
Happy reading♡
Operasi berjalan cukup lama. El dan dokter Ruby berusaha semaksimal mungkin. Mereka harus bisa menyelamatkan anak ini. Meskipun semuanya kembali pada takdir sang pencipta.
"Operasi sudah selesai. Anak ini sepertinya koma" ucap dokter Ruby.
"Semoga ia cepat sadar" ucap El. Mereka berdua pun keluar dari ruang operasi.
Kedua orang tua paruh baya itu langsung menghampiri El dan dokter Ruby.
"Bagaimana dokter? Apa operasinya berjalan lancar?" Tanyanya.
"Bersyukur atas doa anda, operasinya berjalan lancar. Namun pasien mengalami koma" ucap dokter Ruby.
Wanita paruh baya itu langsung menutup mulutnya. Meskipun ada sedikit perasaan senang karena operasinya berjalan lancar.
"Kakak" panggil seorang anak kecil kepada El.
El menoleh ke arahnya.
"Valen" ucap El.
"Iya, kakak masih inget aku ternyata" ucap Valen.
"Tentu kakak masih ingat kamu. Gimana kabar kamu sekarang?" Tanya El.
"Jauh lebih baik. Tapi kak Vano sekarang yang sakit" ucapnya.
"Jadi yang di dalam ruangan itu kakak kamu?" Tanya El.
"Iya, kami kembar kak" ucap Valen.
"Oh begitu. Kakak pamit duluan ya" ucap El. Valen pun mengangguk. El dan dokter Ruby pun pergi dari sana.
Dokter Ruby langsung menuju ke ruangannya sedangkan El mengambil tasnya di loker yang ada di lantai satu. Setelahnya ia pun langsung menuju ke lobby karena jemputannya sudah sampai.
Di lobby ternyata ada Rafael sedangkan mobil jemputannya tidak ada. Ia hanya melihat Rafael sekilas kemudian berlalu meninggalkannya.
"Apa kau tidak melihat ku?" Tanya Rafael.
Namun El memilih diam.
"Sayang" panggil Rafael.
El masih tetap memilih diam.
"Beri aku waktu untuk berbicara dengan mu, please" ucap Rafael memohon.
"Lima menit" ucap El.
"Itu terlalu sebentar sayang, please" ucap Rafael.
"Ya sudah jika tidak mau" ucap El.
"Oke oke, tapi jangan disini. Kita bicara di mobil ku" ucap Rafael.
"Tidak, disini saja" tolak El karena ia sudah tahu akal bulus Rafael untuk menipunya.
"Aku tidak akan berbuat macam macam, sayang please" ucap Rafael. El memijat kepalanya. Tubuhnya sangat lelah saat ini. Dan ia sangat malas berdebat dengan Rafael.
"Katakan disini atau tidak sama sekali" ucap El final.
Rafael pun menghela nafasnya. Gadisnya ini mungkin memang sudah lelah dengan sikapnya.
"Oke" ucap Rafael.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya El.
"Jangan formal sayang, aku kekasih mu" ucap Rafael.
"Ya, aku memang kekasih mu. Tapi sikap mu dengan Anita membuat ku merasa bukan lagi kekasih mu" ucap El.
"Iya aku tahu aku salah. Karena itu aku ingin meminta maaf sayang. Please, aku gak mau kita break" ucap Rafael.
"Aku akan memperbaiki semuanya maka dari itu jangan membuat hubungan kita ini break. Aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa" ucap Rafael.
"Mungkin setelah kamu mengucapkan maaf dan aku memaafkan mu, masalah sudah selesai. Harus kamu tahu, aku memaafkan mu bukan berarti aku akan melupakan semuanya dengan mudah. Dari kemarin aku sudah memberi mu pilihan bukan? Hargai aku atau silahkan pergi dengan Anita dan kita selesai" jelas El.
"Aku tidak akan seposesif jika kau bukan kekasih ku" ucap El.
"Iya aku tahu aku sangat bersalah. Aku selalu menghindar darinya sayang tapi dia yang selalu saja mengikuti ku" bela Rafael.
"Tidak perlu menyalahkan Anita jika akhirnya kamu tetap menerima semua perlakuannya. Kaliannmemang sama sama tidak bisa menghargai perasaan seseorang"
SKAK!!!
