
Fahriza
》》》》》
saat mobil sudah berhenti diparkiran rumah sakit lufita langsung turun dan berlari masuk ke dalam. yah dia pasti khawatir pada pasiennya. secara dia seorang dokter yang bertugas memberikan pertolongan pada para pasiennya.
hari ini aku akan menunggunya dirumah sakit. dari pada nanti dia pulang menggunakan taksi online aku takut terjadi sesuatu padanya, walaupun dia terlihat tegas dan cerewet dia masih polos sangat gampang untuk di tipu.
ketika aku akan keluar dari mobil ponselku tiba tiba berdering, dilayar tertera nama kak lutfi. kakak iparku.
"hallo assalammualaikum" sapa ku pada kak lutfi
"waalaikumsalam, za kamu dimana?" tanya kak lutfi terdengar panik.
"dirumah sakit kak ada apa?" tanyaku heran
"apa lufita bersamamu?"
" tidak"
" za mama sama papa kecelakaan dijalan saat menuju rumah kalian"
"astagfirullah, sekarang mama sama papa dimana?" tanya ku kaget.
"katanya dibawa kerumah sakit deket rumah mu, sekarang saya sama rere juga udah di jalan bentar lagi kita nyampe"
" yaudah kak saya cari lufita dulu assalammualaikum"
" waalaikumsalam"
setengah berlari aku masuk ke dalam rumah sakit, pikiran ku sekarang penuh dengan bayangan lufita, bagaimana reaksinya mendengar kabar buruk ini. brugh karena terlalu panik, aku sampai menabrak brankar jenazah yang sudah tertutup dengan kain putih.
" sus dimana dokter lufita?" tanyaku pada suster yang sedang memegang pinggir brankar.
" sedang diruang operasi pak" jawabnya
" maaf sus apa ada pasien kecelakaan yang baru saja dibawa kesini?" tanyaku, aku ingat kak lutfi tadi bilang kalau mama sama papa dibawa kerumah sakit deket rumah kami, dan cuma ada satu rumah sakit yang dekat dengan rumahku yaitu rumah sakit tempat lufita berkerja ini.
"maaf pak kalau boleh tau apa anda keluarganya pasien?" tanya suster itu khawatir
"saya anaknya sus"
kedua suster itu kemudian saling tatap dan mengeluarkan mimik wajah yang sulit ditebak, dia kemudian kembali menatapku yang masih bingung.
bak disambar petir kurasakan ribuan anak panah menghantam dadaku bibirku terasa kelu tubuhku lemah mendengar pernyataan dari suster tadi aku tidak tau harus berbuat apa sekarang, kubuka kain yang menutupi wajah jenazah itu.
dan benar saja wajah teduh mama terbujur kaku, aku tidak percaya ini. mama seperti sedang tidur, hanya saja terdapat beberapa luka di sana.
"bagaimana keadaan lufita sekarang" gumam batinku.
" lalu bagaimana dengan papa saya sus?"
" ayah bapak sedang ditangani oleh dokter lufita dan dokter dimas tapi informasi yang baru saja saya dapat kalau....." suster itu menggantung kalimatnya
aku menatapnya penasaran
" kalau ayah bapak juga meninggal 3 menit yang lalu" lanjutnya ragu.
kurasakan jantung ku sepertinya berhenti berdetak, suster itu sudah berlalu membawa mama dengan meninggalkanku yang masih tersungkur dilantai rumah sakit. " bagaiamana dengan lufita sekarang" ujar ku teringat akan perasaan lufita dengan berlari aku menuju ruang operasi, kulihat lampunya sudah padam.
tanpa memperdulikan apapun lagi aku menerobos masuk kedalam terlihat lufita sedang menutupi wajah papa dengan kain. dia menatapku dengan air mata yang terus mengalir.
ku percepat langkahku, dan langsung memeluk tubuh lufita dia terlihat sangat terpuruk tiba-tiba tubuhnya ambruk dipelukkanku dengan cepat aku menggendongnya dan membawanya keruangan dokter
••••••••••
Lufita
》》》》》
perasaan ku benar benar hancur sekarang, tidak ada lagi yang akan bercanda denganku tidak akan ada lagi tawa mama yang menghiasi rumah.
ku tatap wajah mama dan papa yang terbujur kaku. tubuh mereka sudah terbungkus kain kafan hanya wajah mereka saja yang masih terbuka agar kami bisa melihat mereka untuk yang terakhir kali.
aku tak mempedulikan orang orang disekelilingku. air mataku kini tak lagi keluar mungkin sudah kering atau sudah habis.
kak rere dan tania beberapa kali mendekati dan memelukku mereka mengajak ku untuk berpindah tempat karena sejaka tadi rumah kami sudah ramai oleh tetangga dan kerabat.
kak rere sudah tiba di jakarta saat aku dan fahriza sudah sampai dirumah dengan membawa mama dan papa menggunakan ambulan. sedangkan tania baru saja tiba dirumah, hari ini dia memang ingin pulang ke jakarta dan saat diperjalanan di mendengar berita duka ini.
sebentar lagi jenazah kedua orang tuaku akan di sholatkan. jadi secara bergantian aku dan kakak kakaku mendekati mama dan papa untuk mencium mereka untuk yang terakhir kalinya. dan yang terakhir mendekati mereka adalah aku.
rasanya aku tak sanggup lagi berkata apapun, mataku kini kembali basah sepertinya air bening itu sudah terisi kembali, perlahan aku mencium wajah kedua orang laki laki dan wanita yang seperti sedang tidur ini dan membelai lembut pipi mereka.
tak lama setelah itu mereka dibawa ke masjid dekat rumah untuk disholatkan.
" ya Allah jika memang ini takdirmu kuatkanlah hatiku. ya Allah jika memang ini yang terbaik untuk kedua orang tuaku. berikan keringanan padaku untuk melepas mereka ya Allah, berikan ketabahan untukku dan keluargaku" ratapku sambil memperhatikan kepergian orang orang yang menggotong jenazah mama papa menuju pemakaman setelah mereka disholatkan tadi.