
Happy reading♡
Pagi hari di kediaman Meinhard, El sudah sibuk memilih baju yang pas untuk ke kantor. Pasalnya ini kali pertama ia mengunjungi kantor. Memang, ia sudah sering mengerjakan berkas berkas dari kantor, namun sekalipun ia tidak pernah mengunjunginya.
El memakai gaun terusan bermodel span dengan motif garis garis yang akan dipadukan dengan jas putih miliknya. Ia mengcurly rambutnya kemudian mengambil hells miliknya.
"Sayang, sarapan dulu baru berangkat" teriak Clau.
"Aku dibelakang mom" ucap El.
"Mom kira kamu masih di kamar" ucap Clau.
"Morning dad" ucap El.
"Morning dear" ucap Cliff.
"Hari ini kamu bareng sama dad ya" pinta Cliff, El menganggukan kepalanya kemudian meminum susunya.
"Emang kamu kenyang cuma makan roti doang?" Tqnya Clau.
"Kan nanti El makan lagi mom kalo lapar" ucap El.
"Iya juga" ucap Clau. Beberapa saat kemudian, sarapan pagi mereka semua selesai. El mengikuti kedua orangtuanya menuju ke pintu depan.
"Hati hati ya kalian berdua" ucap Clau. El mencium tangan Clau kemudian masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil hanya terjadi percakapan biasa saja antara anak dan seorang ayah.
Empat puluh menit berlalu, mobil yang ditumpangi Cliff dan El sampai di lobby kantor. El masuk ke dalam kantor mengikuti langkah Daddy nya. Seketika pandangan karyawan kantor tertuju padanya. El berjalan dengan biasa sebisa mungkin. Jujur saja ia ingin kembali pulang saja ke rumah, ia malu jika harus ditatap seperti itu oleh para karyawan disini.
"Hai" sapa Billie.
"Hai".
"El, satu jam lagi meeting dimulai. Kamu bisa diam di dalam ruanganku dulu" ucap Billie.
"Ide bagus, aku sudah sangat risih dengan tatapan para karyawan disini" ucap El.
"Hahaha, kenapa?" Tanya Billie yang sedang berjalan dengan El menuju ruangannya.
"Kau tahu, sejak aku keluar dari dalam mobil, pandangan semua karyawan tertuju padaku" jelas El.
"Kau cantik, pantas jika mereka melihatmu seperti itu" ucap Billie.
"Semua wanita cantik, Billie" ucap El.
"Iya, tapi kau berbeda El. Kau punya daya tarik sendiri" ucap Billie. El malas menanggapi ucapan Billie, saat sudah sampai di depan ruangan Billie, El memilih duduk sembari memainkan ponselnya. Sedangkan Billie ia fokus pada materi yang akan dibawakan di meeting nanti.
Tok...tok...tok
"Masuk" perintah Billie.
"Maaf tuan, anda dan nona Meinhard harus segera masuk ke ruang meeting. Semua orang sudah berkumpul disana" ucap Sekretaris Billie.
"Baik, terimakasih" ucap Billie kemudian sekretaris itu keluar.
"Ayo El, kita sudah ditunggu" ucap Billie, El mengangguk kemudian pergi dari ruangan Billie menuju ke ruang meeting.
Billie mengetuk pintu kemudian masuk diikuti oleh El. Seketika pandangan orang orang yang ada di ruang meeting tertuju pada mereka berdua. El memasang muka datar. Sengaja ia tidak ingin tersenyum.
Billie menarik kursi di sebelahnya untuk di duduki El. El tidak menyangka jika semua yang berkumpul di ruang meeting ini hanya pria saja. Tahu begitu El tidak akan ikut meeting.
Meeting pun dimulai. Billie mulai menjelaskan proyek nya menggunakan proyektor. El fokus pada materi yang dibawakan Billie.
Lama kelamaan, El merasa bosan. Ia menaikan pandangannya untuk melihat beberapa pria yang ada di ruang meeting. Seketika matanya membulat melihat seorang pria yang berhadapan dengannya. Pria itu tengah menatap El dengan senyum smirknya.
Dia, si pria pemaksa yang El kenal. Lagi dan lagi El harus bertemu dengannya. El memijat pelipisnya. Cobaan apalagi ini? Apa harus si tuan pemaksa itu bekerja sama dengan perusahaan Meinhard?
