L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 59 : William Jacob



Happy reading♡


Rafael memperhatikan El sedari tadi yang terus terusan memijat kepalanya. Tadinya ia akan membawa El pulang, namun El bilang ia tidak ingin pulang sebelum acaranya selesai. Rafael hanya mengiyakan permintaan kekasihnya itu.


Saat ini mereka sudah bergabung dengan para tamu di bawah. Rafael dan El terpisah. Rafael bergabung dengan teman teman bisnisnya sedangkan El sedang berbicara dengan salah satu rekan kerjanya di rumah sakit, yang kebetulan suaminya adalah tamu undangan Alex.


"Sepertinya sudah lama aku tidak melihat mu bersama Anita" ucap Riko.


"Ya itu benar, bukankah setiap pesta kalian akan berangkat bersama?" Tanya Panji.


"Ya, memang seharusnya kami berangkat bersama, namun Rafael menolaknya" ucap Anita yang tiba tiba ikut bergabung dengan mereka.


"Wah, kau semakin cantik" ucap Riko pada Anita.


"Tentu saja. Aku harus selalu tampil cantik agar Rafael semakin menyukai ku" ucapnya. Rafael sendiri hanya memasang wajah datarnya.


"Oh ya, kenapa kalian berdua tidak berdansa?" Tanya Panji.


"Justru aku kesini akan mengajak Rafael berdansa" ucap Anita. Kini tangannya sudah mendarat di bahu Rafael. Tangan Anita langsung diturunkan dari bahu Rafael olehnya. Saat ini ia sudah melihat tatapan El yang memperingatinya.


"Yah itu benar, kau harus berdansa dengan Anita, Raf" ucap Riko.


"Aku tidak berminat" ucap Rafael.


"Ayolah Raf, kita sudah lama tidak berdansa" ajak Anita.


"Kasian dia Raf. Dia hanya wanita polos yang ingin berdansa dengan mu. Apa salahnya?" Ucap Panji.


"Oh, atau kau mungkin sudah tidak bisa berdansa lagi?" Ejek Riko.


Alex dan Janshen hanya menjadi pemerhati mereka yang berbicara. Tak ada keinginan dari mereka untuk menyela. Mereka memilih diam dan memperhatikan saja. Sedangkan Antonio sudah pergi entah kemana.


"Jangan berbicara seperti itu, mana mungkin seorang Rafael tidak bisa berdansa" ucap Panji.


"Jika memang ia bisa, ia harusnya mengiyakan permintaan Anita" ucap Riko.


"Benar juga" ucap Panji.


Musik dansa sudah berputar sejak tadi. Anita sebenarnya sudah gatal ingin menarik Rafael untuk berdansa dengannya. Dengan inisiatif sendiri, ia pun menarik tangan Rafael menuju ke tengah.


Sejak tadi, El sudah menduganya jika wanita itu akan menarik Rafael. Namun ia masih tetap diam dan tenang.


Anita hanya tersenyum ketika mendapatkan tatapan tajam dari Rafael. Belum sempat Rafael berjalan, Anita sudah menariknya dan melakukan gerakan memutar untuk memulai dansanya dengan Rafael.


Mau tak mau Rafael pun mengikuti kemauan Anita saat ini. Karena jika ia pergi begitu saja, itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri.


Saat Rafael tengah berdansa dengan Anita, ia tidak pernah melepaskan tatapannya dari El. Ia merasa aneh karena El hanya diam dengan tatapan biasa saja. Apa ia tidak cemburu?


El sendiri hanya diam meminum minuman yang tersedia. Tiba tiba ada seorang lelaki yang duduk di sebelahnya. El pun mengalihkan pandangannya pada orang itu. Seketika senyum di wajahnya mengembang.


"Kau?!" Ucap El terkejut.


"Ku kira kau sudah melupakan aku" ucapnya.


"Bagaimana mungkin? Kau adalah pria terbrengsek yang tidak akan pernah aku lupakan" ucap El tertawa.


"Aku hanya brengsek untuk orang yang tidak tahu diri saja. Selebihnya aku adalah pria yang baik" ucapnya.


"Pede sekali. Oh ya, bagaimana kau bisa disini?" Tanya El.


"Alex adalah teman ku. Bagaimana mungkin aku tidak datang dengan undangannya" ucapnya. Dia adalah Jacob. William Jacob. Teman El semasa ia sekolah di SMA.


