
Happy reading♡
Rafael berjalan mondar mandir di ruangannya. Sebenarnya, ia tidak jadi ke kantor. Ia mengikuti mobil yang membawa El menuju ke mansion miliknya. Dan sekarang, Rafael sedang berada di ruang kerjanya. Ia sengaja tidak masuk lewat pintu depan, ia memilih pintu samping yang bisa langsung masuk ke dalam ruangannya.
Ia tengah memikirkan sesuatu hal. Ia ingin melakukannya namun ia tidak ingin membuat yang lain dirugikan. Ia mengambil ponsel nya dan menelpon Griss.
"Griss, siapkan semuanya aku sudah memutuskan" ucap Rafael kemudian mematikan telepon nya. Ia pun keluar dari ruang kerjanya kemudian masuk ke dalam kamar utama miliknya.
Di dalam kamarnya, seorang gadis tengah tertidur sangat pulas. Rafael tersenyum melihatnya. Ia pun mendekatinya. Rafael membelai rambut El yang tergerai di atas kasur. Kebiasaan El, ia tidak akan tidur atas bantal.
"Maafkan aku, tapi ini demi kebaikan kita" ucap Rafael kemudian mengecup kening El. Perlahan, ia mulai mengangkat tubuh El yang terasa sangat ringan baginya. Ia pun turun dari kamarnya kemudian menuju ke mobilnya. Ini rencana gila, namun Rafael harus melakukannya.
Saat keduanya sudah ada di dalam mobil, Griss dengan cepat melajukan mobilnya. Mereka sedang menuju ke bandara. Namun untuk tujuan mereka akan kemana, hanya Rafael yang tahu.
Perjalanan dari mansion menuju ke bandara tidaklah jauh. Sekarang mereka sudah sampai di area sekitaran bandara. Rafael kembali memangku tubuh mungil gadisnya dengan pelan. Ia tetap menjaga agar El tetap tertidur.
Rafael menidurkan El di kamar yang ada di dalam pesawatnya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh El kemudian ikut berbaring disana. Untuk urusan selanjutnya, biarlah Griss yang mengaturnya.
"Aku tidak tahu, tapi aku sudah mulai menyayangimu" ucap Rafael kemudian ikut tertidur. Perjalanan mereka kali ini sangat jauh. Memakan waktu berjam jam. Jadi Rafael memutuskan untuk ikut tertidur.
Dilain tempat, Griss sedang mengerjakan pekerjaannya. Sebelumnya ia sudah diperintahkan Rafael untuk menghandle semuanya. Ia pun hanya mengangguk dengan patuh.
Ia hampir lupa dengan file yang tadi dikirimkan oleh orang suruhannya. Ia pun membuka ponselnya. Matanya membulat seketika melihat isi dari email tersebut. Dugannya benar selama ini. Ia pun kembali menyimpan ponselnya dan kembali bekerja.
Rafael terbangun saat ada ketukan di pintunya. Ia pun bangun daru tidurnya dan melihat orang yang mengetuk pintu.
"Maaf tuan, sebentar lagi pesawat akan lepas landas" ucap Griss, Rafael hanya mengangguk dan kembali ke dalam. Memastikan gadisnya harus baik baik saja.
Tak berapa lama, pesawat yang ditumpangi olehnya mendarat dengan sempurna. Namun ajaib, El masih tertidur pulas. Rafael pun memangku kembali El untuk menuju ke tempat tujuannya.
"Maafkan aku, setelah ini kau akan tidur dengan layak" ucap Rafael saat mereka sudah berada di dalam mobil.
***
El menggeliat dalam tidurnya. Ia mulai menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Setelah setengah kesadarannya ada, ia pun mulai memperhatikan sekitarnya. Ini dimana lagi? Pikirnya.
El turun dari ranjang kemudian beranjak keluar dari kamar. Di lantai bawah, terdengar suara orang yang sedang berbincang dan sesekali tertawa. El pun menghampiri orang itu.
Disana, ada empat orang pria dan dua orang wanita. El tidak mengenal mereka. Namun yang membuatnya kesal, Rafael tengah duduk dengan seorang wanita yang sedang bersandar manja kepadanya. El mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka dan memilih kembali ke kamar saja.
