L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 45 : Kejujuran



Happy reading♡


El sudah was was saat Rafael mulai berjalan mendekat ke arahnya. Untuk mundur pun rasanya percuma saja karena ia sudah bersandar pada kepala ranjang. El menahan nafasnya saat wajah Rafael sudah dekat dengan wajahnya.


"Aku marah" bisik Rafael.


"Sudah aku bilang, aku paling tidak suka melihat mu dekat dengan pria lain".


"Jika saja aku melihat mu dekat dengan pria lain lagi, bersiaplah untuk menerima hukuman" ucap Rafael tersenyum smirk.


El sendiri hanya diam. Ia menatap ke arah manik mata milik Rafael. Seketika air matanya turun begitu saja.


Rafael sendiri mengernyit melihat El tiba tiba saja menangis. Ia menghela nafasnya kemudian menarik El kedalam pelukannya. Seketika tangis El  pecah begitu saja.


"Ada apa?" Tanya Rafael.


"A-aku b-bingung" ucap El sesenggukan.


"Bingung kenapa?" Tanya Rafael.


El melepaskan pelukan Rafael kemudian mengusap air mata dan ingusnya. Ia pun memukul Rafael bertubi tubi sampai ia duduk diatas lerut kotak kotak milik Rafael.


"Hei, hentikan" ucap Rafael.


"AKU KESEL TAU GAK" marah El.


"Kesel kenapa? Sini ngomong" ucap Rafael.


"Kenapa suka banget tiba tiba?" Tanya El.


"Maksudnya?" Tanya Rafael meminta penjelasan.


"Tiba tiba deketin, tiba tiba ngejauh gitu aja, terus sekarang tiba tiba deket lagi. Maunya kamu apa sih?" Tanya El kesal.


Rafael terkekeh kemudian menarik El kembali ke dalam pelukannya. Sedangkan El tak henti hentinya ia melayangkan pukulan demi pukulan ke dada bidang Rafael.


"Aku akan memberitahu mu" ucap Rafael.


"Apa?" Tanya El.


"Tidak sekarang, ini sudah malam lebih baik kau tidur saja disini. Aku masih memiliki beberapa pekerjaan" ucap Rafael.


"Ayo lah, ini sudah malam lebih baik kamu juga istirahat" ucap El.


"Tentu tapi nanti" ucap Rafael kemudian mencium kening El.


"Selamat malam" ucap Rafael tersenyum.


El sendiri hanya diam mematung. Pikirannya blank. Namun semburat merah di pipinya tidak dapat disembunyikannya. Ia malu. Sangat malu.


Setelah Rafael menghilang dari balik pintu. El langsung meraba pipinya yang memanas. Ia menggigit bibirnya.


Bagaimana bisa laki laki itu bersikap manis seperti tadi?


Ucap El dalam batinnya. Sampai saat ini ia masih tidak paham dengan perlakuan Rafael.


Laki laki itu penuh dengan ketiba tibaan. Seolah seperti seekor bunglon yang dapat berubah rubah di waktu tertentu.


El merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit langit kamae bernuansa abu dan hitam. Sejak ia masuk, bau maskulin terus menyerang hidungnya. Namun tak dapqt dipungkiri bahwa ia sangat tenang dengan aroma khas Rafael.


Entah sejak kapan ia menyukai bau parfume Rafael. Yang jelas ia selalu merasa tenang disaat ia mencium bau itu.


El menghela nafasnya. Ia bingung dengan apa yang dia rasakan. Entah ini cinta atau bukan. El belum bisa memastikan hal itu. Hanya saja ia merasa sangat nyamam jika berada di dekat Rafael.


***


"Apa bisa besok?" Tanya Rafael.


"Tentu tuan, saya sudah berada di Boston. Besok saya akan ke mansion anda" ucap orang diseberang sana.


"Bagus" ucap Rafael kemudian ia mematikan teleponnya secara sepihak.


Rafael merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruangannya. Pandamgannya menatap ke arah luar jendela kamarnya yang memperlihatkan langit malam yang sangat indah.


Pikiranya kembali berkelana. Ia sekarang sudah tahu penyebab kecelakaan El. Ternyata ini murni kecelakaan dan bukan karena disengaja.