"Oh begitu. Aku baru mengetahui fakta itu" ucap El.


"Karena kau tidak pernah bertanya" ucapnya.


"Aku malas untuk mengetahui hal itu" ucap El. Mereka pun terus berbincang tanpa mereka sadari sedari tadi Rafael memperhatikannya.


Alex yang melihat itu pun hanya tersenyum. Janshen yang ada di sampingnya keheranan melihat sahabatnya itu yang tiba tiba tersenyum.


"Kau kenapa?" Tanya Janshen.


"Perang akan segera dimulai" ucap Alex. Jansehn yang tidak mengerti pun langsung mengikuti arah pandangan Alex. Ia pun akhirnya mengerti.


"Bukankah dia adalah Jacob?" Tanya Janshen yanh diangguki oleh Alex.


"Dia memang sengaja melakukan hal itu. Sekarang dia juga sudah menjadi seorang dokter" ucap Alex.


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Janshen.


"Dia pernah beberapa kali bertemu dengan ku. Alasan dia pergi pun karena pendidikan" ucap Alex.


"Begitu ternyata. Tapi bukankah dia juga seorang pebisnis? Aku pernah melihatnya beberapa kali ketika meeting" ucap Janshen.


"Ia melanjutkan bisnis keluarganya" ucap Alex.


"Sepertinya kau sangat tahu tentang dia" ucap Janshen.


"Dia salah satu pemegang saham di perusahaan" ucap Alex.


"Pantas saja" ucap Janshen.


Sedangkan di lain tempat, El dan Jacob banyak berbincang. Wajar saja karena mereka sudah lama tidak bertemu. Banyak hal yang diceritakan oleh Jacob begitu pun El.


"Oh iya, kau bekerja di rumah sakit Levent?" Tanya Jacob.


"Ya" jawab El.


"Sudah berapa lama?" Tanyanya.


"Sekitar lima bulanan" ucap El.


"Kalau tidak salah, kau pun mempunyai bisnis fashion?" Tanya Jacob.


"Properti pun aku punya" ucap El.


"Daebak! Ternyata kau sangat kaya raya" ucap Jacob.


"Biasa saja" ucap El.


"Oh iya, apa besok kau memiliki waktu setelah bekerja? Aku masih ingin berbicara banyak hal dengan mu" ucap Jacob.


"Setelah jam makan siang aku akan menghubungi mu" ucap El.


"Bagus. Aku akan menunggunya. Dan jangan lupa untuk mentraktir ku makan. Sekarang giliran ku yang meminta mu mentraktri ku" ucap Jacob. El tertawa mendengarnya. Memang dulu ia sering kali meminta Jacob untuk mentraktirnya makan semasa mereka SMA.


"Baiklah baiklah, sesuai keinginan mu" ucap El yang masih tertawa. Sedangkan Rafael tiba tiba meninggalkan Anita di tempat dansa. Sekarang ia tidak peduli dengan reputasinya. El mampu membuatnya cemburu.


"Sepertinya kalian sangat akrab" ucap Rafael tiba tiba. El hanya melihatnya sekilas kemudian kembali meminum minumannya.


"Oh tentu, dia teman lama ku dan kami baru bertemu lagi" ucap Jacob.


"Apa sudah selesai berdansanya? Kenapa kau meninggalkan wanita itu? Kasihan dia" ucap El santai.


"Aku bisa menjelaskannya" ucap Rafael.


"Tidak perlu repot repot Raf. Aku tidak marah aka hal itu" ucap El. Sedangkan Jacob hanya diam memperhatikan keduanya.


"Please, ini tidak seperti yang kau pikirkan" ucap Rafael.


"Memang apa yang aku pikirkan?" Tanya El membuat Rafael diam seribu bahasa.


"Jack, aku pamit duluan. Pestanya pun akan segera berakhir" ucap El.


"Oh ya. Kau akan menemui Alex dulu?" Tanya Jacob.


"Ya, untuk berpamitan" ucap El.


"Aku juga ingin bertemu dengannya. Bisa kita bersama kesana?" Tanya Jacob.


"Tidak dia akan segera pulang bersama ku" ucap Rafael memotong ucapan El.


"Aku akan pulang sendiri. Orang tua ku sudah menunggu ku di lobby. Aku duluan, tuan Levent" ucap El meninggalkan Rafael.


tbc.


vote komen. baca juga cerita baru aku. makasih