L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 62 : Luka



Happy reading♡


Dalam perjalanan menuju ke restoran yang mereka sepakati Jacob terus berbicara banyak hal random. Tak jarang dari cerita yang jacob ceritakan El selalu tertawa. Sampai tak sadar jika mobil yang mereka tumpangi sampai di restoran.


El keluar dari dalam mobil diikuti oleh Jacob. Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam restoran.


Keadaan restoran cukup ramai. Jacob membawa El ke meja yang sudah ia pesan sebelumnya.


Jacob menarik kursi untuk El duduk baru kemudian ia duduk di tempatnya.


Jacob memanggil waiter untuk memesan makanan.


"Kau mau makan apa?" Tanya Jacob.


"Steak dan kentang goreng saja" ucap El.


"Minumnya?" Tanya Jacob.


"Thai greentea ice" ucapnya.


"Saya pesan dua steak dan kentang goreng, thai greentea ice dan special ice coffenya sati" ucap Jacob. Pelayan itu pun mengulangi pesanan Jacob.


"Baik, ditunggu sebentar ya" ucapnya kemudian permisi dari sana.


El mengecek ponselnya. Siapa tahu ada email penting.


"Please, kita lagi makan loh. Simpan ponsel mu" ucap Jacob.


"Ya ya ya. Aku akan menyimpannya" ucap El kemudian meletakan ponselnya.


"Sekarang, cepat ceritakan hubungan mu dengan Rafael Rafael itu" pinta Jacob.


"Kau sangat ingin tahu ternyata" ucap El.


"Jelas. Cepat katakan" ucap Jacob.


"Baiklah" ucap El. Ia pun mulai menceritakan awal mula hubungannya dengan Rafael pada Jacob. Jacob mendengarkannya dengan saksama.


"Jadi, kau dipaksa untuk menjadi kekasih pria itu?" Tanya Jacob.


"Awalnya, namun lambat laun aku mulai memiliki perasaan yang sama padanya" ucap El.


Saat Jacob akan bertanya, makanan yang mereka pesan pun datang. Jacob meminta El untuk menghentikan dulu ceritanya karena ia harus makan dulu.


Mereka pun makan dengan tenang. Sesekali mereka berbicara setelah selesai mengunyah.


Dari arah sebrang ada Rafael beserta teman temannya yang juga sedang makan. Rafael belum menyadarinya, namun Anita sudah melihatnya sejak tadi.


Saat Jacob akan membersihkan noda saus di bibir El. Tiba tiba Anita berbicara.


"Lihatlah kelakuan pacar mu Raf" ucap Anita menunjuk ke arah dimana El dan Jacob berada.


Rafael melihat adegan itu. Ia langsung membanting sendok yang ada di tangannya kemudian berjalan menuju ke meja dimana ada El dan Jacob.


Rafael tiba tiba menarik Jacob dan langsung meninju rahangnya. El menutup mulutnya terkejut melihat aksi itu.


Ia pun berdiri dan berusaha melepaskan tangan Rafael dari kerah kemeja Jacob.


"Lepaskan dia Rafael!" Ucap El. Ia terus terusan berusaha melepaskan namun gagal. Cengkraman Rafael terlalu kuat.


Tanpa sadar, El terkena pukul Rafael hingga ia terjatuh. Rafael yang melihat itu pun langsung melepaskan Jacob dan beralih pada El.


Janshen dan Alex langsung menghampiri mereka beserta Anita. Alex mengecek keadaan Jacob. Sedangkan Janshen melihat El begitu juga Anita.


"Raf lebih baik kita pergi saja dari sini. Toh dia tadi berangkat bersama Jacob bukan bersama mu" ucap Anita.


"Dasar manusia gak punya perasaan lo" umpat Janshen pada Anita. Sedangkan Rafael sudah panik. Bibir El berdarah dan sedikit sobek.


Ia pun hendak mengangkat El namun El menolaknya.


"Aku bisa sendiri" ucap El lemah.


"Tidak, kau harus pergi bersama ku" ucap Rafael.


"Aku tidak mau" ucap El ia pun hendak berdiri untuk melihat keadaan Jacob namun Rafael segera memangkunya dan membawanya pergi dari sana.


