L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 12 : Lebih Dekat



Happy reading♡


El menggeliat dalam tidurnya. Kepalanya terasa berat dan tubuhnya sangat sulit untuk bergerak. Ia meraba raba ke sekitarnya. Tangannya tak sengaja memegang pipi seseorang. El berusaha pelan untuk melihat orangnya. Saat matanya mengarah ke atas, ia melihat wajah tenang Rafael yang tengah terlelap.


El bingung kenapa ia bisa tertidur dengan posisi seperti ini? Dan ini di... astaga, El menepuk pelan jidatnya. Ia lupa jika ia ketiduran dan ini di apartement Rafael. El berusaha melepaskan diri dari Rafael. Namun sangat susah. Semakin ia berusaha melepaskan semakin ia akan dipeluk erat.


"Raf" panggil El.


"Hm".


"Lepas, aku harus pulang" ucap El.


"Sebentar El, ini sangat nyaman" ucap Rafael.


"Tapi ini semakin larut Raf" ucap El. Rafael pun melepaskan pelukannya.


"Jadi kau ingin pulang?" Tanya Rafael.


"Tentu saja" ucap El.


"Kenapa tidak menginap saja?".


"Kau pikir aku tidak punya rumah?" Tanya El.


"Ya sudah, biar aku yang antar kau pulang" ucap Rafael.


"Tentu harus kau yang mengantar aku pulang. Kau sudah aku rawat dari siang tadi" ucap El.


"Baiklah tuan putri, tunggu sebentar aku ambil kunci mobil dulu" ucap Rafael kemudian beranjak dari sana. El sendiri menggelengkan kepalanya. Ia jadi tidak yakin dengan omongan para suster di rumah sakit jika Rafael seorang yang dingin dan irit bicara.


"Ayo" ucap Rafael. El pun berdiri kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju ke mobil.


Di dalam mobil hanya ada keheningan. Mereka berdua sama sama memilih diam. Tak berapa lama mobil pun sampai di depan pintu utama rumah El. El keluar dari dalam mobil begitupun Rafael.


"Kau ingin masuk dulu?" Tawar El.


"Tidak terimakasih, aku akan langsung pulang" ucap Rafael.


"Oh ya sudah" ucap El.


"El" panggil Rafael.


"Iya kenapa?" Tanya El.


"Besok hari libur bukan?" Tanya Rafael.


"Iya besok hari libur, kenapa?" Jawab El.


"Aku berniat mengajak mu pergi besok, apa kau bersedia?" Tanya Rafael.


"Sekitar jam berapa?" Tanya El.


"Terserah kau saja" ucap Rafael.


"Ya sudah jam sembilan saja, aku masuk dulu ya Raf. Hati hati di jalan dan terimakasih" ucap El tersenyum.


"Sama sama" jawab Rafael kemudian kembali memasuki mobilnya dan pergi dari sana dengan perasaan yang sangat sangat berbunga. Ia berdoa dalam hatinya pada tuhan. Semoga saja tuhan mengiyakan.


Selepas mobil Rafael menghilang dari pandangannya, El pun masuk ke dalam rumahnya. Sangat sepi. Tumben sekali.


"Non, anda baru pulang?" Tanya Mia, asisten di rumah El.


"Iya. Mom dimana?" Tanya El.


"Tuan dan nyonya pergi dari jam satu siang tadi nona. Dan beliau tadi menelpon jika mereka akan langsung pergi ke Indonesia" ucap Mia.


"Indonesia?".


"Iya nona".


"Untuk apa mereka kesana?" Tanya El.


"Perjalanan bisnis nona" jelas Mia.


"Anda tidak mau makan dulu?" Tawar Mia.


"Tidak. Aku belum lapar lagi" ucap El kemudian spergi dari sana menuju ke kamarnya.


Ia melepaskan jas dan beberapa aksesoris yang ia pakai. Kemudian masuk ke kamar mandi. Ia sangat lelah hari ini. Padahal ia hanya merawat Rafael.


El masuk ke dalam bathup. Ia memejamkan matanya sejenak. Menikmati kesegaran aroma dari air di bathup. Tiba tiba bayangan wajah Rafael muncul di pikirannya.


