L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 66 : Khawatir



Happy reading♡


Setelah selesai bekerja di rumah sakit, El bersiap pulang ke rumahnya. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam.


Tak dapat dipungkiri jika sedari tadi El cemas terhadap Rafael. Ia terus terusan dihampiri perasaan gelisah.


Sebelumnya ia mengirimkan pesan pada Rafael. Namun nomor Rafael tidak aktif. Hal itu tentu saja membuat El semakin cemas.


El memang kecewa dengan Rafael. Namun El tetap memiliki sisi pedulinya terhadap kekasihnya itu.


Ia pun meminta pada supirnya untuk mengantarkannya ke mansion Rafael. Karena ia yakin pria itu pasti berada disana.


Sesampainya El di mansion Rafael, ia pun langsung masuk ke dalamnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sebelumnya ia sudah meminta supirnya untuk pulang saja.


El berjalan menuju ke ruang kerja Rafael namun disana kosong. Akhirnya El berjalan ke arah kamar Rafael.


El mengetuknya namun tidak ada jawaban. Ia pun masuk ke dalam kamar Rafael. Gelap.


El menyisir dinding di kamar Rafael untuk menyalakan saklar lampu. Setelah menemukannya El pun menyalakannya.


Di kursi panjang, ia melihat Rafael tengah tertidur. El pun mendekat ke arahnya.


El duduk di sebelah kursi yang di pakai Rafael untuk tidur. Ia mengusap kepala Rafael. Jujur, ia juga merindukan Rafael. Namun ia harus bersikap seperti ini agar orang ketiga tidak hadir di hubungan mereka.


Mata El tertuju pada tangan kanan Rafael yang berdarah. Ia menutup mulutnya kaget.


Bisa bisanya Rafael membiarkan lukanya tidak dibersihkan. Darahnya pun sudah mengering.


El pun turun kebawah untuk mengambil air hangat dan kain lap.


Disini tidak ada maid, karena setiap malam Rafael pasti akan menyuruh mereka pulang dan akan kembali pagi mendatang.


El dengan telaten membersihkan darah kering yang ada di tangan Rafael. Setelah selesai ia mengoleskan rivanol dilanjutkan dengan obat merah.


Ia membalut tangan Rafael menggunakan kain kasa. Beruntung lukanya tidak besar, namun tetap saja itu sakit.


Setelah selesai, El hendak bangun untuk kembali ke dapur untuk menyimpan mangkok berisi air hangat tadi. Namun tiba tiba Rafael memeluknya erat.


El pun membalas pelukan itu.


Sebenarnya sejak lampu kamarnya di nyalakan, Rafael sudah bangun. Ia hanya berpura pura tidur. Ia ingin tahu apakah El masih peduli dengannya atau tidak. Ternyata iya, dia masih peduli.


"Kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya El. Ia hendak melepaskan pelukannya namun Rafael menahannya.


"Aku marah, kesal, dan benci pada diriku" ucapnya.


"Aku minta maaf sayang, aku mohon tarik kata kata mu itu. Aku tidak ingin kita break" ucap Rafael.


"Masih mau egois?" Tanya El.


"Enggak gitu" ucap Rafael merengek seperti anak kecil. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya.


El hanya mengusap usap punggung Rafael. Tapi lama lama, ia merasakan jika pundaknya basah. El pun berusahan melepaskan pelukannya. Ia melihat Rafael yang tengah menangis?


"Apa laki laki seperti mu bisa juga menangis?" Tanya El.


"Jangan kayak gitu" ucap Rafael. El hanya tertawa. Ternyata pacarnya ini bisa selucu ini juga.


"Kita udahan aja ya" ucap El. Rafael langsung melihat ke arahnya.


"GAK, KENAPA UDAHAN? GAK MAU" ucap Rafael teriak.


"Aku maunya udahan" ucap El.


Tiba tiba Rafael menangis kencang, ia langsung memeluk kaki El. Ia juga terus terusan berucap maaf.


"Astaga, maksud aku itu udahan breaknya" ucap El.


"Emang kamu pikir udahan apa?" Tanya El.