El hanya mampu terdiam. Ia malas berbicara dengan Rafael.


"Loh Raf, aku yang harusnya duduk di depan bukan dia" ucap Anita namun Rafael menghiraukannya. Anita hendak membuka pintu mobil namun ditahan Janshen.


"Lo tahu diri bisa gak?" Tanya Janshen.


"El pacarnya dan lo cuma orang lain" ucap Janshen.


El pun membuka kaca mobil.


"Bagaimana keadaan Jacob?" Tanya El pada Janshen.


"Dia baik baik saja" ucap Janshen. El hanya menganggukan kepalanya kemudian kembali menutup kaca mobil. Rafael langsung melajukan mobil miliknya menuju ke mansion pribadinya. Tak lupa di perjalanan ia juga menghubungi dokter pribadinya.


Rafael memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sangat khawatir dengan keadaan El. Sungguh tadi ia tidak bermaksud untuk menonjok El.


"Antarkan aku ke mansion ku" ucap El pelan karena bibirnya terasa sakit.


"Tidak, kau ikut ke mansion ku. Kau harus diperiksa dulu oleh Rian" ucap Rafael.


"Aku tidak mau, tolong hargai ucapan ku" ucap El.


"Aku tidak akan menghargainya jika itu menyangkut kesehatan mu" ucap Rafael.


"Aku begini karena kamu" ucap El. Rafael pun diam. Memang benar ini semua karena ulahnya. Jadi ia akan membawa El ke mansionnya untuk di obati.


Karena Rafael membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, akhirnya ia bisa sampai cepat di mansionnya.


Ia turun dari dalam mobilnya kemudian hendak menggendong El untuk masuk ke dalam mansionnya. Namun lagi lagi El menolaknya. Ia memilih berjalan sendiri masuk ke dalam mansion itu.


"El ayo lah, biarkan aku menggendong mu" pinta Rafael yang mengikuti El dari belakang.


"Tidak perlu" ucap El.


"Kau sakit sayang, ayo lah" ucap Rafael.


"Yang sakit bibir ku bukan kaki ku" ucap El. Ia pun masuk ke dalam mansion dan duduk di ruang tamu.


"Ayo ke kamar ku, kau akan diperiksa disana oleh Rian" ajak Rafael.


"Tidak perlu, aku tamu bukan?" Ucap El tanpa mau melihat ke arah Rafael.


"Sayang, jangan begitu. Aku tahu aku bersalah, tapi aku mohon jangan bantah aku kali ini" ucap Rafael memohon.


"Kapan aku membantah kemauan mu?" Ucap El.


"Bahkan aku sudah lelah dengan kemauan mu" ucap El.


"Sayang, please. Maafkan aku" ucap Rafael bersimpuh di hadapan El.


"Maaf untuk yang mana?" Tanya El. Rafael hanya tertunduk. Sepertinya kesalahannya banyak sekali pada El.


"Em sorry, siapa yang harus aku periksa?" Tanya Rian.


"Dia, tolong periksa dia" ucap Rafael.


Rian pun mengangguk dan mulai memeriksa El.


"Tidak ada luka serius. Hanya saja sepertinya dia terguncang. Memangnya dia kenapa?" Tanya Rian.


"Tidak apa apa. Kau bisa pergi sekarang" ucap Rafael mengusir Rian.


Sedari tadi El hanya menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Rafael yang melihatnya pun langsung memeluknya erat. Namun untuk pertama kalinya El tidak membalas pelukannya. Rafael paham, El mungkin masih marah padanya.


Rafael mengelus rambut El. Ia juga mengecup lama kepala El. Sungguh ia sangat menyayangi El lebih dari nyawanya.


"Aku bersalah. Sangat bersalah. Tapi aku mohon, jangan pernah bilang untuk mengakhiri hubungan kita. Aku tidak ingin. Sangat sangat tidak ingin berpisah dengan mu" ucap Rafael.


Ia pun mengangkat wajah El "beri tahu aku jika cara ku menyayangi mu itu salah, tuntun aku agar aku tidak menyakitimu lagi" ucap Rafael.


tbc.


kalo ada typo maapin