
Happy reading♡
El berada dalam perjalanan pulang. Beruntung ia sempat mengambil ponselnya dan menghubungi Arthur untuk menjemputnya di apartement Rafael.
Sepanjang perjalanan, El diam. Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Arthur sudah mendesaknya untuk berbicara namun El tetap diam.
"Kau pulang ke rumah ku saja dulu, tidak mungkin kau pulang dengan keadaan seperti ini ke rumah orang tua mu" ucap Arthur.
"Mereka masih di Indonesia bukan?" Tanya El.
"Mereka pulang hari ini" ucap Arthur.
"Kenapa secepat itu? Bukannya mereka satu bulan berada di Indonesia?" Tanya El.
"Kau lupa? Dua minggu lagi ulang tahun perusahaan. Sudah tentu kakek meminta mereka pulang cepat" ucap Arthur.
"Perusahaan?" Tanya El.
"Kau" geram Arthur.
"Meinhard Company El. Untuk itu kakek meminta semua anggota keluarga hadir" jelas Arthur.
"Jadi nanti malam aku akan bertemu dengan semua anggota keluarga?" Tanya El.
"Ya, tentu saja" ucap Arthur.
"Oh ya, kau memiliki hubungan dengan orang yang bernama Rafael Rafael itu?" Tanya Arthur.
"Tidak, dia hanya pemilik rumah sakit tempat aku bekerja" ucap El.
"Apa kau mencintainya?" Tanya Arthur.
"Tidak".
"Baiklah" ucap Arthur. Ia tidak lagi bertanya karena mobil yang ditumpangi keduanya sudah sampai di depan rumah Arthur.
"Kau langsung istirahat. Kamar mu masih sama" ucap Arthur. El hanya mengangguk dan berjalan menuju ke kamarnya.
El membuka pintu bercat putih. Ia menatap sejenak kamar bernuasa putih biru itu. El tersenyum. Kamar ini masih sama. Letak barang barangnya pun masih sama seperti terakhir ia menempati kamar ini.
El masuk ke dalam kamar itu kemudian menutup pintunya. Ia merebahkan dirinya di kasur berwarna biru. Tanpa diminta, air matanya meluruh begitu saja. Ia teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Entah mengapa sebagian hatinya merasa sakit mengatakan hal itu pada Rafael.
El membalikan badannya menjadi miring. Ia memeluk guling yang berada di sebelahnya. Kamar ini tidak kedap suara. Tangisannya tidak boleh di dengar oleh Arthur.
Semakin El mengingat kelakuan Rafael, semakin ia menangis. Entah mengapa dadanya juga tiba tiba merasa sakit.
Ia tidak tahu apa yang dilakukannya adalah hal benar atau tidak. Yang jelas ia sudah melukai Rafael dengan perkataannya.
El merasa lelah. Sejak pagi ia belum makan sedikit pun. Ditambah kejadian tadi membuat kepalanya semakin pusing. Tanpa sadar, ia memejamkan matanya. Karena terlalu lama menangis dan keadaan tubuh yang lelah, membuatnya tertidur cepat.
Miris memang, disaat El baru dekat dengan seorang pria, semuanya malah terjadi seperti ini. El yang baru mengenal arti cinta dengan lawan jenis harus disandingkan dengan Rafael yang terjerat cinta di masa lalunya.
Jujur saja, El memang sudah menyukai Rafael. Namun Rafael selalu saja menyebut suatu hal tentang wanita di masa lalunya. Katakanlah El cemburu.
Mereka berdua bersalah disini. Rafael bersalah karena masih terbelenggu orang di masa lalu dan juga ia dengan seenaknya menyentuh El. Sedangkan El, dia bersalah karena ia sudah menyukai Rafael tanpa memikirkan resikonya.
***
El menatap mansion besar yang berada di depannya. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Sebenarnya El sangat malas untuk bepergian. Namun karena tadi Arthur membangunkannya dan menyuruhnya bersiap, alhasil saat ini ia sudah berada disini.
Arthur menarik tangan El untuk masuk ke dalam mansion itu. Ini adalah mansion besar milik opa Hans, kakek dari El.
Arthur langsung membawanya menuju ke ruang keluarga. Seperti dugaan El, disana sudah berkumpul semua anggota keluarga Meinhard.
"Selamat malam semuanya" sapa El.
