
Happy reading♡
Setelah berbincang beberapa saat, Rafael memutuskan untuk mengajak El makan malam. Semuanya sudah disiapkan oleh Rafael dengan bantuan Griss.
Rafael menarik kursi untuk El duduk. El pun mengucapkan terimakasih dan duduk. Kemudian ia menunggu Rafael duduk untuk makan bersama.
"Ada yang ini aku sampaikan, tapi lebih baik kita makan dulu" ucap Rafael. El pun mengangguk dan membuka penutup makanan miliknya. Seketika ia terkejut melihatnya. Ia menoleh ke arah Rafael dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia tahu makanan kesukaan El.
"Makanlah. Jika kau hanya melihatnya, makanan itu tidak akan habis" ucap Rafael. El pun mengangguk dan menyuapkan makanan di depannya. Seketika matanya berbinar dengan rasa dari makanan itu. El melihat ke arah Rafael seolah meminta penjelasan.
"Aku tahu kau sangat suka makanan itu. Terakhir kali kau mencobanya tiga tahun yang lalu saat kau ikut orang tua mu ke Indonesia. Nasi goreng itu, khusus dibuatkan oleh koki yang aku undang langsung dari Indonesia" jelas Rafael. Tentu saja El terkejut. Rafael bisa sedetail itu mengetahuinya. Padahal ia tidak pernah cerita. Saat El akan bertanya lagi, Rafael lebih dulu berbicara.
"Habiskan dulu makanannya. Baru setelah itu kau boleh bertanya" ucap Rafael. El pun dengan senang hati kembali menyuapkan nasi goreng itu. Terdengar lebay memang, namun saat pertama kali ia mencoba nasi goreng, ia langsung jatuh cinta dengannya. Entah rasa apa yang pertama kali ia rasakan saat memakannya. Hanya saja rasa dari nasi goreng itu lain daripada yang lain. Enak. Sangat sangat enak.
Saking lahapnya, El tidak sadar jika beberapa remahan nasi tertinggal di ujung bibirnya. Rafael terkekeh melihatnya. Ia pun memajukan badannya. Ia mengulurkan tanganya ke arah bibir El untuk membersihkan beberapa nasi yang menempel.
Karena sudah terbiasa diperlakukan special oleh Rafael. El hanya diam saja. Namun detak jantungnya sudah berdisko sejak tadi.
"Saking lahapnya, sampai kau tidak menawariku" sindir Rafael.
"Maaf" cicit El.
"Haha tidak apa El, aku hanya bercanda. Apa kau ingin lagi?" Tanya Rafael.
"Tidak aku sudah kenyang Raf" ucap El.
"Baiklah" ucap Rafael kemudian memanggil pelayan untuk membereskan bekas makan mereka.
"Oh ya, kau bilang ada yang ingin kau bicarakan" ucap El.
"Ah, ya itu. Apa kau sudah memiliki kekasih? Atau ada seorang laki laki yang dekat dengan mu?" Tanya Rafael to the point.
"Kekasih ya? Menurut mu, bagusnya aku kapan memiliki kekasih?" Tanya El.
"Apa maksud mu nona?" Tanya Rafael tidak paham. Pasalnya ia yang bertanya namun kini malah El yang balik bertanya.
"Tidak, aku tidak memiliki kekasih. Dan untuk laki laki yang ada dekat denganku, sepertinya hanya daddy, Billie dan kau" ucap El.
"Benarkah?" Tanya Rafael.
"Yup" ucap El.
"Bagaimana perasaan mu terhadap ku? Apakah hanya rasa nyaman saja yang kau rasakan?" Tanya Rafael.
"Aku tidak tahu" ucap El.
"Bagaimana mungkin?" Tanya Rafael.
"Aku benar benar tidak tahu Rafael" ucap El. Rafael hanya menganggukan kepalanya.
"Sekarang, apa boleh aku yang bertanya" ucap El.
"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan" ucap Rafael.
"Kau kenal dengan wanita tadi saat kita sedang makan siang bersama di cafe?" Tanya El.
"Bisa dibilang iya. Aku hanya kenal dengan ayahnya, tidak terlalu dekat juga. Hanya sebagai rekan bisnis" jelas Rafael.
"Tapi kenapa dia mengklaim akan menjadi calon istri mu?".
