatku untuk duduk


" suaminya ibu lufita! " ujar seorang perawat yang membuka pintu ruangan tadi


" saya sus "


" istri anda meminta untuk ditemani "


" dia sudah sadar? "


" sudah "


" sebelum masuk silahkan anda menggunakan baju medis dulu untuk menjaga sterilisasi ruangan " lanjutnya


▪︎


sebuah senyum tipis dari wanita yang sedang berjuang ini hadir menyambut kedatanganku " mau bantu aku berjuang? " tanya nya setelah aku tiba disisinya dan berdiri disampingnya


" of course " ku kecup keningnya mencoba memberikan ketenangan padanya ketika dokter dan para perawat disana sedang berusaha mengeluarkan bayi kami dari perut lufita.


tangannya terus menggenggam tanganku tanpa sedetikpun memberikan kelonggaran pada genggamannya. sesekali aku membisikkan kata-kata penyemangat padanya agar dia tetap tenang karena dapat kurasakan tangannya bergetar.


cup


" semuanya akan baik baik saja, jangan panik oke? " ujarku seraya memberikan kecupan dikeningnya


tak lama setelah menyemangati lufita tangisan bayi terdengar bergema diruangan ini. dan itu mampu membuatku menarik kedua sudut bibirku.


dapat kulihat lufita juga melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyum.


beberapa menit berlalu disusul lagi kedua bayiku yang hanya berselang 3 menit.


hingga pada akhirnya ketiga bayi kami dapat dikeluarkan dan alhamdulillah tanpa adanya hambatan apapun. aku berulang kali mengecup pucuk kepala lufita tanpa rasa canggung sedikitpun bahkan dalam ruangan ini kami tidak berdua saja.


" kamu berhasil " ujarku padanya yang masih berbaring dibrankar dengan pembatas kain dihadapannya yang belum di singkirkan. karna para dokter sedang menempelkan kembali lapisan kulit perut lufita yang sudah di robek tadi demi mengeluarkan sang buah hati kami.


" bayi anda tampan sekali " ujar seorang perawat yang sedang menggendong salah satu putraku yang masih asik dengan mata terpejam.


" anda benar " sahutku yang masih asik menelisik wajah terlelap milik bayiku.


" selamat datang sayang " lanjutku


setelah puas melihat ketiga anakku aku kembali menghampiri lufita lagipula mereka harus dibersihkan terlebih dahulu.


beginikah rasanya menjadi orang tua?


rasa membuncah dalam dadaku rasanya sulit kutahan. aku benar benar bahagia melihat mereka berempat baik baik saja apalagi ketiga anakku sangat sehat bahkan beratnya rata-rata dua kilo lebih.


" bagaimana apa mereka baik? " tanya lufita yang sudah selesai melalui proses pengeleman pada perutnya


" sangat baik "


" terima kasih " lanjutku yang dibalas lufita dengan senyuman


" i love you " bisikku ditelinganya


" i know " sambungnya lirih


detik selanjutnya aku mendekati si kembar yang sudah bersih dan terlelap dalam box bayi yang baru saja di bawa oleh seorang perawat. ku telisik wajah mereka satu persatu detik berikutnya aku mulai mengazani mereka yang sama sekali tak terusik mendengar suaraku


▪︎▪︎▪︎


" haa... mas mereka lucu-lucu banget sih " ujar tania pada lufian yang sedari tadi terus mengagumi si kembar yang sudah berada dalam box bayi.


sejak dipindahkan keruang perawatan tak ayal si kembar dikelilingin ibu sama ayah dan lufian juga tania yang baru saja datang.


" oh iya, udah berapa bulan tania? " tanya ibu yang baru menyadari perubahan pada perut tania


" jalan empat bulan tante " jawabnya


" ih aku pengen gendong " rengeknya pada lufian yang asik memotret si kembar


" eeeehh.. nggak boleh " sarkas lufita yang sedari tadi asik memperhatikan mereka


" ih jahat banget sih fi " serunya akan larangan dari lufita


" nanti anak-anak aku terkontaminasi sama bakteri yang kamu bawa. pokoknya nggak boleh. kamu kan baru datang dari luar " kali ini dibalas lufita dengan sakartis


" ck. ih jahat banget sih " balasnya


" ayah nggak nyangka za, mereka bertiga mengcopy wajah kamu " tukas ayah yang sedari tadi fokus pada sikembar kini menatapku


" ya pasti dong yah. kan disini yang paling banyak usaha saya " jawabku enteng membuat mereka yang berada disini tertawa berbeda dengan lufita yang menghadiahiku sebuah pukulan di lenganku


" bahas kamu tuh diperbaiki " sarkasnya menatapku kesal


cup


" iya iya " kembali kukecup pucuk kepalanya


sebuah ketukan dari pintu membuat kami menoleh kearah sumber suara hingga masuk seorang pria yang mengenakan setelan dokter.


