L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 61 : Saham



Happy reading♡


Satu jam berlalu, El pun sampai di tempat yang ditunjukan oleh daddynya. Ia keluar dari dalam mobilnya. Di lobby El sudah disambut oleh beberapa bodyguard.


"Nona, mari ikuti saya. Anda harus berganti pakaian dulu" ucapnya.


"Wait, untuk apa Linda?" Tanya El padanya.


"Saya diperintahkan tuan Meinhard. Ini merupakan rapat penting" ucapnya. El hanya mengangguk dan mengikuti Linda.


Ia dibawa ke salah satu ruangan berisi banyak baju. Linda mengambil satu baju yang sudah disiapkan olehnya atas perintah dari ayah El.


"Aku memakai ini?" Tanya El.


"Iya nona" ucapnya. El pun menerima baju itu. Dan masuk ke ruang ganti.


El menatap tampilannya di cermin. Sebuah jas berwarna putih dan tanktop crop serta celana berbahan levis.


"Ada apa ya? Ko tiba tiba" gumam El.


Karena kegerahan, ia pun mengkuncir rambutnya. Setelah siap ia pun keluar.


Linda sudah menunggunya. Ia mengajak El ke satu ruangan.


"Sebenarnya ini ada apa Linda?" Tanya El.


"Anda akan tahu sendiri setelah berada di dalam sana nona" ucap Linda kemudian membuka pintu dimana ruangan itu berada. El pun masuk.


Ia terkejut ketika melihat cukup banyak orang disini. Rafael dan teman temannya, Jacob, dan Anita beserta beberapa pemegang saham.


"Sini" ucap Cliff. El pun mengangguk dan berjalan menuju ke kursi kosong yang berada di sebelah Cliff.


Kebetulan jalan yang El lewati bertepatan dengan kursi yang di duduki Rafael. Rafael sengaja memegang tangan El yang sedang berjalan melewatinya. El sendiri hanya tersenyum.


El pun duduk di kursi sebelah ayahnya.


"Baik, semuanya sudah berkumpul. Kita mulai saja meeting hari ini" ucap Cliff.


"Saya sengaja mengundang El Meinhard ikut meeting bersama saya disini karena ada beberapa hal yang akan saya sampai kan" ucapnya.


"Saya akan memberikan saham Meinhard corp pada El sebesar sepuluh persen" ucapnya membuat El terkejut.


"Dad" ucap El.


"Ya sayang, sudah seharusnya kamu mulai mengurus beberapa anak perusahaan kita. Dad harap kamu mau" ucapnya.


"Aku pasti akan membantu mu. Tapi untuk saham itu, aku tidak bisa menerimanya" ucap El.


"Kenapa?" Tanya Cliff.


"Aku sudah mengatakannya dad. Aku harap dad tidak melupakannya" ucap El.


"Dad tidak pernah melupakannya sayang. Dad mohon kamu menerimanya. Dad tahu ketakutan mu, tapi dad mohon, hanya sepuluh persen sayang" ucap Cliff memaksa.


"Maaf dad, aku tidak bisa" ucap El.


"Baiklah, kau boleh tidak menerimanya hari ini. Tapi suatu saat mau tidak mau kau harus menerimanya" ucap Cliff.


"Jadi, meeting hari ini hanya untuk membahas hal ini?" Tanya El.


"Tidak nona, disini saya ingin mengajak anda bekerja sama dengan saya. Tentunya masih berhubungan dengan Meinhard Corp" ucap salah satu pemegang saham.


"Ya, itu bisa dibicarakan di meeting kita saja. Tidak perlu dengan yang lainnya" ucap El.


"Baik nona, saya yang akan atur jadwalnya setelah saya melihat jadwal anda di rumah sakit" ucapnya. El hanya mengangguk.


Rapat pun dibubarkan. Di ruangan hanya tersisa El dan Clifford.


"Seharusnya tidak perlu disertai para pemegang saham dad" ucap El.


"Bagaimana pun mereka harus tahu" ucap Cliff.


Cliff tertawa, "dad tahu ketakutan mu. Tapi bagaimana pun orang orang tidak akan berkata seperti apa yang kau pikirkan. Kau anak dad, sudah pasti akan mewarisi semua properti dan kekayaan dad juga mommy" ucap Cliff.


