
Happy reading♡
Rafael memijat pelipisnya. Sungguh perjalanan dari Jepang ke Boston cukuplah menguras energi. Jika saja ia tidak diundang oleh pihak Meinhard, ia pasti akan memilih untuk bermalam lagi di Jepang.
Rafael menatap jalanan panjang di depannya. Pikirannya kembali teringat pada sesosok gadis yang ia tinggalkan beberapa hari yang lalu.
Ia masih ingat, terakhir kali mereka bertemu di cafe. Lebih tepatnya hanya melihat bukan bertemu. Karena Rafael langsung berlalu begitu saja dari cafe itu setelah melihat keberadaan El. Bukannya ia tidak mau menyapa atau sekedar saling melempar tatapan, hanya saja Rafael tahu, jika El masih begitu marah padanya.
Namun tanpa diketahui oleh Rafael, sebenk9arnya El juga melihatnya di cafe itu.
Miris memang, orang yang semula dekat dan saling bertegur sapa kini menjadi orang yang saling tidak mengenal satu sama lain.
Terkadang permainan takdir sulit untuk ditebak. Namun sebagai manusia, kita hanya bisa menjalaninya seperti tokoh dan pemeran utama. Sama halnya seperti Rafael dan El.
***
Bimbang. Itulah yang dirasakan oleh El saat ini. Ia tidak ingin mempermalukan keluarga besarnya dengan keadaannya yang sekarang. Namun ia juga tidak ingin membuat mereka kecewa karena ketidak hadirannya di pesta perusahaan kakeknya.
Keadaan El saat ini cukup memprihatinkan. Kepala dan pergelangan kakinya diperban dan ada beberapa tempelan plester luka di tangannya. Meskipun begitu, kecantikan seorang El Menihard tidak pernah pudar. Ia tetap mempesona dalam tampilan apapun.
Untuk yang kesekian kalinya, ia menghela nafasnya. Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Duduk di kursi roda.
"Sayang" panggil Clau.
"Iya mom".
"Kau sangat cantik" puji Clau, mama El.
"Mom cantik dad tampan, sudah pasti aku harus cantik seperti mom" ucap El membuat Claudia tersenyum.
"Kamu siap untuk keluar dari sini? Semua keluarga sudah menunggumu" ucap Clau. El hanya menganggukan kepalanya.
Claudia dengan perlahan memutar kursi roda yang dipakai El untuk menuju ke pintu keluar kamar yang tadi ditempati oleh El.
"Jangan takut sayang, mom selalu ada bersama mu" ucap Clau.
"Iya mom" ucap El.
Perlahan namun pasti, mereka berdua sudah sampai di pintu gedung utama. Tempat diadakannya acara.
Saat pintu terbuka, otomatis semua atensi orang yang berada di dalam sana melihat ke arah pintu.
Hampir semua tamu undangan terkejut. Namun Ek tetap bersikap tenang seolah tidak terjadi apapun.
"Hai sayang" sapa Hans.
"Hallo opa" ucap El tersenyum.
"Kemari, biar opa yang mendorong kursi mu"ucap Hans.
Tanpa diduga, Hans membawa El ke area panggung. El sempat menoleh ke arah Hans. Namun Hans hanya tersenyum dan mengangguk.
"Selamat malam semuanya" sapa Hans.
"Saya ucapkan terimakasih karena telah menyempatkan waktunya untuk hadir di acara yang sudah rutin saya adakan setiap taunnya" ucap Hans.
"Saya tidak ingin banyak berbicara malam ini. Saya disini hanya ingin memperlihatkan pada dunia, bahwa saya adalah orang yang paling beruntung di dunia ini" ucap Hans.
"Saya sangat bersyukur karena kehadiran gadis kecil ini di keluarga Meinhard. Semuanya berubah setelah kehadirannya".
"Dia adalah cucu perempuan satu satunya saya" ucap Hans seraya melihat ke arah El yang juga sedang menatapnya.
"Mungkin tidak banyak yang mengenalnya, dia adalah Barbie El Meinhard. Anak gadis dari keluarga Meinhard. Anak gadis yang sangat sangat aku sayangi".
"Malam ini, secara resmi, aku akan menyerahkan semua aset perusahaan Meinhard Company kepadanya" ucap Hans membuat El terkejut.
