
Happy reading♡
Sejak tadi, El memilih diam sembari memperhatikan jalanan. Entahlah, ia tidak tahu akan dibawa kemana lagi oleh Rafael. Yang jelas ia masih sangat kesal padanya. Bisa bisanya dia mencium El di depan umum seperti tadi.
"Sudahlah, aku sudah minta maaf bukan?" Tanya Rafael.
"Aku tahu aku salah karena tiba tiba mencium kening mu" ucap Rafael.
"Hm" jawab El. Rafael sendiri merasa geram. Ia sudah meminta maaf berkali kali namun jawaban El sama.
Akhirnya Rafael pun diam. Ia pun hanya fokus ke jalanan. Ia tidak ingin membuat mood El menjadi lebih berantakan. Ia masih bingung, kenapa mood wanita sangat susah ditebak.
"Kita akan kemana?" Tanya El.
"Kau akan tahu nanti" jawab Rafael. Namun ini bukan jawaban yang diinginkan El. Ia lagi dan lagi kesal. Kenapa sih Rafael selalu saja membuatnya kesal?
Mobil terus berjalan membelah jalanan malam. Beruntung gerimis sudah berhenti sejak satu jam yang lalu. Rafael berharap, rencananya bisa berhasil, agar mood El kembali lagi seperti semula.
"Ayo keluar" ajak Rafael saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah dermaga. El pun menurut dan turun dari dalam mobil dengan kesusahan. Tiba tiba, sebuah tangan menutup matanya. Refleks ia pun memegang tangan itu.
"Kau ini apa apaan? Aku bisa terjatuh jika kau menutup mataku" ucap El.
"Tenanglah, aku tidak mungkin membuat mu terjatuh" ucap Rafael.
"Berjanjilah kau tidak akan membuka matamu sebelum aku memintanya" ucap Rafael.
"Iya" ucap El. Kemudian Rafael menurunkan tangannya yang beralih memegang satu tangan El untuk menuntuknya ke tempat tujuannya.
"Raf aku takut jatuh" ucap El.
"Ada aku, tenanglah. Sebentar lagi kita akan sampai" ucap Rafael. El pun mengangguk dengan mata masih terpejam. Tangannya dengan kuat memegang tangan Rafael.
"Duduk dulu dan jangan membuka mata mu" titah Rafael. El pun duduk. Ia merasa udara di sekitarnya menjadi sangat dingin.
Tiba tiba ia merasakan sesuatu yang dingin melingkar di lehernya. Dengan cepat ia membuka matanya dan memegang lehernya. Ia terpaku saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan Rafael di sebelahnya. Jarak keduanya sangat dekat. Sampai sampai El dapat merasakan deru nafas Rafael.
"Aku tahu, aku sudah membuat mu kesal tadi. Jadi aku harap kau mau menerima hadiah kecil ini dariku" ucap Rafael menunjuk kalung berlian yang sudah mengalung di leher El.
"Ini berlebihan Rafael, aku tidak bisa menerimanya" ucap El hendak melepaskan kalung itu namun ditahan Rafael.
"Kalau kau melepaskannya, jangan harap aku akan membawa mu pulang" ancam Rafael.
"Maksud mu?" Tanya El.
"Aku memaksa, jadi terima kalung itu" ucap Rafael.
"Tapi-"
"Sudah, lebih baik kita makan saja. Bukannya kau belum makan lagi?" Tanya Rafael.
"Baiklah" ucap El. Mereka berdua pun mulai menikmati hidangan yang sudah tersedia didepan meja.
"Sebentar" ucap El. Kemudian Rafael menghentikan aktifitasnya memotong steak.
"Kenapa?" Tanya Rafael.
"Ini di atas laut?" Tanya El.
"Iya, memangnya dimana lagi" ucap Rafael.
"Iya begitulah, aku tidak tahu selera mu seperti apa. Jadi aku pikir dengan dinner diatas yacht bisa membuat mood mu lebih baik lagi" jelas Rafael.
"Seharusnya tidak perlu seperti ini Raf, aku memang kesal tapi tidak perlu kau ajak makan diatas yacht seperti ini" ucap El.
