L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 23 : House



Happy reading♡


Galaksi memilih kursi yang ada di bagian outdoor. Ia duduk bertiga bersama dengan El dan Rafael. Rafael memanggil seorang pelayan kemudian mereka menyebutkan menu makanan mereka masing masing.


Sembari menunggu makanan mereka datang. Galaksi terus berbicara pada El. Sepertinya, kehadiran Rafael disini hanya menjadi patung saja. Ia tidak dianggap sama sekali oleh dua orang yang berada satu meja dengannya.


"Iya loh kakak cantik, Galak kesel banget sama tuh cewek. Bisa bisanya dia bilang kalo Galak itu jelek, gak ganteng katanya" jelas Galaksi menceritakan pengalamannya tadi ketika di sekolah.


"Ya udah, kamu jangan lawan dia ya. Biarin aja dia bilang kamu jelek. Kamu gak ngerasa juga kan?" Tanya El.


"Enggaklah. Aku kan ganteng mirip papa" ucap Galaksi.


"Oh ya, papa kamu kemana? Kakak gak pernah liat" ucap El.


"Papa ada kakak cantik, kemarin waktu kakak cantik pergi sama om Rafael papa jemput Galak sama bunda buat pulang ke rumah" ucap Galaksi.


"Oh ya, papa Galaksi emang kerjanya jauh ya" tanya El.


"Kadang, papa sama kayak om Rafael kerjanya. Cuma beda tempat aja" ucap Galaksi.


"Iya, papanya Galaksi punya kantor sendiri. Kemarin Galaksi sama kak Eliza nginep di rumah mama papa" jelas Rafael, El hanya mengangguk saja. Bersamaan dengan itu, pesanan mereka datang. El tertawa melihat Galaksi yang tidak sabaran.


"Makanlah, setelah mengantar Galaksi aku ingin mengajak mu pergi" bisik Rafael.


"Kemana?".


"Kau akan tahu nanti" ucap Rafael.


"Kebiasaan" ucap El. Kemudian ia memakan makanan yang ada di depannya. Beberapa menit kemudian, makanan Galaksi sudah habis. Padahal makanan milik Rafael dan El masih banyak.


"Kamu laper banget ya?" Tanya El.


"Iya kakak cantik, Galak laper banget makanya pesen banyak" ucap Galaksi. El meringis saat melihat porsi makan Galaksi yang begitu banyak.


"Dia sangat hiperaktif El, jadi jangan heran. Justru aku bersyukur, dia sangat jarang makan. Tapi sekalinya makan sebanyak ini" jelas Rafael.


"Kenapa Galak jarang makan?" Tanya El disela sela makannya.


"Gak berselera kakak cantik" ucap Galaksi. Ia sudah menghabiskan satu piring pasta dan satu mangkuk zupa sup. Saat ini ia sedang memakan es krim.


"Apa itu gak buat dia sakit Raf?" Tanya El saat makanannya dan Rafael sudah habis.


"Sebenarnya dia pernah sakit El bahkan sampai dibawa ke rumah sakit. Waktu itu dia gak makan nasi ataupun roti. Dia cuma makan snack sama minuman kotak. Jarang banget juga minum air putih" jelas Rafael.


"Astaga" ucap El.


"Ya, dan dari hasil pemeriksaan, Galaksi terkena gangguan pencernaan dan dehidrasi karena jarang sekali minum air putih" ucap Rafael.


"Galaksi, gak boleh gitu lagi ya" peringat El.


"Iya kakak cantik" ucap Galaksi yang kembali sibuk dengan es krimnya. Sedangkan Rafael dan El sibuk dengan obrolan mereka.


Tiba tiba, ada seorang yang memanggil nama Rafael. Ia seorang wanita.


"Hai Raf" sapanya. Namun Rafael diam dan tidak menoleh.


"Rafael, aku manggil kamu" ucapnya lagi.


"Lo siapa?" Tanyanya pada El.


"Heh tante merah, yang sopan sama kakak cantik" ucap Galaksi.


"Nama aku Diana, Galaksi sayang" ucapnya.


"Heh, jangan panggil Galak sayang. Galak gak suka" ucap Galaksi agak marah.


"Loh, emangnya kenapa? Kan aku calon tante kamu loh" ucapnya.


