
Happy reading♡
Setelah melihat tidak ada gerakan apapun dari El. Rafael langsung menggendong El di punggungnya seperti membawa karung. El langsung saja menjerit karena terkejut.
Rafael membanting El ke kasur. Beruntung kasurnya empuk jadi El tidak merasa kesakitan. Rafael langsung menindihnya. Refleks El menahan dada Rafael.
"Raf" panggil El saat Rafael menatap dirinya.
"Menikahlah dengan ku" pinta Rafael.
"Raf" ucap El.
"Aku ingin menjadikan mu istri ku" ucap Rafael.
"Lalu bagaimana dengan Anita?" Tanya El.
"Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku hanya menyukai mu" ucap Rafael.
"Tapi Raf, kita ini orang baru. Bahkan untuk saling mengenal pun waktunya masih bisa kita hitung" ucap El.
"Mungkin itu menurut mu. Tapi tidak menurut ku. Kita sudah saling kenal sejak dulu. Hanya saja karena insiden sialan itu, kita jadi terpisah" ucap Rafael.
"Insiden? Insiden apa Raf. Bahkan aku tidak pernah mengalami hal apapun sejak dulu. Bisa jadi kau salah orang" ucap El.
"Waktu akan membuktikan semuanya. Kita lihat siapa yang benar" ucap Rafael.
"Aku akan tetap menikahi mu. Suka atau tidaknya dengan mu aku tidak peduli. Egois? Tentu saja aku akan egois untuk kali ini. Aku tidak ingin hal sama terulang lagi. Cukup satu kali. Aku tidak akan membiarkan mu menjauh lagi" ucap Rafael.
"Bagaimana jika jodoh ku bukan kamu?" Tanya El.
"Aku akan tetap memaksakan untuk tetap menikahi mu. Karena aku yakin tuhan sudah menakdirkan kita" ucap Rafael.
"Bagaimana jika aku tidak ingin menikah dengan mu?" Tanya El.
"Sudah ku bilang, mau tidak mau kau akan tetap menikah dengan ku. Aku akan mengahalalkan segala cara meskipun aku harus membunuh orang nantinya" ucap Rafael.
"Sembarangan. Dosa Rafael" omel El.
"Jadi bagaimana? Apa kau mau menikah dengan ku?" Tanya Rafael.
El terdiam sejenak. Ia menghela nafasnya.
"Aku belum siap untuk menerima lamaran mu Raf. Maafkan aku" ucap El.
"Kenapa?" Tanya Rafael. Seumur umur baru kali ini ia ditolak oleh seorang wanita. Biasanya wanita wanita itu yang menawarkan diri mereka. Namun kali ini untuk pertama kalinya seorang Rafael Levent ditolak oleh seorang wanita.
"Aku masih belum yakin Raf. Kita baru kenal beberapa bulan yang lalu. Aku tidak memiliki cukup alasan untuk menolak lamaran mu. Namun aku masih belum yakin" ucap El
"Baiklah, kau jadi kekasih ku saja" ucap Rafael.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi tapi. Kau bilang belum cukup mengenal ku bukan? Jadi lebih baik kau menjadi kekasih ku saja. Agar kau bisa mengenal ku" ucap Rafael.
El melihat manik mata milik Rafael. Mencari kebohongan disana. Namun nihil. Sama seperti awak Rafael memintanya untuk menyukainya. Sepertinya Rafael memang sungguh sungguh ingin bersamanya.
"Baiklah. Aku akan menjadi kekasih mu" ucap El.
Seketika senyum merekah di bibir Rafael. Perasaanya sungguh senang. Seperti ada beribu kupu kupu dari dalam perutnya yang menggelitik ingin keluar.
Lebay? Tentu saja Rafael akui hal itu.
"Terimakasih" ucap Rafael.
"Tapi, bolehkan untuk tidak menggunakan kata yang formal ketika berbicara dengan ku? Aku sangat tidak nyaman" pinta El.
"Tentu. Aku akan mencobanya" ucap Rafael.
"Terimakasih" ucap El. Kemudian Rafael bangun dari tidurnya. Ia mengeluarkan kotak bludru berwarna biru.
Ia membuka kotak itu. Kotak berisi cincin. Cincin beerlian bertahtakan batu sapphire berwarna biru.
"Kenapa warna biru? Dan batu sappire lagi?" Tanya El.
