L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 13 : Membujuk



Happy readingā™”


El menggeliat dalam tidurnya. Ia berguling untuk mencari posisi paling nyaman menurutnya. Saat ia sudah menemukannya. Ia kembali terlelap sembari memeluk bantal di sebelah.


Rafael yang sedang bekerja di kursi sebelah tempat tidur terkekeh melihatnya. Sepertinya, wanita di depannya ini sangat kurang tidur. Terbukti saat ia menggendongnya keluar dari dalam pesawat miliknya, El tidak terganggu sama sekali.


Tok...tok...tok


"Masuk" perintah Rafael.


"Maaf tuan, ini makanan anda dan nyonya" ucap seorang pelayan.


"Baik, taruh disitu" ucap Rafael, pelayan mengangguk patuh dan kembali keluar.


Rafael mematikan laptopnya kemudian beranjak ke arah tempat tidur. Ia memainkan tangannya di rambut El. Sangat lembut, menurutnya. Rafael menelusuri wajah milik El. Mulai dari alis, bulu mata, hingga ke bibirnya. Rafael terhipnotis oleh bibir El yang sedikit terbuka. Namun ia harus bisa menahan dirinya.


"El" panggil Rafael pelan.


Nghhh...


"Ayo bangun, kau belum makan. Ini sudah hampir malam" ucap Rafael.


"Aku sangat mengantuk, nanti saja" ucap El.


"Tidak ada nanti nanti, cepat sekarang bangun atau aku akan meniduri mu" ucap Rafael.


"Kalau kau ingin tidur, ya tidur saja" ucap El yang mulai kesal dan kembali memeluk bantalnya.


"Aku yakin kau paham maksud dari meniduri" ucap Rafael.


El membuka matanya setengah. Ia pun bangun kemudian menguap lalu mengucek matanya namun ditahan Rafael.


"Jangan pernah mengucek matamu, nanti bisa sakit" ucap Rafael.


"Memangnya apa maksud meniduri menurutmu" ucap El yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Sudahlah, tidak usah dibahas. Sekarang kau makan" titah Rafael.


"Iya iya. Mana makananya?" Tanya El. Rafael pun mengambil meja kecil kemudian ia simpan diatas paha El. Ia mulai menyajikan makanan diatasnya.


"Raf, aku mau makan ayam saja" ucap El.


"Ya sudah, makanlah" ucap Rafael.


"Kau tidak makan?" Tanya El.


"Aku akan makan, jika kau yang menyuapinya" ucap Rafael.


"Kau sudah besar, tangan mu juga masih berfungsi dengan baik" ucap El kemudian menyuapkan potongan ayam goreng ke mulutnya.


"Ya sudah aku tidak akan makan" ucap Rafael pura pura merajuk.


"Ish, kau ini" ucap El kemudian menyuapkan potongan ayam ke mulut Rafael. Rafael pun tersenyum.


Ditengah kunyahan ayam di mulutnya, El baru sadar satu hal. Ia memperhatikan sekelilingnya. Ini kamar siapa?


"Raf" panggil El.


"Iya".


"Ini sudah jam berapa?" Tanya El.


"Hampir jam tujuh malam" jawab Rafael.


"HAH?!" ucap El terkejut.


"Kenapa?" Tanya Rafael


"Ini dimana?" Tanya El mengabaikan pertanyaan Rafael.


"Ini di hotel El" ucap Rafael.


"Kita dimana Rafael" tanya El.


"Kita berada di Italia" ucap Rafael santai. El meletakan garpunya kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Ia pun membuka tirai jendela. Seketika kakinya melemas. Ucapan Rafael benar. Mereka sedang berada di Italia. Didepan sana, El dapat melihat menara kebanggaan negara Italia. Karena memang Rafael memilih hotel yang dekat dengan menara pisa.


"Kenapa kau membawaku ke sini?" Tanya El.


"Karena ingin" ucap Rafael.


"Itu bukan alasan Rafael" ucap El frustasi.


"Kemarilah dan kembali makan" titah Rafael.


"Raf, aku ingin pulang" ucap El.


"Rafael" namun yang dipanggil malah asik sendiri dengan ayam yang dikunyahnya.


"Terserah aku akan pulang sendiri" ucap El kemudian mencari tasnya. Ia sudah mengitari hampir seluruh ruangan di kamar hotelnya namun belum juga menemukan tasnya.


"Dimana tas ku?" Tanya El, namun Rafael malah fokus dengan kegiatannya memindahkan bekas makannya.


