
Happy reading♡
Hari ini adalah hari yang paling El sukai. Dimana ia tidak harus mandi pagi dan terburu buru bersiap untuk ke rumah sakit. Sebab hari ini adalah hari liburnya. Mommynya sudah memanggilnya untuk turun sarapan, namun ia masih betah rebahan di kasur. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi.
Semalam, Rafael mengantarnya pulang sekitar jam sepuluh malam. Rafael juga sempat berbincang dengan daddy dan mommynya. Sedangkan El, ia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Pengaruh nasi goreng membuatnya menjadi mengantuk sejak dalam mobil.
Sebenarnya, El tidak ingin mandi pagi ini. Namun mengingat semalam ia langsung tidur dan tidak sempat membersihkan diri, alhasil pagi ini tubuhnya sangatlah tidak nyaman. Dengan berat hati, El bangun dari tidurnya kemudian beranjak ke kamar mandi.
Ritual mandi El tidaklah lama. Ia hanya menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit untuk mandi. Selesai mandi ia pun memasuki walk in closet nya untuk mencari baju yang akan ia kenakan. Ia mengambil legging dan tanktop kemudian memakainya. Setelah selesai ia pun mengeringkan rambutnya yang panjang. Bunyi dering ponsel membuatnya harus menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut.
"Hallo" ucap El.
"..."
"What?! Serius? Demi apa" ucap El terkejut.
"..."
"Okay, tunggu aku" ucap El. Ia pun dengan segera mengeringkan rambutnya dan mengambil hoodie. Ia dengan cepat turun dari kamarnya menuju ke pintu utama.
Dengan terburu buru El membuka pintu itu. Nampaklah dua orang wanita yang sedang bersandar di mobil. El tersenyum kemudian menghampiri keduanya.
"Jahat kalian" semprot El saat ia sudah berada dekat dengan kedua wanita tadi.
"Ya ya ya nona Meinhard, katakanlah kami seperti itu. Sekarang cepat masuk ke mobil" ucap Reva.
"Ya, kau harus ikut" ucap Dea.
Fyi, kedua wanita itu adalah sahabat El sejak SMP. Yang satu bernama Revanda Maheswari dan satunya lagi bernama Deandra Hardjojo. Reva berasal dari Jepang sebenarnya, namun sejak kecil ia sudah tinggal di Boston sama dengan El. Ia bukanlah seorang dokter seperti El, namun ia seorang model. Sedangkan Deandra Hardjojo, dia berasal dari Indonesia. Sejak SMP ia sudah memutuskan untuk ikut tinggal bersama dengan tantenya. Dan baru bisa tinggal di apartement sendiri saat ia sudah kuliah. Ia seorang desainer.
"Kalian akan mengajak ku kemana?" Tanya El.
"Berhenti bertanya, apa kau tidak ingin memeluk kami? Ya walaupun kami hanya pergi beberapa saat saja" ucap Reva mendapatkan pukulan dari Dea.
"Beberapa saat apanya, kalian pergi hampir satu tahun" ucap El kemudian memeluk kedua sahabatnya. Mereka sudah hampir satu tahun lebih tidak bertemu karena kesibukan masing masing. Dea harus menetap di NYC karena pendidikan desainer nya sedangkan Reva karena dia seorang model, maka dalam satu tahun ini ia tidak tentu berada di negara mana.
"Kau harus ikut" ucap Reva.
"Iya, tapi kemana?" Tanya El.
"Ke butik milik Dea lah, kemana lagi" ucap Reva.
"Dimana?" Tanya El.
"Di pusat kota El, maafkan aku tidak memberitahu mu. Aku benar benar sibuk dengan urusan di butik baru ku" ucap Dea.
"Tau, aku juga baru dikasih tahu kemarin. Makanya tadi pagi aku langsung terbang menuju Boston" ucap Reva kesal.
"Lebih baik kita bicara di dalam mobil, sembari menuju ke butik Dea" ucap El. Mereka berdua pun mengangguk dan masuk ke dalam mobil. El berada di kursi belakang. Sedangkan kedua sahabatnya berada di kursi depan.
"Jadi?" Ucap El membuka topik pembicaraan.
"Ya, aku sebenarnya masih ada beberapa pekerjaan di Indonesia namun karena Dea menelepon akan menunjukan butiknya jadi aku langsung memesan tiket pulang" ucap Reva.
"Jadi peresmian butiknya udah?" Tanya El.
"Iya El, sudah satu bulan yang lalu. Maaf" ucap Dea.
"Sepertinya kita sudah tidak dianggap lagi sahabat El" ucap Reva.
"Mana ada" ucap Dea.
"Aku bahkan mengira jika kalian sudah melupakan aku. Terkahir aku mengirimkan pesan pada kalian, tak ada satupun balasan dari kalian" ucap El.
