
Seorang gadis berambut panjang tengah berlari lari di taman yang ada di sebelah rumahnya. Ternyata ia sedang bermain kejar kejaran dengan seorang bocah laki laki yang umurnya tiga tahun lebih tua darinya.
"Kakak, jangan kejar aku lagi. Aku sudah lelah" ucapnya namun sang kakak tetap saja mengejarnya. Hingga anak gadis itu tersandung dan jatuh.
Ia menangis karena lututnya terluka. Bocah laki laki itu pun langsung mengecek keadaannya.
"Kakak jahat, sakit" ucapnya sambil menangis.
"Maaf, kakak gak sengaja" ucapnya.
Tangisannya terdengar sampai ke dalam rumah sehingga ibu mereka pun datang menghampirinya.
"Astaga, Arbie kamu kenapa?" Tanyanya.
"Abang tadi kejar kejar adek bu, terus adek jatuh" ucapnya mengakui kesalahannya.
"Abang jahat bu" adunya.
"Maaf dek" ucapnya.
"Sudah sudah. Abang bawa masuk boneka boneka adek, biar adek Ibu yang gendong" titahnya.
"Jangan bu, abang aja yang gendong adek. Ini aalah abang" ucapnya. Ibunya pun mengangguk.
Bocah perempuan bernama Arbie itu pun di gendong sang kakak. Sebenarnya Arbie sudah menolak untuk di gendong sang kakak, tapi karena ini juga kesalahannya, akhirnya ia pun mau di gendong sang kakak.
Arbie berpegangan pada bahu sang kakak. Ia menyenderkan kepalanya pada bahu sang kakak.
"Xaxan minta maaf ya" ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah mereka.
"Gak mau, Xaxan jahat. Udah adek bilang jangan kejar tetep aja dikejar" ucapnya.
Xaxan adalah panggilan kesayangan dari Arbie untuknya. Umur mereka berbeda tiga tahun. Saat ini Arbie berusia sepuluh tahun sedangkan Xaxan berusia tiga belas tahun.
"Ya udah, mau apa biar Xaxan dimaafin" tanyanya.
"Anterin beli jajanan di minimarket depan. Tapi mau sekarang" ucapnya.
"Kamu baru saja jatuh Arbie sayang" ucap sang ibu.
"Gamau pokoknya mau sekarang ibu" rengeknya.
"Udahlah bu, ijinin kita keluar ya. Nanti dia malah tambah ngambek" ucap Xaxan.
"Ya sudah, tapi kalian hati hati oke" ucapnya. Xaxan dan Arbie pun mengacungkan jempolnya.
"Abang gendong" pinta Arbie.
"Iya iya" ucap Xaxan. Arbie pun kembali menggendong adiknya itu di punggungnya.
Mereka berdua berjalan menuju ke minimarket yang berada tak jauh dari rumah mereka.
Sesampainya di minimarket, Arbie langsung menunjuk beberapa cemilan kesukaannya. Beruntung tadi ibunya memberikan uang lebih jadi Xaxan tidak perlu takut jika uangnya tidak cukup.
"Udah itu aja dek?" Tanya Xaxan. Arbie pun menganggukan kepalanya. Mereka berdua pun berjalan menunu kasir untuk membayar jajanan mereka. Setelah selesai, mereka pun kembali ke rumah.
Xaxan langsung menyebrang saja karena tanda pejalan kaki sudah terlihat di papan digital yang dipasang di sebelah jalan.
Namun tiba tiba ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sehingga Xaxan dan Arbie pun tertabrak.
Xaxan dan Arbie terlempar jauh dari tengah jalan. Arbie melihat abangnya itu sudah berlumuran darah. Sedangkan ia hanya mendapatkan luka kecil saja.
"ABANGGG" teriak Arbie saat melihat darah terus keluar dari kepalanya. Sempat Arbie kecil melihat plat nomor mobil itu.
***
El terbangun dari mimpinya. Nafasnya pun tidak teratur. Keringat membanjiri dahinya. Mimpi aneh lagi?
"Mimpi itu lagi" gumamnya.
Ia pun mengambil segelas air putih yang ada di nakas sebelahnya.
Ia meminumnya sampai habis tak tersisa.
Ia melihat jam dinding. Sudah pukul enam pagi. Ia pun bangun.
Di sebelahnya ada map yang semalam ia baca. Ternyata ia ketiduran dan lupa menyimpan kembali map itu.
