L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 27 : Kalung



Happy reading♡


El tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Semuanya terasa campur aduk. Ia sungguh tidak paham dengan apa yang terjadi. Apa mungkin dia cemburu?


El menggelengkan kepalanya. Tidak. Tidak mungkin ia cemburu. Ia tidak mungkin menyukai Rafael bukan?


"Kau kenapa?" Tanya Arthur.


"Tidak kenapa napa. Aku baik. Aku ingin pulang" ucap El. Arthur pun mengangguk dan melajukan mobilnya.


Di dalam mobil, pikiran El masih teringat ke kejadian beberapa menit yang lalu. Ia teringat dengan ucapan Anita. Apa mungkin mereka akan bertunangan? Tapi tadi Rafael bahkan mengejarnya dan berusaha menjelaskan. El dibuat bingung.


"Nona, mau sampai kapan kau berada dalam mobil ku?" Tanya Arthur.


"Hah?!".


"Kita sudah sampai Nona Meinhard" ucap Arthur.


"Oh, terimakasih. Apa kau mau masuk?" Tanya El.


"Tidak terimakasih, aku harus segera ke kantor" ucap Arthur.


"Baiklah" ucap El kemudian keluar dari dalam mobil. Ia pun menunggu mobil Arthur keluar dari pekarangan rumahnya kemudian dia masuk ke dalam rumah.


Di jam jam seperti ini, mommynya pasti sedang sibuk dengan tanaman miliknya di belakang rumah. Sedangkan sang daddy masih berada di kantor.


El memilih masuk ke dalam kamarnya kemudian membuka hoodienya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Karena kenyaman yang diberikan oleh kasur, perlahan El memejamkan matanya.


Drtt..drt...drt


"Hallo" ucap El.


"Hai sahabaddd" ucap orang di seberang.


"Kau masih ingat aku hah?!" Ucap El.


"Wes, santai dong mbak. Gimana kabarnya?" Tanyanya.


"Baik. Kau?".


"Sangat baik".


"Ada apa? Tumben menelepon? Bukannya sedang sibuk dengan pendidikan spesialis ya?" Tanya El.


"Oh ayolah, jangan selalu mengingatkan aku Nona Meinhard. Aku menelepon mu ingin meminjam makalah yang pernah kau kerjakan waktu itu" ucapnya.


"Lexi, makalah miliku banyak" ucap El. Ya, yang menelpon adalah sahabat El seketika ia sedang kuliah. Mereka berkawan cukup baik.


"Makalah kau yang berjudul, Penyembuhan trauma pada Anak  yang ituloh El" ucapnya.


"Oh, okay. Aku akan mencarinya. Tapi bagaimana aku mengantarnya?" Tanya El.


"Akan ada orang suruhan ku kesana untuk mengambilnya" ucap Lexi.


"Okay. Aku tutup dulu" ucap El. Ia pun bangun dari rebahannya kemudian memakai hoddienya lagi lalu beranjak menuju gudang yang berada di bagian belakang.


Jaraknya tidaklah jauh. Untuk itu El dengan cepat sampai di sana. El mendorong pintu bercat coklat itu kemudian masuk. Meskipun tempat ini dijadikan gudang, tapi di dalamnya tidaklah kotor sedikit pun. Karena beberapa pekerja selalu membersihkannya. Ia mulai mencari ke beberapa rak yang ada disana. Jujur saja ia lupa dimana ia menyimpannya.


Ia menyusuri beberapa bagian untuk mencarinya. Jika kalian bertanya mengapa El menyimpan makalah miliknya di gudang, itu karena jika ia menyimpannya di dalam kamar maka keadaan kamarnya akan sempit. Jadi untuk antisipasi agar ia leluasa juga, ia pun memutuskan menyimpannya di gudang. Memang, kamar El besar, namun karena makalah itu sudah tidak digunakan, jadi lebih baik disimpan saja di gudang.


Ia hendak keluar dari dalam gudang, namun perhatiannya teralih saat tak sengaja ia melihat kotak tua yang berada di atas lemari ini. Ia pun mencari kursi untuk menggapainya.


