L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Epiosode 35 : Lelah



Happy readingโ™ก


Sesuai dugaannya, saat ini semua keluarga sedang menatap ke arahnya. Tatapan tajam dilayangkan oleh Arthur. Entah mengapa ia menatap El seperti itu.


"Jadi?" Tanya Hans membuka pembicaraan.


"Baiklah, aku jelaskan saja sekarang" ucap El menghela nafasnya.


"Sebenarnya, sebelum aku bekerja di Levent Hospital, aku sudah bertemu dengan dia. Saat itu keadaannya macet, mobil miliku berada di barisan paling depan jadi sangat mustahil untuk maju ataupun putar balik. Ternyata, penyebab macetnya karena ada kecelakaan berutun. Beberapa korban sudah dibawa ambulance. Namun ada satu orang lagi yang belum menerima penanganan pertama" jelas El.


"Aku memutuskan membiarkan mobil milik ku berada di sana dan aku mencari mobil paling belakang yang bisa putar balik. Akhirnya, aku menemukan satu mobil. Aku mengetuk kaca mobilnya dan meminta tolong. Aku belum tahu jika dia adalah pemilik Levent Hospital. Setelah mendapat ijin, aku kembali membawa korban itu menuju ke mobil dia dan kami menuju ke rumah sakit" ucap El.


"Lalu bagaimana Rafael bisa suka pada mu?" Tanya Soraya.


"Benar juga, mom baru kepikiran" ucap Clau.


"Aku juga tidak tahu, kejadiannya begitu cepat. Dia bilang aku miliknya dan harus menjadi kekasihnya. Aku sudah berusaha menolaknya namun ia tetap pada pendiriannya. Aku hanya membiarkannya saja. Namun, aku sudah bosan dengan dia yang selalu mengklaim aku miliknya. Jadilah aku berbicara padanya untuk berhenti mengklaim aku sebagai miliknya. Aku bukan milik siapapun. Aku adalah milik diriku sendiri" jelas El.


"Lalu apa tanggapan dia" tanya Criss.


"Aku tidak tahu, aku langsung pergi dari sana" ucap El.


"Apa kau tidak mencintainya?" Tanya Hans.


"Aku tidak tahu" ucap El.


"Menurut ku, Rafael terlalu terburu buru. Aku bisa menyimpulkan itu setelah mendengar cerita mu El. Tapi jujur saja, selama aku berteman dengan Rafael, ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Baru kali ini dia dekat dengan seorang wanita, yaitu kau" ucap Billie.


"Apa iya?" Tanya Arthur.


"Jelas iya. Aku pun menyadari perubahan di diri Rafael. Dulu, saat aku bertanya dia hanya menjawab seperlunya. Tapi beberapa waktu kemarin, ia jadi banyak berbicara kepada ku. Dia bukan lagi Rafael yang irit bicara" ucap Billie terkekeh.


"Sudah cukup. Jangan membahas dia lagi. Kedatangan ku kesini ingin menanyakan tentang acara yang akan diadakan" ucap El mulai serius.


"Serius banget sih kak" ucap Evan.


"Acaranya akan diadakan di ballrom hotel Meinhard sayang, kamu harus datang tanpa terkecuali. Dan yah, ada yang ingin opa bicarakan dengan mu. Berdua saja" ucap Hans. El mengangguk kemudian mengikuti langkah Hans menuju ke ruang kerja miliknya.


***


Di sebuah ruangan temaram, duduk seorang pria yang sedang menatap kosong ke arah depan. Pakaiannya masih sama seperti sebelumnya. Namun keadaan pria itu jauh dari kata baik baik saja. Rambut berantakan, pecahan barang barang berserakan di lantai, dan darah yang sedari tadi mengucur dari punggung tangannya. Tak ada niatan untuk bangun dari duduknya apalagi untuk menghentikan darah yang sedang menetes tiap detiknya.


Bayangan wajah gadis itu terus terusan menghantuinya. Caranya berbicara berbeda ketika ia pertama kali bertemu dengannya. Ia bisa melihat adanya tatapan kebencian di mata gadis itu. Gadis yang sangat Rafael sayangi. Namun dengan tindakan bodohnya, ia malah membuat gadis itu kembali pergi dari dekapannya.


"Arghhh. Gak, gak mungkin kamu pergi lagi" racau Rafael.


