L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 11 : Si Tuan Pemaksa



Happy reading♡


Rafael berjalan keluar dari dalam kantornya. Usahanya tidak sia sia. Ia berhasil membongkar kebusukan Brian dan menjebloskannya ke penjara. Brian adalah orang yang sudah menggelapkan dana pembangunan resort.


"Raf" panggil Billie. Rafael menghentikan langkahnya kemudian membalikan badannya.


"Ada apa?" Tanya Rafael.


"Tidak ada, aku hanya ingin bertanya apa kau akan hadir ke peresmian resort nanti malam?" Tanya Billie.


"Entahlah Bill, aku tidak tahu" ucap Rafael.


"Aku masih tidak menyangka jika Brian orangnya" ucap Billie.


"Ya mau bagaimana lagi, aku harus membongkar semuanya bukan" ucap Rafael.


"Iya. Tindakan mu tidak salah Raf" ucap Billie.


"Kalo begitu, aku pamit duluan Bill" ucap Rafael.


"Iya" ucap Billie.


Rafael berjalan menuju ke bassement kantor. Saat ini, otaknya sedang bekerja memikirkan sesuatu. Tiba tiba muncul sebuah ide gila di otaknya. Saat sudah berada di bassement, Rafael langsung masuk ke dalam mobil.


Ia mengambil ponsel nya dan mengetikan sesuatu kemudian mengirimnya pada orang tujuannya. Setelahnya ia pun melajukan mobilnya menuju ke apartement nya.


Satu jam berlalu, orang yang Rafael harapkan tidak kunjung datang. Saat ini ia sudah berada di apartementnya sejak setengah jam yang lalu. Tiba tiba terdengar bunyi bel apartement nya. Rafael tidak membuka pintu melainkan meraih ponsel nya kemudian mengetikan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya El to the point saat ia sudah masuk ke dalam apartement Rafael. Ya, orang yang dihubungi Rafael adalah El.


"Sudah aku katakan bukan" ucap Rafael.


"Tapi aku bukan dokter pribadi mu" ucap El.


"Saat ini aku tidak ingin berdebat El, kau lakukan saja tugas mu" ucap Rafael. El mendengus kesal. Tapi ia tetap melakukan apa yang diperintahkan Rafael.


El mulai memeriksa Rafael. Mulai dari detak jantung, tensi, dan yang lainnya.


"Tidak ada gejala serius. Kau hanya perlu istirahat untuk memulihkan kesehatan mu" ucap El.


"Baiklah" ucap Rafael.


"Aku sudah selesai memeriksa mu, aku akan pergi lagi ke rumah sakit" ucap El.


"Tidak bisa, kau harus berada di sini" ucap Rafael.


"Hei tuan pemaksa! Sudah aku bilang aku bukan dokter pribadi mu. Dan di rumah sakit pun aku masih memiliki pasien" ucap El.


"Aku tidak peduli, di rumah sakit masih banyak dokter lain. Aku sudah menyuruh kak Liza untuk menghandle semuanya" ucap Rafael.


"Tapi kakak mu itu punya tugas lain" ucap El, sedetik kemudian ia baru tersadar.


"Tunggu, kak Liza? Maksud mu dokter Eliza?" Tanya El.


"Iya, siapa lagi" ucap Rafael.


"Jadi dia kakak mu?" Tanya El.


"Iya nona Meinhard" ucap Rafael.


"Oh, aku baru mengetahuinya. Pantas saja kalian terlihat akrab" ucap El. Rafael tidak menyahuti ucapan El. Ia memilih tidur karena kepalanya terasa pusing. Sedangkan El hanya diam sembari memandangi wajah Rafael yang terlelap.


"Aku tahu aku tampan, tidak perlu seperti itu menatap ku El" ucap Rafael membuka matanya.


"Bukannya kau tidur?" Tanya El.


"Iya tadi. Sekarang aku lapar, bisakah kau membuatkan aku makanan?" Tanyq Rafael.


"Aku bukan pembantu mu" ucap El.


"Aku meminta tolong El" ucap Rafael.


"Baiklah" ucap El kemudian ia beranjak dari duduknya menuju ke dapur.


"Kebanyakan isi kulkas makanan junk food semua. Benar benar" ucap El lagi. Ia pun mencuci beras kemudian memasaknya. Dua puluh menit berlalu, beras pun matang. El memotong beberapa sayuran kemudian mengambil telur. Yang ada di pikirannya adalah nasi goreng. Simpel dan tidak ribet.


