LAUHUL MAHFUDZ

LAUHUL MAHFUDZ
KEBERANGKATANMU AKAN JADI RINDUKU



" semuanya sudah di packing kan? " tanya fahriza saat masuk kedalam kamar melihatku bersandar ditepi ranjang karena habis ngemasin barang barang yang akan dibawa fahriza nanti,


sebelumnya dia nggak mau menyuruhku mengemasi barang barangnya itu, katanya nanti aku kecapean. tapi aku sebagai istri nggak mungkin biarin dia ngepack sendirian


" udah " jawab ku seraya menolehnya dan tersenyum


perlahan dia menghela nafas lalu duduk disampingku


" pesawat jam berapa? " aku mulai selonjoran merasakan kebas karena dari tadi bersimpuh. ini kebiasaan ku semenjak hamil sering bersimpuh ntah kenapa aku suka aja


" jam 5 sore " ujarnya sambil merebahkan diri dengan berbantalkan pahaku, kebiasaan barunya kalau lagi pengen dimanja suka tiduran dipahaku wajah dihadapin keperutku, katanya supaya bisa ngomong lebih dekat dengan anaknya


" hari ini dia udah komunikasi sama kamu belom? " komunikasi yang dimaksud itu nendang ya jadi jangan berfikir bayiku ngomong dari dalam perut sana


" haha... bahasanya itu udah kayak ibu aja, udah subuh tadi dia nendang. "


" anak pintar ingetin bunda buat sholat ya " ujarnya sembari mengecup perutku


" selesai sholat bang za dia nendangnya " ralatku memperbaiki maksudnya karena bayiku nendangnya emang setelah solat subuh


" oh ya? salah berarti. kalau gitu pasti dia seneng karena udah sholat subuh sama bunda ya? " tanya nya lagi kali ini diiringi sapuan lembut dari tangannya pada perutku


" ada ada aja "


aku masih mengusap rambut fahriza sambil beralih menatap ke keranjang tidur bayi yang sudah dipersiapkan fahriza beberapa minggu yang lalu, waktu belinya juga sempat debat denganku. sebenarnya dia belum ingin membeli peralatan bayi katanya nunggu dekat kelahirannya aja biar ada kerjaan.


tapi aku tetap kekeuh mau sekarang biar nanti nggak repot, secara aku juga mau ikut memilihkan peralatan untuk anakku nanti. kamar bayi juga udah dipersiapkan fahriza udah lama banget waktu kandungan ku masih berusia 5 bulan, semua dekorasinya aku yang pilih. keranjang bayi nya sengaja nggak diletakkin fahriza disana. karena permintaanku, aku tempatin dikamar supaya aku bisa liat bayiku tidur disampingku saat sudah lahir nanti


entah kenapa ketika melihat keranjang bayi itu aku kembali teringat dengan kedua pasien dokter frans yang tak terselamatkan. aku masih mengusap rambut fahriza sambil sesekali memainkan ujung rambutnya


sedangkan fahriza masih berbicara didepan perutku ntah petuah apa yang dia berikan pada anaknya aku tidak begitu memperdulikannya


" bang za " panggilku menghentikan ocehannya didepan perutku


" hem " melingkarkan tangannya dipinggangku sambil memejamkan matanya


" aku boleh minta sesuatu nggak? "


" mau oleh oleh apa? gudeg? " tebaknya menyebutkan makanan khas jogja itu padahal aku nggak ingin oleh oleh


" aku nggak mau oleh oleh " tukasku sembari mencubit lembut pipinya


" trus? "


" huuuffttt. bang za sayang nggak sama aku? " tanyaku membuatnya mengernyitkan dahi


" kamu masih meragukan saya? " bukannya jawab malah bikin opini sendiri


" apa yang perlu saya lakukan supaya kamu bisa percaya kalo saya sayang kamu " dengan nada lembut dia mendongak menatapku


" asal jangan disuruh buat candi dalam semalam aja kayak bandung bondowoso. kalo itu saya nggak mampu " sambungnya membuatku tertawa fahriza tau aja gimana ubah mode sedih jadi mode tawa


" hahaha.... berarti sayang kamu ke aku nggak pernah serius dong, nggak kayak bandung bondowoso " tukasku membuatnya juga ikut tertawa


" ya udah mau minta apa? " kali ini dia mendudukkan dirinya menghadapku


" beberapa minggu yang lalu saat aku mau kekantin rumah sakit, aku liat keluarga salah seorang pasien yang mau ngelahirin dengan jalan operasi itu khwatiiir banget. trus nggak lama aku sama dokter nayra dikantin, dokter frans datang dengan wajah kusut banget, dia bilang kalau..... kalau ibu hamil yang ditanganinya itu nggak bisa diselamatkan baik ibu maupun bayinya. karena kekurangan banyak darah...... " aku masih menjeda kalimatku dapat dilihat fahriza mendengarkanku dengan antusias seolah apa yang aku ceritakan itu adalah dongeng


" dan jika suatu saat terjadi sesuatu denganku, aku minta sama bang za tolong selamatin anak kita " fahriza mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya saling bertautan dia memperhatikanku dengan wajah bingung dengan apa maksud dari kalimat ku