Reva dan Dea merasa bersalah akan hal itu. Mereka tahu, mereka sudah mengabaikan pesan dari sahabatnya. Namun mau bagaimana lagi.
"Untuk masalah itu, aku minta maaf El aku benar benar sibuk" ucap Dea.
"Sudahlah, semua sudah berlalu" ucap El. Ia memilih memainkan ponselnya. Jujur ia kecewa. Tapi sudahlah.
Mobil yang ditumpangi ketiganya berhenti di parkiran. Mereka keluar dari sana. Disini mungkin hanya El yang berpenampilan biasa saja. Lihat saja, Dea mengenakan dress begitu juga dengan Reva. Mereka berdua mengenakan make up sedangkan El, ia hanya mengenalan hoodie dan juga tanpa make up.
El berjalan bersama dengan kedua temannya memasuki sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang ada disana. Mereka menuju ke lantai tiga. Tempat dimana butik milik Dea.
"Woah, gede banget butiknya De" ucap Reva.
"Selamat de" ucap El. Dea hanya mengangguk dan membawa kedua temannya masuk ke dalam. Sebelum mereka duduk, Dea mengajak mereka berkeliling untuk melihat lihat butik miliknya.
Saat merasa sudah puas. Ketiganya pun memilih duduk di ruang tunggu yang sudah disediakan. El menegak minuman yang sudah disiapkan oleh Dea begitu juga dengan Reva.
"Oh ya El, sekarang kau masih melanjutkan studi mu atau sudah bekerja?" Tanya Reva.
"Aku sudah selesai dengan studi ku, sekarang aku sudah bekerja" ucap El.
"Oh ya, dimana?" Tanya Dea.
"Levent hospital" ucap El.
"Wow, demi apa itu rumah sakit terkenal El" ucap Reva.
"Bagaimana kau bisa bekerja disana El, ceritakanlah" pinta Dea.
"Ya benar, cepat ceritakan" ucap Reva.
"Awalnya, aku juga tidak mengira akan secepat itu bekerja. Aku menerima surat waktu itu yang aku kira surat dari kantor Grandpa. Setelah aku membukanya, ternyata surat itu berasal dari Levent Hospital. Aku juga terkejut dengan isinya. Namun menurutku, ini kesempatan untuk karir ku. Jadi aku menerimanya" ucap El.
"Surat? Surat apa?" Tanya Dea.
"Kontrak pekerjaan" ucap El, keduanya hanya mengangguk.
Mereka bertiga terus berbincang. Menceritakan pengalaman masing masing. Sampai perhatian mereka bertiga teralih karena tingkah seorang wanita.
"Ayolah, aku harus memilih gaun pertunangan itu Raf" ucap wanita itu.
"Cepatlah" ucap Laki laki yang bersamanya.
"Raf, ini bagus?" Tanyanya.
El seketika mengalihkan atensinya pada dua orang yang berada di sebelahnya. Ia terkejut tentu saja namun tetap dalam mode kalem.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dea menghampiri wanita itu.
"Aku perlu gaun untuk tunangan. Aku mau yang sangat mewah" ucapnya.
"Jangan berlebihan Anita" peringat laki laki itu.
"Guys, aku kerja dulu. Kalian tunggu ya" ucap Dea pada kedua sahabatnya. Tentu saja Anita dan Rafael, ya pria itu adalah Rafael, mengalihkan pandangan mereka pada orang yang dimaksud Dea. Rafael terkejut bukan main sedangkan Anita tersenyum penuh kemenangan.
...TBC....
...Hai, makasih ya udh mau bertahan di cerita aku. Aku sangat tahu masih banyak kekurangan di cerita ini. Oh ya, terimakasih banyak untuk masukan kalian yg sudah mengkritik aku. Aku sangat senang sekali. Itu menjadi bahan untuk aku menjadi lebih baik dalam menulis....
...Mungkin kalian agak bingung ya dengan sikap Rafael. Iya dia memang sangat tegas. Namun itu tidak akan terlihat di depan keluarga, sahabat, dan juga El....
...Spll nya segitu dulu. Soalnya cerita ini kayaknya masih panjang juga. Aku harap kalian paham ya. Soalnya di beberapa chapter ke depan, bakalan mulai terbongkar satu per satu rahasia di masa lalu....
...Makasih atas masukan dan supportnya. Aku kira kemarin aku ngilang gada up, kalian juga bakalan ikutan ilang, tapi ternyata enggak. Masih ada beberapa yang stay. Makasih banget buat itu. Tanpa kalian, author ini gak bakalan jadi apa apa. Gak bakalan tahu letak kesalahnnya juga dalam penulisan. Makasih banget....
...Kepanjangan banget ya aku ngomongnya? Ya maapin)...
...Aycha...