"Sudahlah, aku hanya ingin membuat mood mu kembali. Sekarang makan ya" pinta Rafael, El pun mengangguk. Ia mulai memotong steak di depannya dan mulai memakannya. Ini di luar ekspektasinya. Benar. Ia memang pernah melihat drama romantis di sebuah film yang sama adegannya dengan yang dilakukan Rafael saat ini. Dinner diatas kapal yacht dimalam hari.
"Kau bisa makan dengan benar bukan?" Tanya Rafael.
"Tentu saja. Memangnya kenapa?" Tanya El.
"Kau lihat ini" ucap Rafael mengusap ujung bibir El yang terkena noda steak.
"Seperti anak kecil saja" ucap Rafael. Sedangkan El masih terkejut atas tindakan Rafael. Ia masih diam menatap ke arah Rafael. Rafael sendiri hanya terkekeh melihat El yang tiba tiba kaku.
"Makanlah kembali, steak itu tidak akan habis jika kau tidak memakannya" ucap Rafael. El menunduk dan kembali menikmati steak miliknya. Ia pun merasa aneh dengan dirinya. Ia sebelumnya tidak pernah sedekat ini dengan pria lain. Tapi sekarang, ia bahkan ikut ke luar negeri dengan seorang pria yang bisa dibilang masih baru di hidupnya. Namun beruntunglah El, ia bisa berteman dengan Rafael yang sangat menghormati perempuan.
"Apa kau masih lapar?" Tanya Rafael saat melihat steak milik El sudah habis.
"Tidak, aku sudah kenyang" ucap El. Rafael hanya mengangguk kemudian memanggil pelayan untuk membereskan meja bekas mereka makan.
"Tuan, maaf" ucap Griss mengkode pada Rafael untuk masuk ke dalam.
"Sebentar ya El" ucap Rafael. El pun mengangguk. Sepeninggal Rafael, El menelusuri yacht. Ia terus berjalan sampai berada di bagian atas yacht. Ia tidak tahu sekarang jam berapa. Yang jelas udara nya semakin dingin menusuk kedalam kulitnya.
El memperhatikan ke arah depan. Disana banyak sekali kerlap kerlip lampu dari kota. Mungkin Rafael sengaja tidak mengajaknya ke tengah laut. El sangat takut membayangkannya saja.
"Kenapa disini? Udara semakin dingin" ucap Rafael dibelakang El. Ia melepas jasnya dan memakaikannya pada El.
"Aku hanya sedang menikmatinya Raf. Aku merasa pernah merasakan hal yang sama tapi itu entah kapan" ucap El. Rafael tersenyum penuh arti. Ia pun melingkarkan tangannya di perut El. Refleks, El pun menyandarkan kepalanya di dada Rafael.
"Kau senang?" Tanya Rafael
"Sangat. Terimakasih" ucap El.
"Tidak perlu berterima kasih. Justru harusnya aku yang berterima kasih, aku sudah membawa mu kesini tanpa sepengetahuan mu" ucap Rafael.
"Tidak apa. Aku pun sebenarnya butuh refreshing. Sudah lama aku tidak menikmati hidupku" ucap El.
"Maksud mu?" Tanya Rafael meminta penjelasan.
"Sebagian waktu di hidupku, aku dedikasikan untuk belajar, belajar, dan belajar. Ya walaupun sesekali aku membantu kakek di perusahaan" ucap El.
"Kenapa kau tidak hidup bebas seperti orang lain?" Tanya Rafael.
"Aku ingin Raf, tapi aku berfikir lagi. Orang tua ku sudah membiayai sekolah ku dengan uang yang sangat banyak. Jadi untuk membalas budi, aku selalu menuruti keinginan mereka dengan pencapaianku sekarang. Ya walaupun aku tahu, mereka tidak pernah mengaharapkan balasan apapun. Tapi aku cukup tahu diri" ucap Eln
"Aku bangga padamu El" ucap Rafael. El hanya tersenyum. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing masing. Entah apa yang ada di pikiran mereka sekarang. Yang jelas, mereka merasa nyaman. Ya nyaman. Baik Rafael ataupun El, mereka merasa memiliki sesuatu yang membuat mereka nyaman untuk terus bersama.
...TBC...
...hai makasih yg udh vote komen. yg belum komen, kemane aje? aku nanya loh di part sebelumnya. tapi diabaikan begitu saja) gpp ko:)...
...VOTE KOMEN YG BANYAK GK MAU TAU MAKSA!...
...Aycha...