El mengambil kotak itu dengan hati hati. Kemudian ia meniupnya karena terlalu berdebu. Ia duduk di kursi yang tadi ia naiki kemudian membuka kotak itu. Matanya membulat melihat isi dari kotak itu.


"SAYANG, CEPAT KELUAR DARI DALAM GUDANG LALU MANDI. SEBENTAR LAGI AKAN MALAM" teriak Clau. Memang saat El akan memasuki gudang, ia sempat bertegur sapa dengan mommynya.


"IYA MOM" ucap El. Ia pun mengambil kalung itu dana memasukannya ke saku hoodie miliknya. Tak lupa ia menyimpan lagi kotak tua ke tempatnya kemudian juga kursinya. Ia tidak mau menimbulkan kecurigaan pada siapapun.


***


Setelah makan malam bersama dengan kedua orang tuanya, kini El memilih duduk di kursi yang berada di samping kolam berenang. Ia menyandarkan tubuhnya kemudian menatap langit. Banyak sekali bintang diatas sana.


Ia kembali teringat dengan kalung itu. Ia mengeluarkannya dari saku piyama miliknya. Jujur saja, ia langsung jatuh cinta dengan kalung ini saat pertama kali melihatnya. Simpel namun terkesan elegan. El mengusap bagian batu yang menempel di kalung itu. Warnanya sama seperti warna mata miliknya.


Ia jadi berpikir, kenapa orang tuanya menyimpan kalung ini di gudang? Apa kalung ini palsu?


Tidak mungkin jika kalung ini palsu. Sebab bisa dilihat dari beningnya batu yang berada di bagian tengah. El membalikan bagian batunya. Disana seperti ada sebuah ukiran. El merabanya. Kemudian sedikit mencari pencahayaan untuk membaca tulisannya.


Barbie El


Itu namanya. Jadi, kalung ini miliknya? Tapi seingatnya ia tidak pernah membeli kalung ini.


Tadi pun, ia sempat bertanya pada temannya yang memiliki toko berlian. Ia sempat memfoto kalung itu dan mengirimkannya. Temannya bilang, jika kalung itu pasti kalung asli El. Sebab aku juga baru melihat bentuknya. Sepertinya kalung itu dibuat khusus.


El dibuat bingung lagi. Jika memang khusus dibuat oleh kedua orang tuanya, lalu mengapa tidak diberikan padanya? Jika memang ini akan diberikan padanya sebagai hadiah, mengapa harus disimpan di gudang? Terlebih di dalam kotak tua.


Muncul berbagai macam pertanyaan di kepala El. Membuatnya menjadi sedikit pusing. Ia pun menyimpan kembali kalung itu ke dalam saku piyama bya kemudian masuk ke dalam rumah.


Di ruang tengah, masih ada kedua orang tuanya beserta dengan Billie.


"Apa kau sakit?" Tanya Billie saat melihat El memijat pangkal hidungnya.


"Tidak, aku hanya mengantuk" ucap El.


"Ya sudah, lebih baik kau istirahat sayang" saran Clau.


"Iya mom. El ke atas duluan. Selamat malam semuanya" ucap El.


"Malam kembali" ucap semuanya.


El menutup pintu kamarnya kemudian ia mengambil kotak bludru dari dalam lacinya untuk menyimpan kalung itu. Tak lupa ia pun menyimpan kotak itu di tempat yang aman. Takut takut nanti ketahuan mommynya.


El mulai merebahkan tubuhnya di kasur miliknya. Jujur saja ia belum mengantuk entah mengapa. Bunyi notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Ia pun melihatnya. Seketika ia dibuat terkejut dengan isi pesan itu.


"Kalau pun dia bahagia mu, aku ikhlas Raf" ucap El.


Ya, ada nomor tidak dikenal mengirimkan pesan padanya. Isinya sebuah foto berisi dua orang sejoli yang tengah berhadap hadapan. Sepertinya ini di pesta.


Anita mengenakan gaun tadi yang dipesannya begitu juga Rafael mengenakan jas yang sangat bagus. Sepertinya ucapan Anita tadi siang benar adanya.


Tanpa disadari, air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata El. Ia tiba tiba merasakan sesak di dadanya melihat foto itu.


...TBC....


...makasih udh kasih vote sama komen. kalo ada typo maapin okay....


...Aycha...