Mood nya tiba tiba saja jadi rusak. Ia memutuskan untuk mandi saja saat ini. Rasanya ia sudah terlalu lama tertidur sampai membuat tubuhnya berkeringat karena terus menggunakan selimut.
El mengguyur rambutnya dengan air dari shower. Sengaja ia menggunakan air dingin agar pikirannya juga ikut dingin. Namun ia juga tidak boleh terlalu lama mandi, jika tidak ia akan terserang flu.
El keluar dari kamar mandi menggunakan kimono. Rambutnya tergerai basah. Ia membuka lemari yang ada disana. Mencari cari sesuatu yang bisa ia gunakan. Karena tidak mungkin ia menggunakan gaun yang kemarin. Beruntunglah ada kemeja putih disana. El pun mengambilnya dan mengenakannya. Panjang kemeja itu sampai di lututnya. Setelah selesai berpakaian, ia mulai mengeringkan rambutnya.
Tok...tok...tok
"Ya" ucap El membuka pintu.
"Maaf nona, anda harus segera makan malam. Anda sudah ditunggu dibawah" ucapnya.
"Ya aku akan kesana sekarang" ucap El kemudian menutup pintu dan turun kembali ke bawah, tepatnya ke ruang makan. Disana, ke enam orang tadi masih ada. Sepertinya mereka kenalan Rafael. Namun El mengabaikannya saja. Saat ini ia lapar.
Rafael melihat El yang sedang menuju ke arah meja makan. Ia menelan kasar ludahnya saat melihat kemeja miliknya dipakai oleh El.
"Jadi, dia siapa?" Tanya seorang wanita di sebelah Rafael saat El tengah makan.
"Dia El Meinhard" ucap Rafael.
"El, perkenalkan pria berambut pirang itu bernama Edward Lexi, disebelahnya Aleesa tunangan Edward. Pria kemeja hijau itu bernama Antonio Betrand, disebelahnya Alexander Saphire, dan wanita yang berada di sebelahku bernama Anita Betrand, adik Antonio" jelas Rafael, El lagi lagi hanya mengangguk. Ia sama sekali tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
"Dia bisu?" Tanya Anita.
"Tidak, dia tidak bisu" ucap Rafael.
"Lalu kenapa dia tidak berbicara?" Tanya Anita. Namun Rafael hanya mengangkat bahunya acuh.
Setelah acara makan malam mereka selesai, El berniat untuk kembali ke kamar namun ditahan oleh Rafael. Alhasil, El pun bergabung dengan mereka. Namun ia hanya diam saja. Ia sama sekali tidak mengerti topik yang sedang dibicarakan oleh teman teman Rafael.
"Oh ya, kau anak dari keluarga Meinhard" tanya Alessa.
"Iya" jawab El.
"Boleh aku tahu nama depan mu?" Ucap Alessa.
"Barbie" ucap El.
"Barbie El Meinhard?" Ucap Alessa memastikan.
"Ya".
"Oh, kau masih sekolah?" Tanya Alessa.
"Aku sudah bekerja".
"Oh ya, bekerja dimana?" Tanya Alessan
"Palingan di cafe cafe sebagai pelayan kan" ucap Anita.
"Tidak, aku bekerja sebagai dokter anak di rumah sakit Levent" ucap El. Disini, El merasa Alessa orang yang cukup asik untuk diajak berbicara, berbeda dengan wanita yang sedari tadi menempel pada Rafael.
"Oh aku kira" ucap Anita.
"Kalau begitu, aku permisi ke kamar dulu" ucap El yang diangguki semuanya. Sebenarnya, ini hanya alibinya saja. Ia sudah muak melihat kedekatan Rafael dengan Anita.
El berjalan keluar dari dalam kamarnya. Ternyata, ada sebuah kolam di depan kamarnya. El berdiri di dekat pagar pembatas. Ia melihat ke arah langit. Kemudian memejamkan matanya. Menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Sampai sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Kau cemburu?".
...TBC...
...hai, pakabar? ...
...nyampe juga di eps 18. gimana part ini? semoga suka ya semuanya. kalo ada typo maapin ya....
...VOTE KOMEN SEIKHLASNYA!...
...Aycha...