Jika saja ini disengaja, sudah pasti Rafael tidak akan membiarkan orang itu hidup. Rafael tidak akan membiarkan siapapun berani mencelakakan gadisnya. Termasuk keluarganya.


Rafael sangat menyayangi El melebihi dirinya sendiri. Setelah bertemu dengan El, ia seperti hidup kembali. Entah pesona apa yang ada pada diri El hingga mampu membuat Rafael tunduk seperti sekarang.


Rafael pun memejamkan matanya. Jujur saja akhir akhir ini ia kurang tidur yang cukup. Sebenarnya ia merasa lelah dan ingin beristirahat, namun realitanya tidak sesuai ekspektasinya. Ia harus tetap bekerja.


Sedangkan di kamar, El sudah duduk di kursi rodanya. Sebenarnya kakinya sudah bisa digerakan namun belum bisa berjalan saja. Alhasil, dia masih memakai bantuan kursi roda.


Perlahan, ia membuka pintu kamar besar itu dan mulai beranjak keluar. Malam ini ia sangat sulit untuk tertidur.


Di satu sudut ruangan di lantai yang ia pijaki kursi roda, terdapat satu ruangan yang pintunya terbuka sedikit. Karena penasaran, El pun beranjak menuju ke arah pintu tersebut.


Dengan pelan ia membuka pintu itu. Matanya menangkap sesosok pria yang tengah membaringkan dirinya di sofa panjang.


El tersenyum kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Maju perlahan tanpa menimbulkan suara. Ia takut mengganggu tidur Rafael.


Dapat El lihat raut lelah tercetak di wajah Rafael. Ia mengelus surai Rafael.


"Maaf, aku terkadang selalu memarahi mu. Tapi ketahuilah, aku marah karena sikap mu juga. Jadi aku gak terlalu bersalah kan?" Ucap El bermonolog sendiri.


"Kau tahu Raf, beberapa bulan terkahir sebelum kita dekat seperti ini lagi, aku selalu merasa bersalah" ucap El menjeda ucapannya.


"Dan merasa kesepian" lirih El.


"Entah mengapa aku bisa merasakan hal itu. Padahal sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti itu".


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Tapi ketahuilah Raf, aku hanya berani berbicara seperti ini ketika kamu tertidur. Aku tidak cukup berani untuk berkata jujur".


Perlahan, El menarik kembali tanganya dan hendak kembali ke kamar tadi. Rasanya lega telah mengutarakan isi hatinya. Meskipun Rafael yang sedang tertidur.


Saat El akan beranjak, tiba tiba tangannya ditarik. Otomatis ia tidak jadi mendorong kursi rodanya untuk maju. Ia mengalihkan padanganya ke arah samping. Arah dimana Rafael berada. Seketika nafasnya terhenti beberapa detik saat Rafael membuka matanya.


Rafael setengah bangun dan langsung menarik pinggang El untuk menimpa dirinya sendiri. El tentu saja terkejut dan langsung menahan beban tubuhnya dengan meletakan tanganya di dada bidang Rafael.


Rafael tersenyum saat melihat wajah cantik gadisnya dari jarak sedekat ini. Meskipun sebelumnya lebih dekat dari ini.


"Aku tidak pernah marah kepada mu" ucap Rafael.


"Yang ku lakukan kemarin semata mata hanya untuk meminta maaf dan menebus kesalahan ku. Walaupun aku tahu, cara ku seperti itu sangatlah tidak baik" jelas Rafael.


"Setelah kejadian kemarin, banyak kesalahpahaman. Dan aku kembali untuk menyelesaikan kesalahpahaman itu" ucap Rafael.


"Namun aku masih menunggu beberapa waktu lagi untuk aku bisa menyelesaikan semuanya. Dan tentunya dengan beberapa bukti" gumam Rafael di akhir ucapannya.


"Bukti?" Tanya El.


tbc.


oh ya, maaf ya baru bisa up. kemaren sibuk banget sama kerjaan. biasalah akhir tahun mau tutup buku.


makasih ya udh baca. maaf kalo kurang ngefeel atau bahasa penyampaiannya kurang enak di kalian.


@ayc.gmy fllw ig aku ya, nnti aku bkl spll di sana buat nxt chptr nya.