"Rafael, aku bertanya" ucap El.


"Sudah aku amankan, akan aku berikan nanti" ucap Rafael.


"Kau" geram El kemudian menuju ke arah Rafael. Ia langsung melayangkan pukulan ke arah Rafael. Rafael yang tidak siap pun hanya pasrah.


El memukuli dengan tangannya juga menjambak rambut Rafael. Jangan lupakan juga gadis itu sudah duduk diatas perutnya. Lama kelamaan Rafael merasa sakit dengan jambakan El. Ia pun mengangkat tubuhnya dan memutar tangan El ke belakang tubuh ramping El.


El berusaha untuk melepaskan tangannya yang dipegang Rafael dibelakang tubuhnya. Ia masih sangat kesal dengan pria di depannya ini.


"Aku tidak akan memaafkan mu Rafael" ucap El.


"Memangnya aku berbuat salah sampai harus dimaafkan olehmu?" Tanya Rafael.


"Raf, aku ingin pulang" ucap El.


"Kita akan pulang, tapi nanti" jelas Rafael.


"Aku ingin sekarang Rafael".


"Tidak El, kita baru sampai dan harus istirahat" ucap Rafael.


"Lepas" ucap El. Rafael pun melepaskan cekalan tanganya di tangan El. Namun belum juga El bernafas lega, Rafael lagi lagi membuatnya menahan nafas. Bagaimana tidak, El ditidurkan paksa dan Rafael memeluknya dari arah depan. Kepala El berada di dadanya.


"Istirahatlah, aku sangat lelah hari ini" ucap Rafael.


"Apa harus satu kasur denganmu? Aku ingin reservasi kamar lain" ucap El.


"Kamar disini sudah penuh" ucap Rafael berbohong.


"Masa iya" ucap El ragu.


"Iya".


"Raf, kita ini orang dewasa, kita tidak boleh tidur satu kasur. Kau bukan suamiku" ucap El.


"Ya sudah, besok kita menikah" ucap Rafael enteng.


"Kau pikir menikah hanya tinggal ijab lalu saksi berkata sah?" Tanya El.


"Tentu saja. Setelah menikah kau hanya perlu melayaniku. Biarkan aku yang bekerja" ucap Rafael.


"Memangnya aku mau menikah denganmu?" Tanya El.


"Terserah" jawab Rafael kemudian tertidur. Ia sudah sangat lelah hari ini. Apalagi jika harus melayani celotehan dari gadisnya.


"Raf, kau sudah tidur?" Tanya El.


"Hm".


"Ish, tapi aku tidak bisa tidur" ucap El.


"Pejamkan matamu dan diam. Jangan banyak mulut" ucap Rafael.


"Mulutku hanya satu tuan pemaksa" ucap El.


"Iya terserah" jawab Rafael.


Setelahnya El memilih diam. Menikmati kesunyian malam di negara orang. Selama ini ia hanya biasa berkunjung ke dua negara saja. Inggris dan Amerika. Di inggris ia bersekolah dan di amerika adalah domisilinya dari kecil sampai sekarang. Sisanya mungkin hanya beberapa negara saja yang pernah ia singgahi bersama kedua orang tuanya.


El berusaha melepaskan diri dari pelukan Rafael. Namun Rafael semakin mengencangkan pelukannya. El mendengkus kesal. Ia pun hanya diam saja di dalam pelukan Rafael. Suara dengkuran halus terdengar. Sepertinya Rafael sudah tertidur pulas. Ia memperhatikan wajah Rafael. Sangat tampan. Jari telunjuknya menelusuri wajah Rafael sampai jarinya berhenti di leher Rafael. Ia mengelus pelan jakun milik Rafael kemudian tersenyum. Rafael sudah tertidur pulas, ini saatnya.


El pun berusaha lagi untuk melepaskan diri dari pelukan Rafael dengan pelan. Cukup memakan waktu untuk bisa lepas dari pelukan Rafael. El memberikan guling untuk dipeluk Rafael. Kemudian mengambil bantal dan memilih tidur sendirian di sofa. Ia risih jika harus tertidur dengan laki laki yang bukan keluarganya.


...TBC...


...hai guys, part 13 nihhh. gak kerasa ya anjir, udh nyampe part 13 aja nih akušŸ˜‚ btw, thnks ya yg udh vote komen sm follow akun aku. sayang deh....


...VOTE KOMEN YANG BANYAK BUAT NEXT PART. MAKSA NIH...


...kalo ada typo, maapin:)...


...Aycha...