
Happy reading♡
Sudah satu minggu berlalu, keadaan hubungan Rafael dan El kembali membaik. Keduanya kini sering terlihat berdua. Hal itu tentu saja membuat Rafael lega. Ia sungguh sangat bersyukur karena memiliki kekasih sebaik El.
Saat ini, Rafael dan El tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota mereka.
El sudah menolak ajakan Rafael namun bukan Rafael jika ia bukan pemaksa.
Rafael menunjuk beberapa barang branded untuk El. Mulai dari tas, sepatu, hingga perhiasan.
El menggeram saat Rafael lagi lagi menunjuk toko berlian.
"Cukup Rafael!" Ucap El.
"Belum. Kamu masih belum mencapai target menghabiskan uang yang aku berikan," ucap Rafael.
"Tapi itu semua akan percuma! Aku tidak membutuhkannya," ucap El.
"Tapi aku menginginkannya. Dan kamu harus memakainya,". Lagi dan lagi Rafael menggesek kartu atm berwarna gold itu. El tidak tahu berapa nominal yang dihabiskan Rafael untuk membeli semua ini. Lebih tepatnya lagi ia tidak mau tahu.
"Raf aku lapar," ucap El.
Rafael pun mengangguk dan membawa El masuk ke salah satu restoran yang ada disana. Sedangkan belanjaan mereka sudah dibawa bodyguard ke mobil.
Rafael menarik kursi untuk duduk El. El pun duduk dan mengucapkan terimakasih.
Pelayan datang membawa buku menu. El pun melihat beberapa menu yang ada disana. Ia tertarik denga steak begitupun Rafael.
"Saya pesan dua steak sirloin dan lemon jus," ucap El. Pelayan itu pun mengangguk dan pergi.
Rafael sibuk dengan ponselnya. Sepertinya ia sedang ada pekerjaan, pikir El.
"Apa ponsel itu lebih menarik dari pada aku?" Tanya El.
"Yap, ini lebih menarik daripada apapun," ucapnya.
El pun hanya membuang wajahnya kesal.
"Apa kamu mau lihat apa yang menarik dari ponsel ini?" Tanya Rafael. El pun mengangguk.
Rafael memperlihatkan wallpaper di ponselnya. Ternyata itu adalah foto El. Foto sewaktu ia masih menjadi mahasiswa.
El terlihat sangat cantik waktu itu.
"Kamu dapat dari mana foto itu?" Tanya El.
"Aku mempunyai banyak foto mu," ucap Rafael.
"Jadi, sudah dari lama kau menjadi penguntit ku," tuduh El pada Rafael.
"Ya ya ya, terserah pada mu. Mau bilang aku penguntit atau secret admirer mu,".
Makanan pun datang sehingga El tidak sempat membalas ucapan Rafael. Ia lebih tertarik dengan steak yang ada di depannya.
El mencium aroma steak itu. Hmm,.. sangatlah wangi.
"Selamat makan," ucap El.
"Iya, selamat makan juga sayang," ucap Rafael membuat El tersipu malu.
El makan dengan lahap sampai sampai saos dari steak itu meluber ke pinggir bibirnya. Rafael yang melihat itu pun hanya terkekeh. Ia kemudian membersihkan noda itu menggunakan tangannya.
"Seperti bocah!" Ucap Rafael.
Sedangkan El hanya terdiam. Detak jantungnya tiba tiba berpacu lebih cepat.
Rafael yang melihatnya pun kembali terkekeh geli.
Saat sedang enak enaknya menikmati makanan mereka masing masing... tiba tiba ada yang menyapa Rafael.
"Hai Rafael, lama tidak bertemu," ucapnya. Rafael hanya mengangguk saja.
"Kenapa kamu tidak pergi bersama Anita? Bukannya kalian sedang dekat ya?" Tanyanya.
Yap, itu adalah mama Anita, Nadia Maxwell.
Nadia melayangkan tatapan meremehakan. Namun El menanggapinya dengan wajah datar.
"Dia tidak cocok menjadi tunanganmu!" Sungut Nadia saat ia tidak setuju dengan ucapan Rafael.
"Anda siapa?" Tanya El. Nadia menatap El dengan tatapan sombongnya.
