
Happy reading♡
Rafael dan El baru selesai dengan acara makan siang mereka. Terjadi perdebatan kecil antara keduanya saat akan membayar makanan yang sudah mereka makan. Rafael memaksa untuk membayar tagihan makanan mereka, sedangkan El ingin membayar sendiri makanannya. Namun bukan Rafael namanya jika ia tidak berhasil.
"Selain menjadi tuan pemaksa anda juga jadi tuan pengancam rupaya" ucap El saat mereka berjalan beriringan menuju ke dalam mobil.
"Aku yang mengajak mu makan, sudah tentu harus aku yang membayarnya" ucap Rafael.
"Silahkan nona Meinhard" ucap Rafael saat ia membukakan pintu mobil untuk El. El masuk kedalam mobil di susul Rafael.
"Setelah ini kau mau kemana?" Tanya Rafael.
"Aku meminta suster menggeser jadwalku, jadi aku akan ke rumah sakit" ucap El.
"Bukannya kau ijin tidak masuk?" Tanya Rafael.
"Iya aku ijin tidak masuk pagi" jelas El.
"Ya sudah, biar aku mengantarmu. Aku juga ada keperluan disana" ucap Rafael.
Mobil yang ditumpangi keduanya berhenti di bassement rumah sakit. El keluar dari dalam mobil begitu pun dengan Rafael. Mereka berdua memasuki lift.
"Sejak kapan kau mengenal Billie?" Tanya El.
"Sudah lama, dia temanku saat aku kuliah" ucap Rafael.
"Oh".
"Kau sendiri sudah sejak kapan menjadi sepupu Billie?" Tanya Rafael.
"Pertanyaan macam apa itu" ucap El.
"Tidak" ucap Rafael terkekeh.
Pintu lift terbuka, El dan Rafael keluar dari dalamnya. Kemudian berpisah masuk ke dalam ruangan masing masing. El mengganti jasnya dengan jas dokternya. Ia mengecek jadwal pasiennya. Ternyata ada beberapa pasien yang harus ia periksa saat ini. El pun keluar dari dalam ruangannya menuju ke beberapa ruangan para pasiennya.
Sedangkan di sisi lain, Rafael terfokus pada data yang diberikan oleh Griss. Ternyata, Griss sudah ada di ruangan Rafael sebelum ia datang.
"Kau yakin Griss?" Tanyq Rafael.
"Saya yakin tuan. Itu data yang saya dapat dari beberapa anak buah anda yang saya perintahkan untuk mencari tahu sesuai yang anda perintahkan" jelas Griss.
"Iya, ini sangat masuk akal. Tampilan fisik mereka pun sangat berbeda" ucap Rafael.
"Namun sayangnya, saya belum mendapatkan informasi tentang tempat tinggalnya dulu sebelum dia diangkat ke keluarganya sekarang" jelas Griss.
"Terus cari informasinya Griss, aku ingin kau segera mendapatkannya" pinta Rafael.
"Tentu tuan, sesuai perintah anda" ucap Griss patuh.
"Dan ya, aku ingin besok adakan meeting dengan para pemegang saham di resort. Bukannya resort itu sudah selesai dan tinggal di resmikan?" Tanya Rafael.
"Sudah tuan, semuanya sudah beres. Saya akan mengatur jadwal untuk meeting besok" ucap Griss.
"Baiklah, kau bisa kembali bekerja" ucap Rafael. Griss pun pamit kemudian keluar dari dalam ruangan Rafael. Sedangkan Rafael kembali disibukan dengan berkas berkas yang dibawa Griss dari kantor. Sengaja ia ingin mengerjakannya di rumah sakit.
***
"Terimakasih dok, anak saya sekarang sudah tidak sakit sakitan lagi" ucap Ibu dari seorang pasien.
"Sama sama bu, nanti tolong dijaga pola makannya ya. Supaya daya tahan tubuhnya kuat. Pada usia kanak kanak, penyakit memang mudah menyerang" jelas El.
"Baik dok, sekali lagi terimakasih. Kalau begitu saya pamit dulu. Permisi" ucapnya.
"Silahkan" ucap El.
El menarik nafasnya kemudian meregangkan otot ototnya. Hari ini cukup banyak pasien yang berkonsultasi padanya tentang anak anak mereka. El memandang jam dinding. Sudah pukul enam sore. Ia harus segera pulang.
El memasuki lift untuk masuk ke ruangan miliknya. rumah sakit memberikan dua ruangan untuknya. Pertama ruang pribadi miliknya dan kedua ruangan konsultasi untuk pasiennya.
