
Happy readingā”
Rafael berjalan menuju ke kamarnya. Waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Ia baru saja pulang dari kantornya. Ia bergegas untuk mandi dan bersiap.
Rafael menyalakan air shower untuk mengguyur dirinya. Pekerjaan hari ini cukup melelahkan. Banyal sekali berkas yang harus ia tanda tangani dan juga beberapa meeting.
Setelah mengantar El pulang, ia pun bergegas kembali ke kantornya.
Rafael melilitkan handuk di pinggangnya dan berjalan menuju ke ruang ganti baju.
Ia mengambil kemeja berwarna berwarna putih kemudian memakai celana serta sabuk.
Sejenak ia memperhatikan vest yang ada di depannya. Bukannya kemarin kekasihnya itu memilih tuxedo untuknya kenapa menjadi vest?
Rafael pun mengambil dasi berwarna soft blue kemudian memakainya dilanjutkan dengan memakai vest. Ia menyisir rambutnya dan menggunakan parfume.
Setelah selesai ia pun menggunakan jam rolex di pergelangan tangannya kemudian mengenakan sepatu hitam.
Setelah selesai bersiap, Rafael pun turun menuju ke pintu depan mansionnya.
Di depan sana sudah ada Griss dan beberapa bodyguard.
"Aku akan mengendarai sendiri. Kau ikut dengan mereka saja. Tunggu aku di pesta" ucap Rafael yang diangguki oleh Griss.
Sedangkan di lain tempat, El sedang memoleskan sedikit make up di wajahnya. Tidak mencolok namun tetap cocok di wajahnya. Ia pun menata rambutnya.
Awalnya ia ingin mencepol rambutnya. Namun mengingat jika gaun yang akan ia pakai memiliki lengan pendek serta memperlihatkan bahunya, alhasil ia pun menggerai rambutnya.
Ia mengambil sebagian kecil rambutnya di kiri dan kanan kemudian menyatukannya di bagian belakang. Untuk aksesorisnya ia menggunakan jepit berwarna perak berbentuk ranting bunga.
Setelah selesai ia pun menggunakan gaun yang sudah disiapkan olehnya. Dengan perlahan ia menggunakan gaun itu.
Setelah selesai dengan gaun, ia pun mengambil sepatu hak sedang berwarna soft blue juga. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Seperti ada yang kurang. Ah iya, kalung.
El pun mengambil kalung berlian bermata sapphire yang ia temukan di gudang dan menggunakannya.
"Perfect" ucapnya.
Ia pun turun menuju ke pintu depan karena Rafael sudah menunggunya. Sedangkan orang tuanya sudah berangkat dari satu jam yang lalu.
Pintu mansion El terbuka. Seketika atensi Rafael teralih untuk melihatnya. Ia terpana melihat tampilan kekasihnya yang sangat cantik. Senyum lebar terpatri di wajahnya.
El menyadari hal itu seketika salah tingkah.
"Apa aku berdandan terlalu lama?" Tanya El.
"Tidak" ucap Rafael. Tangganya pun terangkat untuk mengelus pipi mulus El.
"Sangat cantik. Sebenarnya aku tidak ingin orang lain melihat kecantikan mu" ucap Rafael.
"Jangan egois. Sudah ayo berangkat nanti telat" ucap El. Rafael pun mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk El.
Di dalam mobil, Rafael terus terusan melihat ke arah El. Dengan sengaja ia mengecup bibir El. Hanya kecupan saja namun mampu membuat El mematung.
Rafael terkekeh kemudian melajukan mobilnya menuju ke pesta Alex.
Sampai di lobby hotel, Rafael turun dan kembali membukakan pintu untuk El. Ia memerintahkan bodyguardnya untuk memarkirkan mobil miliknya.
Rafael mengambil tangan El untuk mengamit tangannya. Mereka pun berjalan masuk ke dalam hotel.
"Pestanya sangat megah" ucap El.
"Pasti. Keluarga Sapphire selalu mengadakan pesta dengan acara yang sangat mewah" ucap Rafael.
El dan Rafael pun sampai di pintu utama. Para pelayan membuka pintu itu seketika semua para tamu melihat ke arah pintu.
