
Happy reading♡
Pagi pagi sekali, sudah ada keributan di dalam kamar yang ditempati El dan Rafael.
Semalam, Rafael berhasil menemukan kunci cadangan pintu kamar El. Perlahan ia masuk dan langsung ikut bergabung dengan El di kasur.
Sebenarnya, semalam ia sangat ingin sekali ******* bibir kekasihnya. Namun karena semalam kekasihnya sedang dalam mode macan. Rafael mengurungkan niatnya.
Terbukti pagi ini, Rafael sudah dibuat bangun pagi karena El.
Rafael tidak ingin melepaskan pelukannya sedabgkan El tidak mau dipeluk. Semalam saja, Rafael harus menunggu sampai kekasihnya itu terlelap baru ia bisa memeluknya.
"Lepas" ucap El ketus.
"Tidak akan pernah. Diam dan kembali tidur" ucap Rafael.
"Aku akan tidur, namun tidak ingin dipeluk oleh mu" ucap El.
"Apa masalahnya? Bukannya kau sangat suka dipeluk oleh ku?" Tanya Rafael.
"Tidak untuk sekarang. Aku masih marah kepada mu" ucap El.
"Astaga, aku berbuat masalah apalagi?" Tanya Rafael.
"Kau pikir saja sendiri" ucap El.
"Hei nona, aku tidak sepeka itu untuk selalu mengetahui apa kesalahan ku" ucap Rafael.
"Hih, kau ini memang selalu membuatku kesal" ucap El.
"Tidak apa apa. Aku terkadang sengaja membuat mu kesal supaya kau selalu merindukan ku" ucap Rafael.
"Tidak ada hubungannya sama sekali" ucap El.
"Ada. Aku pernah membaca qoutes di sosial media. Bunyinya seperti ini"
"Terkadang, orang yang selalu membuat mu kesal justru akan menjadi orang yang sangat kau rindukan suatu saat nanti" ucap Rafael.
"Kamu gak cocok buat jadi bijak" ucap El.
"Ya ya, katakan apa kesalahan ku sampai membuat mu sekesal ini?" Tanya Rafael.
"Semalam kau hanya diam disaat Anita menghina ku" ucap El.
"Lalu?" Tanya Rafael.
"Ish kau ini memang" ucap El greget kemudian memukul Rafael secara brutal.
"Hey, hey, hey nona. Berhenti. Sakit" ucap Rafael.
"Bisa tidak untuk tidak membuat ku kesal? Ini masih pagi namun mood ku sudah rusak" ucap El.
Cup
"Iya sayang, aku tahu kau kesal dari semalam. Aku diam karena aku tahu kau pasti bisa melawan Anita meski tidak dengan kasar. Terbukti bukan semalam kau membuat Anita mati kutu di tempatnya" ucap Rafael.
"Ya memang. Tapi seharusnya kau pun ikut berbicara. Kau kekasih ku kan?" Tanya El.
"Bukan. Aku calon suami mu" ucap Rafael menahan tawanya ketika melihat kekesalan tercetak di wajah El.
"Ish tau ah" ucap El kemudian merebahkan dirinya lagi .
Jam masih menunjukan pukul lima pagi. Namun El sudah membuat keributan karena masalah semalam.
Rafael terkekeh kemudian memeluk El dari belakang. Ia menghirup aroma vanilla dari rambut panjang El.
"Wangi" gumam Rafael.
"Lepas. Jangan peluk peluk" ucap El.
"Larangan adalah perintah bagi Rafael" ucap Rafael.
"Terserah" ucap El. Ia sudah lelah jika harus beradu argumen lagi bersama Rafael. Terlebih ia juga masih mengantuk.
El kembali menutup matanya. Ia menikmati usapan lembut Rafael di perutnya.
"Suatu saat nanti, akan ada Rafael junior disini" ucap Rafael pelan.
"Aku sangat tidak sabar. Bagaimana nanti rupa wajah anak ku ketika aku dan El menikah" ucap Rafael.
"Tentu saja mereka akan tampan dan cantik" ucap El.
"Kau belum tidur?" Tanya Rafael.
"Belum" ucap El.
"Kenapa?" Tanya Rafael.
"Tidak tahu".
"Bagaimana jika kita investasi dari sekarang saja?" Tanya Rafael.
"Investasi apa?" Tanya El.
"Investasi jabang bayi" ucap Rafael.
El langsung menyikut perut Rafael setelah pria itu berbicara seperti tadi.