"Malam sayangnya oma, sini sayang, oma kangen banget sama kamu" ucap Liana, neneknya El. El tersenyum kemudian berjalan menghampiri omanya. Ia duduk diantara opa dan oma.
"Gimana kabar kamu?" Tanya oma Liana.
"Baik oma. Oma sama opa apa kabar?" Tanya El.
"Kenapa kau baru mengunjungi oma? Apa sesibuk itu ya menjadi dokter?" Tanya Liana.
"Kadang oma, maafkan El yang jarang berkunjung kesini" ucap El.
"Tidak apa apa, kami mengerti kesibukan mu" ucap Hans.
"Wajah mu sangat pucat sayang, apa kau sakit?" Tanya Liana.
"Hanya kelelahan oma" jawab El.
"Maafkan opa yang membebankan mu dengan pekerjaan di kantor" ucap Hans tiba tiba.
"Tidak apa apa opa, aku senang mengerjakannya" ucap El.
"Ini, oma buat pudding kesukaan kamu loh" ucap Liana mengambil satu mangkuk berisi pudding yang dia buat khusus untuk cucu perempuan kesayangannya.
Oh ya, El adalah cucu perempuan satu satunya keluarga Meinhard. Hans dan Liana Meinhard memiliki tiga orang putra. Calvien, Cristian, dan Clifford. Mereka bertiga sama sama pebisnis sukses. Calvien Meinhard adalah anak pertama, ia menikah dengan Clarissa, mereka dikaruniai dua orang anak yaitu, Billie Meinhard dan Evan Meinhard. Yang kedua, Cristian Meinhard menikah dengan Soraya, mereka berdua pun dikaruniai dua orang anak yaitu, Arthur Meinhard dan Liam Meinhard. Dan si bungsu Clifford menikah dengan Claudia dan memiliki El Meinhard.
Back to topic
El dengan senang hati memakan pudding buatan oma nya dengan lahap. Ia sampai lupa kapan terakhir kali ia memakan pudding seenak ini.
"Kami tidak akan meminta pudding itu" ucap Billie dan Arthur bersamaan.
"Memangnya kenapa?" Tanya El memasang wajah polos.
"Kakak kau makan sangat cepat, untuk itu mereka berkata seperti itu" ucap Evan.
"Benarkah? Aku tidak merasa seperti itu Van" ucap El cuek, ia kembali memakan pudding itu. Setelah selesai dengan pudding, Liana memberikan El dessert coklat yang ia buat juga. Ia ingat betul jika dulu saat El berusia sekitar sepuluh tahun, ia terus terusan minta dibuatkan dessert coklat itu. Dan yang membuatnya haruslah Liana, oma nya.
"Beruntung aku belum makan, jadi aku akan menghabiskan dessert dan makanan lain yang dibuat oma" ucap El sumringah. Tindakannya tentu saja membuat semua keluarga Meinhard tertawa.
"Opa mau?" Tanya El.
"Suapi opa" pinta Hans. El mengambil sesendok dessert coklat miliknya dan menyuapi Hans.
"Terimakasih" ucap Hans.
"Sama sama. Satu sendok saja ya opa, jangan minta lagi. Makan yang lain saja" ucap El membuat Hans terkekeh. Ia mengusap pelan rambut El.
"Princessnya paman sudah besar ternyata" ucap Clavien.
"Tentu paman, aku tidak mungkin tetap kecil. Yang ada aku akan diejek oleh Billie lagi karena pendek" ucap El.
"Iya, dulu kau sangatlah pendek El" ucap Billie
"Kan" ucap El, baru saja ia bilang, Billie sudah mengejeknya lagi.
"Kau sudah besar, apa kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Cristian.
"Kemarin ada yang bilang jika dia kekasih El, namun beberapa hari kemudian El menjelaskan jika mereka bukan pasangan kekasih. Aku sampai bingung" jawab Cliff tiba tiba.
"Siapa?" Tanya Hans.
"Cucu teman dekat papa, Rafael Levent" ucap Clifford.
Uhuk..uhuk..uhuk
El tersedak dessert coklatnya saat sang daddy menyebutkan nama laki laki yang beberapa jam lalu ia tangisi. Semua keluarga yang berkumpul disana sontak terkejut mendengar penuturan Clifford. El yakin, sesi tanya jawab akan segera dimulai.
...TBC....
...Jadi menurut kalian gimana? Yang salah siapa?...
...Maapin kalo ada typo....
...Aycha...