
Happy reading♡
Setelah memilih gaun dan toxedo tadi, El meminta Rafael untuk mengantarkannya pulang. Memang seharusnya Clifford lah yang menjemput El, namun karena Cliff dan istrinya baru sampai, alhasil El harus diantarkan oleh Rafael.
Sesampainya di depan pintu masuk, Rafael tidak sempat masuk karena mendadak ada rapat penting di perusahaannya. El melambaikan tangannya saat mobil Rafael berjalan keluar dari halaman mansionnya.
"Hai mom, dad" sapa El saat melihat Cliff dan Claudia tengah duduk di ruang tengah.
"Hai sayang, bagaimana kabar mu? Mom sangat merindukan mu" ucap Clau sembari memeluk hangat putrinya.
"Sudah lebih baik. Aku sudah mulai bisa berjalan normal lagi" ucap El.
"Apa keluarga Levent memperlakukan mu dengan baik?" Tanya Cliff.
"Tentu saja dad, apalagi grandma Levent setiap hari selalu memberiku makanan yang aku mau" ucap El.
"Baguslah" ucap Cliff.
"Oh ya, bagaimana perjalanan bisnis kalian? Apa menyenangkan?" Tanya El.
"Memangnya ada perjalanan bisnis yang menyenangkan sayang? Setahu mom, hanya ada berkas dan berkas saja setiap jamnya" ucap Clau.
"Namanya juga perjalanan bisnis" ucap Cliff.
"Oh ya, apa kalian akan datang ke pesta keluarga Sapphire?" Tanya El.
"Tentu saja sayang, Shima adalah teman mom sejak sekolah" ucap Clau.
"Kami akan datang, itu sebabnya kami segera pulang dari perjalanan bisnis" ucap Cliff.
"Ya sudah, sekarang lebih baik mom dan dad istirahat saja supaya besok malam bisa fit ke acaranya" ucap El.
"Tapi mom belum fitting baju, lagian dad juga harus punya jas untuk pergi ke acara itu" ucap Clau.
"Mom tenang saja, aku akan membereskannya. Yang penting sekarang kalian istirahat saja dulu" ucap El.
"Baiklah, kami percaya pada pilihan mu" ucap Cliff kemudian menarik istrinya untuk naik ke kamar mereka.
Sepeninggal Cliff dan Clau, El menerima pesan dari Bliss jiga tuxedo yang dipesannya untuk Rafael tidak bisa dikirim karena terdapat sobekan kecil yang tidak bisa diperbaiki. Jika pun iya, itu akan membuat tampilan tuxedonya aneh.
"Ada ada saja, padahal acara sudah sangat dekat" ucap El.
Ia pun bergegas ke butik miliknya untuk memilih gaun dan jas yang akan dipakai orang tuanya serta jas untum Rafael juga.
Beruntung jalanan tidak macet jadi ia bisa sampai dengan cepat.
"Nona, silahkan masuk" ucap pegawai di butik El.
"Lyn, aku mau sedang mencari gaun untuk ibu ku, kau bisa membantu ku?" Tanya El.
"Tentu saja, gaun seperti apa yang disukai nyonya Meinhard?" Tanya Lyn.
"Simpel saja, tapi terkesan elegan. Dan juga harus cocok dengan jas yang akan digunakan dad" ucap El.
"Baik, saya akan mencari beberapa dulu" ucap Lyn. El hanya mengangguk kemudian ia mulai menyusuri ruangan yang berisi jas dan tuxedo untuk pria.
Awalnya, El sangat suka dengan tuxedo. Namun dipikir pikir kembali, Rafael sangat sering menggunakannya. Ia pun mengambil vest berwarna navy serta celana dengan warna yang sama. Tak lupa juga dengan kemeja putih yang sepertinya akan pas di badan Rafael.
"Nona, apa ini akan cocok untuk nyonya Meinhard?" Tanya Lyn memperlihatkan gaun berwarna maroon.
"Sepertinya iya, tidak terlalu ramai dengan manik manik juga. Oke, tolong diantarkan besok ya" pinta El.