Rafael memasang wajah datarnya sedangkan El hanya tersenyum tipis.
"Anak gadis itu, seperti putri kita papa" ucap Shima saat melihat El.
"Mungkin hanya mirip ma, putri kita sudah lama menghilang" ucap William.
Rafael pun berjalan menuju ke arah William dan Shima. Mereka adalah tuan dari acara ini.
"Selamat malam tuan Levent" ucap William.
"Hai, nona Meinhard" sapa Shima.
"Hallo, nyonya Sapphire" ucap El tersenyum. Perhatian Shima teralih pada kalung yang dipakai oleh El. Ia pun melihat ke arah suaminya yang juga menyadari hal yang sama.
"Apa ini mungkin?" Tanya Shima pelan pada suaminya namun suaminya hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Rafael sudah menyadari situasi ini namu tetap diam.
"Nona Meinhard, bisakah kita berbicara sebentar? Hanya berdua saja" pinta Shima.
"Tentu boleh" ucap El.
El dan Shima pun berjalan menjauhi pesta.
Sedangkan William masih bersama dengan Rafael.
"Aku yakin kau mengetahui sesuatu" ucap William.
"Mengetahui apa tuan William" tanya Rafael.
"Jangan berlagak tidak tahu apa apa. Sejak kapan kau bersama dengan dia?" Tanya William.
"Sudah cukup lama" ucap Rafael.
"Lalu kenapa kau tidak memberitahu ku?" Tanya William.
"Dia tidak mengingat apapun tentang kalian. Aku harap kalian jangan gegabah. Kita harus memberitahunya secara pelan pelan dan juga disertai bukti" ucap Rafael.
"Ya, kau benar. Namun aku tidak bisa menahan istriku yang terus terusan mendesak ku untuk mengungkapkan semuanya" jeda William.
"Apalagi dia memakai kalung itu" lanjut William.
"Bersabarlah, aku berjanji akan membuktikan semuanya" ucap Rafael.
Sedangkan di lain tempat, Shima langsung memeluk erat El sesampainya mereka diluar pesta.
El sendiri hanya bingung. Kenapa tiba tiba ia dipeluk erat seperti ini?
"Ada apa nyonya?" Tanya El.
"Tidak ada. Maafkan aku. Aku terlalu terkejut meliha mu malam ini. Kau persis seperti putri ku yang sudah lama menghilang" ucap Shima.
"Oh ya? Apa semirip itu?" Tanya El.
"Sangat. Apalagi dengan kalung yang kau pakai. Dimana kau mendapatkannya?" Tanya Shima. El menjadi gelgapan. Ia bingung menjawab apa.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu. Oh iya, apa kamu mau mendengarkan cerita tentang putri ku?" Tanya Shima pada El. Saat ini mereka sedang berdiri di bagian sampinh hotel.
"Tentu saja boleh" ucap El.
"Putriku hilang sejak berumur delapan tahun. Ia tiba tiba menghilang begitu saja. Tidak ada jejak apapun sehingga kami semua kesulitan mencarinya" ucap Shima.
"Memangnya, dia hilang dimana?" Tanya El.
"Waktu itu dia meminta ijin untuk berjalan jalan di taman kota. Awalnya terlihat baik baik saja, namun tiba tiba ia menghilang tanpa jejak" ucap Shima.
"Apa sudah mencarinya lewat cctv taman?" Tanya El.
"Sudah. Bahkan kami sudah melapor ke kantor polisi namun hasilnya nihil" ucap Shima.
"Kau ingin melihat foto putriku?" Tanya Shima yang diangguki El. Shima pun mengeluarkan ponsel miliknya dan memperlihatkan foto anak kecil berambut coklat dengan gaun berwarna putih.
El memperhatikan foto anak kecil itu. Seperti tidak asing. Matanya menyipit melihat kalung yang dikenakan anak itu dan tempat itu...
Tiba tiba rasa pusing menyerang kepalanya. Ia memegang kepalanya karena rasa pusing itu yang teramat sangat.
tbc.
El kunaon?š
kalo ada typo ya maap.