"Aku kira kamu ngajak kita putus" ucap Rafael. Ia menyeka air matanya.


El nampak berfikir, "ide bagus juga" ucapnya.


"Sayang" rengek Rafael. El pun kembali tertawa. Menyenangkan juga menggoda Rafael seperti ini.


"Aku minta maaf, aku berjanji tidak akan berdekatan lagi dengan Anita" ucapnya berjanji.


"Berhenti meminta maaf. Aku sudah bosan mendengarnya. Untuk urusan kedekatan mu dengan Anita, aku tidak ingin ikut campur. Itu terserah pada mu saja. Opsi ku tetap sama" ucap El.


"Jika kamu ingin bersama Anita, maka kita selesai hari ini juga" ucap El.


"Ih enggak mau ya. Awas aja" ucap Rafael.


Ia pun kembali memeluk El. Sungguh ia sangat beruntung mendapatkan gadis sebaik El.


Sebenarnya El masih ingin mendiami Rafael, namun jika ia lanjutkan, mungkin Rafael akan kehilangan nyawanya. Baru diajak break saja tangannya sudah terluka parah seperti ini. Bagaimana jika El mengakhiri hubungan mereka?


"Aku pulang dulu, ini sudah malam" ucap El.


"Gak mau nginep aja? Aku masih kangen" ucap Rafael.


"Gak, kita bukan suami istri. Masa kita udah serumah aja" ucap El.


"Ya sudah, ayok kita menikah" ajak Rafael.


"Gilanya kumat lagi" ucap El.


"Aku gak gila sayang, aku serius" ucapnya.


"Terserah apapun itu. Aku harus pulang sekarang" ucap El.


Saat Rafael akan berbicara lagi pada El, tiba tiba pintu kamar mereka terbuka. Nampaklah sosok Anita erdiri di ambang pintu.


"Cewek kamu tuh" ucap El, ia pun menggeser duduknya namun Rafael kembali menariknya agak duduk di sebelahnya.


"Kata tante Aura, tangan kamu berdarah. Jadi aku kesini" ucap Anita. Kini ia sudah berdiri di depan El dan Rafael.


Rafael hanya menganggukan kepalanya sebagai jawabannya.


"Oh, ada dokter El ternyata. Apa yang membawa mu kesini?" Tanya Anita.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu" ucap El.


"Aku kesini karena khawatir pada Rafael" ucap Anita.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan pacar ku. Tapi lain kali lebih baik tidak usah, karena asih ada aku, pacarnya" ucap El.


"Sombong sekali. Kalian masih berpacaran bukan menikah. Bisa saja kan kalian putus" ucap Anita.


"Itu tidak mungkin. Aku tidak akan pernah meninggalkan wanitaku" ucap Rafael.


"Berhenti mempedulikan ku Anita dan aku mohon jangan terus terusan mendekatiku. Aku sama sekali tidak tertarik padamu. Aku sudah mempunyai calon istri, jangan sampai kau terus membuatnya cemburu" ucap Rafael.


"Aku seperti ini karena aku peduli pada mu Raf, apa kau tidak bisa melihatnya?" Tanya Anita.


"Mata ku sudah tertutup untuk hal itu. Karena aku tidak mau membuat calon istriku terluka" ucap Rafael menohok.


Anita pun langsung pergi dari sana.


"Kau jahat sekali membuatnya sampai menangis seperti itu" ucap El.


"Aku tidak peduli" ucap Rafael.


"Oh iya Raf, aku ingin bertanya satu hal pada mu" ucap El.


"Apa?" Tanya Rafael.


"Tapi kau harus menjawabnya dengan jujur" ucap El.


"Iya. Apa yang ingin kau tanyakan?".


"Foto anak kecil berambut coklat yang ada di apartement mu itu, apa kau mengenalnya?" Tanya El tiba tiba.


"Memangnya kenapa?" Tanya Rafael.


"Aku hanya ingin tahu saja. Cepat jawab jujur" ucap El.


"Dia teman masa kecilku" ucap Rafael.


"Dia Anita?" Tanya El.


tbc.


cinta itu buta dan tuli awkwkwkw