Rafael tidak mampu menyela ucapan El. Ia dibuat mati kutu seketika.
"Jangan selalu berlindung dibalik kata teman, kau harus ingat kita juga berawal dari pertemanan" ucap El.
"Waktunya sudah habis. Aku pulang duluan, hati hati di jalan" ucap El. Meskipun ia kecewa dengan sikap Rafael, tapi ia tetap mempedulikannya. Karena ia juga masih berstatus sebagai kekasihnya meskipun ia meminta break.
El berjalan menjauhi Rafael. Ia sudah tahu jika mobil yang menjemputnya sengaja diusir Rafael.
"Butuh tumpangan?" Tanya Janshen.
"Kok bisa disini?" Tanya El.
"Disuruh sepupu lo. Gue lagi enak enak tidur juga" ucap Janshen.
"Sorry" ucap El. Ia pun masuk ke dalam mobil Janshen meninggalkan Rafael.
Mobil pun melaju. Awalnya mereka berdua terdiam. Namun tiba tiba El bertanya sesuatu.
"Aku ingin bertanya" ucap El.
"Tanya aja" ucap Janshen.
"Kau berteman dengan Rafael sudah lama bukan?" Tanya El.
"Ya, sejak kami sekolah dasar. Pasti tentang hubungan Rafael dan Anita?" Tebak Janshen. El menganggukan kepalanya.
"Gue, Rafael, Billie, dan Antonio udah temenan dari kita SD. Tapi waktu SMA tiba tiba Antonio bawa kembarannya ke tempat kita sering ngumpul. Dari situ Anita mulai kejar kejar Rafael sampe sampe dia pindah sekolah yang sama" jelas Janshen.
"Apa hubungan mereka pernah lebih dari seorang teman?" Tanya El.
"Lo tenang aja, dari dulu Rafael gak pernah suka sama Anita. Cuma mungkin karena mereka udah barengan lama, Rafael jadi peduli sama Anita karena dia adik dari sahabatnya" ucap Janshen.
"Eh tapi, gue gedek juga sama si Anita. Bisa bisanya nempel mulu sama Rafael" ucap Janshen. El hanya tersenyum mendengar perkataan terakhir Janshen.
Tak terasa, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan mansion El. El pun keluar dari dalam mobil Janshen dan mengucapkan terimakasih.
El masuk ke dalam mansionnya. Sepi.
Orang orang rumahnya pergi kemana? Tumben sekali biasanya kedua orang tuanya selalu duduk bersama di ruang tengah.
"Nona" panggil salah satu maid yang ada dirumah El.
"Iya?".
"Tuan dan nyonya pergi ke mansion tuan besar" ucapnya.
El hanya menganggukan kepalanya. Ia kemudian pamit untuk naik ke kamarnya.
El merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya. Sungguh ia sangat lelah sekali. Ponselnya terus berdering. Ia sudah yakin jika yang meneleponnya itu adalah Rafael.
Dan benar saja, itu Rafael. Karena kesal, El mematikan ponselnya. Setelahnya ia pun pergi ke kamar mandi untuk bersih bersih kemudian tidur.
Sudah lebih dari setengah jam El berbaring namun ia belum juga terlelap. Ia terus membalikan tubuhnya mencari kenyamanan. Namun tetap saja ia sulit terlelap.
El pun bangun dan duduk di kasur miliknya. Ia melihat ke arah jam dinding. Waktu menunjukan pukul satu dini hari.
"Aku cape tapi kenapa susah banget tidur" gumam El.
Ia pun terdiam cukup lama. Hingga akhirnya ia teringat sesuatu.
Ia bangun dari tempat tidurnya kemudian membuka brangkas miliknya.
Ia mengeluarkan map yang ia ambil dari gudang beberapa minggu yang lalu.
Ia membuka map itu dan membaca kata yang tertera di atas kertas putih.
"Panti Muara Kasih" ucap El membaca tulisan itu. El terdiam lagi. Ini bukan kertas biasa. Di dalamnya tertera beberapa tulisan dan juga tanda tangan kepala panti.
"Apa hubungannya?" Tanya El heran.
tbc.
hayoloh paan tuuu. maapin kl ada typ yyyy