" biarpun aku nggak disisi bang za lagi tapi setidaknya anak kita bersama bang za, dia bisa melihat dan mengenal ayah yang hebat ini. aku akan selalu menyayangi kalian dimanapun aku berada " ujarku sambil menangkup kedua pipinya


" kamu ngomong apa sih? kita itu hidup karena Allah meninggal juga karena panggilan dari Allah, jadi nggak ada yang tau apa yang terjadi kedepannya. yang kamu harus lakuin itu jaga kesehatan kamu dan anak kita " balasnya dengan nada tidak suka


" kapan maut kita datang juga nggak ada yang tau, jadi jika aku lahiran nanti dan hanya salah satu diantara kami yang hanya bisa diselamatkan, aku mohon bang za selamatin anak kita " bantahku karena aku tau dia sangat menginginkan anak nya ini, jadi aku nggak mau mematahkan harapannya biarlah aku mengalah selama ini dia sudah mau banyak mengalah untukku


" bang za mau kan janji sama aku? "


bukannya menjawab dia malah memelukku erat sangat erat, seakan detik itu juga aku akan pergi.


" saya tidak menyalahkan takdir, karena itu sudah ketetapan Allah. tapi yang saya mau sekarang kamu harus bisa usahain kalian selamat, kamu perempuan yang kuat dan tangguh, kamu juga ibu yang penyayang dan lembut. apapun yang terjadi berusahalah bertahan dan tunjukkan pada saya kalau kamu bisa, kamu tidak lemah " ucapnya menggetarkanku, setelah melepas pelukkannya dia menatapku lalu mendaratkan kecupan sangat lama di dahiku kehangatan mengalir dijiwaku


fahriza berjanjilah kau terus disisiku


••••••••••


" ayah mana bu? " tanya fahriza sambil mencium punggung tangan ibu yang baru saja nyampe dirumah, sebelumnya tadi mau dijemput sama fahriza tapi ibunya malah nggak mau, dia bilang nanti ngerepotin. padahal kita sebagai anak mah nggak pernah ngerasa direpotin atau dibebanin sama orang tua karena itu salah satu kewajiban kita


" ayah masih dikantor, katanya ketemu dibandara aja "


fahriza hanya ber oh ria aja denger jawaban ibu


oh iya aku juga akan mengantar fahriza sampai bandara ditemenin ibu sama ayah. sebelum menikah denganku mungkin fahriza selalu keluar kota atau bahkan keluar negeri. namun setelah menikah denganku ini pertama kalinya dia meninggalkanku sampai tiga hari apalagi dengan keadaanku seperti ini yang tengah berbadan dua. jadi aku putuskan untuk ikut mengantarnya sampai bandara


biarlah dikira berlebihan karena perhatianku itu menandakan kalau aku menyayanginya sangat


" berangkat sekarang za? " tanya ibu


" iya bu, soalnya bentar lagi mau take off "


" oke, yuk sayang " ujar ibu merangkul pundakku menuntunku untuk berjalan menuju mobil


selama diperjalanan tak sepatah katapun keluar dari mulutku hanya suara ibu dan fahriza yang sesekali menanyakan keadaan perusahaan dan kelancaran bisnis fahriza. walau umur ibu tak lagi muda namun tak mengurangi pengetahuannya tentang seluk beluk dalam dunia bisnis jadi nggak heran kalau ngomong sama ibu mau topik nya apa aja tetep nyambung


aku hanya memperhatikan setiap gedung gedung pencakar langit yang kami lewati hingga akhirnya mobil kami sampai diparkiran bandara


disana ternyata ayah juga baru datang


karena pesawatnya mau berangkat sekarang jadi fahriza langsung pamitan sama ayah dan ibu terakhir denganku. dia memegang bahuku agar posisiku lebih mendekatinya dan sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalaku " jaga diri baik baik, ikutin apa kata ibu jangan bandel " petuah pertama


" jangan malas minum susu, jangan lupa sholat " petuah kedua


aku memeluknya membenamkan wajahku dada bidangnya, aku tak memikirkan ibu sama ayah yang memperhatikan kami maupun orang orang yang berlalu lalang yang aku tau aku akan merindukannya


setelah melepas pelukkannya dia berjongkok seraya mengusap perutku,


" jangan nakal ya nak, jangan buat bunda nangis lagi, jaga bunda saat ayah nggak ada " sambil mencium perutku


" pak, udah mau take off " ujar dara yang baru saja tiba disamping kami entah dari tadi dia kemana


" saya pergi dulu, assalammualaikum " pamit fahriza


" waalaikumsalam " jawabku ayah dan ibu


" pergi dulu buk, pak " kali ini dara yang berpamitan padaku dan mertuaku yang hanya kubalas dengan anggukan


aku masih setia memperhatikan punggung fahriza hingga menghilang dari pandangan barulah aku memutar badan menuju mobil, ditemenin ibu. soalnya ayah udah duluan katanya harus balik kekantor lagi


berat rasanya berpisah denganmu, semoga kamu selalu dalam lindungan Nya