
Happy reading♡
El berjalan menuju ke arah dimana Rafael berada. Ternyata pria itu sedang duduk santai dengan laptop di pangkuannya.
El menggelengkan kepalanya kala melihat Rafael yang sangat fokus pada laptopnya.
"Laptop terus yang ada di pangkuan kamu" dumel El ketika sudah berada di samping tempat duduk Rafael.
Rafael tersenyum kemudian menghentikan pekerjaan nya. Ia pun menyimpan laptopnya di meja. Tangannya langsunh menarik El untuk duduk di pangkuannya.
El terpekik kaget. Bisa bisanya Rafael langsung menariknya duduk di pangkuannya. Padahal tadi ia hanya bercanda.
"Cemburu hm?" Tanya Rafael.
"Tidak" ucap El.
"Bagus. Tidak seharusnya kamu cemburu pada benda mati itu" ucap Rafael.
"Aku tadi hanya bercanda" ucap El.
"Laptop itu hanya bisa berada di pangkuan ku. Sedangkan kau bisa berada di bawah kungkungan ku jika kau mau" ucap Rafael setengah berbisik.
El bergerak tak nyaman saat Rafael berbisik. Rasanya sangat aneh jika Rafael berbisik seperti itu padanya.
"Jangan banyak bergerak" ucap Rafael.
"Maka dari itu lepaskan aku" ucap El.
"Tidak, aku masih merindukan mu" ucap Rafael membenamkan wajahnya di bahu El.
"Astaga, kita bahkan dari kemarin terus bersama" ucap El tidak habis pikir.
"Aku tetap merindukan mu" ucap Raf.
"Raf" panggil El.
"Iya sayang" ucap Raf.
"Aku ingin makan blueberry" ucap El.
"Sebentar" ucap Raf. Ia pun memanggil maid untuk membawakan buah blueberry permintaan kekasihnya.
Saat buah blueberry berada di depannya. El langsung tersenyum sumringah. Ia pun mulai memakan buah blueberry itu perlahan.
"Kita berangkat sekarang" ucap Raf.
"Kemana?" Tanya El. Rafael melihat ke arah El. Ia sedikit terkekeh melihat ceceran buah blueberry di pinggir bibir El.
Rafael mengulurkan tanganya untuk membersihkan sisa blueberry di bibir El kemudian menjilat jarinya yang tadi digunakan untuk mengusap bibir El.
"Manis. Apalagi jika bibir ku yang langsung **********" ucap Rafael.
"Mesum terus" ucap El.
El pun berdiri dan berjalan keluar menuju ke pintu utama. Tentunya masih dengan buah blueberry tadi. Rafael berjalan di sebelahnya.
Sopir membuka kan pintu untuk keduanya saat mereka sudah sampai di dekat mobil.
Griss langsung melajukan mobilnya menuju ke butik.
***
Satu jam berlalu, mobil yang ditumpangi keduanya sudah sampai di depan gedung butik milik El.
"Kenapa ke sini?" Tanya El.
"Ini butik terkenal. Dan aku yakin tanpa kamu memberitahu pun mereka sudah pasti tahu baju yang kau sukai" ucap Rafael.
"Begitu. Ya sudah ayo masuk" ucap El.
"Hati hati. Kaki mu masih belum sembuh total" peringat Rafael.
"Iya iya" ucap El.
Keduanya pun berjalan masuk ke dalam butik. Beberapa pekerja membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat.
"Pagi Blis" sapa El pada pekerjanya.
"Pagi nona. Bagaimana kabar anda?" Tanya Blis.
"Sudah lebih baik. Aku ingin gaun untuk pesta dan tuxedo untuk Rafael" ucap El.
"Baik nona. Akan kami persiap kan dulu baru anda bis memilihnya" ucap Blis, El hanya mengangguk.
Setelahnya Blis langsung undur diri untuk mencari gaun dan tuxedo yang pas untuk Rafael dan El.
Lima belas menit berlalu. Blis kembali menemui Rafael dan El. Ia mengatakan jika semuanya sudah siap. El pun menarik tangan Rafael menuju ke ruangan khusus.
Di dalam sana sudah tersedia beberapa gaun pilihan yang sudah disiapkan.
