L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 68 : Bukan Jawaban



Happy reading♡


Setelah kejadian di restoran tadi, El terus menerus memikirkannya. Ia masih belum mengetahui hubungan apa yang terjadi di masa lalu antara Rafael dan Anita.


Mendengar cerita dari Janshen saja tidak cukup membuatnya percaya. Ia harus memaksa Rafael menceritakan semuanya. Saat ini ia sedang berada di apartement Rafael.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rafael.


"Tidak ada," ucap El.


"Jangan terlalu memikirkan ucapan mamanya Anita. itu semua tidaklah benar." El memperhatikan Rafael. Saat ini Rafael memang sedang bersamanya. Bahkan tengah berbicara dengannya. Tapi fokus Rafael tidak pada dirinya.


"Jika sedang berbicara, lihat orangnya agar orang itu merasa dihargai," ucap El. Rafael pun tersenyum. ia kemudian menyimpan laptopnya.


"Maaf," ucapnya.


"Apa boleh aku mengetahui hubungan mu dengan Anita waktu kalian masih remaja?" Tanya El.


"Sayang, percayalah. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya" ucap Rafael. El tidak bertanya lagi. bukan jawaban seperti ini yang dia inginkan.


"Kenapa diam?"


"Tidak apa apa," ucap El.


"Jangan berbohong."


El hanya tersenyum. "Sebenarnya siapa yang berbohong disini?" Tanya El. Rafael mengerutkan keningnya.


"Sudah aku bilang bukan, jika aku tidak pernah berbohong padamu."


"Jawaban mu tidak bisa meyakinkan keraguan ku," ucap El.


"Lalu apa jawaban yang kamu mau? Aku sudah bilang bukan jika aku dan Anita tidak pernah memiliki hubungan apapun!" Ucap Rafael.


"Apa kau yakin?" Tanya El.


"Tentu saja," ucapnya. El pun mengangguk dan mengambil ponselnya. Ia membuka room chat dari nomor yang tidak ia kenal.


"Lalu ini apa?" Tanya El. Ia memperlihatkan Foto Rafael dengan Anita ketika mereka masih SMA.


"Aku di dorong oleh teman ku sehingga tidak sengaja mencium pipi Anita. Waktu itu semua organisasi di sekolah diminta berkumpul," jelas Rafael.


"Lalu ini?" Tanya El. Kali ini ia memperlihatkan foto dimana Rafael sedang menyematkan cicin di jari Anita.


"Apa kalian bertunangan?" Tanya El.


Rafael diam. Ia tidak tahu bagaimana El bisa mendapatkan foto foto ini.


"Tak apa jika kamu tidak mau menjawabnya, aku tidak memaksa."


El kembali menyimpan ponselnya.


"Dari mana kamu dapat foto foto ini?" Selidik Rafael.


"Apa itu penting?"


"Sayang, aku mohon. Kita baru saja berbaikan," ucap Rafael. Ia hendak memegang tangan El, namun El lebih dulu menghindarinya.


"Sudah hampir malam, aku harus pulang."


"Please, percaya padaku!" Ucap Rafael.


El hanya menganggukan kepalanya.


Rafael pun tersenyum. "Oh iya, kontrak kerja sama kamu dengan Levent Hospital akan segera di perpanjang. Kamu tidak akan lagi menjadi dokter kontrak tapi dokter tetap. Griss akan mengantarkannya kepadamu," ucap Rafael.


"Hari ini," ucap Rafael


El hanya mengangguk samar. Ia kemudian mengambil tas miliknya.


"Aku pulang dulu," ucap El.


"Ayo, aku akan mengantar mu."


"Tidak Raf, sepertinya kamu memiliki banyak pekerjaan. Lebih baik aku pulang sendiri saja," tolak El.


"Aku kekasih mu," ucap Rafael.


"Aku tahu. Bukankah aku sudah bilang jika kita harus menghargai keputusan kita masing masing? Come on, ini hanya perkara pulang saja Raf."


Rafael menghela nafasnya. "Baiklah, tapi hati hati oke?"


"Iya iya," ucap El. Ia pun memeluk Rafael sebelum ia pulang. Saat Rafael hendak menciumnya, El menghindar. Rafael sempat memaksanya namun El malah tersenyum dan cepat cepat pergi dari sana.


Di lobby apartement ternyata sudah ada Griss. Ia akan mengantarkan El pulang.


El pun hanya menurutinya dan masuk ke dalam mobil. Tidak ada percakapan sama sekali di dalam mobil. Griss fokus pada jalanan sedangkan El sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tak berselang lama, El pun sampai di mansionnya. Ia pun mengucapkan terimakasih pada Griss kemudian keluar dari dalm mobil.


Saat hendak masuk, Griss tiba tiba memanggilnya. Ternyata Griss memberikan sebuah map. Yang isinya El yakini adalah perpanjangan kontrak kerjanya yang tadi dibahas Rafael.


El menerimanya dan langsung masuk ke dalam mansionnya.


Di dalam mansion ternyata semua keluarganya sedang berkumpul. Disana juga ternyata ada Billie.


"Baru pulang?" Tanya Billie. El menganggukan kepalanya. Ia pun ikut bergabung bersama keluarganya.


Mereka semua berkumpul dan membahas cerita lama. Beruntungnya bukan membahas pekerjaan jadi El tidak akan bosan.


"Oh iya, apa kau sudah memikirkan saham yang diberikan daddy mu?" Tanya kakek El.


"Aku akan menerimanya," ucap El membuat Billie terkejut. Pasalnya tempo lalu, ia menolaknya.


"Bagus. Jadi kau tidak akan memperpanjang kontrak mu di rumah sakit kan?" Tanyanya lagi.


"Aku masih memikirkannya. Aku ke atas dulu ya semuanya," ucap El.


***


Sesampainya di kamarnya, El melihat ke luar balkon. Ia memilih duduk di kursi yang ada disana.


Lagi, malam ini terasa sangat indah. Karena bulan kembali menampakan dirinya. El tersenyum melihatnya.


Di depannya sudah ada dua map dan satu kotak yang entah isinya apa.


Sudah dari jauh jauh hari El memikirkan ini sendirian. Ia juga ingin tahu kebenarannya. Mungkin dengan cara ini ia akan menemukan titik terang.


El mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Aku akan berangkat besok. Siapkan semuanya. jangan sampai ada yang tahu," ucap El.


Ia pun membereskan map dan kotak itu dan memasukannya ke dalam kopernya. Semoga saja ini jalan terbaik yang ia pilih.


tbc.


vote komen ya