
Happy reading♡
Billie dengan terburu buru berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Ia langsung mencari meja receptionist.
"Sus, atas nama Barbie El" ucap Billie.
"Sebentar" ucapnya.
"IGD lantai satu, ke arah sebelah kanan" ucapnya.
"Terimakasih" ucap Billie.
Billie dengan cepat menuju ke ruangan itu. Disana belum ada siapa siapa, karena tadi hanya Billie yang dihubungi pihak kepolisian.
"Dok, dok" panggil Billie.
"Ya?" Ucapnya menoleh.
"Apa anda yang menangani pasien atas nama Barbie El?" Tanya Billie.
"Oh, anda keluarganya?" Tanyanya.
"Saya kakak sepupunya" ucap Billie.
"Begini tuan Billie, pasien sekarang sedang pingsan. Luka yang di dapat tidak terlalu banyak. Hanya saja luka di kening bagian kanannya cukup dalam dan juga luka di pergelangan kaki kirinya. Kemungkinan pasien tidak bisa berjalan normal untuk beberapa waktu" jelasnya.
"Tapi dia masih bisa berjalan kan?" Tanya Billie khawatir.
"Bisa tuan, hanya saja butuh waktu" ucapnya.
"Terimakasih dok, apa saya boleh melihat pasien?" Tanya Billie.
"Untuk saat ini, biarkan pasien istirahat dulu. Nanti setelah pasien sadar anda baru bisa menjeguknya" ucapnya.
Billie hanya mengangguk pasrah. Setelah melihat dokter itu menghilang di lorong rumah sakit, ia pun duduk di kursi depan ruangan El. Hampir lupa, ia mengetikan pesan pada group chat keluarganya. Setelahnya, ia kembali diam. Pikirannya kalut saat ini.
"Maaf, tuan Meinhard" panggil seseorang berseragam polisi.
"Ya".
"Anda keluarga nona Meinhard?" Tanyanya.
"Iya, saya Billie. Panggil Billie saja" ucap Billie.
"Oh ya, tuan Billie. Saya polisi yang menanangi kecelakaan yang dialami nona Meinhard" ucapnya.
"Iya, bagaimana tentang kecelakaan itu?" Tanya Billie, ia melihat name tag polisi itu. Andra.
"Begini, setelah saya melihat rekaman cctv yang ada disana. Ini murni bukan kesalahan nona Meinhard. Kecelakaan dipicu karena mobil dari arah berlawanan berniat menyalip tanpa melihat keberadaan mobil nona Meinhard sehingga kecelakaan terjadi" jelas Andra, polisi yang menangani kecelakaan El.
"Lalu, bagaimana dengan mobil El?" Tanya Billie.
"Mobil milik nona Meinhard rusak parah tuan, namun beruntungnya, tuhan masih melindungi keadaan nona Meinhard" ucap Andra.
"Baik, terimakasih" ucap Billie. Andra pun mengangguk dan pamit dari sana.
Beberapa saat kemudian, rombongan keluarga Meinhard datang. Liana dengan heboh langsung bertanya bertubi tubi pada Billie.
"Bagaimana bisa terjadi?".
"El itu bukan pengemudi abal abal".
"Bagaimana bisa dia kecelakaan".
"Sampai sampai dia masuk ke rumah sakit" ucap Liana.
"Istriku, tenanglah. Kasian Billie, apa kau tidak melihatnya?" Tanya Hans. Liana pun mengangguk pasrah.
"Bagaimana son, apa adik mu baik baik saja?" Tanya Calvien.
"Keadaan El masih pingsan dad, hanya saja beruntungnya luka yang di dapat tidak terlalu parah" ucap Billie.
"Syukurlah" ucap semuanya.
"Namun, El tidak bisa berjalan untuk beberapa waktu" ucap Billie.
"Pergelangan kaki El terluka cukup parah. Dan kemungkinan kepalanya juga di perban karena luka di kepalanya cukup dalam" jelas Billie membuat semua keluarga terkejut.
"Dok, ada apa?" Tanya Billie tiba tiba saat ia melihat dokter yang akan masuk ke kamar rawat El.
"Sebentar tuan, saya akan memeriksa dulu" ucap Dokter itu. Billie hanya mengangguk.
Lima belas menit berlalu, dokter pun keluar dari dalam ruangan.