Saat sedang memasak, tiba tiba ada tangan yang melingkar di perutnya. Tubuh El tiba tiba menegang saat merasakan deru nafas di lehernya.


"Apa kau tidak pernah dipeluk pria sebelumnya? Kenapa kau setegang ini?" Tanya Rafael.


"Lepas" ucap El.


"Sepertinya iya, apa kau tidak pernah memiliki kekasih?" Tanya Rafael.


"Lepas atau aku akan melayangkan wajan berisi nasi panas ini" ancam El.


"Baiklah" ucap Rafael kemudian ia duduk di meja makan sembari memperhatikan El yang sedang memasak.


Sungguh El ingin sekali memukuli kepala Rafael dengan spatula yang sedang ia pegang. Bisa bisa nya laki laki itu memeluknya tanpa permisi. Sangat kesal, sungguh kesal.


El meredakan kekesalan nya. Kemudian membawa nasi goreng buatannya ke hadapan Rafael. Rafael tersenyum ke arah El. Seketika El jadi salah tingkah.


"Terimakasih" ucap Rafael, El hanya mengangguk kemudian hendak pergi namun ditahan Rafael.


"Apa lagi?" Tanya El.


"Kau tidak makan?" Tanya Rafael.


"Aku belum lapar" jawab El.


"Ya sudah, temani aku makan disini" ucap Rafael kemudian menarik El untuk duduk di hadapannya. Perpaduan yang pas bukan? Nasi goreng yang lezat dan menyantapnya sembari melihat bidadari?


Beberapa kali, El merutuki Rafael di dalam hatinya. Sungguh saat ini ia ingin sekali menenggelamkan Rafael. Bagaimana ia tidak kesal, sejak ia selesai makan siang, Rafael memaksanya untuk merawatnya di apartement.


Dan sekarang setelah menunggu dia tertidur El harus membuatkannya makanan. Sudah seperti asistennya saja.


"Apa kau memiliki kekasih?" Tanya Rafael.


"Tidak" ucap El.


"Kenapa?".


"Apa harus aku memiliki seorang kekasih?".


"Tidak".


"Ini sudah sore dan hampir malam, aku ingin pulang" ucap El.


"Kau tidak boleh pulang" ucap Rafael.


"Kau siapa melarang ku pulang" ucap El kesal.


"Aku atasan mu kalau kau lupa".


"Tapi itu di rumah sakit. Ini bukan rumah sakit Raf" ucap El.


"Sekali tidak tetap tidak" ucap Rafael.


"Terserah aku akan tetap pulang" ucap El kemudian beranjak dari sana. Namun bukan Rafael jika ia tidak menghalal kan segala cara.


Lampu apartement tiba tiba mati. Ternyata di luar juga hujan. Baik El atau pun Rafael tidak menyadarinya. El mencoba untuk tenang. Walau sebenarnya ia sangat takut saat ini. Namun siapa sangka, petir tiba tiba menggelegar. El menjerit ketakutan. Ia berjongkok sembari menutupi telinganya. Isakan kecil mulai terdengar.


Rafael yang memang sejak tadi berada di belakang El menurunkan tubuhnya. Ia memegang bahu El yang bergetar. Gerakan refleks, El berbalik dan memeluk Rafael, sangat erat. Lagi suara petir menggelegar. El menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rafael.


"Tenanglah" ucap Rafael.


"Aku takut" ucap El. Rafael pun menggendong El kemudian mendudukannya di kursi depan tv. Sampai saat ini, El masih setia memeluk Rafael. Lama kelamaan, rasa kantuk menghampirinya. El pun memejamkan matanya kemudian terlelap. Rafael menyadari hal itu kemudian mencari ponsel El. Ia mengirimkan pesan pada orang tua El. Setelah selesai ia pun menyimpannya lagi.


"Tidur nyenyak dear" ucap Rafael kemudian mencium kening El. Sungguh, kebahagiaan Rafael menjadi berlipat lipat setelah ia bertemu dengan El. Ia yakin jika ia bukan hanya sekedar kagum pada El, namun mungkin sudah menyukainya.


...TBC...


...alhamdulilah nyampe di eps 11. aku harap kalian gak bosen ya sama ceritanya. kalo ada typo maapin:)...


...Aycha...