L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 37 : Accident



Happy reading♡


Setelah melihat punggung pria itu menghilang. El menudukan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Semuanya terasa seperti kosong.


Reva hang melihat perubahan pada El seketika menyenggol bahu Dea. Dea yang tak paham akan maksud Reva hanya melihatnya. Reva berdecak kesal. Ia menunjuk El menggunakan matanya.


"El, are you okay?" Tanya Dea.


El tersenyum kemudian mengangguk. Dengan malas ia memakan makanan yang sudah dipesan sahabatnya. Dea merasa aneh dengan gelagat El. Ia memutuskan untuk melihat ke sekelilingnya siapa tahu ia menemukan jawabannya.


Sudah seisi restoran ia lihat dari tempat duduknya namun tidak ada yang salah. Sebenarnya apa yang terjadi?


"El, kau ada masalah?" Tanya Dea. Memang diantara mereka bertiga, Dea lah yang selalu mengkhawatirkan keadaan para sahabatnya.


"Aku bingung" ucap El.


"Bingung kenapa? Kalau kau mau kau tinggal cerita saja" ucap Dea.


"Ya, itu benar" ucap Reva.


"Kalian tahu kan, aku belum pernah dekat dengan pria manapun" ucap El.


"Iya, lalu" ucap keduanya.


"Apa aku salah mengatakan jika dia pria baj*ngan?" Tanya El.


Reva yang tidak mengerti arah pembicaraan El pun hanya diam. Takut salah bicara.


"Apa iya dia seorang baj*ngan?" Tanya Dea.


"Apa pria yang tiba tiba mencium mu bukan seorang baj*ngan?" Tanya El menaikan pandangannya.


"Kau sudah?" Tanya Dea, El hanya mengangguk pasrah.


"Hanya di bibir saja. Tapi tetap saja aku tidak terima De" ucap El.


"Wajar saja kau marah dan menyebut pria itu seperti itu, kau tidak salah El. Kau yang paling polos diantara kita bertiga" ucap Dea.


"Benar. Kau baru ciuman saat sudah berumur 22 tahun. Sedangkan aku sudah berciuman sekitar umur 14 tahun" jelas Reva membuat El menganga.


"Dan aku berciuman sekitar umur 15 tahun" ucap Dea.


Mereka berdua berbicara seolah olah itu hal yang biasa saja. El sebenarnya tidak paham dengan kedua sahabatnya ini.


"Kau mungkin terkejut El, karena kami memang tidak pernah mengumbar aib kami. Karena untuk apa. Tapi sekarang kan kau sudah kehilangan first kiss mu, jadi apa salahnya jika kami juga berterus terang" ucap Dea.


"Tak ku sangka, El Meinhard sudah besar" ucap Reva terkekeh.


El yang kesal pun meminum jus miliknya. Ia memasang wajah kesal yang langsung ditanggapi gelak tawa sahabat sahabatnya.


"Oh ya, aku mengundang kalian ke acara ulang tahun perusahaan opa ku, kalian harus datang" ucap El memberikan dua undangan.


"Woah, Meinhard Company" ucap Dea.


"Kami pasti datang".


"Ya sudah, aku harus segera pergi" ucap El.


"Kemana?" Tanya Reva.


"Kantor. Aku duluan ya, terimakasih traktirnya Reva" ucap El kemudian pergi dari sana.


***


Di sebuah cafe, lima orang pria tengah duduk sembari berbincang. Rafael, Alexander, Antonio, Billie, dan Edward.


Mereka berlima sengaja mengadakan pertemuan karena memang sudah lama tidak berkumpul.


"Oh ya Bill, kau memiliki sepupu yang cantik bukan? Bolehlah kenalkan pada ku" ucap Antonio.


"Sepupu perempuan ku hanya satu Ton" ucap Billie.


"Yah, ku kira masih ada sepupu mu yang lain" ucap Antonio.


"Kalau kau mau, kenapa tidak mencoba mendekati dia saja. Dia masih sendiri" ucap Billie.


"Yah, seandainya aku bisa" ucap Antonio.


"Siapa sepupu mu itu?" Tanya Alexander.


"El Meinhard" ucap Billie.


"Benarkah?" Ucap Edward.