"Baik nona" ucap Lyn.
"Sesuai keinginan anda nona. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" Tanya Lyn.
"Tidak Lyn, sepertinya semuanya sudah beres. Hari juga sudah mulai gelap, aku pamit duluan ya" ucap El.
"Iya nona, hati hati" ucap Lyn. El mengangguk kemudian keluar dari dalam butik miliknya yang sebentar lagi akan tutup.
"Apa nona akan langsung pulang?" Tanya Jonah supir keluarga Meinhard.
"Sepertinya aku ingin mampir dulu di cafe depan. Sudah lama aku tidak makan Matcha Cakenya" ucap El.
"Baiklah, kita akan berangkat kesana" ucap Jonah.
Jarak dari butik El menuju ke cafe itu tidak jauh. Mungkin hanya sekitar tiga puluh menit dia sudah sampai.
El masuk ke dalam cafe. Ternyata cafe ini cukup ramai. Tidak ada kursi yang kosong di dekat jendela. Hanya ada beberapa di bagian tengah. Mau tak mau El duduk di kursi kosong yang berada di tengah.
Pelayan datang menawarkan beberapa menu. Namun El hanya memilih matcha cake dan jus.
Sembari menunggu El melihat lihat sekitaran cafe. Banyak berubah. Terakhir kali ia kesini, belum ada bagian atas untuk tempat nongkrong.
"Silahkan dinikmati" ucap pelayan cafe.
"Terimakasih" ucap El. El langsung melahap matcha cake miliknya. Rasanya tetap sama dan tidak berubah. Cafe ini cukup baik mempertahankan cita rasa hampir semua makanannya.
Tak berselang lama, El pun selesai makan. Ia melihay ke jam yang berada di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam.
El segera menuju ke kasir dan membayar semua makanan yang ia makan. Kemudian langsung bergegas menuju ke mobil.
***
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam namun El belum juga tidur. Selepas pulang dari cafe tadi ia sempat berbincang sebentar dengan ibunya.
El bangun dari tidurnya kemudian berjalan menuju ke lemari. Di dalam laci terdapat kotak tua yang ia simpan beberapa bulan ini. Ia membuka kotak itu dan mengambil benda yang ada di dalamnya.
Kalung berlian bertahtakan batu sapphire yang ia temukan di gudang miliknya.
Ia mengusap ngusap bagian berliannya.
"Sepertinya, ini akan jadi aksesoris yang cocok dengan gaun yang akan aku gunakan nanti" gumam El.
"Sebenarnya, ada apa dibalik tersimpannya berlian ini di gudang? Dan tumpukan pakaian anak kecil? Apa ada hubungannya?" Tanya El.
"Oh ya, aku hampir lupa, bukannya di bawah tumpukan baju ada map berwarna coklat? Aku harus mencarinya" ucap El. Ia pun bergegas keluar kamar menuju ke gudang yang berada di belakang.
Keadaan mansion sangatlah sepi. Semua pekerja sudah beristirahat. El merasa cukup takut jika mansion sebesar ini sunyi seperti ini.
El menatap pintu tinggi yang berada di depannya. Ia pun mendorong pintu itu dan masuk ke dalam gudang. Ia menyusuri beberapa rak berisi tumpukan berkas yang sudah tidak digunakan.
"Kalau tidak salah, disini aku menemukan kalung itu" ucap El.
Ia pun membongkar satu persatu pakaian yang bertumpuk itu. Sebagian masih layak pakai dan sisanya sudah sangat lusuh. Kebanyakan dari pakaian itu adalah gaun.
"Ini dia" ucap El saat menemukan map yang ia cari. El berdiri berjalan ke arah yang cahayanya cukup untuk melihat isi map itu.
Ia pun membuka map itu. Halaman pertama hanya kertas kosong. Ia pun kembali membuka halaman demi halaman sampai matanya membaca sebuah tulisan
tbc.
kl ad tipo maapin, salahin aja keyboardnya wkwk