"Itu mungkin benar dad. Tapi biarkan aku sukses dengan usaha ku sendiri dulu" ucap El.


"Kau sudah sukses. Jangan kira dad tidak tahu tentang usaha yang sedang kau jalani saat ini" ucap Cliff.


"Cafe, restoran, dan pembukaan cabang baru untuk butik mu" ucap Cliff.


El menghela nafasnya, "padahal aku ingin membuat kejutan, tapi dad sudah mengetahuinya" ucap El.


"Tidak apa apa sayang, dad bangga pada mu. Selalu" ucap Cliff.


"Ya sudah, El mau pergi lagi. Dad jangan lupa makan siang" ucap El kemudian berdiri.


"Kau tidak mau ikut makan siang bersama dad dan mom?" Tanya Cliff.


"Tidak, aku sudah ada janji dengan Jacob. Aku duluan dad" ucap El ia pun meninggalkan ruang meeting.


Ternyata di luar ruang meeting Rafael menunggunya. El pun menghampirinya.


"Hai" ucap El kemudian memeluk Rafael. Rafael dengan senang hati menerima pelukan itu.


"Kita makan siang bersama" ajak Rafael.


"Maaf Raf, aku sudah ada janji dengan Jacob. Kalau kau mau ikut ayo" ucap El.


Rafael sangat ingin marah. Kenapa El terus terusan bersama dengan Jacob.


"Pacar mu itu aku atau Jacob?" Tanya Rafael.


"Jangan marah, aku sudah mengajak mu makan bersama" ucap El. Ia sudah bosan dengan pedebatannya dengan Rafael.


"Aku tidak akan berdebat jika kau menuruti kemauan ku" ucap Rafael.


"Jangan egois Raf. Aku juga tidak pernah melarang mu untuk bersama Anita bukan? Kau bilang untuk selalu terbuka tentang hal apapun, tapi kau sendiri mengingkarinya" ucap El.


"Memangnya apa yang aku lakukan dengan Anita?" Tanya Rafael.


"Sepulang dari pesta kau pergi dengannya ke club. Beruntung diikuti oleh Alex dan Janshen. Tadi pagi kau menjemput Anita bukan?" Tanya El.


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Rafael.


"Itu tidak penting. Sekarang semua pilihan ada di tangan mu Raf. Jika kau memang ingin bersama dengan Anita, silahkan. Dan kita selesai sampai disini" ucap El. Rafael hendak menyela namun El mengangkat tangannya mengkode agar Rafael tidak memotong ucapannya.


"Jangan egois Raf, aku punya kehidupan ku sendiri begitu pun dengan kau. Aku tidak bisa terus terusan mengikuti apa yang kau mau sedangkan aku sendiri tidak mau melakukannya. Aku manusia bukan boneka yang bisa kau mainkan sesuka mu" jelas El kemudian pergi dari sana. Rafael sangat ingin mengejarnya namun perkataan El tadi sangat menohok.


Memang benar, Rafael tipekal orang yang pemaksa. Apa yang dia mau harus terjadi. Namun salahnya disini, ia selalu memaksakan kehendaknya tanpa berpikir tentang perasaan El.


Rafael memang bersalah. Namun ia bersikap seperti ini karena tidak ingin kehilangan El. Ia pasti akan egois untuk hal itu.


Rafael menonjok dinding di sebelahnya untuk menyalurkan emosinya. Ia akui ia bersalah.


***


El berjalan ke luar kantor menuju ke lobby. Ternyata disana Jacob sudah menunggunya.


"Jadi?" Tanya Jacob, El menganggukan kepalanya.


"El, Rafael dimana?" Tanya Janshen. El menggelengkan kepalanya membuat dahi Janshen berkerut.


"Aku duluan" pamitnya pada Alex, Janshen, dan Anita.


Ia memberikan kunci mobil pada bodyguard ayanhnya untuk mengantarkan mobilnya ke rumahnya sedangkan ia akan pergi menggunakan mobil milik Jacob.


tbc


yeay, double up.


vote komen ya makasih