
Happy Reading♡
El bangun sangat pagi. Sejujurnya semalam ia tidak tidur nyenyak. Matanya sembab. Ia pun merutuki kebodohannya karena menangis semalaman. Untuk menghilangkan kecurigaan mommynya, El mengompres matanya dengan air hangat. Dan beruntungnya, matanya kembali seperti semula tidak lagi sembab.
Ia sudah siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia mengenakan rok span bahan berwarna hitam panjang dipadukan dengan kemeja berwarna tosca kemudian memakai jas dokternya. Ia menyanggul rambutnya kemudian mengambil tas miliknya.
Ia turun ke lantai bawah untuk berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Mom, dad, aku berangkat ya" ucap El.
"Gak sarapan dulu?" Tanya Cliff.
"Tidak dad, nanti saja di rumah sakit. Aku sedang buru buru" ucap El.
"Jika kau tidak mau makan, setidaknya minumlah segelas susu sayang" titah Clau, El pun mengangguk. Ia pun menarik kursi kemudian duduk dan meminum susu yang sudah tersedia disana.
"Aku pergi ya" pamit El pada kedua orang tuanya sembari mencium tanga mereka.
El berjalan menuju ke depan rumahnya. Hari ini ia akan menyetir sendiri. Jonah, memberikan kunci mobil pada El. Jonah pekerja di rumah El. Setelah mengucapkan terimakasih, El pun masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukannya.
***
El sampai di parkiran rumah sakit. Ia pun langsung menuju ke lift untuk sampai ke ruangannya. Pikirannya sedang kacau saat ini. Namun pekerjaannya pun tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Pintu lift terbuka dan El pun keluar dari sana.
"Kakak cantik" panggil Galaksi. El menoleh kemudian tersenyum saat melihat Galaksi berlari ke arahnya. Galaksi langsung memeluknya.
"Kenapa?" Tanya El.
"Kangen" ucap Galaksi. El pun hanya tersenyum.
"Galak kebiasaan kalo sama kakak cantik" ucap Eliza berjalan ke arah El dan Galaksi.
"Bunda, nanti kalo Galaksi udah besar, Galaksi mau nikah sama kakak cantik" ucap Galaksi.
"Heh, gak boleh ngomong gitu dong. Kakak cantik mana mau sama kamu Galak" ucap Eliza.
"Maafkan dia ya" ucap Eliza.
"Tidak apa dok, santai saja" ucap El.
"Om, Galak pulang nanti saja bareng kakak cantik" ucap Galaksi pada Rafael yang sedari tadi melihat tingkah mereka berdua. Rafael sedikit melihat perubahan di diri wanita yang sedang bersama Galaksi.
"Gak bisa Galak, kamu harus pulang. Ayo" ajak Eliza.
"Yah. Ya udah aku pergi ya kakak cantik" ucap Galaksi.
"Iya, hati hati" ucap El. Setelah melihat kepergian Galaksi dan Eliza, El pun menundukan kepalanya kemudian masuk begitu saja ke dalam ruangannya. Mengabaikan Rafael yang sedari tadi menatapnya aneh.
El duduk di kursi kerjanya. Ia melepas kancing jas dokternya kemudian memutar kursinya menjadi menghadap ke arah kaca, lebih tepatnya ke arah pusat kota.
Ia memijat pangkal hidungnya. Lagi dan lagi, kenapa ia harus bertemu dengan Rafael. Bahkan sepagi ini.
Apa mungkin ia keluar saja dari rumah sakit ini dan mulai fokus pada kantor milik kakeknya?
Ia semakin dibuat bingung saja.
Drtt..drtt...drttt
"Hallo dad" ucap El.
"Hai dear, kau sudah makan?" Tanya Cliff di seberang telepon.
"Oh, s-sudah dad" ucap El berbohong.
"Kau tidak bohong kan?" Tanya Cliff.
"Tidak daddy ku sayang. Oh ya, daddy jadi berangkat? Mommy ikut juga dong?" Tanya El.
"Yah, sendirian lagi" ucap El.
"Haha, kau merajuk karena tidak diajak oleh daddy?" Tanya Cliff.
"Tentu saja. Kenapa setelah aku dewasa kalian tidak pernah mengajak ku pergi?" Ucap El.