"Dia memang seperti itu sejak dulu. Aku pun sudah risih sebenarnya, namun aku selalu mengabaikannya. Terlalu malas untuk meladeninya" ucap Rafael.
"Lalu dengan Anita?" Tanya El.
"Dia sudah ku anggap seperti adik biasa saja. Jika dia bersikap berlebihan seperti yang kau lihat waktu itu, itu hanya perasaannya saja. Aku sendiri tidak memiliki perasaan apapun padanya".
"Sekarang, apa boleh aku yang bertanya lagi?" Ucap Rafael.
"Dari tadi kau sedang berbicara tuan Levent" ucap El, Rafael hanya terkekeh.
"Baiklah, apa kau ingat satu saja kenangan ketika kau masih kecil?" Tanya Rafael.
"Aku tidak tahu Raf, aku pun sangat ingin mengingatnya. Tapi ketika aku berusaha mengingatnya, pasti kepala ku akan terasa sangat pusing" jelas El.
"Bagaimana bisa?".
"Aku juga tidak tahu" ucap El acuh.
"Baiklah. Jujur El, aku sangat senang bisa sedikit sedikit mulai mengenal mu" ucap Rafael.
"Aku pun" ucap El.
"Oh ya, apa kau memiliki teman?" Tanya Rafael.
"Tentu saja ada. Mereka sedang berada diluar negeri saat ini" ucap El.
"Bekerja?".
"Bukan, mereka sedang berlibur. Mungkin hanya aku saja yang langsung bekerja setelah menerima kelulusan pendidikan spesialis" ucap El.
"Apa kau tidak ingin berlibur?" Tanya Rafael.
"Tentu saja aku ingin. Tapi, aku berpikir lagi Raf. Lebih baik aku menerima tawaran pekerjaan dari rumah sakit milik mu waktu itu" ucap El.
"Kenapa?".
"Karena aku tidak perlu susah susah mencari pekerjaan Raf. Makanya aku langsung menerimanya" ucap El.
"Sepertinya, kau sangat takut jika tidak bisa mendapatkan pekerjaan ya?" Tanya Rafael.
"Ya, tentu saja. Ya walaupun nantinya jika aku tidak diterima di bekerja di rumah sakit manapun, aku masih bekerja di kantor milik daddy atau kakek nantinya" ucap El.
"Tapi, itu bukan keinginan ku. Aku hanya ingin mengabdikan diriku di rumah sakit. Aku sangat senang jika bisa membantu mereka sembuh dari penyakitnya. Walau hanya sebagai perantara saja, karena semuanya sudah ditakdirkan tuhan bukan" ucap El lagi membuat Rafael kagum. Rafael baru mengetahui sisi lain dari El.
"Apa boleh, jika suatu saat nanti aku menyukaimu?" Tanya Rafael.
"Hah?! Maksud kamu?" Ucap El meminta penjelasan.
"Tidak ada yang tahu takdir di masa depan El. Mungkin saja aku bisa menyukai mu" ucap Rafael membuat El terdiam. Jujur saja, ia pun sangat takut jika suatu saat takdir itu sampai terjadi.
"Kenapa?" Tanya Rafael yang sudah berdiri di sebelah El. El menaikan wajahnya untuk melihat Rafael. Ada pancaran sesuatu dari mata El. Rafael bisa merasakan itu.
"Ada apa?" Tanya Rafael lagi.
"Boleh aku memeluk mu?" Tanya El. Rafael tersenyum kemudian merentangkan tangannya. Pertanda jika ia menyetujui permintaan El. El yang melihatnya pun tersenyum dan langsung berhambur ke pelukan Rafael.
Ia tidak tahu apa yang ia rasakan dan pikirkan saat ini. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Rafael sendiri merasa aneh dengan tingkah El. Namun ia tidak ingin bertanya.
"Aku ingin pulang" ucap El menguraikan pelukannya.
"Baik. Ayo kita pulang" ucap Rafael menggandeng tangan El menuju ke luar rumah. Kebetulan mereka makan di taman belakang yang ada rumah itu. El masuk ke dalam mobil begitupun Rafael. Ia segera melajukan mobilnya menuju ke kediaman Meinhard diikuti beberapa mobil yang dibawa bodyguardnya.
...TBC....
...Kalo ada typo maap ya. makasih udh mau baca...
...Aycha...