L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 76 : Rumah Sakit



Happy reading♡


Setelah menempuh waktu berjam jam, akhirnya El menapakan kakinya lagi di Boston.


Satu bulan berlalu rasanya begitu cepat meskipun El mengeluh karena ia tidak mendapatkan apapun disana. Tapi setidaknya selama satu bulan disana ia banyak belajar.


"Mommy mu di rumah sakit. Kau akan langsung kesana?" Tanya Alex.


"Tentu saja. Aku akan segera kesana, keluarga ku tidak ada yang tahu kedatangan ku kesini," ucap El.


"Jacob yang akan mengantar mu kesana. Aku harus segera pergi. Hati hati di jalan," ucap Alex.


"Iya dan terimakasih atas tumpangan gratisnya," ucap El. Alex hanya mengangguk sekilas dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Sedangkan El dan Jacob langsung pergi juga dari bandara menuju ke Levent Hospital.


Di dalam mobil El memejamkan matanya. Ia merasa lelah sekali. Perjalanan dari Indonesia ke Boston memakan banyak waktu, seharusnya El merasa fit karena di perjalanan tadi ia banyak tidur.


El merasa aneh dengan dirinya. Akhir akhir ini ia sering merasa lelah tanpa sebab. Apa mungkin karena stres?


Selama berhari hari ia memikirkan kehidupannya yang penuh misteri ini. Ia sangat ingin memecahkan misteri ini, namun belum ada titik terang apapun.


Semua usaha sudah ia lakukan, hanya saja belum menemukan hasil apapun.


Terlintas dipikirannnya ingin menanyakan hal ini pada kedua orang tuanya. Namun tertahan karena El menghargai mereka berdua. Tapi jika tidak ditanyakan, sampai kapan ia akan seperti ini?


Bahkan foto anak yang ada di liontin milik Alex tadi membuatnya memikirkan banyak kemungkinan.


"Jangan terlalu banyak pikiran, kau bisa gila," ujar Jacob.


"Aku mungkin sudah gila," ucap El.


"Iya, kau sudah gila sampai tidak menyadari jika kita sudah berada di mana saat ini," ucap Jacob.


El mengernyit. Ia pun memperhatikan sekitaran. Ternyata mereka sudah sampai di lobby rumah sakit. Karena telalu larut dalam pikirannya, El sampai tidak sadar jika mereka sudah sampai disini.


"Terimakasih Jacob, kau langsung pulang atau ikut masuk?" Tanya El.


"Jika aku ikut masuk maka orang orang di dalam akan menuduh ku yang membawa mu pergi. Padahal aku dipaksa oleh mu," sindir Jacob.


El tertawa mendengar sindiran itu. Ia sama sekali tidak tersinggung karena memang itu faktanya.


"Aku lebih senang saat melihat mu tertawa daripada diam seperti tadi," ucao Jacob.


"Balance. Ada kala aku terdiam dan tertawa. Kalo begitu aku masuk ke dalam dulu. Terimakasih Jacob," ucap El.


"Sama sama."


El pun keluar dari dalam mobil itu dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Dia sudah tahu dimana letak ruangan mommynya karena Alex memberitahunya.


Sebelum masuk juga El sempat memakai masker. Jaga jaga karena ka tidak mau orang orang rumah sakit mengenalinya. Ia sudah lama pergi dan tidak baik jika datang begitu saja.


El menyusuri lorong demi lorong. Saat ini ia sudah berada di lantai lima. Lantai ruang vvip. Di lantai ini hanya ada empat ruangan saja. Maklum, ini adalah ruangan yang cukup mahal jadi hanya orang orang penting saja yang bisa menyewanya.


El sampai di depan pintu bercat putih. Perasaannya tidak menentu. Ia khawatir dengan keadaan mommynya namun ia juga bingung harus bersikap seperti apa.


Tiba tiba pintu ruangan terbuka. Muncul sosok daddynya. Ia mematung.


"Syukurlah anda disini dok, istri saya tiba tiba muntah muntah. Tolong dia," ucap Cliff. El tertegun, sepertinya Cliff tidak menyadari jika yang berdiri di depannya ini adalah anaknya.