"Sayang, dengarkan Daddy, kami bukan tidak mau mengajak mu. Kamu kan sudah bekerja sayang, kamu harus profesional dong" jelas Cliff memberi perhatian.
"Daddy benar, maaf" ucap El.
"Lagi pun, kau bukannya sudah memiliki kekasih? Tuan Levent itu" ucap Cliff menggoda anaknya.
"Dad, sebenarnya dia bukan kekasih ku. Maaf jika aku baru bilang, jangan kecewa akan hal itu, aku mohon" ucap El.
"Tenanglah, daddy sudah tahu hal itu kok. Daddy tidak akan pernah memaksa mu untuk cepat cepat memiliki kekasih. Sebaiknya kau menikmati masa muda mu dulu" ucap Cliff.
Ayah idaman memang.
"Baiklah, daddy tutup dulu ya. Jangan telat makan kamu nanti sakit gak ada yang urus kamu. Kemungkinan kami akan pergi cukup lama" peringat Clifford.
"Iya daddy. Save flight ya. Salam buat mommy" ucap El.
"Tentu sayang. See you" ucap Cliff kemudian mematikan teleponnya.
El membuka galery di ponselnya. Ia menggulir beberapa foto kemudian berakhir di foto saat ia berusia empat belas tahun. Dimana saat itu, ia sedang diajak berlibur oleh orang tuanya ke negeri gingseng. Ia tertawa mengingat beberapa hal lucu disana.
"Kalian tega, pergi tanpa aku" ucap El.
"Aku ingin menjadi putri kecil mu lagi dad. Menjadi dewasa tidaklah menyenangkan seperti yang aku kira"
"Aku ingin kalian seperti dulu. Hanya fokus mengurus ku"
"Aku ingin egois sebenarnya, aku hanya ingin berdiam di rumah bersama mom dan menunggu kedatangan dad pulang seperti dulu"
"Disaat aku meraih ranking pertama, mommy dan daddy selalu memberi ku hadiah. Setiap aku merengek ingin berlibur kalian selalu mengabulkannya" ucap El sembari menangis.
"Kenapa aku secengeng ini sih" gerutu El mengusap kasar air matanya.
"Maafkan aku belum bisa membahagiakan kalian" ucap El memeluk ponselnya. Ia pun menyudahi sesi sedihnya karena sebentar lagi akan ada pasien yang berkonsultasi. Ia berdiri dan merapihkan pakaiannya kemudian memasukan ponsel nya ke saku.
Saat membalikan badan, kepalanya menubruk sesuatu. Ia mengusap pelan dahinya. Seingatnya ia tidak menyimpan lemari disini. Ia melihat ke arah depan tepat dimana seseorang sedang berdiri dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
El menghela nafasnya, kemudian berbalik arah untuk keluar dari ruanganya. Namun dengan gerakan cepat Rafael menahannya.
"Ada apa dengan mu? Apa ada yang salah" tanya Rafael.
"Tidak".
"Kau baik baik saja?" Tanya Rafael.
"Kau bisa melihatnya" ucap El kemudian menghempaskan tangan Rafael yang memegang tanganya. Dengan cepat ia keluar dari dalam ruangannya menuju ke lift.
Beruntung di dalam lift tidak ada orang. El lagi dan lagi menangis tanpa sebab. Ia tidak tahu apa gang terjadi dengan dirinya sendiri. Akhir akhir ini ia sangatlah melow.
Ia cepat cepat menghapus air matanya kemudian keluar dari dalam lift.
Sedangkan di ruangan El, Rafael masih berdiri. Ia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi dengan gadisnya. Apa ia berbuat salah? Bukan kah kemarin ia sudah me jelaskan apa yang terjadi.
Ia harus menyelidikinya sendiri. Ia tidak mau gadisnya bersikap seperti tadi. Ini bukanlah El yang dia kenal. Rafael buru buru masuk ke ruangannya kemudian membuka laptopnya. Ia mengetikan sesuatu disana. Memang, butuh beberapa waktu untuk itu. Namun Rafael akan tetap bersabar.
...TBC....
...makasih udh kasih vote sama komen ya. makasih juga dukungannya. kalo ada typo maapin. sayang kalian)...
...Aycha...