Tiga jam berlalu, meeting pun selesai. Beberapa orang sudah pergi keluar. Tersisa Billie, El, dan Rafael.
"Raf, kau masih disini" tanya Billie.
"Iya Bill, apa boleh aku berbicara dengan wanita di sebelah mu?" Tanya Rafael.
"El maksud mu? Silahkan saja, aku keluar duluan" ucap Billie kemudian meninggalkan mereka berdua. El mengumpat dalam hati atas perbuatan Billie. Bisa bisanya ia meninggalkan El dengan pria di depannya ini.
"Iya" jawab El.
"Jadi ini alasan kau ijin tidak masuk?" Tanya Rafael.
"Iya".
"Aku tidak menyangka kau cukup kompeten juga di bidang bisnis" ucap Rafael.
"Iya".
"Apa tidak ada lagi selain ucapan "iya" " tanya Rafael.
"Lalu aku harus menjawab apa?" Tanya El.
"Tidak ada, hanya saja aku cukup kagum" ucap Rafael.
"Tuan pemaksa, setahu ku, kau itu orang yang sangat irit berbicara. Tapi kenapa ketika bersama ku kau sangat banyak berbicara" ucap El.
"Kau tahu hal itu dari mana?" Tanya Rafael.
"Itu sudah menjadi buah bibir para suster suster di rumah sakit anda" ucap El jujur. Memang iya, setiap kali iya berjalan di lorong rumah sakit. Pasti saja topik para suster disana tentang Rafael.
"Itu hanya gosip belaka, aku tidak sedingin itu nona" ucap Rafael.
"Iya terserah. Aku ingin pergi" ucap El kemudian berdiri dari duduknya. Ia hendak melangkahkan kakinya keluar namun ditahan Rafael.
"Apa lagi?" Tanya El.
"Aku ingin mengajakmu makan siang" ucap Rafael.
"Tapi aku tidak ingin makan bersama mu" ucap El.
"Kenapa?" Tanya Rafael terkekeh.
"Aku baru mengenal mu kemarin, mana mungkin aku sudah makan bersama dengan mu" jelas El.
"Apa salahnya? Sudahlah, aku memaksa" ucap Rafael kemudian menarik tangan El. Saat melewati beberapa karyawan, mereka mulai berbisik bisik membicarakan El dan Rafael.
"Masuklah" ucap Rafael. El pun masuk. Ia sedang lapar saat ini, jadi pilihan terbaik adalah mengikuti Rafael yang akan membawanya makan. Ya, makan.
Mobil Rafael melaju meninggalkan bassement kantor. El lupa tidak menghubungi daddynya. Ia pun mengetikan pesan kemudian mengirimnya.
Tak lama, mobil Rafael berhenti di sebuah restoran ternama di kota itu. El keluar dari dalam mobil kemudian masuk beriringan bersama Rafael.
Waiter mempersilahkan Rafael dan El duduk. Kemudian memberikan buku menu.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Rafael.
"Pasta saja" ucap El. Kemudian Rafael menyebutkan pesanan mereka. Lima belas menit berlalu makanan mereka datang. El langsung melahap pasta miliknya dan tidak memperhatikan Rafael yang tengah menatapnya. Ia malah asik dengan pastanya.
Rafael tersenyum melihat El yang makan dengan lahap. Dada nya tiba tiba berdegup. Perasaan macam apa ini?
"Makanan itu tidak akan habis jika kau tidak memakannya" ucap El.
"Aku terlalu fokus pada hal lain, sehingga melupakan makanan ku" ucap Rafael.
"Cepat makan makanan mu sebelum dingin" ucap El.
"Baiklah" ucap Rafael, ia pun menyuapkan pasta ke dalam mulutnya sembari memperhatikan wajah cantik wanita di depannya. Ia akui, El sangat cantik. Itu sebabnya ketika meeting tadi, pandangan para pria disana saling curi pandang ke arah El.
...TBC...
...hai guys, ketemu di eps 9 nih. gimana part ini? semoga suka ya semuanya. makasih banget buat yg udh vote. tapi follow juga akun aku ya:)...
...YOW VOTE KOMEN LAH!!!...
...btw, kalo ada typo atau kekurangan kata maapin ya:)...
...Aycha...