El pun bangun dan berjalan menuju ke brangkas miliknya. Ia hendak menyimpan kembali map itu, namun tiba tiba saja gerakannya terhenti.
Ia mengingat ngingat sesuatu.
El berjalan menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya.
Mumpung masih pagi, ia ingin jogging terlebih dahulu. Sudah lama juga ia tidak jogging di pagi hari.
El mengganti bajunya menggunakan kaos polos berwarna hitam yang mencetak tubuh bagian atasnya. Bawahannya ia menggunakan celana training. Setelah selesai berpakaian dan mengkuncir rambutnya, ia pun keluar dari dalam kamarnya.
Di ruang tengah ternyata ada kedua orang tuanya yang sedang menonton tv.
"Pagi mom, dad" sapa El.
"Pagi sayang" ucap keduanya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Clau.
"Jogging sebentar sebelum pergi ke rumah sakit" ucap El.
"Oh begitu" ucapnya.
Saat El hendak berbalik menuju dapur untuk mengambil botol airnya. Tiba tiba acara tv menanyangkan sebuah acara gosip.
"Baik pemirsa, kali ini saya membawakan berita yang sangat hot. Diketahui, pengusaha muda pemilik dari Levent Corp terlihat sedang makan malam bersama dengan seorang wanita yang diketahui seorang pemilik butik. Ternyata dia adalah nona Anita, pemilik AN Boutique. Apakah mereka berdua memiliki hubungan yang special?" Ucapnya.
Cliff yang melihat itupun langsung mengganti siaran tv. Sedangkan Claudia langsung melihat anaknya.
"Sayang" panggil Clau.
"Don't worry, im fine" ucap El tersenyum. Ia pun berpamitan untuk jogging.
El terus berlari pelan di sekitaran taman yang berada dekat mansionnya.
Setelah cukup lama berlari, ia pun duduk di bangku panjang yang ada disana. El mengatur nafasnya baru setelahnya ia pun minum.
Taman pagi ini cukup sepi. Wajar saja ini bukan weekend jadi hanya beberapa orang yang terlihat di taman ini.
El memejamkan matanya. Cukup melelahkan jogging pagi ini namun ia juga senang karena bisa menghirup udara segar di pagi hari.
Tanpa ia sadari, seseorang tiba tiba duduk di sebelahnya. Orang itu terus terusan memperhatikannya. Karena merasa ada yang melihatnya El pun membuka matanya.
Ia terkejut saat Rafael tiba tiba berada di sampingnya.
"Kenapa tidak memberitahu ku jika kamu akan jogging. Aku pasti akan menemani mu" ucapnya.
"Untuk apa?" Tanya El.
"Sudah ku bilang bukan aku bisa menemani mu. Lain kali kasih tahu sayang" ucapnya.
"Apa harus setiap hal yang aku lakukan, aku harus memberi tahu mu?" Tanya El.
"Tentu saja, aku pacar mu kalo kamu lupa" ucap Rafael.
"Bukan aku yang lupa, mungkin kamu" ucap El.
"Mana mungkin, aku gak akan pernah lupa" ucapnya.
"Jika aku harus selalu mengabari mu, apa kamu juga akan mengabari ku?" Tanya El, Rafael menganggukan kepalanya.
"Bullshit" ucap El.
"Sayang omongannya" peringat Rafael.
"Itu memang benar. Semua ucapan yang keluar dari mulut mu hanya omong kosong" ucap El.
"Kalo memang kamu akan balik mengabariku, mengapa semalam kamu tidak memberitahu ku jika kamu pergi makan malam bersama Anita?" Tanya El.
"Jangan salah paham sayang, aku di jebak Anita" ucapnya.
"Awalnya aku menerima pesan dari Antonio yang mengajak ku makan bersama dengan yang lainnya, namun ternyata ketika aku sampai disana hanya ada Anita saja. Anita langsung memaksa ku duduk" jelasnya.
El tertawa, "kalo emang kamu di jebak dan kamu gak mau makan sama Anita, harusnya kamu langsung pergi bukan malah ikutan makan meskipun dipaksa" ucap El kemudian ia pergi meninggalkan Rafael.
tbc.
1 kata buat Rafael?
kesel gakkkk?
kalo ada typo maapin yeyeye. vote komen, share juga biar banyak yang baca. bantuin akhu