" selamat siang " sapanya setelah masuk kedalam ruangan


" selamat siang dokter frans " jawabku dan lufita sedangkan masih fokus pada sikembar.


" gimana keadannya dokter fifi? " ujar dokter frans yang kini sedang memeriksa lufita.


" panggil fifi aja dokter frans, aku juga pasien kamu " balas lufita


" sudah kebiasaan dokter fifi "


" selamat ya, nggak tanggung-tanggung loh tiga sekali keluar " candanya menatapku dan lufita bergantian.


aku sengaja membawa lufita kerumah sakit tempat dia dulu bekerja karena cuma rumah sakit ini yang paling dekat dengan rumah kami dan kebetulan sekali ketika aku tiba disini waktu itu dokter frans sedang ada dilobi jadi begitu melihat ku yang panik dan lufita yang lemah di atas brankar dia segera menghampiri kami hingga ikut memanggil lufita yang waktu itu kesadarannya mulai menghilang. dia juga yang menangani lufita dalam proses persalinan berhubung dia pun dokter obgyn.


" alhamdulillah " jawab lufita


" berkat usaha dan kerja keras " sambungku membuat dokter frans tertawa


" nggak tau malu " sarkas lufita tajam


entah kenapa sekarang aku lebih suka menggodanya melihatnya kesal akibat kata-kataku rasanya sangat menyenangkan.


" nanti kalo dah nikah saya juga mau belajar cara dapetin anak kembar sama suami dokter fifi " perkataan dokter frans berhasil membuatku dapet tatapan tajam dari lufita.


aku hanya menaikkan alis sebelah kananku membalas tatapannya.


" nggak bakalan dikasi " balas lufita membuatku dan dokter frans terkekeh.


" kita ngomong diam diam aja " kata dokter frans seakan berbisik kembali menggoda lufita namun masih bisa didengar


" baiklah kalau begitu saya keluar dulu, jangan lupa obatnya diminum dan jangan banyak bergerak karena lukanya masih basah. tolong diawasi istrinya ya pak soalnya dulu waktu masih kerja suka bandel " ujarnya


aku membalas ucapan dokter frans dengan senyuman


" za aku sam tania harus balik dulu entar kita kesini lagi " ujar lufian setelah puas ngacauin kenyamanan tidur sikembar


" kamu ya kak, udah salah satu anakku nangis karna ulah kamu mau ngelariin diri " sinis lufita sembari menerima salah satu anak kami yang menangis tadi


" dia laper fi. lagian kakak udah dari pagi ninggalin kantor tania juga harus balik kerumah sakit, duluan ya om tante " ucapnya kemudian mengecup satu persatu anakku


tak lama setelah keluarnya lufian ayah juga pamit karena harus menghadiri rapat yang diadakan setelah jam makan siang.


dan sekarang tinggalah kami berenam,


" kasi ASI dulu fi. kakak pasti laper iya kan yah? " ujar ibu yang mengajak anak keduaku bicara dan membawanya pada lufita untuk minum ASI


" bang? " panggil lufita yang sudah mendekap bayi kedua kami


" hemm... " aku masih fokus pada kedua bayiku dalam box ini mereka telihat anteng sekali walau sang kembaran menangis keras hingga membuat ruangan ini hanya diisi oleh suaranya


" bisa keluar dulu nggak " lanjutnya membuatku mengangkat kepala menatap lufita yang siap membuka kancing ata bajunya


" ck, emang bagian tubuh kamu yang mana yang belum saya lihat? "


" baaangg..... " ucapnya kesal mendengar ucapanku seraya melirik kearah ibu yang tersenyum mendengar aku dan lufita berdebat


" ada ibu juga, nggak tau malu " sambungnya kesal


" saya nggak akan liat " tukasku kembali menatap wajah damai dari kedua putraku dalam box ini.


" kalian udah siapin nama belum buat mereka? " kali ini ibu yang buka suara memecah keheningan diantara kami setelah lufita menyusui bayi dalam dekapannya


" udah bu " jawabanku membuat lufita dan ibu menoleh


" nama nama nya siapa? " tatapan penasaran dari lufita membuatku tersenyum


" nanti saya kasi tau "