L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 36 : Berubah



Happy reading♡


Sudah satu minggu berlalu, Rafael masih diam di mansion milik papanya. Ia tidak pergi ke kantor ataupun ke rumah sakit. Kesehariannya hanya ia isi dengan berdiam di kamar, namun tetap mengerjakaan pekerjaan miliknya.


Pola makannya tidak lagi teratur. Rafael sudah kembali menjadi Rafael yang dulu. Dingin dan tidak tersentuh.


"Raf, kamu mau ke kantor?" Tanya Aura. Rafael hanya menganggukan kepalanya. Senyum di bibir Aura surur begitu saja kala melihat putra satu satunya kembali seperti ini.


"Mama siapkan baju ya?" Tanya Aura lagi, namun lagi lagi Rafael hanya menggeleng sebagai jawabannya.


Aura menghela nafasnya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan supaya Rafael kembali menjadi Rafael yang sebelumnya. Tidak bersikap seperti ini.


Aura turun ke lantai bawah. Disana sudah ada suaminya yang tengah duduk di ruang tengah.


"Bagaimana?" Tanya Michelle.


Aura menggelengkan kepalanya. Terdengar helaan nafas dari Michelle.


"Pah, bagaimana ini? Dia kembali menjadi seperti dulu, bahkan ini lebih parah" ucap Aura.


"Papa pun tidak mengerti ma, apa sebenarnya yang terjadi pada Rafael" ucap Michelle.


"Apa dia cerita pada mama?" Tanya Michelle.


"Sewaktu dia menangis di bahu mama, dia hanya bergumam pah. Mama tidak tahu pasti tapi gumaman dia terdengar seperti 'jangan pergi' , suaranya sangatlah kecil pah" jelas Aura.


Tanpa mereka sadari, Rafael sudah menuruni tangga. Buru buru mereka berdua memasang ekspresi biasa saja.


"Aku berangkat" ucap Rafael meniciumi tangan kedua orang tuanya. Baik Michelle ataupun Aura, keduanya tidak lagi bertanya pada Rafael.


Rafael berjalan tegap menuju ke pintu depan. Ia boleh bersedih namun tidak boleh mengabaikan pekerjaannya.


Di depan sudah ada Griss. Ia membukakan pintu mobil untuk Rafael baru ia masuk. Griss langsung melajukan mobil menuju ke kantor milik Rafael.


Empat puluh menit berlalu, mobil yang ditumpangi Rafael sampai di lobby kantor miliknya. Ia memakai kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang agak menghitam karena kurang tidur.


Para bodyguard yang berjaga di depan membungkuk kala Rafael melewati mereka. Para karyawan di dalam kantor pun menyapanya namun ia hanya acuh.


Griss yang berjalan di belakang tuannya ini merasa aneh dengan perubahan sikap yang tiba tiba. Ia menekan tombol di lift kemudian mereka masuk.


Saat pintu lift terbuka, Rafael langsung keluar. Sebelum memasuki ruangannya, ia meminta sekretarisnya untuk masuk.


Rafael duduk di kursi kerjanya. Tak ada lagi senyuman hangat seperti sebelumnya. Yang ada hanya wajah datar seorang Rafael.


"Apa jadwal ku?" Tanya Rafael.


"Jadwal anda hari ini, pertama anda harus mengecek beberapa berkas yang sudah ada di meja anda, kedua anda ada meeting dengan client dari Jepang dan ketiga anda mendapatkan undangan dari Meinhard Company" ucap Alena, sekretaris Rafael di kantor.


Rafael mengangguk kemudian memerintahkan Alena dan Griss keluar dari ruangannya. Ia membuka kaca mata hitam miliknya dan mulai mengambil berkas yang sudah menumpuk. Ia mulai mengerjakannya satu persatu.


Semua laporannya sudah ia periksa dan sudah ia tanda tangani. Rafael menekan tombol di telepon untuk menghubungi sekretarisnya.


"Ke ruangan ku sekarang" ucap Rafael.


Sembari menunggu kedatangan Alena, Rafael memeriksa materi meeting yang akan ia laksanakan dengan clientnya. Ia membolak balik kertas putih di tangannya. Sampai ketukan di pintunya membuatnya menghentikan kegiatannya.


"Ada apa pak?" Tany Alena.


"Ambil itu" ucap Rafael menunjuk setumpuk map yang sudah ia kerjakan. Alena mengangguk dan mengambilnya.