"Silahkan jika pihak keluarga ingin menjenguk. Namun jangan terlalu banyak bertanya dulu, pasien baru sadar" ucap Dokter itu. Billie mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
Semua keluarga langsung masuk ke dalam sana. Claudia sedari tadi meneteskan air matanya. Sungguh ia sangat tidak rela melihat anaknya yang kesakitan. Clifford pun menjadi bingung, Claudia menangis dan keadaan anaknya sedang dalam tidak baik.
"M-mom" panggil El.
"Kamu istirahat dulu, mom disini temani kamu" ucap Clau.
"Don't cry" ucap El.
"Iya sayang. Mom hanya khawatir" ucap Clau.
"Im sorry mom, dad" ucap El.
"No, dear. Kamu gak salah, ini semua sudah menjadi takdir tuhan" ucap Cliff. El hanya mengangguk.
"Aku ingin tidur ya" ucap El.
"Iya sayang" ucap Clau. Ia mengelus pelan rambut panjang El. Beberapa saat, terdengar dengkuran halus dari El.
Clau menyusuri luka luka yang terdapat di beberapa bagian tubuh El. Kepala, tangan dan kakinya.
Clau menyenderkan kepalanya ke arah suaminya. Sungguh ia sangat ingin menangis tersedu sedu. Ia sangat tidak rela melihat keadaan putri semata wayangnya yang sedang tertidur.
"Kau harus kuat, supaya putri mu juga kuat" bisik Cliff. Clau hanya mengangguk pasrah. Clifford mengajak Clau untuk duduk di kursi sebelahan dengan Liana dan Hans.
Saat Clau duduk, Liana langsung memberikan pelukannya untuk Clau. Ia tahu, disini yang paling terluka adalah Claudia, mommy El.
Claudia langsung menangis tersedu sedu di pelukan Liana. Tangis yang semula ia tahan tumpah begitu saja di pelukan sang ibu mertua.
"Tenanglah Clau, aku tahu, ini sangat membuatmu terpukul" ucap Liana. Claudia hanya mengangguk. Ia menghapus jejak air matanya.
Sedangkan di lain sisi, Billie tengah dilanda kebingungan. Ia bingung harus memberi tahu keadaan El pada Rafael atau tidak.
Jika ia memberitahu Rafael, tujuannya untuk apa? Bukannya El bilang jika laki laki itu bukan siapa siapanya?
"Aku keluar sebentar" ucap Billie. Dari pada bingung, ia memilih untuk keluar untuk mencari udara segar. Pikirannya sangatlah kacau saat ini. Meskipun El bukan adik kandungnya, tapi tetap saja ia sangat menyayangi El dan wanita lainnya di keluarga Meinhard.
Billie duduk di kursi panjang yang berada di taman rumah sakit. Ia mengangkat satu kakinya kemudian memejamkan matanya. Hingga tepukan di bahunya menyadarkannya.
"Lo?!!" Ucap Billie.
"Kenapa?" Tanya Alex kelewat santai.
"Kok lo disini?" Tanya Billie.
"Anter ibu" ucap Alex. Billie hanya mengangguk.
"Lo sendiri?" Tanya Aelx.
"Sepupu gue kecelakaan" ucap Billie.
"El Meinhard?" Tanya Alex, Billie menganggukan kepalanya.
"Bagaimana bisa?" Tanya Alex.
"Wow, seorang tuan Sapphire menjadi sekepo ini tentang keadaan orang lain" ucap Billie.
"Jawab saja" ucap Alex.
"Dia kecelakaan dan harus dirawat disini" ucap Billie.
"Parah?" Tanya Alex.
"Lumayan" ucap Billie.
"Semoga cepat pulih. Aku pergi dulu" ucap Alex.
"Iya. Salam untuk ibu mu" ucap Billie.
Alex hanya mengangguk dan pergi dari sana. Tinggalah Billie sendirian. Setelah cukup untuk diam disana, ia pun memutuskan untuk kembali ke dalam ruang rawat El.
Billie agak tidak suka dengan aroma rumah sakit. Ya, aroma obat obatan. Ia beberapa kali menahan nafasnya saat melewati beberapa ruangan yang aroma obatnya cukup menusuk hidungnya.
Ia masuk ke dalam ruangan El. Disana El sudah bangun lagi.
"Apa kabar?" Tanya Billie.
"Cukup baik Bill" ucap El. Billie mendekati ranjang El kemudian mengelus kepalanya.
"Apa perlu aku mengubungi dia?" Tawar Billie.
...TBC....
...Hawyoloh Billie mah hubungi saha? ...
...Kalo ada typo, maapin. vote komen g mau tau! biar cpt up!!!...
...Aycha...