"Aku gak bisa El, jangan pergi lagi" ucap Rafael. Tubuhnya merosot ke bawah. Tanpa sadar, laki laki itu menangis. Yang ia butuhkan saat ini adalah obat. Dan obat itu tak lain adalah gadisnya.


Anggaplah sekarang Rafael seseorang yang cengeng. Bukannya berpikir bagaimana ia mendekati gadis itu lagi tapi ia malah menangis dan melukai dirinya sendiri di kamar apartementnya.


Rafael membuka laci yang berada di kamarnya. Ia mengambil sebuah pigura berukuran sedang. Tanganya yang berlumuran darah mengusap pelan pigura itu. Disana, ada seorang anak laki laki berumur 11 tahun dan seorang anak perempuan berumur 8 tahun.


Tangis Rafael tidak dapat dibendung lagi. Ia menangis sembari memeluk erat pigura itu. Itu adalah foto terakhir dia dengan seseorang yang sangat berarti di hidupnya.


"Aku telah menemukan mu, bersabarlah aku masih perlu cukup waktu untuk mengungkap semuanya" ucap Rafael. Ia kembali menyimpan pigura itu ke tempatnya. Pria itu lantas berdiri dan pergi dari sana. Ia butuh ketenangan saat ini.


Rafael menekan tombol lift untuk menuju ke parkiran. Namun saat ia akan masuk ke dalam mobilnya, ada sebuah tarikan di bahunya menyebabkan ia menoleb ke arah orang itu.


Rafael terkejut. Itu adalah papanya.


Tiba tiba saja papanya meninju perutnya. Rafael yang sedang dalam keadaan lemah pun tersungkur.


"Anak tidak tahu diri, papa sudah menelepon pun berulang kali dari beberapa hari yang lalu namun kau tidak menjawabnya" ucap Michelle.


"Memangnya papa kenapa?" Tanya Rafael, ia bangun dengan tertatih tatih.


"Mama mu sedang sakit" ucap Michelle membuat hati Rafael mencelos.


Apalagi ini - ucap Rafael dalam hati


"Mama mu jatuh di kamar mandi, dia meminta papa menghubungi kamu namun tidak ada jawaban. Papa memutuskan untuk mengunjungi mu disini. Dan benar saja, kau berada disini" ucap Michelle.


"Dimana mama sekarang?" Tanya Rafael khawatir.


"Rumah. Ia tidak mau dirawat di rumah sakit. Pulanglah" ucap Michelle kemudian berlalu dari sana. Rafael pun buru buru masuk ke dalam mobil. Perasaannya kalut saat ini. Entahlah keadaan sang mama sekarang seperti apa.


Rafael menacap gas menuju ke mansion papanya. Ia tidam peduli dengan teriakan orang orang yang menyuruhnya berhati hati. Yang terpenting sekarang adalah mamanya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Rafael sampai di depan pintu utama mansion papanya. Ia keluar dari dalam mobil miliknya dan langsung berlari menuju ke kamar mamanya.


"Mama" panggil Rafael.


Mamanya yang tengah membaca pun mengalihkan atensinya saat ada yang memanggilnya.


"Raf" panggilnya. Rafael pun langsung masuk ke dalam kamar. Ia langsung memeluk sang mama. Menyalurkan semua yang ia rasakan saat ini.


Sedangkan sang mama diam. Ia diam bukan berarti tidak memperhatikan tampilan putra kebangganya itu.


"Ada apa?" Tanyanya lembut.


"Mama gak papa?" Tanya Rafael.


"Mama hanya kepeleset sayang. Anak mama sendiri kenapa?" Tanya Aura.


Rafael hanya menggeleng.


Aura hanya tersenyum melihat gelagat anaknya ini. Ia menarik Rafael ke dalam pelukannya. Saat ia itu, Aura merasa tubuh Rafael bergetar dan bahunya terasa basah.


Ia melihat ke arah suaminya, mengkode supaya dia keluar dulu.


"Ada apa sayang? Cerita sama mama" ucap Aura.


...TBC....


...Kan, sedih gak?...


...Enggak? Y udh_- . btw double up! g mau tau pokonya voment yg banyak. gw pemaksa!!...


...Please itu pigura apa lagi? Siapa sebenarnya masa lalu rafael?!!...


...Author bilaik : "mohon bersabar, ini ujian"...


...๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚...


...Aycha...