L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 51 : Pacar



Happy reading♡


Rafael berjalan memasuki kantor miliknya. Beberapa pekerja menundukan kepalanya saat Rafael melewati mereka.


Dibelakang Rafael ada Griss yang mengikutinya. Rafael membuka kancing depan jasnya kemudian memasuki lift.


Pintu lift terbuka. Rafael langsung menuju ke ruangan yang sudah ditunjukan oleh Griss.


Di dalam ruangan sudah ada teman temannya dan juga Anita?


Setahu Rafael ia tidak memiliki kepentingan dengan Anita. Bagaimana bisa wanita itu ada diruangan ini?


"Lama banget sih lo" ucap Antonio.


"Biasa" ucap Rafael.


"El ga aneh aneh kan di rumah lo?" Tanya Billie.


"Jinak" ucap Rafael.


"Wait, El? Dirumah Rafael? Ko bisa?" Tanya Anita.


"Bisalah, orang dia bininya" ucap Alexander.


"Becandanya sangat tidak lucu tuan Sapphire" ucap Anita tertawa.


"Mulai saja. Aku tidak bisa lama lama" ucap Rafael.


Semuanya pun mengangguk dan mulai membuka meeting yang mereka adakan. Fyi, mereka berlima memang menjalin bisnis kantor satu sama lain. Tujuannya sama, yaitu untuk sukses bersama sama.


Meeting berjalan lancar. Sekitar dua jam lamanya akhirnya meeting pun selesai. Rafael langsung berpamitan namun tertahan karena Anita memegang tangannya. Refleks Rafael menepis tangan Anita.


"Apa keperluan mu?" Tanya Rafael.


"Aku hanya ingin bertamu ke rumah mu. Sudah lama aku tidak bertemu dengan tante Aura" ucap Anita.


"Datang saja sendiri" ucap Rafael.


"Kenapa harus sendiri? Bukannya kau akan pulang ke rumah mu juga? Jadi lebih baik aku menumpang saja" ucap Anita.


"Kau memiliki kendaraan bukan?" Tanya Rafael


"Iya tapi aku ingin satu mobil dengan mu" ucap Anita.


"Tidak bisa" ucap Rafael.


"Ayo lah Rafael" pinta Anita.


"Bersama kami saja, toh kami juga akan berkunjung ke rumah Rafael" ucap Janshen.


*aku lupa lagi nama temen Rafael. Jd aku kasih nama yansen aja. Maapin😭🤌


"Aku maunya sama Rafael" kekeuh Anita. Rafael hanya diam kemudian berjalan keluar disusul oleh Anita.


Di lobby, Rafael langsung memasuki mobil miliknya. Dan dengan terpaksa, Anita pun masuk ke dalam mobilnya.


Mobil kelimanya langsung berjalan meninggalkan lobby kantor.


Empat puluh menit berlalu, mobil yang mereka tumpangi sampai di depan pintu utama mansion Levent.


Rafael keluar dari dalam mobil disusul oleh Anita. Begitu juga dengan yang lainnya sembari memberikan kunci mobilnya masing masing pada bodyguard Rafael.


"Wah, ada tamu rupanya" ucap Aura saat melihat kedatangan Rafael dan teman temannya.


"Ma, El?" Tanya Rafael.


"Dia belum bangun. Tadinya mau dibangunin soapnya belum makan obat, tapi kasian nyenyak banget tidurnya" ucao Aura.


"Raf ke atas dulu" ucap Rafael.


"Aku ikut" ucap Anita.


"Tunggu saja disini Anita" perintah Antonio. Anita langsung diam dan tak berbicara lagi.


***


Rafael perlahan membuka pintu kamarnya. Terlihat El yang masih tertidur di kamarnya. Posisinya masih sama. Sepertinya memang tidurnya sangat nyenyak sampai sampai posisinya tidak berubah.


Rafael naik ke ranjang. Ia menyingkap selimut El sedikit.


"El, bangun" ucap Rafael sembari mengusap pelan pipi El. Namun tidak ada pergerakan dari El.


"Bangunlah" ucap Rafael.


"Aaa, masih ngantuk" ucap El manja.


Rafael terkekeh kemudian menyingkap selimutnya cukup lebar. Ia menyelipkan tangannya pada bawah tubuh El untuk menggendongnya.


"Ish, masih ngantuk" ucap El.