Ia mengambil ponselnya dan mengetikan pesan kepada Griss. Waktu sudah menujukan pukul dua siang namun Rafael masih enggan untuk makan siang.


Tok...tok...tok


"Masuk" ucap Rafael.


"Ada apa tuan?" Tanya Griss.


"Bagaimana kabar gadis itu?" Tanya Rafael.


"Nona bekerja seperti biasa di rumah sakit. Namun, ia mengambil sistem jam kerja tuan. Jadi nona hanya akan berkunjung tiga kali ke rumah sakit dalam satu minggu" jelas Griss.


"Alasannya?" Tanya Rafael.


"Nona sepertinya mulai fokus di perusahaan milik kakeknya" ucap Griss.


"Baiklah. Siapkan mobil, kita akan bertemu client di luar" ucap Rafael. Griss mengangguk kemudian pamit dari ruangan Rafael.


Sebagaimana pun Rafael, ia akan tetap memperhatikan El. Sudah satu minggu berlalu ia tidak bertemu dengan gadis itu. Jika kalian bertanya, mengapa Rafael melakukan hal ini, itu karena ia tahu jika El sudah membencinya. Cara satu satunya adalah menjauh sementara dari gadis itu.


Sebenarnya, Rafael tidak ingin melakukan hal ini. Namun mau bagaimana lagi, ia tidak ingin membuat gadis itu semakin membencinya.


Rafael menyadari kesalahannya, dan dengan menjauh mungkin bisa menebus beberapa kesalahannya.


Tak mau berlarut dalam memikirkan gadis itu. Rafael kerja siang malam. Ya, dia menjadi worcaholic seperti dulu. Dalam sehari, dia mungkin hanya bisa tertidur lima sampai enam jam saja. Terkadang ia memilih untuk tidak tidur. Karena bayangan gadis itu selalu muncul di mimpinya.


Rafael bangun dari duduknya. Ia merapihkan jasnya kemudian keluar dari ruangannya. Ia meminta Alena untuk ikut dalam meeting kali ini. Alena pun mengangguk dan mengikuti Rafael dari belakang.


Di lobby, sudah ada dua mobil yang menunggu. Mobil pertama adalah mobil milik Rafael, Griss membuka pintu mobil saat Rafael akan masuk. Sedangkan di mobil kedua, ada Alena sendirian.


Rafael sengaja tidak ingin ada orang lain di dalam mobilnya. Ia butuh ketenangan saat ini dan seterusnya.


"Tuan, sebentar lagi kita akan sampai" ucap Griss saat ia melihat Rafael yang tengah melamun. Rafael hanya mengangguk untuk menanggapinya.


Tak lama setelah Griss berbicara, mobil pun berhenti di sebuah restoran mewah yang ada disana.


Sebenarnya, bukan pihak Rafael yang mereservasi tempat ini. Melainkan oleh client mereka dari Jepang.


Rafael menyambut jabatan tangan dari clientnya. Setelah dipersilahkan duduk, ia pun duduk dan meeting pun dimulai.


Rafael nampak serius mendengarkan clientnya yang sedang menerangkan. Meeting kali ini diadakan karena untuk kerja sama perusahaan. Rafael memang memiliki kantor di Jepang.


Dua jam berlalu, akhirnya kesepakatan di dapat. Rafael setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan itu. Tentu saja sudah dengan pemikiran yang matang.


Setelah selesai, para client dari Jepang pun pamit. Namun Rafael masih ingin duduk di dalam restoran itu. Tak ada yang ia makan sebenarnya, ia hanya ingin diam saja sejenak disini. Griss pergi ke depan untuk mengantar client itu. Sedangkan Rafael saat ini sedang duduk berdua dengan Alena.


"Kau boleh pulang" ucap Rafael pada Alena.


Rafael pun berdiri dari duduknya kemudian ia berjalan menuju ke luar restoran diikuti Alena. Saat akan berbelok untuk keluar pintu depan, matanya tidak sengaja melihat sesosok gadis yang sudah ia tidak temui selama satu minggu terakhir. Ia bertingkah seolah olah tidak melihat gadis itu.


Sedangkan di lain sisi, El melihat pria itu. Pria yang sudah satu minggu tak bertemu dengannya. Dugannya benar, Rafael sepertinya balik membencinya karena ucapannya. Terbukti dia seperti tidak mengenal El saat ia melewati meja miliknya.


...TBC....


...Berubah karna keadaan😓...


...Aycha...