L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 42 : Batu



Happy reading♡


Setelah membersihkan dirinya di toilet, El dibantu Rafael menuju ke ruang makan. Keadaan kembali cangggung. Baik El ataupun Rafael sama sama memilih diam. Sejujurnya, El sangat benci situasi seperti ini. Ia sangat tidak suka diacuhkan.


Sedangkan Rafael, ia sengaja memilih diam. Ia hanya ingin melihat apakah El akan mengajaknya berbicara duluan atau tidak.


Sudah dua puluh menit berlalu, namun keduanya masih tetap dalam diamnya masing masing.


"Aku ingin pulang" ucap El.


"Bagus. Aku juga harus bertemu Anita" ucap Rafael.


"Oh" ucap El tersenyum paksa. Entahlah, ia merasa sedikit sakit hati. Namun ia juga tidak punya hak apa apa untuk bertanya.


"Aku akan mengantarmu" ucap Rafael.


"Tidak perlu, aku bisa menelpon Billie" ucap El.


"Billie pagi tadi terbang ke Amerika" ucap Rafael.


"Masih ada Arthur" ucap El.


"Siapa Arthur" tanya Rafael.


"Kau tidak perlu tahu" ucap El ketus.


"Apa kau cemburu?" Tanya Rafael.


"Apa harus aku cemburu" tanya El balik.


"Sudah, aku yang akan mengantarkan mu pulang" ucap Rafael final.


"Namun sebelum pulang, kau harus makan terlebih dahulu" ucap Rafael.


"Aku tidak lapar" ucap El.


"Aku tidak suka penolakan!" Ucap Rafael.


"Aku pun tidak suka pemaksaan" ucap El.


"Jika dengan memaksa bisa membuatmu menjadi gadis penurut, aku akan terus melakukan pemaksaan"


"Terserah" ucap El pasrah. Rafael menyodorkan nasi goreng buatannya namun El sama sekali tidak menyentuhnya. Ia memilih untuk pergi saja dari hadapan Rafael. Moodnya benar benar sudah hancur.


Rafael sendiri hanya menghela nafasnya. Ia pun mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu kemudian mengirimkannya pada seseorang lalu bergegas menyusul El.


***


Jika saja El tahu dimana keberadaan ponsel miliknya, sudah pasti saat ini ia sudah menghubungi orang rumah untuk menjemputnya pulang dan pergi dari tempat Rafael.


Ia sangat ingin sekali mencincang Billie hidup hidup. Bisa bisanya ia dititipkan begitu saja tanpa persetujuannya.


"Makanlah" ucap Rafael menyodorkan sepiring buar blueberry kesukaan El.


"Tidak" ucap El.


"Lalu kau mau apa?" Tanya Rafael.


"Pergi dari sini" ucap El.


"Memangnya kenapa? Apa kau tidak nyaman" tanya Rafael.


"Aku hanya ingin pulang" ucap El.


"Kau akan pulang, tapi nanti" ucap Rafael.


"Aku maunya sekarang" ucap El kekeuh.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan" ucap Rafael membuat El mengernyit heran.


"Bukannya kau ada janji bertemu dengan Anita?" Tanya El.


"Dia tidak penting. Lagi pula dia hanya ingin menganggu ku" jelas Rafael.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya El.


"Apa kabar?" Tanya Rafael.


"Kau bisa lihat, sekarang aku memakai kursi roda" ucap El tersenyum.


"Apa boleh aku tahu kronologi kejadiannya?" Tanya Rafael.


"Takan mungkin kau tidak tahu" ucap El tepat sasaran. Rafael sendiri hanya diam dan menutupui rasa terkejutnya.


"Untuk apa?" Tanya El.


"Semuanya. Aku tahu aku sangat bersalah dan membuat mu tidak nyaman" jelas Rafael.


"Aku juga ingin meminta maaf karena mungkin aku sudah menyinggung perasaan mu melalui perkataan ku" ucap El.


"Kau pantas melakukan itu" ucap Rafael.


"Ya tentu saja" ucap El.


"Aku harap, kau tulus memaafkan ku. Dan aku ingin kita berteman" ucap Rafael.


"Baiklah, kita teman. Lagipun, baik aku ataupun kau kita sama sama bersalah" jelas El.


"Syukurlah, aku sangat lega mendengarnya" ucap Rafael.


"Hm. Bagaimana keadaan Galaksi?" Tanya El.


"Apa kau merindukan dia?" Tanya Rafael.


"Maybe".


"Apa kau ingin bertemu dengannya hari ini?" Tanya Rafael.


"Tidak. Aku hanya ingin pulang" ucap El.


"Baiklah, aku akan mengantarkan mu pulang" ucap Rafael, El sendiri hanya mengangguk saja. Rafael beralih ke arah belakang El dan mendorong kursi roda milik El perlahan.


***


Malam hari di kediaman Levent, Rafael terus saja direcoki oleh keponakan tersayangnya Galaksi. Ia sendiri sebenarnya sudah sangat lelah karena hampir setengah hari mereka bermain. Ya,Rafael pulang ke rumahnya setelah mengantarkan El.


"Galak sayang, sudah mainnya waktunya makan" perintah Aura Mama Rafael.


"Iya oma, ayo om kita makan" ajak Galak yang langsung menggandeng tangan Rafael menuju ke meja makan.


Di meja makan sudah ada Ayah dan kakak perempuan Rafael serta suaminya.


Galaksi mengambil duduk disebelah Rafael dan mulai menyodorkan piring kosongnya untuk diisi sang mama, Eliza.


"Makan yang banyak jagoan om" ucap Rafael.


"Iya om, biar Galak cepet gede. Biar bisa pacarin kakak cantik" ucap Galaksi polos membuat Rafael menolehkan atensinya ke arah Galak.


Terkejut? Tentu saja.


Bisa bisanya bocah kecil seperti Galaksi ingin memacari gadisnya.


"Gak, gak boleh" ucap Rafael.


"Lah ko ngamok?" Ucap Galak.


"Enggak" ucap Rafael.


"Oh ya Raf, aku lihat akhir akhir ini El Meinhard jarang masuk kerja. Kau tahu alasanny?" Tanya Eliza kakak Rafael.


"Dia kecelakaan" ucap Rafael.


"Apa?!" Ucap Eliza terkejut.


"Bagaimana bisa?" Tanyanya lagi.


"Intinya dia kecelakaan kak" ucap Rafael.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Eliza.


"Dia pakai kursi roda sekarang, sepertinya kakinya yang terkena cukup parah" jelas Rafael.


"Pantas semalam waktu di acara pesta dia memakai kursi roda" ucap Michelle.


"Kita harus menjenguknya pah, harus" ucap Aura.


"Iya ma, nanti saja" ucap Michelle.


"Gak, harus besok pokonya" ucap Aura memaksa.


"Iya ma iya" ucap Michelle.


"Kalian semua harus ikut" ucap Aura penuh perintah. Semua keluarga yang ada di ruang makan hanya mengangguk setuju.


TBC.