"Lagi?" Tanya Rafael balik.
"Bukannya aku baru memberimu ini? Kalung kemarin hanya berlian biasa dan tidak memiliki batu sapphire" ucap Rafael. Seketika El gelagapan.
"O-oh iya. Aku lupa" ucap El.
"Ada yang kau sembunyikan dari ku?" Tanya Rafael.
"Tidak ada Raf, sungguh" ucap El meyakinkan.
Rafael hanya mengangguk. Kemudian mengambil tangan El dan menyematkan cincin itu.
"Aku paling tidak suka dibohongi" ucap Rafael, El hanya mengangguk. Kemudian Rafael menarik El untuk mencium keningnya.
El sendiri langsung memeluk Rafael. Rasanya? Entahlah ia sangat bahagia saat ini. Mengetahui bahwa Rafael juga menyukainya. Iya, memang awalnya ia tidak ingin langsung menerima lamaran Rafael. Ia ingin melihat dulu kesungguhan Rafael.
"Terimakasih, terimakasih banyak sudah menerima ku" ucap Rafael.
"Berhenti berucap kata terimakasih Raf, aku bukan wanita pertama yang menjadi kekasih mu bukan?" Tanya El.
"Kata siapa? Kamu adalah wanita pertama El. Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun" ucap Rafael.
"Iya iya" ucap El yang semakin mengeratkan pelukannya. Rafael sendiri dengan senang hati memeluk gadisnya.
Matanya tak sengaja melihat jam dinding. Waktu istirahat siang untuk El.
"Sebaiknya kau tidur. Sudah waktunya kau tidur siang" perintah Rafael.
"Tapi aku tidak mengantuk" ucap El.
"Tidurlah, aku akan menemani mu" ucap Rafael.
"Baiklah" ucap El melepaskan pelukannya kemudian merebahkan tubuhnya disusul Rafael.
"Aku suka aroma tubuh mu" ucap El.
"Benarkah? Sejak dulu aku tidak pernah mengganti wangi parfum ku" ucap Rafael.
"Jangan di ganti ya" pinta El.
"As your wish baby" ucap Rafael. El hanya tersenyum kemudian mulai memejamkan matanya. Satu tanganya berada di dada Rafael. Sedangkan satu tangan Rafael digunakan bantalan untuk El dan satunya lagi digunakan untuk mengelus punggug El.
Saat mengelus punggung El. Tak sengaja Rafael meraba bagian belakang bra El. Rafael hanya menggelengkan kepalanya.
Dua puluh menit berlalu, dengkuran halus terdengar. Sepertinya El sudah terlelap. Dengan perlahan Rafael membuka kaitan bra milik El. Ini memang tidak sopan namun demi kesehatan El, Rafael akan melakukannya. Setahunya tidur tidak boleh menggunakan benda itu jadi Rafael berinisiatif untuk membukanya.
Rafael memandang wajah damai El yang sudah terlelap. Tanganya mengelus surai panjang El.
"Terimakasih telah kembali. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama" ucap Rafael pelan. Ia pun mengecup kening El cukup lama.
Perlahan, ia pun menarik dirinya untuk bangun. Dengan sangat pelan karena ia tidak ingin menggangu tidur El. Rafael menarik selimut untuk menutupi tubuh El. Kemudian mengatur suhu ruangan di kamarnya. Ia juga menutup jendela dan gordennya. Kemudian keluar dari sana.
Rafael berjalan menuruni tangga. Di ruang tengah keluarganya sedang berkumpul.
"Dimana anak manis itu cucuku? Aku ingin berbincang dengannya" tanya nenek Rafael.
"Dia sudah tidur grandma" ucap Rafael.
"Yah, padahal aku sangat ingin berbincang dengannya" ucap Nenek Rafael.
"Setelah dia bangun kau bisa berbicara dengannya".
"Kau sendiri mau kemana Raf?" Tanya papa Rafael.
"Ada urusan sedikit di kantor dan aku harus kesana" ucap Rafael.
"Oh ya ma, nanti kalo El bangun tolong bilang aku pergi ke kantor sebentar" ucap Rafael.
"Nanti mama sampaikan Raf" ucap Aura.
"Dan ya, tidak boleh ada yang masuk ke kamar ku sebelum El sendiri yang keluar. Aku pamit dulu" ucap Rafael yang diangguki semua anggota keluarga.
tbc.