"Anda tidak memiliki televisi? Sampai sampai anda tidak tahu siapa saya," ucapnya.
El mengambil segelas air putih kemudian meminumnya. "Saya terlalu sibuk sampai sampai saya tidak tahu siapa anda dan siaran mana yang menampilkan anda," ucap Ashel.
"Dasar wanita tidak tahu diri, sudah merebut kekasih anak saya, sekarang berlagak tidak sopan!" Ucap Nadia.
El tertawa. Ia pun menyimpan gelasnya.
"Anda sopan saya segan. Mungkin anda tahu peribahasa itu," ucap El.
"Kekasih anak anda yang mana yang saya rebut?".
"Bukankah sejak dulu, Rafael dan Anita tidak memiliki hubungan apapun?" Tanya El.
"Mereka sudah kenal sejak SMA. Mereka juga selalu bersama dari SMA sampai sekarang," ucap Nadia. Rafael sendiri hanya terdiam, ia tidak perlu berbicara untuk sekarang. Karena ia yakin, El akan mengatasi semuanya.
"Selalu bersama dari SMA hingga sekarang?" El mengulang Ucapan Nadia.
"Setahu saya, anak anda yang selalu mendekati Rafael. Dari zamannya mereka SMA hingga sekarang. Bukan begitu Raf?" Tanya El. Rafael menganggukan kepalanya.
"Rafael, kamu ini kenapa? Anita yang selalu berada di samping kamu. Sekarang kamu melupakan dia begitu saja?" Tanya Nadia emosi.
"Tolong bedakan kata 'bersama' dan kata 'selalu menempel' nyonya. Kedua kata itu sangat berbeda jauh," ucap El menusuk.
"Anak saya bukan tipekal wanita gatal seperti kamu," ucapnya sembari menunjuk El dengan telunjuknya.
"Jangan tangan anda nyonya Maxwell. Hargai dia sebagaimana anda mengahargai saya. Dia tunangan saya!" Ucap Rafael.
"Aku tidak percaya kau mencampakan anak ku seperti ini Rafael,".
"Lihat saja, aku akan memberikan kalian pelajaran. baggimana pun aku tidak terima anak ku diperlakukan seperti ini," ucap Nadia kemudian ia pun pergi dari.
Steak di piring El masih ada, namun ia sudah malah memakannya. Moodnya kembali berantakan. Dengan sikap Anita saja ia sudah sangat pusing, ditambah lagi sekarang dengan mamanya. Paket komplit!
"Jangan dengarkan dia. Aku tidak akan pernah memberikan celah kepada dia untuk melakukan apapun," ucap Rafael menggenggam tangan El.
"Aku hanya lelah saja Raf. Dengan Anita saja aku sudah sangat bosan beradu mulut, sekarang ditambah dengan kedatangan ibunya," ucap El.
"Maafkan aku, tapi sungguh aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Anita. Kau tahu sendiri kan, aku tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya," ucap Rafael sembari memegang tangan El.
"Sudahlah, lebih baik kita bahas ini lain kali saja. Aku sudah lelah," ucap El melepaskan tautan tangan mereka
Rafael pun mengangguk dan pamit sebentar untuk membayar makanan mereka. Setelah selesai, mereka pun keluar dari dalam restoran menuju ke mobil Rafael yang sudah terparkir di lobby.
Rafael membukakan pintu mobil untuk El masuk. Dengan senang hati El pun masuk diikuti Rafael.
Mereka memasang seatbeltnya kemudian melaju meninggalkan pelataran lobby hotel.
Di dalam perjalan pulang, El terdiam. Sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.
Rafael menyadarinya. Sepertinya El termakan omongan Nadia, mamanya Anita.
"Sayang," ucap Rafael menggenggam tanga El.
"Lepaskan tangan mu Rafael! Kamu sedang menyetir," ucap El. Rafael pun menurut.
"Jangan memikirkan omongan Nadia," ucap Rafael.
El hanya terdiam saja. Beberapa menit kemudian ia berbicara. "Apa aku bisa bertahan dengan mu Raf," ucap El.
tbc.
satu kata buat Nadia?
menurut ngana sekalian, mendingan El sama Jacob apa El sama Rafael?
vote komen ya, makasih. kl ad typ maapin