"Awsh, sakit sayang" ucap Rafael.
"Biarin siapa suruh mesum banget" ucap El.
"Gak mesum gak bakal punya anak" ucap Rafael enteng.
"Konsepnya tidak seperti itu" ucap El.
Rafael pun hanya tertawa. Ia sangat suka sekali membuat gadisnya kesal. Terlebih ketika ia menggodanya. Sungguh sangat menyenangkan.
"Oh ya, beberapa hari lagi pesta akan dimulai. Nanti siang kau harus fitting baju" ucap Rafael.
"Apa itu harus? Aku masih memiliki stok gaun" ucap El.
"Aku tahu, anak dari keluarga Meinhard tidak mungkin kekurangan apapun" sindir Rafael.
"Bukan seperti itu astaga" ucap El.
"Lalu?" Tanya Rafael.
"Sayang uangnya" ucap El.
"Aku masih bisa membelikan mu gaun. Bahkan dengan butiknya sekaligus" sombong Rafael.
"Pokonya nanti siang kita fitting" ucap Rafael final menyela ucapan El.
"Ya ya ya" ucap El. Kemudian ia kembali menutup matanya. Sangat lumayan untuk tidur lagi.
***
Pukul sebelas siang, Rafael baru kembali dari luar.
Sekitar pagi tadi pukul delapan, ia dibangunkan oleh mamanya. Itu suruhan dari papanya untuk Rafael menyusul ke kantor pusat milik papanya.
Cukup lama Rafael berada disana. Namun untungnya semua masalahnya sudah bisa diatasi.
Rafael berjalan ke kamarnya. Dengan pelan ia membuka pintu kamarnya. Jendelanya masih tertutuo oleh gorden. Bahkan lampu kamarnya pun dimatikan.
Rafael hanya menggelengkan kepalanya. Mamanya ternyata sangat menyayangi El. Bisa secare itu.
Rafael pun membuka gorden. Seketika cahaya masuk ke dalam kamar.
El yang posisi tidurnya sedikit menghadap ke arah jendela pun terganggu karena ada cahaya tiba tiba.
Perlahan ia membuka matanya. Menyesuaikan cahaya yang ditangkap retinya.
"Raf" panggil El serak.
"Yes baby" ucap Rafael. El hanya mendengkus kesal. Bisa bisanya Rafael memanggilnya seperti itu.
"Aku bukan bayi" ucap El. Kemudian ia bersandar di dashboard kasur.
"Kamu nampak rapih sekali. Mau kemana?" Tanya El.
"Perusahaan papa" ucap Rafael kemudian duduk di sebelah El.
"Memangnya sekarang pukul berapa?" Tanya El.
Rafael melihat jam rolex ditangannya.
"Sebelas lewat sepuluh menit" ucap Rafael.
"Oh" ucap El.
"Hah? Apa?!! Sebelas lewat sepuluh?" Tanya El, Rafael hanya menganggukan kepalanya.
"Kenapa kau tidak membangunkan aku" ucap El.
"Aku berangkat pukul delapan tadi. Seharusnya mama yang membangunkan mu. Namun entah kenapa ia tidak membangunkan mu. Ketika aku masuk jendela dan gordennya masih tertutup dan lampu kamar pun dimatikan. Sepertinya mama memang sengaja" ucap Rafael.
"Sengaja? Maksud mu?" Tanya El.
"Mama sangat menyayangi mu. Jadi ia tidak akan membangunkan mu sampai kamu bangun sendiri. Terkecuali sudah masuk jam makan. Mama pasti akan membangunkan mu" ucap Rafael.
"Ya sudah, aku akan mandi dulu" ucap El.
"Perlu ku bantu?" Tanya Rafael.
"Tidak. Terimakasih. Kaki ku sudah bisa berjalan" ucap El.
"Baiklah. Aku tunggu di bawah" ucap Rafael. El hanya mengangguk dan pergi ke kamar mandi.
Dua puluh menit berlalu El selesai dengan ritual mandinya. Ia pun mengenakan baju yang sudab tersedia di dalam paper bag yang ada di walk in closet milik Rafael.
El mengenakan gaun simpel berwarna biru langit.
Setelah selesai ia pun keluar dari kamar dan menyusul Rafael ke bawah.
tbc.
sprt biasa, kl ada tipo maapin. bantuin lah biar banyak yg baca. biar akunya semangat gitu buat double up