"Aku tahu, tapi aku lebih tahu jika cacing di perut mu itu sudah sangat kelaparan" ucap Rafael. El hanya menggerutu kesal kemudian mengalungkan tangannya pada leher Rafael agar tidak jatuh.


Rafael dengan ringannya berjalan keluar menuju ke meja makan.


"Astaga Rafael, itu kasian loh El nya. Ko dipaksa dibangunin sih" omel Aura.


"Dia harus makan ma. Lagian obatnya juga  belum dimakan. Dia harus cepat sembuh" ucap Rafael.


"Ya tapi ga maksa juga kali Raf" ucap Aura.


"Anak tante ini memang pemaksa" ucap El membuka matanya setengah.


"Persis papa nya" ucap Aura. Rafael menghiraukan ucapan Aura kemudian berjalan menuju ke meja makan. Aksi keduanya tidak luput dari pandangan Anita.


Anita menatap penuh benci pada El. Bisa bisanya dia yang baru kenal dengan Rafael bisa sedekat itu. Padahal Anita lebih dulu kenal dan dekat dengan Rafael.


"Waktunya makan sayang" ucap Rafael.


"Suapin" ucap El.


"Manja ya" ucap Rafael.


"Toh sama pacar sendiri" ucap El. Rafael dibuat salah tingkah dengan ucapan El.


"Gadis nakal! Sudah berani ya?" Ucap Rafael.


"Harus. Kan mau aku buat kamu bucin kayak anak anak di sosial media" ucap El.


"Sejak kapan kamu main sosial media?" Tanya Rafael. Pasalnya El sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah membuka akun sosial medianya.


"Baru beberapa jam yang lalu" ucap El.


"Apa saja yang kau mainkan?" Tanya Rafael.


"Hanya melihat berita yang sedang tranding dan bermain game sebentar" ucap El. Rafael hanya mengangguk kemudian kembali menyuapi El.


"Cukup, aku kenyang" ucap El.


"Kamu baru makan beberapa suap" ucap Rafael.


"Tapi udah kenyang" ucap El.


"Ya sudah, minum obatnya" ucap Rafael kemudian memberikan beberapa butir obat.


"Ish, gak usahlah aku minum obat. Toh udah sehat juga" ucap El.


"Bisa bisanya seorang dokter malas minum obat" sindir Rafael.


"Dokter juga manusia" ucap El.


"Makan sendiri atau aku paksa?" Tanya Rafael.


"Enggak mau" ucap El.


Rafael pun memakan obat itu kemudian meminum sedikit air. Beruntung obatnya mudah larut jika terkena air. Rafael pun berdiri dan menarik kepala El. Ia pun menempelkan bibirnya pada bibir El.


El? Tentu saja dia berontak. Namun dengan kelihaian Rafael, El berhasil meminum obat itu. Dirasa El sudah menelan semua obatnya, Rafael pun melepaskan ciumannya.


El terbatuk batuk kemudian meminum air. Wajahnya memerah. Antara malu dan menahan sakitnya tersedak obat.


"Bagaimana? Obatnya tidak jadi pahit bukan?" Tanya Rafael dengan smirknya.


"Modus" ucap El kemudian beranjak dari sana. Rafael pun mengikutinya dari belakang. Berjalan perlahan karena masih belum bisa berjalan normal.


"Sama pacar sendiri" ucap Rafael menirukan ucapan El tadi.


"Ya ya ya terserah anda tuan Levent" ucap El.


"Jadi kau marah nyonya Levent?" Tanya Rafael. El menghentikan langkahnya kemudian berbalik arah melihat ke arah Rafael.


"Apa? Nyonya Levent?" Tanya El.


"Ya, apa ada yang salah?" Tanya Rafael.


"Salah. Sangat salah" ucap El.


"Letak kesalahanya dimana?" Tanya Rafael.


"Aku masih berstatus sebagai kekasih mu, buka istri mu" ucap El.


"Secepatnya. Kau akan segera dipanggil nyonya Levent" ucap Rafael.


"Jangan terlalu yakin tuan, aku belum tentu mau menerima mu" ucap El.


"Ucapan ku masih sama seperti pagi tadi" ucap Rafael.


Ia pun menarik El kemudian mengecup keningnya cukup lama.


"You are mine. Forever" bisik Rafael.


tbc.


kalo ada typo ya maap