"Tenang saja, baik Arthur dan Billie atau yang lainnya, mereka juga sudah aku berikan hak mereka" jelas Hans.
"Maka dari itu, perkenalkan Direktur Utama dari Meinhard Company yang baru, Barbie El Meinhard" ucap Hans. Riuh tepuk tangan menggema disegala penjuru. Hans tersenyum begitupun anggota keluarga yang lain. Mereka bangga dan bahagia, akhirnya, anak perempuan kesayangan mereka sudah resmi menjadi pemilik dari perusahaan terbesar yang ada disana.
Sedangkan El sendiri sudah sangat kesal. Bagaimana tidak, ia sendiri tidak mengetahui berita ini terlebih dulu.
"Iya sayang, ada apa?" Tanya Hans.
"Aku ingin ke toilet" ucap El.
"Oh, baiklah, sebentar" ucap Hans.
Hans pun menutup pembicaraannya dan kembali mendorong kursi roda cucunya untuk turun dari panggung.
"Istriku, tolong antarkan cucuku ini ke toilet" perintah Hans pada istrinya Liana.
"Tidak opa, oma aku bisa sendiri" ucap El kemudian mendorong kursi rodanya sendiri.
Dilain tempat, seorang pria tengah mengepalkan tangannya. Seperti sedang menahan emosinya. Pria itu lantas mengikuti arah kemana El pergi.
Dan disinilah El sekarang. Di sebuah gazebo yang ada di perusahaan milik kakeknya. Ia hanya beralibi saja ingin ke toilet.
El mengehela nafas beratnya. Sejujurnya ia tidak tahu jika kakeknya akan mengalihkan perusahaannya kepadanya. Tanpa memberitahu dan langsung saja mengangkat jabatan El menjadi direktur utama di perusahaan Meinhard.
***
Dari jarak lima beberapa meter, Rafael sedang memperhatikan El yang tengah duduk sendirian di tempat sunyi ini.
Aneh memang, padahal di dalam sana pesta besar besaran sedang dilaksanakan. Namun El malah keluar dari dalam gedung.
Sejujurnya, Rafael ingin sekali menyapa gadisnya itu. Sudah lama sekali ia tidak merasakan aroma khas dari tubuh gadisnya itu.
Namun Rafael memilih untuk menahan diri. Ia berfikir untuk tidak menemui gadisnya sekarang. Karena pasti itu akan membuat gadisnya semakin membencinya.
"Aku merindukan mu" ucap El terdengar samar oleh Rafael. Rafael sempat menyernyit. Siapa yang dirindukan oleh gadisnya itu?.
Rafael terus memperhatikan gerak gerik El. Sampai pada akhirnya ada Billie yang datang menjemput El untuk segera pulang.
"Oma menyuruh mu untuk pulang duluan. Kondisi mu masih belum stabil. Aku yang akan mengantarkan mu pulang" ucap Billie.
"Apa boleh aku bertanya?" Ucap El.
"About?".
El hanya terdiam. Namun Billie paham dan mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh adik sepupunya ini.
Perlahan Billie duduk di kursi yang ada di gazebo. Bersebelahan dengan kursi roda El.
"Aku tahu, kamu masih ragu kan tentang perasaan mu?" Tanya Billie.
"Seharusnya, kau tidak perlu lagi ragu. Rafael pria yang tepat untuk mu. Dan aku sangat yakin dia yang akan selalu membahagiakan mu" ucap Billie.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya El penasaran.
"Apa yang tidak aku ketahui, aku mengenalmu sejak kau masih kecil" ucap Billie.
"Aku ingin bertemu dengannya" ucap El.
"Dengan tujuan?" Tanya Billie.
"Aku hanya ingin meminta maaf saja" ucap El.
"Bukan karena kau merindukannya?" Ucap Billie tepat sasaran.
"T-tidak. Siapa yang merindukan dia" sangkal El.
"Jangan bohongi perasaan mu sendiri El" ucap Billie.
"Aku bilang tidak ya tidak" ucap El.
"Iya iya, wanita selalu benar" ucap Billie mengalah kemudian mendorong kursi roda El untuk menuju ke mobil dan langsung pulang.
TBC.
semangat ga semangat si gada yg komen)))