L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 70 : Kalap



Happy reading♡


Sekitar pukul sembilan pagi, Rafael sudah berangkat ke rumah sakit. Ia sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya itu. Apalagi El akan menjadi dokter tetap di rumah sakit miliknya.


Jauh sebelum ia bertemu dengan El, dia sudah membeli cincin berlian. Ia berniat akan memberikannya hari ini pada El. Tentunya dengan niat ia akan menjadikan El istrinya.


Sedari tadi Rafael terus terusan tersenyum sembari menatap cincin itu.


Pintu ruangannya di ketuk. Ia menduga jika itu adalah El. Dengan bersemangat ia berjalan membuka pintu.


Namun saat ia sudah membuka pintunya, ternyata itu bukan orang ia yang tunggu. Melainkan orang lain.


"Tumben? Ada apa lo kesini?" Tanya Rafael pada Billie. Yap, orang yang datang pagi ini adalah Billie.


"Ada beberapa hal yang mau gue omongin sama lo," ucapnya. Rafael pun mempersilahkannya masuk.


"Hal penting apa?" Tanya Rafael.


Billie menyerahkan sebuah map. Rafael sudah tahu map itu isinya apa.


"Kenapa map ini bisa ada sama lo?" Tanya Rafael.


"Lo buka aja mapnya," titah Billie. Rafael pun membukanya. Di dalamnya sama sekali tidak ada perubahan. Hanya saja ada sticky note kecil.


Rafael membacanya.


Maaf ya Raf, aku memilih untuk berhenti bekerja di rumah sakit Levent. Ada beberapa alasan yang tidak bisa aku jelaskan kepada mu. Dan ya, mungkin nanti jika kamu sudah menerima map ini, aku sudah tidak ada lagi di Boston. Aku pergi sebentar. Jangan mencari ku. Aku akan kembali jika urusan ku sudah selesai.


Selalu mencintaimu,


Barbie El Meinhard.


Rafael meremas map yang ada di tangannya. Ia menatap ke arah Billie.


"Pergi kemana dia?" Tanya Rafael.


"Kalo gue tahu, udah pasti keluarga juga nyusul dia kesana. Masalahnya dia pergi tanpa pamit," ucap Billie.


"Gak mungkin. Terus lo gak ada niatan nyari dia?" Tanya Rafael.


"Ada. Tapi gue lebih menghargai keputusan El. Dia gak mungkin sampe kayak gini kalo urusannya gak penting," jelas Billie.


"Gue gak peduli. Gimana pun caranya gue bakalan cari tahu sendri." Rafael marah. Sangat marah. Namun ia menahannya. Bagaimana pun ia tidak bisa melampiaskan kekesalannya pada orang lain.


Rafael nampak berfikir. "Cctv di mansion El bisa jadi petunjuk." Benar juga, bagaimana Billie sampai tidak berpikiran kesana?


Billie memang menghargai keputusan El. Namun bagaimana pun, ia juga harus mengetahui keadaan sepupunya itu.


Billie dan Rafael pun beranjak dari rumah sakit menuju ke mansion Meinhard.


Rafael melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak bisa membuang buang waktu begitu saja. Telat sedikit, mungkin ia akan menyesalinya.


Setelah sampai mansion Meinhard, Rafael langsung masuk ke dalam. Di dalam mansion, Claudia dan yang lainnya hanya terdiam.


Saat Claudia melihat Rafael, ia kembali menangis. Rafael yang melihat itu pun mendekatinya.


Claudia langsung saja memeluk Rafael.


"Tenanglah. Aku berjanji akan menemukannya," ucap Rafael.


"Raf, apa kau sedang bertengkar dengan El?" Tanya Cliff.


Rafael menggelengkan kepalanya. "Tidak. Justru semalam kami baru saja bersama," jelas Rafael.


Claudia mengurai pelukannya. Ia beralih memeluk suaminya.


"Apa di mansion ini dilengkapi cctv?" Tanya Rafael. Cliff menganggukan kepalanya.


"Dimana ruang monitornya?"


"Ikut aku," ucap Billie.


Rafael dan Billie pun beranjak dari sana diikuti oleh semuanya.


Rafael langsung mengotak atik komputer di depannya.


Di layar besar yang ada di depannya, nampak beberapa ruangan. Mereka semua meneliti ke arah layar.


Sudah beberapa menit berlalu mereka mengamati, namun nihil. Mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun.


"Cctv ini hanya aktif sampai pukul sebelas malam," ucap Rafael.


"Bagaimana mungkin? Aku tidak pernah mematikan sistemnya," ucap Clifford.


"El sudah merencanakannya. Dia mungkin yang mematikan sistemnya," ucap Billie.


Rafael pun berdiri dari duduknya. "Aku pamit duluan. Jika ada info tentang El tolong beritahu aku."


***


Rafael pergi ke kantornya. Disana ia meminta Griss untuk mencari tahu keberadaan El diseluruh penjuru kota.


Empat jam berlalu, namun belum juga membuahkan hasil. Semua informan yang disuruh Rafael tidak menemukan bukti apapun.


"Sewa detektif terbaik. Temukan dia secepatnya," titah Rafael. Griss pun mengangguk.


Rafael memijat keningnya. Sejak pagi ia belum makan. Ia lebih fokus pada pencarian kekasihnya.


"Tuan," panggil Griss.


"Saya sudah menghubungi detektif dan menyuruhnya mencari informasi tentang nona. Saya juga sudah mencari daftar nama nona di bandara, namun tidak ada," jelasnya.


"Menurut saya, nona pergi dibantu seseorang. Tak mungkin nona bisa melakukan ini sendirian," ucap Griss.


Rafael pun berfikir kesana. Namun siapa orangnya?


"Apa kau mencurigai seseorang?" Tanya Rafael.


"Ini hanya dugaan saja tuan," ucapnya.


"Siapa?" Tanya Rafael.


"Jacob William."


"Aku sudah lama tidak melihat El bersama dengan dia. Apa itu mungkin?" Tanyanya.


"Tidak ada salahnya jika kita menemuinya tuan. Ini hanya dugaan saya saja," ucap Griss.


Rafael pun menganggukan kepalanya. Ia meminta Griss untuk keluar lebih dulu.


Rafael kalap. Ia tidak bisa berfikir apapun. Ia tidak mau kehilangan wanitanya lagi.


"Apa karna aku tidak menceritakan tentang aku dan Anita hingga kamu memilih pergi?" Ucap Rafael sembari memandang foto El yang ada di ruangannya.


tbc.