El hanya mengangguk dan masuk ke dalam ruangan. Disana ada kakek dan neneknya juga Billie. Mereka tengah panik.


El mengkode pada mereka untuk menjauh sedikit. Beruntung di setiap ruangan di rumah sakit ini selalu ada stetoskop yang sengaja disimpan. Jaga jaga siapa tahu para dokter lupa membawanya.


"Berhenti memeriksa ku. Aku hanya ingin putri ku," ucap Claudia lirih.


Hati El serasa diremas. Kepergiannya membuat efek seperti ini pada mommynya. Sebelum El pergi meninggalkan keluarganya, ia masih melihat semuanya baik baik saja.


Claudia yang sehat, Clifford yang terurus tapi sekarang?


Claudia sakit dan Cliff terlihat seperti tidak mengurus dirinya sendiri.


El mencoba mendekati Mommynya. Ia masih belum melepaskan maskernya.


El merangkul erat tubuh Clau. Tiba tiba dia menangis. Menangis tersedu sedu karena teringat putri satu satunya yang pergi entah kemana. Bahkan untuk sekedar mengetahui kabarnya saja Clau tidak tahu.


"Aku hanya ingin putri ku," ucap Clau. Ia masih menangis tersedu sedu.


Keluarga hanya diam. Mereka juga bingung harus bagaimana lagi. Sudah berhari hari Claudia sengaja mogok makan membuat kondisinya semakin buruk.


"Mom, im here," ucap El.


Claudia mengurai pelukannya dan melihat ke arah orang yang sedang memeluknya.


El membuka maskernya dan tersenyum pada ibunya. Ia sama seperti ibunya, sangat sangat merindukan.


"ANAK KU," teriak Clau. Ia kembali memeluk erat El. Menangis sejadi jadinya menumpahkan semua kesedihan yang selama ini ia pendam karena pergi ditinggalkan oleh anaknya.


Clifford juga langsung bergabung memeluk El. Ia tidak menyangka jika dokter yang ia panggil adalah anaknya sendiri. Karena terlalu kalut dengan kondisi istrinya ia sampai tidak menyadarinya.


"Ini beneran kamu kan? Mommy gak mimpi?" Ucap Clau.


"Apa mom sudah melupakan ku?" Tanya El.


"Dia benar benar putri ku," ucap Clau. Ia kembali memeluk El.


Cukup lama Claudia memeluk El. Ia sama sekali tidak ingin melepaskan pelukannya jika tidak dibujuk oleh El.


"Sekarang biarkan aku memeriksa keadaan mom," ucap El.


"Baiklah. Tapi janji kamu gak kabur lagi," ucap Clau membuat El tersenyum.


El menggelengkan kepalanya, "Enggak mom. Aku gak kabur lagi."


Claudia pun menurut dan kembali berbaring. Ia membiarkan anaknya memeriksa keadaannya.


"Keadaan mommy kenapa sampai seperti ini? Apa mommy tidak sayang daddy? Sampai tidak ada makanan yang masuk ke perut mommy," ucap El.


"Maafkan mom, mom terlalu berlarut dalam kesedihan karena putri semata wayang mommy kabur tanpa memberitahu mom," ucap Clau.


"Jika aku memberi tahu, namanya bukan kabur mom tapi ijin berlibur," ucap El.


"Tetap saja. Kemana pun kamu pergi kamu harus kasih tahu mom," ucap Clau.


"Ya, ya, ya, sekarang mom harus makan dan minum obat. Biar aku yang membantu mom," ucap El.


Ia dengan telaten membantu Clau makan. Sejak kehadirannya disini, ia belum bertegur sapa dengan anggota keluarganya yang lain. Ia masih sibuk mengurusi mommynya. Karena ternyata mommynya ini kekurangan gizi dan dehidrasi.


"Rafael menggila saat kamu pergi sayang," ucap Clau membuat pergerakan El terhenti.


Tbc.


RAMEIN VOTE KOMEN GUYSSS