"Kau lupa, nama belakang kami sama" ucap Billie.


Sedangkan di lain sisi, Rafael ingin sekali menonjok wajah Billie. Bisa bisanya dia menyuruh Antonio mendekati El.


"Kenapa kau diam saja" ucap Billie. Rafael hanya menggeleng membuat Billie menautkan kedua alisnya. Ia memandang satu persatu ke arah laki laki yang berada disana. Seolah meminta penjelasan.


"Dia kembali lagi seperti dulu" bisik Edward yang kebetulan berada disebelah Billie.


Billie jadi teringat ucapan El semalam. Ia pun hanya mengangguk.


Miris


Mereka semua kembali larut dalam obrolan masing masing. Tak terkecuali Rafael yang hanya diam saja. Ponsel milik Billie bergetar. Masuk sebuah pesan yang membuatnya terkejut.


"Aku pergi duluan" ucap Billie kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan cepat menuju ke parkiran.


"Dia kenapa?" Tanya Antonio.


"Entah" jawab Edward.


***


El langsung tancap gas saat ia sudah menerima pesan jika clientnya sudah menunggunya. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai jadi ia bisa tenang mengemudi dengan kecepatan tinggi. Sebenarnya ia agak sedikit takut, namun bagaimana lagi, clientnya sudah menunggu di kantor.


El bernafas lega saat mobilnya sudah masuk ke area perkantoran opa nya. Ia memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke dalam. Ia menyapa beberapa karyawan yang menyapanya juga.


"Nona, anda sudah ditunggu" ucap sekretaris itu.


"Baik aku akan masuk sekarang" ucap El.


Ia pun mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam. Setelah mendapat perintah, baru ia masuk.


Di dalam ruangan meeting sudah ada daddy, opa, dan clientnya. El tersenyum pada mereka semua.


"Meeting bisa dimulai" ucap Hans setelah melihat El sudah duduk.


Proyektor di deoan terus menyala disaat client sedang menerangkan materinya. El dengan fokus memperhatikannya.


Dua puluh menit berlalu, layar proyektor di redupkan. Ini saatnya membahas kontrak kerja sama.


"Jadi bagaimana nona Meinhard, apa anda setuju bekerja sama dengan perusahaan kami?" Tanyanya.


El melihat ke arah opa nya. Kemudian ia tersenyum.


"Pintu keluar ada di belakang kalian" usir El secara halus. Dua orang client itu pun hanya menunduk malu dan keluar dari salam ruangan.


"Anak daddy memang pintar" puji Cliff.


"Kapan kau mengumpulkan data itu?" Tanya Hans.


"Tadi pagi opa" ucap El.


"Kau sudah menaruh kecurigaan rupanya" ucap Hans.


"Tentu, karena aku tidak pernah mendengar nama perusahaan itu" ucap El.


"Aku ingin pulang opa, daddy" ucap El kemudian beranjak dari sana. Tubuhnya sudah lelah saat ini. Pagi tadi ia harus mengecek beberapa pasien di rumah sakit. Dilanjut dengan makan dengan para sahabatnya dan sekarang meeting dengan client yang tidak jelas. Sungguh sangat membuang buang waktunya.


El berjalan menuju ke mobilnya lagi. Tujuannya saat ini adalah mansion opanya karena mommynya juga masih disana.


El melajukan mobil dalam kecepatan sedang tidak lagi ngebut seperti tadi. Namun entah karena sudah terlalu lelah atau apa, sampai sampai ia tidak bisa menghindari mobil yang menyalip dari arah depan. Hingga...


Brakkk


Bunyi benturan antara mobil miliknya dan mobil yang menabraknya. Padahal El tidak mengebut namun ada saja pengendara lain yang oleng. Mobil milik El ditabrak sehingga membuat mobil itu berguling satu kali. Pecahan kaca depan mobil milik El terdengar sangat nyaring.


Darah sudah keluar dari pelipis dan beberapa bagian tubuhnya yang lain. Karena terlalu banyak mengeluarkan darah, El pun menutup matanya.


...Tamat...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Tapi boong😭...


...TBC....


...Aycha...


IM BACK GUYS😭 huhu senengnyaaa