El tersenyum mengingat awal ia mengenal dan bertemu Rafael. Baru kali ini ia menemui spesies manusia seperti Rafael. Iya ia memang sudah mengakui jika Rafael adalah pria paling tampan yang pernah ia temui. Bahkan dia tipe tipe seorang pria yang banyak di idam idamkan oleh banyak wanita. Termasuk dirinya mungkin.


El membuka matanya. Ia menggelengkan kepalanya. Apa apaan ini? Kenapa ia jadi memikirkan Rafael.


El pun segera membersihkan badannya kemudian mengeringkannya dan langsung memakai pakaian. Ia pun langsung ingin tidur. Ia tidak ingin memikirkan Rafael lagi.


***


Rafael sedang duduk di ruang tamu. Ia meminum kopi yang sudah disediakan oleh asisten di rumah itu. Matanya menjelajahi isi rumah ini. Sangat nyaman menurutnya.


"Lama ya?" Tanya El saat ia sudah turun dari kamarnya.


"Tidak terlalu" ucap Rafael.


"Kamu sih jemputnya kepagian, kan udah dibilang jam sembilan" ucap El.


"Perjalanan kita jauh, jadi aku menjemputmu jam tujuh pagi" ucap Rafael.


"Memangnya kita mau kemana?" Tanya El.


"Nanti kau akan tahu" ucap Rafael kemudian menarik tangan El untuk keluar dari dalam rumah. Rafael membuka kan pintu untuk El. Sungguh Rafael memperlakukan El seperti seorang putri saja.


"Raf, kita mau kemana" tanya El.


"Tenanglah, aku akan membawa mu ke suatu tempat dan tempatnya lumayan jauh. Jadi kau tiduran saja dulu" ucap Rafael.


"Astaga Raf, aku baru bangun" ucap El.


"Ya sudah, kau diam saja" ucap Rafael. El pun diam. Ia memperhatikan jalanan. Namun karena semalam ia kurang tidur alhasil, ia kembali tertidur sekarang.


"Kau bilang baru bangun dan sekarang kau sudah tertidur lagi?" Ucap Rafael terkekeh. Ia menepikan mobilnya kemudian membuka jas miliknya.


Sebelum memakaikan jas miliknya, ia merendahkan kursi duduk El sehingga ia tertidur dengan nyaman kemudian memakaikan jasnya pada El. Ia mengatur suhu ac mobil dan menutup kaca mobil yang sempat di buka oleh El.


Rafael memajukan wajanya. Ia menyelipkan beberapa anak rambut El yang berantakan. Sungguh ia sangat sangat kagum dengan wanita di depannya ini.


"Dulu, aku selalu berharap punya anak kembar dan salah satu dari mereka memiliki rambut coklat seperti warna rambutmu El" ucap Rafael pelan.


"Aku sangat terkejut saat pertama kali membantumu waktu itu. Kau hebat, mengedepankan kesembuhan orang lain dan meninggalkan urusanmu".


"Semoga saja, rasa kagum ini membuahkan hasil" ucap Rafael kemudian kembali melajukan mobilnya. Entahlah, jujur saja ia takut El akan marah jika ia tahu kalau Rafael akan membawanya ke temoat jauh. Namun apa boleh buat, sudah terlanjur Rafael membawanya dan orangnya pun sudah ada di dalam mobilnya.


Mobil yang ditumpangi Rafael dan El berhenti di lapangan luas. Rafael memakai kaca mata hitam kemudian keluar dari dalam mobil.


"Apa semuanya sudah siap Griss?" Tanya Rafael.


"Sudah tuan" ucap Griss.


"Oh ya, bagaimana dengan kasus kemarin? Apa kau sudah menyerahkan dia ke kantor polisi?" Tanya Rafael.


"Sudah tuan. Semua properti nya juga sudah tidak ada lagi. Dia sudah mendekam di balik jeruji besi" jawab Griss.


"Menurutmu, apa aku tidak salah jika membawanya kesana?" Tanya Rafael lagi.


"Tuan, anda bisa menjelaskan nanti pada nona El" ucap Griss. Rafael mengangguk kemudian membuka pintu mobil dan menggendong El keluar dari dalam sana.


...TBC...


...hai, makasih ya buat yg msh setia sm cerita aku ini. akhrnya kita sampe di eps 12 juga. sepertinya bbrp part ke depan akan disuguhi moment moment uwu)...


...YOW LAH VOTE KOMEN BIAR AKU SEMANGAT UP NYA YEKAN:)...


...Aycha...