"Mimpi" semprot Galaksi.


"Raf, kamu udah lama gak main sama aku" ucapnya.


"El, Galaksi ayo kita pulang" ucap Rafael. El dan Galaksi pun berdiri dan mengambil tas mereka. Kemudian beranjak dari sana. Namun wanita bernama Diana itu terus mengikuti mereka sampai di parkiran. Rafael membukakan pintu untuk Galaksi. Jaga jaga siapa tahu dia akan berbicara yang kurang pas di dengar anak kecil. Tangannya sendiri memegang tangan El. Menuntunnya untuk masuk ke mobil.


"Raf, harusnya aku yang masuk mobil kamu bukan wanita ini" ucap Diana.


"Gak nanya" ketus Rafael.


"Raf, aku calon istri kamu" ucap Diana.


"Gak usah halu" ucap Rafael.


"Itu kenyataan bukan halu" ucap Diana.


"Wanita ini adalah calon istri gue dan lo cuma wanita yang gak pernah masuk ke kriteria gue. Gue gak suka lo jadi stop ganggu gue" ucap Rafael kemudian membuka pintu untuk El. Ia pun berjalan ke arah kemudi mobil kemudian masuk. Ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan Diana.


"Kau tunggu saja Rafael, kau hany miliku" ucap Diana.


***


"Gak mau masuk dulu?" Tanya Eliza saat mereka bertiga sudah berada di depan rumah milik Eliza.


"Gak kak, makasih, aku masih ada urusan" ucap Rafael.


"Yang kakak ajak itu dokter El, bukan kamu" ucap Eliza. Rafael hanya mendelik kesal.


"Tidak dokter, terimakasih sebelumnya. Lain kali saja" ucap El.


"Ya sudah kak, aku mau pergi dulu" pamit Rafael.


"Saya juga dok. Galaksi, kakak pamit dulu ya" ucap El.


"Iya. Hati hati ya kalian" ucap Eliza.


"Hati hati ya kakak cantik, om Rafael ganas" ucap Galaksi kemudian lari masuk ke dalam rumah. Takut takut Rafael akan memarahinya. Sedangkan Eliza dan El hanya tertawa.


Rafael dan El kembali melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuan mereka. Saat ini sudah sore. Mungkin sebentar lagi malam.


"Apa tempatnya jauh?" Tanya El.


"Tidak terlalu, sebentar lagi kita sampai" ucap Rafael.


Benar saja, lima belas kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi. El tidak tahu ada apa dibalik gerbang ini.


"Kau mau membawaku ke mana?" Tanya El.


"Sebentar lagi kau akan tahu" ucap Rafael. Rafael membunyikan klakson mobil seketika gerbang pun terbuka. Mata El menyipit untuk memperjelas sesuatu yang ada di depannya.


Mobil berhenti di depan sebuah pintu. Rafael keluar dari dalam mobil kemudian membuka pintu mobil dan El pun keluar.


"Ini rumah siapa?" Tanya El namun Rafael tidak menjawabnya. Ia pun menggandeng tangan El untuk masuk ke dalamnya.


Beberapa bodyguard membuka pintu utama yang ada di depan Rafael dan El. Setelah pintu terbuka, mereka berdua masuk.


El terperangah dengan furniture yang ada di dalam rumah ini. Banyak sekali benda benda mahal.


"Kita berkeliling dulu" ajak Rafael. El mengikuti langkah Rafael untuk mengelilingi rumah ini. Tidak, ini lebih pantas disebut mansion. Karena sangat luas sekali.


"Menurut mu bagaimana?" Tanya Rafael.


"Bagaimana apanya?" Tanya El.


"Mansion ini" ucap Rafael.


"Bagus dan sangat luas Raf dan juga sangat nyaman. Apalagi bagian taman yang berada di belakang tadi" jelas El. Rafael tersenyum penuh arti. Ia pun maju mendekat ke arah El kemudian memeluknya dengan sayang. Pilihannya tidak sia sia.


...TBC....


...Akhirnya aku bisa up. maaf ya tbtb ilang kayak dia. maaf banget. in syaa allah kedepannya selalu up seperti biasa kok. okayyy. mksh udh ttp stay nungguin updtn cerita aku. aku masih banyak kekurangan. maapin yaw....


...Aycha...