El menyusuri gaun gaun yang sudah dipajang. Ia mulai mencoba satu per satu gaun itu.
El keluar dari ruang ganti.
"Bagaimana?" Tanya El. Rafael membulatkan matanya. Gaun itu sangat sexy untuk El. Bisa bisa nanti El akan menjadi pusat perhatian.
"Tidak. Ganti" ucap Rafael. El pun menurut. Ia pun kembali ke ruang ganti dan mengganti gaunnya lagi.
Gaun kedua berwarna biru langit.
"Bagaimana?" Tanya El.
"Tidak. Itu tidak cocok untuk mu" ucap Rafael. Namun lagi lagi Rafael menolaknya.
"Lalu aku harus pakai gaun yang mana? Aku sudah tidak mau berganti gaun lagi Raf" ucap El.
"Itu yang terbaik untuk mu. Gaun gaun tadi tidak cocok untuk mu" ucap Rafael.
"Aku akan memilih gaun ku sendiri. Aku tidak akan menerima komplain apapun lagi dari mu. Aku akan memakai gaun berwarna navy yang sudah aku sukai" ucap El.
"Gaun itu tidak sexy seperti gaun yang pertama kan?" Tanya Rafael.
"Tidak perlu tahu" ucap El ketus.
"Blis, aku ingin tuxedo berwarna navy dan gaun berwarna navy yang tadi" ucap El.
"Baik nona. Saya akan mempersiapkannya" ucap Blis.
"Bagus. Aku pergi sekarang ya" ucap El.
"Silahkan nona. Hati hati" ucap Blis.
"Raf ayo kita keluar" ajak El.
"Kemana?" Tanya Rafael.
"Ke taman yang ada di belakang butik ini" ucap El.
"Sejak kapan ada taman?" Tanya Raf.
"Nanti akan aku ceritakan" ucap El kemudian menarik Rafael keluar dari dalam sana menuju ke taman yang sudah dibuat oleh El.
Rafael hanya menurut dan mengikuti El.
"Wow" ucap Raf saat ia sampai di taman.
"Baguskan" ucap El.
"Sangat" ucap Rafael.
"Kita duduk di ayunan" ucap El. Rafael hanya menurut dan duduk bersebelahan di ayunan itu.
El menyandarkan kepalanya di bahu Rafael. Tangannya memegang tangan Rafael.
"Ceritakan. Aku sangat ingin tahu" ucap Raf.
"Awalnya aku tidak berniat membuat taman ini. Namun dipikir lagi, aku juga membutuhkannya" ucap El.
"Kamu tahu, saat aku mulai bisnis ini sangatlah susah. Jujur aku membangun ini dengan jerih payah ku sendiri. Tentunya tanpa adanya campur tangan keluarga Meinhard" ucap El.
"Benarkah?" Tanya Rafael. El menganggukan kepalanya.
"Aku sengaja membuat taman ini untuk tempat ku healing disaat aku tidak memiliki inspirasi untuk membuat desain" ucap El.
"Mungkin bisa dibilang ini tempat ku untuk bersedih, terkadang" ucap El.
"Hal apa yang membuat mu bersedih?" Tanya Raf.
"Entahlah, aku tidak tahu. Kadang kadang aku tidak bisa mengontrol emosi ku sendiri. Aku tidak bisa melampiaskan apa yang aku rasakan. Akhirnya aku hanya diam dan menahannya sendiri. Mungkin air mata adalah titik lemah ku" ucap El.
"Terkadang, aku ingin melampiaskan emosi ku Raf. Tapi anehnya aku tidak bisa. Entah karena hal apa aku pun tidak memahaminya" ucap El.
Rafael mencium kening El beberapa kali. Ia pun berkata.
"Kamu wanita hebat. Aku sangat kagum. Ternyata apa yang aku lihat selama ini bertolak belakang dengan kenyataannya" ucap Rafael.
"Maksudnya?" Tanya El.
"Yang aku lihat, kamu selalu bahagia. Tapi kenyataannya tidak" ucap Raf.
"Terimakasih sayang sudah mau berbagi kisah hidup mu kepada ku" ucap Rafael. El pun hanya tersenyum kemudian memeluk Rafael erat.
tbc.
minal aidzin ges. huhuhu besok raya. maap lahir batin ya