Pintu lift terbuka. El pun keluar dan melangkah menuju ke ruangannya. Ia menyimpan lagi jas dokternya yang khusus ia simpan disini ketika ia tidak berangkat dari rumah dan tidak membawa jas itu.
Pandangan El jatuh pada seorang pria yang tengah tertidur di kursi panjang. Dia Rafael. Namun sepertinya Rafael sedang tidak sehat. El pun masuk untuk memastikan. Tangan lentiknya terulur ke dahi Rafael. Dugaannya benar, Rafael tidak sehat. Ia demam.
El beranjak dari sana menuju ke ruangannya lagi. Ia ingin mengambil plester pereda demam yang ada disana. Cepat cepat ia kembali ke ruangan Rafael kemudian menempelkannya ke dahi Rafael.
Rafael menggeliat dalam tidurnya. Ia membuka matanya seketika pandangannya dengan El bertemu. Rafael tersenyum.
"Kau demam kenapa tidak pulang?" Tanya El.
"Aku ketiduran tadi" ucap Rafael.
"Kau belum makan?" Tanya El, Rafael menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, telepon orang rumah mu untuk menjemputmu" ucap El.
"Orang rumahku sedang sibuk El" jawab Rafael.
"Kau punya asisten pribadi?" Tanya El.
"Punya" jawab Rafael.
"Telepon dia saja. Suruh kesini. Kau tidak boleh berkendara dengan keadaan sakit. Takutnya nanti malah kecelakaan" ucap El.
"Ternyata kau perhatian juga" ucap Rafael tersenyum.
"Tentu saja, aku seorang dokter. Jika ada orang yang sakit aku pasti akan memperhatikannya" Jelas El.
"Cepat mana ponsel mu biar aku yang menghubungi asisten mu" ucap El.
"Dia sedang sibuk bekerja" ucap Rafael.
"Lalu kau akan pulang sendiri?" Tanya El.
"Kau yang akan mengantarku pulang, El" ucap Rafael.
"Kenapa aku?" Tanya El.
"Karena hanya kau yang ada disini" ucap Rafael. Mau tidak mau El pun mengiyakan. Ia memapah Rafael menuju ke bassement rumah sakit.
"Aku tidak tahu alamat rumahmu" ucap El saat mereka berdua sudah duduk di dalam mobil.
"Jalankan saja, nanti aku beri tahu" ucap Rafael. El pun patuh kemudian melajukan mobil milik Rafael.
Sesuai alamat yang diarahkan Rafael, mobil yang ditumpangi keduanya berhenti di bassement apartement milik Rafael. Lagi dan lagi El harus memapah Rafael menuju ke unitnya.
Rafael memberitahu kode unitnya pada El seketika pintu pun terbuka. El mengantar Rafael masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya ia ingin pulang. Namun ia ingat Rafael belum minum obat. Ia berinisiatif untuk membuatkan Rafael makanan.
Di dapur, beruntungnya bahan makanan ada. El hanya membuat bubur yang ua campur dengan beberapa potong sayuran untuk Rafael. Tidak lama bubur pun jadi. El kembali memasuki kamar Rafael kemudian membangunkan Rafael untuk makan.
"Aku tidak punya tenaga El" ucap Rafael. Sebenarnya ia hanya mengkode supaya El menyuapinya.
"Baiklah" ucap El kemudian ia menyuapi Rafael bubur itu sampai habis kemudian memberi Rafael obat pereda demam.
"Aku akan pulang, hubungi keluargamu jika kau perlu sesuatu" ucap El.
"Terimaksih sudah merawatku, kau bisa pulang di lobby sudah ada mobil yang akan mengantarmu pulang" ucap Rafael.
"Sama sama. Kalo begitu aku pulang" ucap El kemudian ia keluar dari dalam unit Rafael menuju ke lobby. Ucapan Rafael benar, ada mobil yang sudah menunggunya. El mengiyakan tawaran Rafael, karena ini sudah malam. El terlalu takut untuk menggunakan kendaraan umum malam malam.
TBC
hai, udh di eps 10 aja ni. gmn sama part sebelumnya? semoga suka ya. oh ya, untuk bbrp waktu, aku gak janji buat double up kayak biasanya. tapi kalo buat updt in shaa allah tiap hari ya. doain aku cepet sembuh juga:)
VOTE KOMEN YOW!!!
kalo ada typo, maapin. see you♡
Aycha